Oleh: hurahura | 22 Agustus 2013

BUDIYONO: Benda Cagar Budaya di Pertambangan

Kompas, Rabu, 21 Agustus 2013 – Menyelamatkan benda cagar budaya di kawasan pertambangan pasir dan batu ibarat ”menyelamatkan anak perawan di sarang penyamun”. Maka, Budiyono (44) pun menyelamatkan situs Liyangan di Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, dengan hati-hati. Dia melakukannya lewat sosialisasi dan intens melakukan pendekatan dengan para petambang.

Situs Liyangan adalah situs pedusunan masa Kerajaan Mataram Kuno yang terletak di lereng Gunung Sindoro. Luas situs Liyangan sekitar 2 hektar. Dari area tersebut, sekitar 5.635 meter persegi telah dibebaskan dan menjadi milik Pemerintah Kabupaten Temanggung.

Sementara lebih dari 14.000 meter persegi area di sekitarnya masih jadi tanah milik warga, yang sebagian besar dimanfaatkan sebagai areal pertambangan pasir. Setiap hari ratusan orang menambang pasir dan batu di kawasan tersebut.

Sadar tak cukup dengan kata-kata, Budiyono yang bekerja sebagai juru pelihara situs Liyangan berupaya memberikan rangsangan berupa uang bagi siapa pun, termasuk petambang, yang melaporkan dan menyerahkan benda cagar budaya (BCB) yang ditemukan.

”Ukurannya sederhana saja, berdasarkan besar kecilnya barang yang ditemukan, petambang saya beri uang Rp 10.000 sampai Rp 20.000,” ujarnya.

Dana untuk membayar petambang pasir diperoleh Budiyono dari dana sukarela yang diberikan pengunjung situs Liyangan. Ketika pengunjung sedang sepi, dia dan rekannya, Sarmudi, yang bertugas sebagai petugas satpam di situs Liyangan, terpaksa merogoh kocek pribadi. Hal itu mereka lakukan demi menyelamatkan BCB.

”Kalau tidak dengan cara seperti ini, banyak benda bersejarah dari situs Liyangan akan hilang dibawa dan dijual petambang pasir,” ujarnya.

Budiyono mengakui, upaya tersebut tidak menjamin setiap petambang akan berperilaku jujur. Namun, setidaknya ”rangsangan” yang dia berikan tersebut bisa meminimalkan tindak pencurian benda bersejarah di situs Liyangan.


Yoni dan Ganesha

Budiyono adalah warga asli Dusun Liyangan, Desa Purbosari. Sudah lama ia tahu bahwa Dusun Liyangan adalah situs bersejarah karena sejak ia masih kecil ada patung yoni yang ditemukan dan dibiarkan warga di tepi jalan, sekitar 100 meter dari situs Liyangan. Tahun 2000 pun warga Dusun Liyangan menemukan dua patung Ganesha dan patung kera.

Kepeduliannya terhadap situs Liyangan dimulai pada 2008. Saat itu Budiyono yang bekerja sebagai petani dan petambang pasir tengah menggali tanah dan menemukan pecahan-pecahan guci dan patung di lahan miliknya seluas sekitar 3.000 meter persegi. Ia lalu menyimpan benda itu di rumahnya. Ia juga meminta rekan-rekan petambang pasir lainnya untuk melakukan hal serupa.

Ketika temuan benda bersejarah itu semakin banyak, ia lalu mengajak teman-temannya menjadi sukarelawan untuk menyelamatkannya. Akhir tahun 2010 mereka membentuk tim peduli situs dengan anggota awal sembilan orang, termasuk Budiyono dan Sarmudi.

Tim ini bergerak aktif. Mereka mengawasi setiap temuan. Dalam upaya ini, mereka harus rajin mencari informasi, termasuk isu-isu yang beredar di kalangan warga terkait temuan benda-benda bersejarah. Kerja keras tim membuahkan hasil, antara lain menggagalkan rencana penjualan patung tembaga sebesar kucing dari petambang.

”Patung itu berhasil kami amankan sebelum berpindah tangan ke kolektor,” katanya.

Sejak aktif menjadi sukarelawan, Budiyono juga mulai berinisiatif memberikan uang jasa kepada petambang pasir untuk setiap temuan benda purbakala yang mereka dapatkan.

”Sebisa mungkin saya memberikan uang jasa kepada petambang sekalipun mungkin waktu itu saya tidak mendapatkan tambahan penghasilan karena tak ada pengunjung yang datang dan memberikan uang jasa kepada saya,” ujar Budiyono yang ketika itu belum menjadi juru pelihara situs, tetapi sering diminta menjadi pemandu pengunjung situs.

Upayanya untuk membayar petambang membuat Budiyono punya tambahan ”pekerjaan rumah”. Di rumah dan di pos penjagaannya tersimpan benda-benda bersejarah, termasuk pecahan-pecahan guci, keramik, dan patung yang menumpuk. Semua itu pelan-pelan disusunnya.

”Sebagian benda itu sudah saya rangkai. Masih ada satu boks dan satu karung pecahan guci yang belum sempat saya susun,” ujarnya.

Upaya dia menyusun dan merangkai keramik dan guci kuno itu dilakukan sebagai bagian dari rasa ingin tahunya pada bentuk asli benda tersebut. ”Sejak kecil saya suka pelajaran sejarah,” kata pria tamatan sekolah dasar yang senang melihat gambar dan bentuk asli benda-benda bersejarah itu.


Mengawasi situs

Budiyono resmi menjadi juru pelihara situs Liyangan mulai 2013. Dengan tambahan tanggung jawab yang diembannya itu, ia menjadi orang yang paling mudah ditemui di situs Liyangan. Sekalipun dijadwalkan libur bekerja pada hari Minggu, dia acap kali tetap terlihat menyambangi situs.

”Rasanya ada yang kurang kalau saya tidak mendatangi situs. Situs Liyangan sudah seperti keluarga yang saya rindukan setiap hari,” ujarnya.

Pada hari Minggu biasanya dia sekadar nongkrong, berjalan-jalan, atau mengobrol dengan teman, dan tetap mengawasi situs.

Begitu dekat hubungannya dengan situs Liyangan, bisa dikatakan hari-hari Budiyono lebih banyak dihabiskan di sekitar situs. Setelah selesai bertugas pada sore hari, sekitar pukul 18.00, dia biasanya pulang dan berada di rumah selama sekitar tiga jam.

Pukul 21.00 sudah kembali dan menjaga situs hingga pagi hari berikutnya. Tidur malam hari di rumah, menurut dia, hanya dilakukan sekitar tiga kali dalam sepekan.

Kendati demikian, hal itu tidak membuat gusar istri dan anak-anaknya. ”Keluarga sudah memahami benar akan tugas, tanggung jawab, dan kecintaan saya terhadap situs Liyangan,” ujarnya memberi alasan.

Sebagai juru pelihara situs Liyangan, Budiyono menjadi salah seorang karyawan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Untuk menjalankan tugasnya, ia mendapat gaji sekitar Rp 900.000 per bulan.

Bagi sebagian orang, penghasilan itu mungkin kecil. Namun, bagi dia, uang itu disyukuri dan dirasakannya sebanding dengan tugasnya. Budiyono senang karena tugas yang dipercayakan kepadanya seiring dengan minat dan kecintaannya pada sejarah dan benda-benda purbakala.

”Kalau kita ditanya gajinya cukup atau tidak, puas atau tidak? Ya, namanya manusia, pasti tidak ada puasnya. Sebenarnya yang penting adalah bagaimana kita merasa cukup dan mensyukuri apa yang kita dapatkan,” ujar Budiyono.

BudiyonoBudiyono

Lahir: Temanggung, Jawa Tengah, tahun 1969
Pendidikan: SDN Purbosari, Temanggung, Jawa Tengah
Istri: Rusmini
Anak:
Susanto (20)
Susanti (20)

Oleh: REGINA RUKMORINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: