Oleh: hurahura | 10 November 2010

Di Ye-po-ti dan Situs Candi Batujaya

Media Indonesia, Minggu, 7 November 2010 – Nama Tarumanegara digadang-gadang sebagai kerajaan yang berkuasa saat kompleks Candi Batujaya dibangun pada abad II. Bila benar, itu merupakan candi tertua di Tanah Air.

MATAHARI mulai condong ke arah barat. Sesaat ahli epigrafi Universitas Indonesia, Hasan Djafar, terlihat serius dan terpesona lalu menjelaskan secara detail asal muasal situs percandian Batujaya itu.

“Hal ini bisa dibuktikan karena ditemukan batu-batu bata yang telah berumur ratusan tahun dan bongkahan candi,” tutur Djafar di sela-sela kunjungan bersama 200 mahasiswa sejarah Universitas Indraprasta di kawasan Situs Percandian Batujaya, Kerawang, Jawa Barat (Jabar), pekan lalu.

Pada awalnya, Situs Percandian Batujaya diteliti tim arkeologi Universitas Indonesia pada 1984. Percandian ini merupakan candi kedua yang ditemukan di Jawa Barat.

Sebelumnya, terdapat Candi Cangkuang di Garut yang ditemukan pertama kali pada 1966. Yang ketiga yaitu Candi Bojongmenje (Rancaekek, Bandung) pada 2002.

Situs Percandian Batujaya terletak di dua wilayah desa, yaitu Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, dan Desa Telagajaya, Kecamatan Pakisjaya di Kabupaten Karawang. Situs itu terletak di tengah-tengah lahan persawahan dan sebagian berdekatan dengan permukiman penduduk.

“Adanya Sungai Citarum menambah keyakinan saya tentang keberadaan candi-candi di sini. Ini adalah penemuan terbesar karena di bawah sawah ini, mungkin masih terkubur candi-candi lainnya,” kata Djafar, dengan nada optimistis.

Situs Batujaya memiliki luas kurang lebih 5 hektare dan terdiri dari 24 lokasi candi.

Sebanyak 13 lokasi berada di Desa Segaran dan 11 lokasi di Desa Telagajaya. Dari 24 lokasi itu, baru 10 lokasi yang digali dan diteliti.

Yang telah dipugar baru dua candi, yaitu Candi Jiwa dan Candi Blandongan. Candi Jiwa sudah selesai pemugarannya.

Adapun Candi Blandongan masih dalam pemugaran sehingga belum tampak bentuk aslinya.

Kawasan percandian (situs) itu terletak di lokasi yang berdekatan dengan Situs Cibuaya (sekitar 15 km ke arah timur laut). Situs itu merupakan peninggalan bangunan Hindu.

Itu merupakan situs temuan pra-Hindu, kebudayaan Buni, yang diperkirakan berasal dari masa abad pertama Masehi.

Kenyataan keberadaan candi-candi di persawahan telah mendukung tulisan Fa Hsien yang menyatakan bawah ‘Di Ye-po-ti (Taruma, maksudnya Kerajaan Taruma) jarang ditemukan penganut Buddhisme. Namun, banyak dijumpai Brahmana dan orang-orang beragama kotor’.

Djafar menjelaskan setelah belasan tahun meneliti, kompleks Candi Batujaya berlatar belakang Buddha. “Pada masa lalu terjadi invasi yang dilakukan kerajaan Buddha terbesar, Sriwijaya, terhadap tanah Jawa sehingga menghancurkan kompleks candi ini,” jelas sang arkelog.

Tak dapat dimungkiri, ketidakutuhan kondisi candi seperti yang ada saat ini memerlukan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kompleks percandian itu. Apalagi, kawasan itu dapat merusakkan keberadaan Candi Jiwa dan Blandongan. Saat masuk ke kawasan percandian, pengunjung jangan berharap untuk dapat melihat fisik candi secara utuh. Sebagian besar bangunan candi masih terkubur.

Hanya ada dua candi yang telah dipugar, yaitu Candi Jiwa dan Candi Blandongan. Untuk masuk pun, pengunjung perlu berjalan kaki sejauh 600 meter dari gerbang gapura utama.

Pemandangan pematang sawah yang terbentang hijau dan luas dapat menyegarkan pandangan. Perjalanan menuju candi juga sangat berlumpur sehingga perlu menyeimbangkan badan agar tidak terjatuh ke pematang sawah.

Namun, bila ingin menggunakan jasa layanan tukang ojek, pengunjung hanya membayar ongkos sebesar Rp 5.000.

Jangan heran apabila setiba di lokasi mendapati keberadaan candi-candi itu tidak semegah atau sebesar Candi Borobudur atau Candi Prambanan di Jawa Tengah.

Pada Candi Jiwa struktur bagian atasnya berbentuk seperti bunga teratai (padma). Pada bagian tengah, terdapat denah struktur melingkar, sepertinya bekas stupa atau lapik patung Buddha.

Di bagian dasar pertama, terdapat tujuh lapisan batu bata merah. Di bagian dasar kedua lima lapisan batu bata.

Uniknya, tidak ditemukan tangga sehingga wujudnya mirip dengan stupa atau arca Buddha di atas bunga teratai yang sedang berbunga mekar dan terapung di atas air.

“Lapisan-lapisan ini dibuat sesuai prediksi. Saya yakin candi-candi ini telah ada sebelum keberadaan Candi Borobudur,” tegas Djafar.

Semua bangunan Candi Jiwa terbuat dari lempengan-lempengan batu bata. Kata `jiwa’ sangat dekat dengan salah satu nama dewa dalam agama Hindu, Dewa Syiwa.

Perubahan dari `syiwa’ menjadi `jiwa’ terjadi karena aksen Sunda. Barangkali kedekatan kata syiwa`dan `jiwa’ bisa dijadikan salah satu objek penelitian. Namun, agak ganjil apabila data yang telah didapat menunjukkan Candi Jiwa lebih kepada Buddha daripada Hindu. Dalam agama Buddha, tidak ada Dewa Syiwa.

Sekitar 100 meter dari Candi Jiwa, terdapat Candi Blandongan. Candi itu memiliki bentuk fisik yang lebih besar. Namun, pemugarannya belum selesai sehingga dipagar menggunakan seng.

“Ada kesamaan di antara dua candi ini. Saat di Belanda, saya tidak menemukan literatur-literatur tentang candi-candi ini. Mungkin saat itu Belanda kecolongan untuk mencatat,” canda Djafar seraya membenarkan tungkai kacamatanya.

Berdasarkan analisis radiometri carbon 14 pada artefak-artefak peninggalan di Candi Blandongan diketahui kronologi paling tua berasal dari abad ke-2 Masehi. Yang paling muda berasal dari abad ke-12.

Pertanggalan berdasarkan bentuk paleografi tulisan juga dilakukan.

Bukti yang ditemukan, seperti keramik China, gerabah, lepa (pleister), hiasan dan arca-arca stucco, serta bangunan bata banyak, semakin membuktikan kompleks candi tersebut merupakan peninggalan agama Buddha.

Dosen senior Universitas Indraprasta, Sartini, menilai kompleks candi-candi tersebut merupakan bangunan cagar budaya yang perlu diteliti secara lebih dalam. Apalagi, semua bahan dasar adalah replika.

“Ini bisa menjadi bahan bagi para arkeolog-arkeolog muda untuk terus meneliti sehingga bisa mendekati kebenaran yang mutlak,” pungkasnya. (M-1)


Menanti Pemugaran Besar

Dia selalu menemani setiap peneliti ataupun pengunjung yang masuk ke lokasi percandian yang berada di persawahan itu.

Ia pun bertutur bahwa masa kecilnya sebenarnya sudah mengenal daerah percandian itu. “Saat masih kecil, kami hanya melihat gundukan-gundukan yang menyerupai bukit.

Lalu diumumkan ada penemuan situs sehingga sangat menggegerkan warga setempat kala itu,” ujar warga Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, itu.

Sebagai sesepuh setempat, Kaisin menjelaskan sejak wilayah itu disterilisasi pada 1984 sebagai lokasi penelitian, warga setempat sempat menentang. Warga merasa merugi karena tempat situs ditemukan berada di areal persawahan penduduk dan harus digali.

“Mau tidak mau, warga saat itu sempat kecewa karena hasil sawah pun berkurang,” tuturnya.

Setelah mendapatkan persetujuan dengan pemerintah pusat dan provinsi, warga kemudian mendapatkan ganti rugi. Pembebasan lahan pun berjalan sesuai dengan kesepakatan.

“Namun hingga hari ini belum 100% warga mendapatkan kompensasi. Jadi, ya warga juga tetap bersawah di sekitar situs,” cetus Kaisin.

Saat Media Indonesia berkunjung ke daerah situs yang diyakini telah ada sejak abad ke-2 itu, warga juga terlihat masih bersawah. Ada yang mencangkul hingga menanam bibit-bibit padi. Tidak jauh dari situs, belasan ibu-ibu sibuk memasukkan butiran padi ke dalam karung untuk dijual ke pasar setempat.

Upaya perbaikan kondisi situs dimulai pada 1989. Jalan sekitar situs sepanjang 600 meter dibangun. Uniknya, jalan setapak itu melewati pekarangan halaman depan rumah-rumah warga.

“Kang, di sini juga bisa membeli buku yang mengupas candi. Lengkap, mulai tahun pembuatan hingga pemugaran,” ujar salah satu pedagang mencoba menawarkan buku yang dijual seharga Rp 50 ribu itu.

Kini, baru Candi Jiwa dan Candi Blandongan yang berhasil dipugar. Dua candi tersebut telah menjadi daya tarik wisata dan peneliti arkeologi. Bagi warga sekitarnya, keberadaan percandian menjadi berkah tersendiri.

Selain sudah mulai dikenal masyarakat, terutama di luar negeri, warga setempat juga bisa bernapas lega untuk mendapat rezeki tambahan.

Berbagai cendera mata, seperti baju, gantungan kunci, buku, hingga pulpen yang bergambar candi juga diperdagangkan.

Sayangnya, keberadaan candi-candi lain dalam kompleks percandian itu masih misterius.

Sebagiannya diyakini masih berada di perut bumi. Apabila seluruh candi dapat dipugar mendekati bentuk aslinya, tak ayal Candi Borobudur bukanlah satu-satunya candi terbesar di Indonesia. Sebuah upaya besar tentu dibutuhkan untuk menyelamatkan Situs Batujaya itu. (Iwa/M-1)


Responses

  1. ”Kenyataan keberadaan candi-candi di
    persawahan telah mendukung tulisan
    Fa Hsien yang menyatakan bawah ‘Di
    Ye-po-ti (Taruma, maksudnya Kerajaan
    Taruma)…’.maap skdr ingin tny..bknkah dahulu pnh ada analisis yg mengatakan bhw ye po ti adalah Seputih,suatu daerah di Way Seputih pulau Sumatra..apakah skrg tlah ditemukan teori br yg mengatakan bhw ye po ti adalah taruma??..kalo bnr demikian.mk sy amat tertinggal ilmu sejarahnya..mohon pencerahannya..trima ksh..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: