Oleh: hurahura | 26 Januari 2013

Kantor Berita di Batavia (1)

Warta Kota, Senin, 21 Januari 2013 – Kantor berita pertama di Indonesia didirikan di Batavia pada 1917, bernama Algemeen Nieuws Telegraaf Agent Schap (Aneta). Ketika itu sedang berkecamuk Perang Dunia I, jadi yang diberitakan adalah hal-hal sekitar perang. Namun kalau dilihat dari sejarah pers, kantor berita pertama adalah Indonesisch Persbureau (IP) yang berdiri pada 1913. Hanya kantor berita tersebut tidak berada di Indonesia melainkan di Den Haag (Belanda). IP didirikan oleh beberapa tokoh yang sedang menjalani pembuangan di Belanda, antara lain Tjipto Mangoenkoesoemo dan E. Douwes Dekker (Danoedirdja Setiaboedi).

Aneta merupakan perkembangan dari Pers en Knipselbureau (Biro Pers dan Guntingan Koran) yang didirikan oleh Dominique Berrety pada 1 April 1917. Karena semakin berkembang, Berrety memperluas usahanya. Dia berhasil meminjam uang dari seorang pengusaha kapal. Sejak 23 April 1924 usahanya itu dijadikan perseroan terbatas dengan nama Aneta.

Berrety dilahirkan dari ayah berkebangsaan Italia dan ibu Jawa. Dia pernah menjadi pegawai kantor telegraf. Dia pun pernah bekerja di dua surat kabar besar, yaitu Bataviaasch Nieuwsblad dan Java Bode. Mula-mula dia menjadi korektor, lalu reporter dan redaktur. Sejak ditangani Berrety, Aneta menjadi kantor berita besar dan modern. Tahun 1920 Aneta sudah memiliki kantor bertingkat tiga di Jalan Antara sekarang. Tahun 1924 Aneta membuka stasiun radio. Dengan demikian berita yang berasal dari luar negeri dapat disiarkan hanya 24 jam setelah peristiwa berlangsung.

Tahun 1934 Berrety meninggal akibat kecelakaan pesawat di Timur Tengah. Para pewarisnya kemudian menggabungkan Aneta dengan Algemeen Nederlands Indisch Persbureau. Sayang berbagai kalangan, baik orang Indonesia maupun Belanda, menganggap pemberitaan Aneta tidak selalu objektif. Bahkan Aneta sering tidak memberitakan kegiatan politik masyarakat Indonesia di Hindia Belanda. Di luar itu, beberapa surat kabar Belanda di Hindia Belanda mengeluh karena sebagian berita Aneta dimaksudkan untuk menghancurkan lawan-lawannya.

Aneta tumbuh kuat berkat dukungan modal para pengusaha Belanda dan subsidi pemerintah Hindia Belanda. Praktis ketika itu Aneta memonopoli penyiaran berita, apalagi sebagai kantor berita semi pemerintah (Ensiklopedi Jakarta, Buku I, 2004). (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Responses

  1. Sangat berwawasan… Terima kasih untuk informasinya… 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori