Oleh: hurahura | 26 Juli 2010

Pengelolaan Museum Kurang Profesional

Museum di Indonesia banyak yang dikelola oleh orang-orang yang tidak profesional dan tidak berlatar belakang pendidikan museum. Bahkan, di jajaran birokrasi, museum dianggap sebagai tempat “buangan”. Kucuran dana untuk museum pun sangat terbatas.

Karena dikelola secara tidak profesional, sebagian besar museum di Indonesia tidak berkembang. Barang yang dipamerkan tak banyak berubah dan penataannya pun kurang menarik. Itulah sebabnya minat masyarakat untuk datang ke museum pun sangat minim meski biaya masuknya sangat murah, hanya sekitar Rp 3.000 per orang.

Kondisi ini sangat ironis dengan museum-museum di sejumlah negara yang untuk masuknya harus antre meski biaya masuknya relatif mahal. Di Indonesia, hanya sebagian kecil museum yang pengelolaannya sudah baik dan memenuhi standar internasional.

Demikian salah satu pokok persoalan yang mengemuka dalam diskusi terbatas “Museum sebagai Pembentuk Jati Diri Bangsa”, Kamis (22/7). Diskusi ini merupakan kerja sama harian Kompas dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Kepariwisataan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Tampil sebagai pembicara, Guru Besar Arkeologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Daud Aris Tanudirjo; Kepala Puslitbang Kepariwisataan Henky Hermantoro; dosen Universitas Indonesia, Kresno Yulianto; dan Kepala Subdirektorat Pengendalian dan Pengamanan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Priyoyulianto Hutomo.

Berbicara pula Wakil Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Tinia Budiati serta Direktur Museum Ulun Sentanu Yogyakarta Daniel Haryono.


Dampak otonomi

Henky Hermantoro mengatakan, setelah otonomi daerah, museum-museum di daerah kondisinya lebih buruk lagi. Ini disebabkan pemahaman, perhatian, dan kucuran dana dari pemerintah daerah sangat minim.

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, menurut Henky, sebenarnya sudah melakukan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kemampuan tenaga pengelola museum di daerah.

“Namun, setelah kembali ke daerah, banyak di antara mereka yang dimutasi ke bidang lain yang tak ada kaitannya dengan museum,” katanya. Museum di daerahkemudian dikelola oleh tenaga yang tak terdiri dan tak berpengalaman mengelola museum.

Daud Aris Tanudirjo mengatakan, untuk membenahi museum, perlu langkah komprehensif, termasuk di antaranya menyerahkan pengelolaan museum kepada tenaga-tenaga profesional.

“Jika perlu, untuk sementara waktu kita sewa tenaga profesional dari luar struktural sambil tenaga museum kita belajar mengelola museum,” ujarnya.

Ladewiyk Wagenar, konsultan museum dari Belanda yang hadir dalam diskusi itu, mengatakan, museum harus dikelola oleh orang-orang profesional dan sepenuh hati mencintai museum. “Jika dikelola orang sembarangan, museum bisa hancur,” ujarnya mengingatkan.(THY/NAL)

(Kompas, Jumat, 23 Juli 2010)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: