Oleh: hurahura | 8 September 2012

Edi Sedyawati – Mempertemukan Tari dengan Arkeologi

Edi Sedyawati, arkeolog dan penari

KOMPAS, Rabu, 5 September 2012 – Tari dan arkeologi. Dua dunia itu telah membuat Edi Sedyawati (73) jatuh cinta sejak ia masih remaja. Ia kemudian menekuni keduanya sekaligus. ”Menari itu hobi, arkeologi itu studi,” kata Edi.

Meski usianya sudah di ujung senja, sosok Edi masih sering ditemui pada acara-acara kebudayaan. Ia aktif menjadi pembicara terkait bidang kesenian, kebudayaan, dan arkeologi. ”Saya bukan seorang penata tari, tetapi hanya menari saja. Itu hobi saya sejak remaja,” kata Edi ketika ditemui di rumahnya, beberapa waktu lalu.

Namun, sumbangsih Edi di dunia tari lebih dari sekadar menari. Ia adalah orang pertama yang memelopori penulisan kritik tari. Ia mulai menulis kritik tari di berbagai media sejak awal tahun 1970-an. Meski tidak seaktif dulu, Edi masih menulis tentang tari dan telaah kebudayaan. Kritik dan telaahnya banyak dibaca orang, terutama para seniman, akademisi, dan penggiat seni pertunjukan.

Bagi Edi, penulisan kritik seni dan tari merupakan bagian yang tumbuh secara beriringan dengan proses kreatif seorang koreografer. Kritik diperlukan untuk meningkatkan kemampuan berkarya seorang seniman.

”Kritik adalah respons yang seharusnya dipandang sebagai imbalan atas jerih payah seorang seniman. Tanpa kritik, baik itu pujian maupun celaan, rasanya sia-sia saja karya itu dibuat, karena seniman tidak bisa mengukur sejauh mana kualitas kekaryaannya,” kata Edi.

Untuk bisa menulis kritik, Edi tidak mengandalkan kemampuan menari. Ia memperluas cakrawala pengetahuannya dengan banyak membaca dan mengenal berbagai teknik dan gaya tari. Ia juga memperbanyak pemahaman dan mengasah ketajaman soal tari dengan banyak melihat pertunjukan. ”Dulu kegiatan saya selain mengajar di UI juga keluyuran nonton pertunjukan di Taman Ismail Marzuki (TIM),” kenang Edi.


Terpesona Abimanyu

Edi mengenal tari ketika ia diajak ayahnya, Iman Sudjahri, seorang pengacara dan aktivis pergerakan nasional, menonton wayang Ngesti Pandowo. Ia terpesona dengan sosok Abimanyu yang ditarikan oleh perempuan. Dalam dunia tari, karakter laki-laki berwatak lembut dan ditarikan perempuan ini disebut sebagai bambangan.

Edi yang saat itu masih duduk di bangku kelas II SMA Negeri I Jakarta itu ingin bisa menari bambangan. Ia lalu bergabung dengan Ikatan Seni Tari Indonesia pada tahun 1956. Sejak saat itu ia tidak pernah berhenti menari hingga usianya tidak lagi memungkinkan untuk menari. Dia pernah beberapa kali ikut berbagai misi kesenian ke luar negeri.

Sambil menari, Edi juga menulis untuk mengulas pertunjukan tari yang baru saja dipentaskan. Kebiasaannya itu mengantarkan Edi menjadi seorang kritikus tari. Artikelnya dimuat di berbagai media dan menjadi salah satu referensi mengenai perkembangan tari di Indonesia.

Pengabdiannya di dunia tari ini membuat Edi mendapat penghargaan Pengabdian Seumur Hidup dalam Festival Tari Indonesia beberapa waktu lalu. Ia menjadi salah satu referensi bagi koreografer luar negeri yang ingin menggali tentang khazanah tari di Indonesia karena Edi banyak meneliti estetika tari terkait dengan arca candi.

Candi menarik perhatian Edi sejak ia masih di sekolah dasar. Ketika itu ia sering dibawa keluarganya melihat candi-candi di Pulau Jawa.

”Candi itu banyak teka-tekinya. Ekspresi arca dan pahatan di candi secara estetik sangat menarik, mendorong saya untuk mengerti lebih dalam,” kata sarjana dan doktor arkeologi dari Universitas Indonesia itu. Selain menulis tari, Edi juga banyak menulis tentang arkeologi, sejarah, kesenian, ikonografi, dan filologi. Pengetahuannya yang luas di bidang kebudayaan mengantarkan Edi menjabat sebagai Direktur Jenderal Kebudayaan pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1993-1999).

Sebagai arkeolog, Edi lebih banyak mendalami peradaban Hindu-Buddha. Ia membaca peradaban melalui arca-arca dan relief candi. Karya besarnya di bidang arkeologi adalah saat ia membuat disertasi untuk gelar doktornya pada tahun 1985 tentang Pengarcaan Ganesha Masa Kadiri dan Singhasari: Sebuah Tinjauan Sejarah Kesenian.

Ia menganalisis arca-arca Ganesha yang tersebar di Pulau Jawa dan juga menelusuri pusat dokumentasi dan benda purbakala di Belanda. Ia mendata secara detail, mulai dari ukuran, pose arca, hingga perhiasan yang dikenakan. Analisis itu bermanfaat, antara lain, untuk mengetahui pencitraan Ganesha pada setiap periode kerajaan.

Hasil penelitian Edi telah diterbitkan oleh EFEO, LIPI, dan Rijksuniversiteit Leiden tahun 1994. Penelitian itu juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Verhandelingen, Koninklijk Instituut voor Taal Land-en Volkenkunde (KITLV), No. 160, Leiden berjudul Ganesa statuary of the Kadiri and Singhasari periods, A study of art history . Sampai sekarang para peneliti asing banyak memanfaatkan hasil penelitian Edi.

Dunia tari dan arkeologi yang sekilas tampak berlawanan akhirnya dipertemukan Edi ketika ia menempuh studi di Jurusan Arkeologi, UI. Di bidang arkeologi, Edi banyak menganalisis relief candi yang berhubungan dengan tari.

Melalui relief, Edi mempelajari perbedaan gaya seni antara tari Jawa dan India. Ia, misalnya, meneliti rangkaian relief tari pada Candi Roro Jonggrang Prambanan di Yogyakarta.

Menurut dia, Relief candi seharusnya bisa memperkuat pemahaman kita terhadap pengembangan tari di Indonesia. Ia menilai, kebudayaan Indonesia lebih menjurus ke arah hiburan semata sehingga meninggalkan akar-akar kebudayaan asli Indonesia.


Edi Sedyawati

• Lahir: Malang, 28 Oktober 1938
• Pendidikan:
– Jurusan Arkeologi, Universitas Indonesia (1963)
– Fakultas Sastra, Universitas Indonesia (doktor, 1985)
• Profesi, antara lain:
– Pengajar Fakultas Ilmu Budaya UI (1963–sekarang)
– Ketua Jurusan/Akademi Tari, LPKJ (1971-1977)
– Ketua Jurusan Arkeologi, UI (1971-1974)
– Ketua Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (1971-1976)
– Pembantu Dekan I Fakultas Kesenian, Institut Kesenian Jakarta (IKJ; 1978-1980)
– Pembantu Rektor I IKJ (1986-1989)
– Ketua Jurusan Sastra Daerah, Fakultas Sastra, UI (1987-1993)
– Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya UI (1989-1993)
– Direktur Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1993-1999)
– Governor untuk Indonesia, Asia-Europe Foundation (1999-2001)
• Kegiatan, antara lain:
– Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia cabang Jakarta (1986-1990)
– Ketua Himpunan Sarjana Kesusasteraan Indonesia komisariat UI (1992-1993)
– Ketua Umum Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (1995-1999, 1999-2002)
• Penghargaan, antara lain :
– Hasil Penelitian Terbaik Universitas Indonesia bidang Humaniora (1986)
– Bintang Jasa Utama Republik Indonesia (1995)
– Satyalencana Karya Satya 30 tahun (1977)
– Bintang Chevalier des Arts et Letters dari Republik Perancis (1997)
– Bintang Mahaputra Utama (1998) – Penghargaan UI sebagai peneliti senior berprestasi (2001)

Penulis: Lusiana Indriasari

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori