Oleh: hurahura | 23 Juli 2012

Deklarasi Borobudur dan Pelestarian Candi

Akhir Agustus 2006 lalu sejumlah negara ASEAN (Indonesia, Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam) mengeluarkan deklarasi bersama yang disebut Deklarasi Borobudur. Isi deklarasi itu adalah komitmen untuk mengembangkan pariwisata melalui pengelolaan dan promosi warisan budaya bersama dalam wujud kerja sama wisata ziarah dan wisata budaya. Deklarasi Borobudur ditandatangani enam negara dari sepuluh negara ASEAN karena hanya keenam negara tersebut yang memiliki warisan budaya masa lampau yang bercirikan agama Buddha.

Di Indonesia sendiri peninggalan masa lampau dari masa kerajaan-kerajaan bercorak Buddha berjumlah relatif banyak. Namun yang paling dikenal di seluruh dunia adalah Candi Borobudur. Sejak lama Candi Borobudur telah menjadi primadona pariwisata Indonesia. Sepanjang sejarah pengelolaan candi, telah banyak devisa dihasilkan dari sektor pariwisata, termasuk kesempatan memperoleh lapangan kerja dan usaha secara luas bagi masyarakat.

Di mata golongan ekonomis, artinya yang mementingkan segi-segi ekonomi, kegiatan pariwisata memang dianggap merupakan faktor utama penunjang perekonomian negara dan masyarakat. Semakin digalakkan pariwisata, maka semakin meningkatkan pendapatan. Ternyata tanpa disadari, pariwisata sering kali menyebabkan dampak negatif kepada kepurbakalaan.

Ini pula yang dikhawatirkan golongan konservasionis, yang mementingkan pelestarian warisan masa lampau. Mereka berpendapat, kalau tidak dikelola dengan baik, kegiatan pariwisata malah akan menjadi bumerang bagi Candi Borobudur. Siapa pun tentu maklum kalau tekanan (gaya berat) yang diterima Candi Borobudur begitu besar mengingat setiap tahunnya candi ini dikunjungi jutaan wisatawan. Gesekan yang dialami lantai-lantainya dari jutaan pasang alas kaki pengunjung juga bisa membahayakan kelestarian candi ini.

Hal ini dimungkinkan karena Candi Borobudur merupakan satu-satunya bangunan purbakala yang unik. Candi ini terdiri atas sepuluh tingkat yang bisa dinaiki pengunjung dari keempat arah mata angin.

Menurut penelitian terakhir, fondasi Candi Borobudur telah amblas atau melesak sekian sentimeter. Karena didirikan di atas bukit yang dipapas, maka daya dukungnya semakin kecil. Pertanyaan kita tentunya adalah seberapa parahkah kerusakan Candi Borobudur akibat pengomersialan oleh pihak pariwisata dan seberapa jauhkah upaya yang dilakukan oleh pihak arkeologi untuk meminimalisasi kerusakan?


Vandalisme

Kerusakan pada Candi Borobudur akibat ulah manusia terus terjadi sampai kini. Kerusakan demikian, di luar faktor alam, tentu saja menambah panjang derita Borobudur. Selain batu-batunya semakin aus, vandalisme dan grafitisme di banyak tempat serta kerusakan lain menjadi bukti bahwa kegiatan pariwisata memang mempunyai dampak negatif bagi upaya pelestarian candi.

Meskipun banyak pakar menyadari bahwa tanpa kegiatan pariwisata pun Candi Borobudur akan semakin rapuh tergerus waktu, namun berbagai upaya untuk memperpanjang usia Candi Borobudur tetap saja dilakukan. Ini mengingat selama pemugarannya sejak awal abad ke-20, perbaikan Candi Borobudur telah menghabiskan dana jutaan dollar. Jelas, ini memerlihatkan bahwa pelestarian candi dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Dulu, pada masa Hindia-Belanda, panitia pemugaran yang diketuai Th. Van Erp pernah menganjurkan agar jumlah pengunjung Borobudur dibatasi. Maksudnya adalah untuk memperkecil kerusakan-kerusakan mekanis yang disebabkan oleh manusia. Menurut panitia, sebaiknya para pengunjung dikelompokkan menjadi rombongan tidak lebih dari 20 orang. Setiap kelompok harus disertai dan diawasi oleh seorang petugas pemandu (Soekmono, 1973).

Diharapkan, dengan pengelompokan itu pengunjung tidak terkonsentrasi di atas candi dalam waktu bersamaan. Namun, saran tadi tidak dilaksanakan secara penuh karena arus wisatawan sulit dibendung. Banyak pakar arkeologi, ekonomi, teknik, dsb tidak setuju dengan cara ini yang pada gilirannya justru dinilai akan menghambat kegiatan pariwisata.

Arkeologi, sebagai ilmu yang bertanggung jawab akan kelestarian Candi Borobudur, pada dasarnya memiliki dua metodologi berdasarkan tujuan yang hendak dicapai. Pertama, metode-metode untuk tujuan historiografi. Kedua, metode-metode untuk tujuan konservasi.

Dalam kaitan dengan pelestarian candi, metode kedualah yang seharusnya dikembangkan. Metodologi untuk tujuan konservasi meliputi berbagai strategi, metode, dan teknik dalam melakukan pengumpulan data, penyimpulan, dan penjelasan hal-hal yang berkenaan dengan sistem perlindungan, sistem pemeliharaan, dan sistem pemugaran (Mundardjito, 1983).

Menurut penelitian yang pernah penulis lakukan (Pengunjung dan Masalah Konservasi Candi Borobudur, 1985), kerusakan terbesar Candi Borobudur terdapat pada batu-batu lantai sebesar 0,1-0,4 cm dihitung selepas purnapugar Candi Borobudur pada 1983. Bisa dipastikan, 30 tahun ke depan keausan batu lantai akan semakin besar. Keausan batu juga banyak dijumpai pada undak tangga selebar 1-3 cm.

Sebenarnya, menekan keausan batu relatif mudah dilakukan. Dalam hal ini pengelola candi harus mengeluarkan kebijakan bagi setiap pengunjung untuk mengenakan alas kaki khusus yang lembut sehingga tidak merusakkan batu. Namun sulitnya, alas kaki yang disediakan harus berjumlah banyak sehingga biaya yang dikeluarkan pun besar.

Di pihak lain, agar batu candi tidak mudah melesak, perlu dipikirkan cara yang efektif untuk memecahsebarkan pengunjung. Memang, di areal taman wisata banyak dibangun beberapa fasilitas sebagai daya tarik pengunjung. Namun karena belum dibuat secara atraktif, maka fasilitas-fasilitas tadi masih belum mampu menahan laju pengunjung untuk mendaki ke atas candi. Padahal secara teoretis, berkurangnya arus pendaki candi akan mengurangi tingkat kerusakan dan keausan batu.

Candi Borobudur adalah milik dunia, milik kita bersama. Untuk itu, upaya pelestarian candi ini dalam arti luas sebagai akibat dari ulah manusia, perlu dilakukan serius dan bersama-sama. Deklarasi Borobudur memang perlu, dalam rangka menghasilkan devisa bagi negara dan masyarakat. Namun yang lebih perlu adalah bagaimana kita memelihara Candi Borobudur agar dapat bertahan selama mungkin. (Djulianto Susantio)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: