Oleh: hurahura | 11 Agustus 2010

Manuskrip: Yang Tersisa Usai Penjarahan Raffles

KOMPAS Jogja, Sabtu, 7 Agt 2010 – Papan penanda larangan masuk berdiri tegak di depan bangunan kuno di sudut tenggara Keraton Yogyakarta. Tersembunyi dari ingar-bingar pengunjung museum keraton, bangunan dengan cat mulai pudar itu ditandai dengan lengkung-lengkung gerbang bertulis HB VII. Di balik kesunyian bangunan tersebut tersembunyi Kawedanan Hageng Punakawan Perpustakaan Widya Budaya.

Pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II (1792-1828), penjajah Inggris dibawah Gubernur Thomas Stamford Raffles menyerbu Keraton Yogyakarta. Beteng keraton di sisi selatan dijebol dan pasukan Inggris menjarah keraton. Tak hanya harta benda berupa emas, kekayaan intelektual Keraton Yogyakarta berupa manuskrip kuno dari masa HB I dan HB II diangkut hingga bergerobak-gerobak ke Inggris pada 1812.

Kini, lebih dari 7.000 judul manuskrip kuno masih tersimpan di British Library, sedangkan Perpustakaan Widya Budaya hanya memiliki koleksi 363 naskah. Akibatnya, Keraton Yogyakarta tak lagi memiliki manuskrip kuno asli dari masa HB I hingga HB II. Kekayaan manuskrip yang tersimpan di perpustakaan saat ini didominasi dari masa setelah pemerintahan HB V.

Pengageng II Perpustakaan Widya Budaya KRT Purwodiningrat mengatakan, keraton sempat meminta pengembalian manuskrip kuno dari Inggris, tetapi hanya diberi dalam bentuk mikrofilm. Itu pun hanya 21 mikrofilm yang sudah dikirim kembali ke Yogyakarta dan kini disimpan di Museum Sonobudoyo.


Tidak bersedia

Menurut KRT Purwodiningrat, Inggris tidak bersedia mengembalikan manuskrip karena takut kekayaan masa lalu itu rusak karena masih belum profesionalnya penanganan naskah di perpustakaan Keraton Yogyakarta. “Kami ngalah dulu karena menyadari belum bisa menangani naskah kuno dengan baik,” kata KRT Purwodiningrat, Jumat (6/8).

Sekretaris Perpustakaan Widya Budaya KRT Rintaiswara menambahkan, pengelolaan perpustakaan kini diserahkan kepada 16 abdi dalem lanjut usia yang tidak punya bekal khusus tentang kepustakaan. Sebagian besar dari abdi dalem itu pun merangkap tugas melayani wisatawan di museum keraton.

Para abdi dalem hanya menyimpan naskah dengan penggolongan berdasarkan jenis ceritanya agar mudah dicari. Cerita sejarah dikategorikan sebagai babad, karya sastra serta cerita rakyat dalam kategori serat, dan masih ada lagi primbon, serat Islam, hingga kisah wayang.

Sebagian dari manuskrip masih diperlakukan seperti benda pusaka sehingga dikeramatkan. Naskah yang hanya bisa diakses oleh Sultan, misalnya, Naskah Surya Raja yang dijuluki Kanjeng Kyai Surya Raja. Naskah dari masa pemerintahan HB II ini hanya dikeluarkan setahun sekali di bulan Syura untuk prosesi siraman.

Pemberian sesaji atau caos dahar juga masih dilakukan pada naskah-naskah tertentu yang dianggap keramat ketika akan dialihbahasakan atau direstorasi melalui pemotretan atau scaning. Menurut KRT Rintaiswara, alih aksara manual 30 naskah keraton dari tulisan Jawa ke latih sudah dilakukan bekerja sama dengan Balai Penelitian Bahasa dan Kementerian Agama.

Proyek digitalisasi naskah keraton pun sempat dilakukan bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional dan Dinas Kebudayaan DIY. Saat ini, Keraton Yogyakarta juga menjalin kerja sama dengan Universitas Leipzig Jerman untuk penyelamatan informasi dan penyelamatan fisik manuskrip Jawa kuno melalui restorasi, kodekologi, dan digitalisasi pada sekitar 10 naskah kuno.

Beberapa naskah yang sudah mulai diselamatkan lewat digitalisasi adalah Serat Arjuna Wiwaha, Serat Nitik Mataram, Serat Suryaning Ngalogo, Babad Keraton, dan Babad Pangiwo Panengen. Perpustakaan Widya Budaya yang awalnya tertutup untuk umum ini sudah mulai diakses untuk tujuan penelitian dan pendidikan sejak masa pemerintahan HB IX. (WKM)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: