Oleh: hurahura | 16 Mei 2012

Pajak dan Cukai di Batavia

Warta Kota, Rabu, 9 Mei 2012 – Sejak abad ke-15 Jayakarta telah menjadi pelabuhan penting. Umumnya kegiatan perdagangan dilakukan dengan daerah pesisir Utara Jawa. Rupa-rupanya aktivitas Jayakarta terlihat oleh pelaut-pelaut Belanda yang datang ke Nusantara pada abad ke-16. Maka ketika Jayakarta direbut oleh Belanda, Batavia sebagai pengganti nama Jayakarta, secara resmi menjadi pusat kegiatan VOC. Selain sebagai pusat kekuasaan politik, Batavia juga menjadi pusat ekonomi dan militer. Di Batavia kemudian dibangun pusat perdagangan rempah-rempah dan tempat penimbunan barang dagangan dari Asia sebelum dikirim ke Eropa atau sebaliknya.

Seperti halnya kota pelabuhan, dulu penghasilan Jayakarta diperoleh dari pajak dan cukai. J.P. Coen sebagai penguasa Batavia, ingin menutupi kebutuhan yang besar dan beban VOC dengan cara memungut pajak dan cukai (Kota dan Masyarakat Jakarta, Dari Kota Tradisional ke Kota Kolonial (Abad XVI-XVIII), 2007).

Pada 1 Oktober 1620 VOC mengundangkan satu plakaat mengenai bea cukai atas barang-barang yang keluar masuk pelabuhan. Besarnya cukai impor 5% dari nilai barang dan 10% jika diekspor. Namun karena VOC kekurangan uang, maka sejak 1 Januari 1621 tarif cukai menjadi 10% dan naik lagi pada 1629 menjadi 20%.

Pemungutan cukai tersebut dilaksanakan dengan sistem kontrak kepada orang-orang China. Pada 1 Maret 1622 Coen mengontrakkan pemungutan cukai kepada Jancon, kapiten China pada waktu itu. Kecuali cukai barang impor-ekspor, Coen juga mengenakan pajak untuk penyulingan arak, penyewaan tanah, penangkapan ikan, penebangan kayu, dan penanaman pohon berbuah (terutama kelapa). Sumber lain adalah pajak perjudian, pajak usaha, pajak pemotongan hewan, dan pajak kepala.

Pajak perjudian dipungut sejak 1620. Pajak usaha dikenakan kepada setiap pemilik toko, kecuali tukang roti dan tukang jahit. Besarnya pajak usaha adalah dua real setiap bulan. Pajak pemotongan hewan diberlakukan sejak 1623. Pajak kepala hanya dikenakan kepada orang-orang China yang ingin terbebas dari wajib militer, besarnya satu setengah real setiap bulan. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: