Oleh: hurahura | 7 Agustus 2011

Potensi Wisata Budaya dan Wisata Petualangan di Kutai Timur

Oleh: H. Gunadi Kasnowihardjo

Objek-objek tinggalan budaya masa lalu biasanya ditemukan pada lokasi yang angker-angker (wingit), jauh dari keramaian, bahkan adapula yang sangat sulit untuk dijangkau. Objek-objek seperti tersebut di ataslah yang aman dari gangguan tangan-tangan jahil. Tetapi apa artinya suatu potensi apabila tidak dapat diambil manfaatnya ? Oleh karena itu antara pelestarian dan pemanfaatan sangat dibutuhkan langkah-langkah yang benar-benar arif dan bijaksana, agar dua sector yang berlawanan tujuan tersebut dapat dikemas dalam satu paket yang utuh.

Gua Tengkorak

Ada beberapa bentuk “kemasan wisata” dari tinggalan budaya masa lampau, yang sangat lazim adalah kemasan wisata budaya, dan yang baru dan perlu dikembangkan adalah bentuk kemasan wisata religi atau wisata ziarah. Seperti telah disebutkan di atas bahwa objek-objek tinggalan budaya masa lalu kadang-kadang ditemukan di suatu lokasi yang sangat sulit dijangkau. Salah satu contoh temuan gua-gua prasejarah di kawasan Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur.

Gua-gua prasejarah di Kabupaten Kutai Timur ditemukan di suatu kawasan pegunungan kapur ditengah hutan yang belum banyak terganggu oleh “campur tangan” manusia. Selain mempunyai ciri-ciri bekas hunian manusia purba, pada dinding gua-gua tersebut banyak ditemukan rock art paintings yang sangat indah dan beragam serta tidak banyak ditemukan di tempat lain di Indonesia. Untuk mencapai gua-gua prasejarah di atas kita harus melewati hutan belantara, menyusuri sungai dan memanjat tebing yang cukup terjal. Oleh karena tingkat kesulitan dan beaya yang cukup tinggi, maka para ahli prasejarah maupun peneliti gua yang telah mengunjungi situs tersebut masih dapat dihitung dengan jari.

Garca bertato di Gua Tewet

Dengan demikian, seperti telah disebutkan di atas bahwa semaksimal mungkin potensi yang kita miliki dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Demikian pula dengan potensi sumberdaya budaya dan alam yang dimiliki oleh Kabupaten Kutai Timur ini. Untuk itu diperlukan satu system pengelolaan yang professional, dan salah satu gagasan yang masih bersifat awal yaitu perlunya “kemasan wisata budaya dan wisata petualangan”.

Kalimantan Timur, khususnya Kabupaten Kutai Timur selain mempunyai potensi sumberdaya arkeologi yang sangat menarik, potensi sumberdaya alamnya pun sudah lama diminati oleh para investor, terutama investor mancanegara. Keberadaan para investor tersebut sudah saatnya harus dimanfaatkan dalam perencanaan pembangunan di daerah, antara lain dalam hal sumbangan dana maupun fasilitas-fasilitas yang mereka miliki. Oleh karena itu kita harus ciptakan jaringan kerja lintas sector antara Lembaga Penelitian Arkeologi, Pemerintah Daerah, dan Para Investor di daerah dalam pengelolaan sumberdaya arkeologi.

Perlu diingat pula bahwa dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintah Kabupaten atau Kota mempunyai hak-hak otonomi dalam mengurus dan mengelola daerah atau wilayah kerjanya. Sudah barang tentu termasuk dalam pengelolaan potensi sumberdaya yang dimilikinya, baik sumberdaya budaya maupun sumberdaya alam. Tetapi kita harus menyadari dan memahami bahwa kedua sumberdaya di atas adalah “pusaka warisan” dari nenek moyang yang harus kita jaga kelestariannya, yaitu sebagai tanggung jawab kita kepada anak cucu generasi penerus bangsa ini.

Sebagai penutup uraian singkat ini dapat disimpulkan bahwa antara sumberdaya budaya, sumberdaya alam dan pariwisata dapat diwujudkan suatu program yang sinergis, tanpa harus mengorbankan dan mengunggulkan salah satu diantaranya. Namun dengan kearifan dan kebijaksanaan yang terpadu, dan dengan memposisikan Pemerintah Daerah sebagai leading sector, kedua potensi di atas dapat dikemas dalam bentuk pelestarian dan pemanfaatan, yang akhirnya akan dapat menghasilkan suatu kemaslahatan bagi bangsa.

(Penulis adalah Kepala Balai Penelitian Arkeologi Kalimantan dan dosen luar biasa Jurusan Arkeologi di Universitas Hasanuddin, Makassar. Penulis juga menjabat ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia–IAAI–Komisariat Daerah Kalimantan)

Iklan

Responses

  1. Andai saja lokasi nya dkt
    pasti akan aku datangi tuch…
    Unik sekali Garca bertato di Gua Tewet itu…
    Jadi ingin lihat langsung..

    • Mudah2an ada kesempatan baik, Mbak…

  2. Dear All,
    kalau tidak ada halangan, Bulan oktober…2013 ini, kami akan kesana…., silahkan berkoordinasi.

    Sejak 2005, kami setiap tahun memeriksa kondisi beberapa situs di wilayah Sangkulirang-Mangkalihat ini, khususnya pada situs-situs yang paling tinggi daya singgungnya dengan kegiatan manusia non-BCB, khususnya pada latar ekonomi :

    Berikut, resume hasil pantauan 2005, 2006, 2007, 2008, 2011, 2012, 2013.

    Wilayah hulu Bengalon (Kutai Timur)
    1. Liang Tewet (situs yang diceritakan mas Gun),
    terdapat torehan baru tahun 2007 dilakukan oleh penduduk lokal, motivasinya pernyataan kepemilikan adat. Tahun 2011 beberapa cat di sisi utara terlihat terkelupas – ini faktor alami calcite yang ‘mengelupas’. ;

    2. Liang Karim (di sebelah Tewet) : kondisi baik, namun makin banyak lumut merah pasca 2008. Tahun 2009 terdapat corengan arang baru, namun tidak pada dinding yang bergarca (GAmbaR CAdas) ;

    3. Gua Saleh (Ilas Kenceng) : kondisi baik, relatif tidak berubah sejak ditemukan pertama tahun 1998. Tahun 2012, makin banyak kotoran macaca di Vide utama, namun tidak terlihat mempengaruhi garca ;

    4. Gua Ham : kondisi baik, namun sejak 2007 terlihat makin pias dan pucat warna-warna di daerah yang cenderung tidak terkena sinar matahari langsung (zona senja). Tahun 2012, kondisi cat terlihat makin pias dibandingkan tahun 2008, belum diketahui penyebabnya.

    kemudian di wilayah Merabu (Berau) :
    1. Gua Harto (Kabilak) : kondisi baik,relatif tidak berubah sejak dipublish oleh Luc Henry Fage tahun 2006 (gua ini ditemukan kembali oleh orang Merabu – tahun 2002, dan diinfokan ke Pindi 2004, lalu di cek oleh Fage 2006) ;

    2. Gua Pindi-deux : kondisi baik, ditemukan pertama tahun 1976, dikunjungi kembali tahun 2012 dan 2013. Kondisi relatif baik.

    sebagai tambahan, kami memperkirakan gambar ini dibuat oleh kaum pra-Austronesian, besar kemungkinan Austroasiatik yang masih berburu.
    Situs ini termuda 5000 tahun lalu, tertua 9.800 tahun lalu.

    Tema dan gaya gambar garca Kalimantan berbeda dengan Indonesia Timur. Terdapat kemungkinan berkaitan dengan garca Sulawesi yang bertemakan Mengkultuskan Mamalia dan Saman. Temuan-temuan terakhir garca di Sulawesi tampak mengarah pada tematik yang sama.

    Nuhun atas perhatian yang besar atas garca prasejarah Nusantara.

    salam.
    Dr.Pindi Setiawan
    Pusat Penelitian Produk Budaya dan Produk Lingkungan
    Institut Teknologi Bandung
    pindisp@yahoo.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: