Oleh: hurahura | 4 September 2010

Upaya Menelisik Pengunjung Museum

Dr. Agus Aris Munandar
Departemen Arkeologi
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia


I

Dapat dipastikan bahwa kunjungan masyarakat ke suatu museum mempunyai maksud tertentu. Mereka pastinya didasari kepada keinginan atau motivasi tertentu sehingga mau mendatangi museum-museum. Masyarakat Indonesia dewasa ini dapat dinyatakan masih berada dalam tahap transisi untuk dinamakan modern. Di kota-kota besar masyarakat telah mengenyam pendidikan yang lebih maju dan setidaknya mengerti guna suatu museum. Dalam pada itu sebagian masyarakat di pedesaan dan pelosok-pelosok Indonesia tentunya akan sulit jika harus berpikir tentang kedudukan dan peran museum di tengah masyarakat. Dengan demikian yang dimaksudkan sebagai masyarakat para pengunjung museum adalah masyarakat di kota-kota atau mereka yang telah terpelajar, walaupun tidak berasal dari tataran pendidikan tinggi.

Keberadaan museum di suatu negara adalah keniscayaan, kehadirannya di tengah masyarakat sebenarnya sudah merupakan keharusan. Sebagai masyarakat negara yang mengembangkan dan menghargai pencapaian peradaban masa lalunya, museum mutlak harus ada. Selanjutnya apabila suatu museum telah resmi didirikan, tahapan berikut adalah apresiasi dari khalayak umum. Apabila tidak ada bentuk apresiasi, maka museum yang baru didirikan itu akan menjelma menjadi gudang penyimpanan benda-benda masa lalu saja.

Bentuk apresiasi yang nyata bagi suatu museum adalah banyaknya kunjungan dari masyarakat ke museum, banyaknya kegiatan yang dilakukan masyarakat berkenaan dengan kedudukan museum, dan bermacam aktivitas masyarakat yang terkait dengan sesuatu museum. Masyarakat merupakan organisme sosial yang dinamis, wujudnya pun bermacam-macam serta banyak kategori yang dapat dikenakan kepadanya. Dapat dinyatakan bahwa masyarakat pengunjung museum adalah salah satu segmen khusus masyarakat yang secara sadar atau tidak sadar mau mendatangi museum, karena kunjungan ke museum-museum di Indonesia masih belum banyak dilakukan oleh masyarakat.

Suatu kajian terhadap pengunjung museum dapat dilakukan oleh pengelola museum sendiri ataupun oleh lembaga lain, atau juga oleh peneliti untuk keperluan studinya. Sebenarnya hasil dari kajian yang dilakukan terhadap masyarakat pengunjung museum dapat digunakan oleh pihak museum untuk mengembangkan museum dari berbagai aspeknya.


Dalam bagan I dapat dijelaskan bahwa masyarakat mengunjungi museum dalam rangka apresiasi terhadap museum tersebut. Dapat diartikan bahwa ketika masyarakat datang ke suatu museum secara sadar ataupun karena ada penugasan, maka bentuk kunjungan ke museum tersebut adalah sebagai bentuk penghargaan kepada lembaga museum. Sebaliknya hubungan museum dengan masyarakat lebih bersifat presentasi, yaitu menyajikan apa yang dikoleksinya untuk dinikmati oleh masyarakat. Agar penyajian itu lebih menarik maka perlu pula diketahui pendapat masyarakat pengunjungnya. Demikianlah titik pangkal dari diadakannya suatu kajian terhadap pengunjung sebenarnya kelak bermuara kepada kepentingan museum. Hasil kajian itu dapat digunakan untuk meningkatkan mutu museum dalam pengertian yang seluas-luasnya.


II

Masyarakat pengunjung museum sebenarnya dapat disamakan dengan konsumen yang memanfaatkan suatu produk, karena museum menghasilkan produk, yaitu sajian pameran yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Dalam hal ini pada dasarnya terjadi interaksi antara produk yang dihasilkan museum, masyakarat sebagai penikmatnya, dan pihak pengelola museum yang dapat dipandang sebagai penghasil produk tersebut. Ketiganya tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya dalam suatu sistem pengembangan museum. Pengelola museum jelas bertanggung jawab terhadap produk yang dihasilkan oleh museumnya. Mereka adalah para konseptor, kurator, dan administrator yang harus mampu menghasilkan falsafah serta produk bermutu, menarik, dan mampu mengundang pengunjung. Sajian pameran sebagiannya adalah bentuk transformasi bukannya refleksi pemikiran dari para pengelola museum tersebut, selain daya tarik yang dimiliki oleh artefak yang dipamerkannya. Adapun pengunjung museum jelas adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan oleh suatu museum, sebagaimana telah dikemukakan bahwa museum tanpa pengunjung akan menjelma menjadi gudang barang antik dan unik saja. Maka apabila digambarkan kaitan ketiganya dapat dilihat dalam bagan interaksi tiga pihak pengembangan museum:

Setiap komponen yang berinteraksi tersebut dapat dibagi lagi secara garis besar, yaitu:
1. Pengelola Museum di Indonesia terdiri dari:

a.Pemerintah, artinya pihak pemerintah yang menyelenggarakan suatu museum, baik pemerintah pusat, pemerintah propinsi, ataupun kabupaten. Termasuk ke dalam museum pemerintah adalah berbagai macam museum yang diselenggarakan oleh berbagai instansi pemerintahan lainnya.

b. Swasta, artinya penyelenggara sesuatu museum adalah masyarakat di luar peran lembaga pemerintahan, museum jenis ini berdiri atas inisiatif perseorangan, lembaga swasta atau kelompok lainnya yang pembiayaannya didapatkan dari sumber keuangan di luar dana resmi pemerintah.

2. Sajian Pameran sebagai produk adalah benda-benda yang dipamerkan di museum. Mengenai penataan pameran cukup banyak ragamnya dan merupakan kajian yang tersendiri pula. Dalam kesempatan ini dapat dinyatakan secara umum bahwa pameran tersebut ada dua cara, yaitu pameran dalam gedung dan pameran terbuka di luar gedung, sudah barang tentu cara penangannya berbeda pula. Hanya saja ciri utama dari produk yang dihasilkan oleh museum antara lain yang penting adalah:

a.produk harus dimanfaatkan di tempatnya, artinya tidak bisa dibawa-bawa untuk dinikmati di sembarang tempat oleh konsumennya.
b.produk bukan sesuatu yang dapat dipakai atau dikonsumsi, melainkan untuk keperluan kognisi memori.
c.produk berkenaan dengan kemasalaluan dan dokumentasi pencapaian peradaban, bukan bersifat kekinian dan masa yang akan datang.

3. Masyarakat Pengunjung sebagai konsumen merupakan hal yang penting dalam membuat sesuatu museum menjadi bermakna. Dalam hal masyarakat sebagai konsumen secara garis besar terdapat beberapa kategori sebagai berikut:

a.Masyarakat pada umumnya
b.Kaum intelektual peneliti
c.Tokoh masyarakat dan selebritis
d.Pejabat resmi pemerintahan

Sebenarnya banyak segmen masyarakat yang datang berkunjung ke museum, namun untuk memudahkan kajian bagian-bagian masyarakat tersebut dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari empat kategori tersebut. Misalnya para pelajar dari tingkat SD sampai SMA dapat dimasukkan ke dalam masyarakat pada umumnya sehubungan dengan tingkat pengetahuannya tentang sesuatu yang masih dasar dan umum. Begitupun kalangan perguruan tinggi yang bukan dari bidang-bidang yang berkaitan dengan museum dan isi koleksinya, masih dapat digolongkan sebagai masyarakat pada umumnya. Kaum intelektual peneliti adalah mereka yang datang secara sadar ke museum untuk keperluan penelitiannya. Tentunya disiplin yang didalaminya atau dipelajarinya telah membawanya secara sadar ke museum. Mereka biasanya begitu kritis terhadap aspek-aspek tertentu dalam museum. Biasanya mereka mempunyai disiplin ilmu yang ada kaitannya secara langsung dengan koleksi museum atau permuseuman pada umumnya. Dalam pada itu tokoh masyarakat atau selebritis ialah orang-orang yang dikenal meluas dalam masyarakat karena kedudukannya, perannya, profesinya, dan lain-lain, namun bukan dari kalangan pemerintahan atau lembaga tinggi negara. Adapun pejabat resmi pemerintahan pun banyak macam, kedudukan, peranan, dan dari lembaga-lembaga berbeda, pada pokoknya adalah mereka yang sedang mengemban tugas resmi kenegaraan sebagai pejabat yang mempunyai pengaruh. Demikianlah dalam hal mengapresiasi museum setiap kategori pengunjung tersebut mempunyai opininya tersendiri yang berbeda-beda. Kajian terhadap opini yang berbeda itu menjadi penting bagi pengembangan sesuatu museum selanjutnya.


III

Menurut para ahli museum didirikannya suatu lembaga yang dinamakan museum sebenarnya mempunyai 3 fungsi utama, yaitu:

  1. Melaksanakan pelestarian terhadap berbagai benda atau artefak dari masa lalu yang dianggap penting.
  2. Menyediakan sarana pendidikan dan ilmu pengetahuan dalam bentuk visual, dan
  3. Sebagai tempat rekreasi yang dapat dijadikan tujuan wisata masyarakat

Ketiga tujuan “pembangunan” museum itu senantiasa selalu ditingkatkan menjadi sempurna dan makin sempurna.

Penyempurnaan dari ketiga tujuan museum tersebut antara lain didasarkan dari pendapat masyarakat pengunjung selain penyempurnaan yang konsepnya datang dari pengelola museum itu sendiri. Maka apabila diadakan upaya penelisikan terhadap pengunjung sebenarnya dilakukan dengan maksud untuk meningkatkan lagi tujuan-tujuan museum tersebut Keempat kategori masyarakat pengunjung tersebut dapat ditelisik dalam kaitannya dengan salah satu atau dua tujuan museum, ataupun malahan berkenaan dengan ketiganya. Tentu saja penelisikan itu dilakukan setelah diadakan kajian tentang:1.Jumlah pengunjung yang datang rata-rata perhari, perbulan, pertahun. Data tersebut dapat membawa ke arah tafsiran tingkat kepopuleran sesuatu museum. 2.Jumlah rentang umur yang datang, misalnya pengunjung anak-anak, remaja, dewasa muda, dan dewasa. Data yang diperoleh setelah dianalisis dapat membawa kepada tafsiran, tingkat kepopuleran museum di kalangan kelompok umur tertentu.3.Kajian sejenis nomor dua namun dengan parameter banyaknya jenis kelamin, pekerjaan, kunjungan individual, rombongan, rombongan wisata artinya ada Biro Perjalanan yang berperanan, dan lainnya lagi. Semua penelisikan tersebut pada dasarnya hendak menjaring data mengenai kepopuleran sesuatu museum secara umum atau pun di kalangan tertentu.4.Penelisikan terhadap pengunjung juga dapat berkenaan dengan motivasi atau maksud kedatangannya. Motivasi kedatangan pengunjung harus “dibaca” secara cermat, karena berdasarkan pengetahuan motivasi pengunjung dapat diasumsikan arah pengembangan suatu museum dan juga untuk melakukan interpretasi lebih lanjut tugas museum5.Begitupun upaya untuk mengetahui komentar-komentar dan harapan para pengunjung tentang sesuatu museum dapat membawa ke arah perbaikan dari museum itu sendiri. Komentar dan harapan tersebut tentu datang dari kalangan pengunjung yang berbeda, karena itu yang harus dianalisis lagi secara mendalam sehingga dapat diketahui mana yang mungkin ditindaklanjuti dan mana yang untuk sementara waktu belum dapat dilaksanakan.

Dalam bagan 3 dapat diasumsikan bahwa pengunjung masyarakat umum apabila datang ke museum, maka perhatian utamanya yang berkaitan dengan 3 tugas/fungsi museum adalah fungsi rekreatifnya. Begitupun kalangan intelektual/peneliti jika berkunjung ke museum asosiasi atau perhatian utamanya akan tertuju kepada tugas I, yaitu pelestarian benda koleksi museum, dan tugas II yaitu pendidikan yang dapat berupa penelitian untuk keperluan perkembangan ilmu yang pada akhirnya untuk keperluan pendidikan juga. Tokoh masyarakat dan kaum selebritis apabila berkunjung ke museum diasumsikan akan memfokuskan perhatiannya kepada tugas II, yaitu pendidikan dan juga tugas III rekreatif. Sedangkan jenis pengunjung dari kalangan pejabat resmi akan memfokuskan perhatiannya kepada tugas I pelestarian dan tugas II pendidikan. Segala macam opini, pendapat hasil penelitian, komentar dari para pengunjung tersebut pada akhirnya dapat dimanfaatkan untuk penyempurnaan museum yang dikunjungi mereka, itu pun apabila kajian tersebut ditindaklanjuti. Hal yang dikemukakan dalam bagan 3 adalah hal yang menjadi perhatian utama dari macam pengunjung apabila berasosiasi dengan tugas-tugas/fungsi museum. Dapat juga terjadi bahwa dari kalangan masyarakat pada umumnya ada juga yang berminat untuk mengetahui seluk beluk pelestarian benda koleksi yang dilakukan oleh museum. Bisa saja orang-orang kaya yang menjadi kolektor benda yang bernilai seni, penting untuk ilmu pengetahuan, dan ditaksir mempunyai nilai jual tinggi, akan datang ke museum untuk mempelajari cara melestarikan koleksi benda-benda miliknya. Demikian juga dari kalangan pejabat resmi pemerintahan yang diasumsikan mempunyai fokus utama kepada pelestarian dan pendidikan, sangat mungkin ada pula yang memperhatikan aspek rekreatifnya. Dalam hal ini para pejabat dari kalangan Pariwisata dalam Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tentunya akan lebih memperhatikan aspek rekreatif sesuatu museum, karena penting untuk menarik datangnya wisatawan. Begitupun dari kalangan pengunjung kaum intelektual dan peneliti tentunya ada pula yang memperhatikan aspek rekreatifnya, apabila ia datang ke museum bukan untuk tujuan ilmiah, melainkan untuk tujuan mencari pencerapan ide-ide penelitian baru, atau ada pula peneliti yang khusus memperhatikan aspek rekreatif di suatu museum, maka tugas III museum menjadi perhatiannya pula. Untuk lebih jelas perhatikan bagan 4 berikut:

Pada bagan 4 terlihat bahwa terdapat segmen masyarakat pengunjung dari salah satu kategori pengunjung museum yang mau datang ke museum di luar asumsi utama. Kedatangan mereka didasari oleh motivasi tertentu yang berbeda daripada motivasi yang umumnya dapat diprediksikan. Para pemilik art shop atau kolektor walaupun memperhatikan fungsi pertama museum, yaitu pelestarian, namun mempunyai motivasi khusus untuk kepentingan sendiri. Mereka tentunya ingin mempelajari cara memelihara atau melestarikan benda-benda koleksi yang dimilikinya sebaik-baiknya seperti layaknya yang dilakukan oleh museum. Dalam pada itu terdapat juga tokoh masyarakat yang berkunjung ke museum dengan tujuan untuk mempopulerkan museum, juga membawa dampak baik juga buat dirinya. Dalam pandangan masyarakat mungkin tokoh selebritis tersebut akan dipandang sebagai seorang yang turut memperhatikan museum, namanya lalu semakin populer. Maka mungkin dapat dilakukan kajian khusus terhadap pengunjung dengan memperhatikan motivasi atau latar belakang kedatangannya ke museum. Kajian itu mungkin akan menemukan beberapa macam motivasi yang dapat diasumsikan sebagai berikut:

1.sadar untuk datang ke museum
2.terpaksa datang ke museum karena tugas
3.ketidaksengajaan karena secara tidak langsung dibawa untuk berkunjung ke museum.

Setiap kelompok masyarakat mempunyai motivasinya sendiri untuk datang ke museum. Motivasi kelompok masyarakat pertama yang latar belakang kedatangannya memang atas kemauan sendiri dan secara sadar berkunjung ke museum mungkin dapat diketahui bertujuan (a) untuk menambah ilmu dan wawasan, (b) mendapat referensi, (c) sumber kreativitas dan imajinasi, dan (d) melakukan rekreasi.

Bermacam tugas yang dapat menjadikan seseorang untuk datang ke museum, bagi pelajar/mahasiswa tugas itu diberikan dalam rangka belajar atau dalam kaitannya dengan perkuliahan. Terdapat juga tugas penelitian yang menghendaki seorang peneliti untuk bertandang ke museum. Apabila tidak ada tugas penelitian belum tentu seorang intelektual dan peneliti itu mau datang secara sadar ke museum. Masih banyak contoh lainnya yang dikarenakan oleh tugas, maka seseorang menjadi datang berkunjung ke museum. Mengenai ketidaksengajaan datang ke museum biasanya dialami oleh para wisatawan yang dibawa dalam rangkaian perjalanan wisatanya untuk singgah di museum-museum. Apabila wisatawan itu melancong sendiri, mungkin ia tidak akan singgah ke sesuatu museum, namun karena ia ikut dalam sistem perjalanan yang diatur oleh biro perjalanan, maka ia suka tidak suka terpaksa berkunjung ke museum. Hal itu bukanlah sesuatu yang negatif, mungkin dari kesan pertamanya berkunjung ke suatu museum di lain kesempatan ia akan datang lagi atau menginformasikannya ke teman-temannya. Kajian pengembangan museum berdasarkan jumlah kunjungan mutlak juga memperhatikan kerja sama antara museum dan biro-biro perjalanan yang membawa museum. Pada dasarnya biro-biro perjalanan tersebut mempunyai “kekuatan” untuk mengajak wisatawannya agar singgah ke museum, yaitu lewat kalender acara yang telah dibuat oleh mereka.


IV

Penelitian terhadap pengunjung museum dapat dilakukan oleh pihak museum sendiri, tetapi juga dapat dilakukan oleh pihak luar. Dalam hal ini yang mungkin melakukan kajian terhadap perilaku atau aktivitas pengunjung adalah mahasiswa yang mengambil topik permuseuman dalam rangka menyusun tugas akhirnya. Tugas akhir yang berupa skripsi (S1) atau tesis (S2) sebenarnya mempunyai manfaat ganda. Manfaat pertama dirasakan oleh mahasiswa yang menyusunnya, karena hasil penelitiannya merupakan karya yang diujikan dan dapat membawanya ke jejang kelulusan sebagai sarjana (S1) atau pun sebagai magister (S2).

Manfaat kedua adalah laporan hasil penelitian tersebut –apapun nilainya– jika diserahkan ke museum tempat mahasiswa melakukan penelitiannya dahulu, maka sangat mungkin akan bermanfaat bagi museum tersebut. Hanya saja seringkali mahasiswa lupa atau melupakan kewajibannya untuk menyerahkan 1 salinan laporan penelitiannya kepada museum.

Dalam melakukan penelisikan terhadap pengunjung museum, maka terdapat beberapa instrumen yang digunakan untuk menjaring data, ada yang merupakan instrumen langsung ditujukan kepada pengunjung, ada juga yang secara tidak langsung. Instrumen yang langsung ditujukan kepada pengunjung adalah lembar-lembar kuesioner yang dapat diisi oleh pengunjung sebagai narasumber, atau juga diisikan oleh peneliti. Pertanyaan dalam kuesioner dapat bersifat pertanyaan terbuka atau pun tertutup karena telah tersedia daftar pilihan jawaban, semua itu sangat tergantung kepada data apa yang akan dijaring. Masih merupakan instrumen langsung adalah juga melakukan wawancara mendalam dengan narasumber. Daftar pertanyaan sebaiknya sudah disiapkan terlebih dahulu oleh peneliti sebelum melakukan wawancara.

Salah satu instrumen juga untuk menjaring data adalah pengamatan tidak langsung kepada pengunjung. Dalam hal ini peneliti mengamati perilaku pengunjung dalam hal antara lain:

  1. di mana mereka berkumpul,
  2. di ruang mana atau di bagian mana mereka sering berlama-lama mengamati koleksi museum,
  3. apa saja aktivitas mereka selama di ruang-ruang museum,
  4. apakah alur kunjungan yang sudah ditentukan dapat diikuti secara baik oleh para pengunjung,
  5. apakah aturan, larangan, anjuran yang ada telah dipatuhi oleh pengunjung,
  6. perilaku apa yang sepatutnya tidak dilakukan oleh pengunjung,
  7. dan sebagainya.

Dalam hal ini peneliti hanya mengamati saja, mendokumentasi dalam bentuk tulisan ataupun foto, peneliti tidak perlu bertanya-tanya kepada pengunjung, semua tafsiran yang dilakukan hanya berdasarkan pengamatan saja.

Demikianlah bahwa museum sebenarnya juga tataran luas yang belum tergarap baik oleh para peneliti. Museum sendiri adalah objek penelitian beberapa disiplin, karena di dalamnya terjadi fenomena keilmuan antara lain, komunikasi, sosiologi, interior design, antropologi, sejarah, arkeologi, seni rupa, kimia, kartografi, keramologi, dan lain-lainnya lagi. Disiplin keilmuan itu ada yang berkenaan langsung dengan artefak koleksi museum, ada juga yang berkenaan dengan manusia yang memanfaatkan artefak itu untuk keperluan kognisi dalam kehidupannya.


DAFTAR BACAAN

MUNANDAR, AGUS ARIS, 1993/1994, “Peranan Museum dalam Pendidikan Sejarah Bangsa”, dalam Luthfi Asiarto & Tjahjopurnomo, Museum dan Sejarah. Jakarta: Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta, Dirjenbud, Depdikbud. Halaman 7—22.

—————–, 2005, “Penelitian Koleksi di Museum: Tataran yang Tetap Menantang”. Makalah dalam Rapat Koordinasi Kepala Museum Se-Indonesia. Direktorat Museum, Dirjen Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Tanggal 15—17 Maret, Bali.

SUMADIO, BAMBANG, 1991, “Sikap Peneliti Sebagai Salah Satu Sikap Dasar Orang Museum”, dalam Museografia No.2. Jilid XXI.Hlm.15—20. Jakarta: Depdikbud.

—————–, 1996, Bunga Rampai Permuseuman. Jakarta: Depdikbud.

WAHYONO (Ketua Pokja), 2004, Penelitian Pengembangan Museum Dalam Rangka Peningkatan Apresiasi Masyarakat. Asisten Litbang Deputi Peningkatan Kapasitas dan Kerja Sama Luar Negeri, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. Jakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: