Oleh: hurahura | 30 Juli 2011

Nisan VOC di Batavia

Warta Kota, Jumat, 28 Juli 2011 – Masa pemerintahan VOC di Batavia banyak meninggalkan warisan sejarah. Salah satu artefak yang cukup penting adalah batu nisan, yakni batu yang dibaringkan di atas makam. Batu-batu nisan masa VOC di Batavia ditemukan dalam jumlah banyak. Sebagian terbesar batu nisan kini disimpan di Museum Taman Prasasti. Sebagian kecil ada di Museum Wayang, Gereja Sion, dan Pulau Onrust.

Umumnya batu nisan tersebut berbentuk persegi empat dan terbuat dari batu yang keras. Panjangnya sekitar dua meter, dengan lebar sekitar satu meter. Batu nisan ini dipahat dalam berbagai bentuk lambang heraldik dan bentuk inskripsi. Di Batavia batu nisan merupakan pelengkap makam Kristen. Dulu sistem makam VOC adalah sistem kelder atau ruang bawah tanah. Dalam satu makam bisa berisi lebih dari satu jenazah yang tahun meninggalnya berlainan. Pesan-pesan pada batu nisan dibuat dalam bentuk verbal (inskripsi), ada juga dalam bentuk non-verbal (ikonis). Keduanya merupakan ekspresi latar belakang budaya komunitas pengguna pesan-pesan tersebut semasa mereka hidup.

Dari hasil penelitian Lilie Suratminto (Makna Sosio-historis Batu Nisan VOC di Batavia, 2008), disimpulkan bentuk dan jenis batu nisan sangat tergantung dari jabatan yang pernah dipegang seseorang. Batu-batu nisan para pejabat penting umumnya dari batu yang kualitasnya lebih bagus. Sementara batu nisan pejabat-pejabat rendah dari batu biasa. Nisan paling tua milik Maria Caen (1640) di Museum Wayang. Sebenarnya ada yang lebih tua, tetapi tinggal sepotong. Artefak itu ditemukan pada penggalian 1938 oleh Dinas Purbakala Hindia-Belanda pimpinan W.F. Stutterheim dalam rangka mencari makam J.P. Coen. Nisan itu atas nama Francoisa yang meninggal pada 22 November 1801.

Bahasa dalam inskripsi sebagian besar adalah Belanda yang berasal dari abad ke-17 atau ke-18. Ciri utamanya adalah belum memiliki keseragaman ejaan, misalnya kata COOPMAN (saudagar) kadang dituliskan KOOPMAN atau GEBOOREN (dilahirkan) ditulis GHEBOREN. Selain itu banyak kosakata yang lazim pada masa VOC, tidak dipergunakan lagi dalam bahasa Belanda modern.

Menurut Lilie, berdasarkan status sosial orang yang dimakamkan, maka nisan VOC terbagi atas 9 kelompok, yakni Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Gubernur dan Direktur Jenderal Hindia Belanda, Anggota Dewan Hindia Belanda, Anggota Dewan Kota, Anggota Dewan Gereja, Saudagar/Syahbandar/Perizinan, Angkatan Perang/Keamanan/Peralatan, Pribumi, dan orang yang tidak mempunyai jabatan. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori