Oleh: hurahura | 30 Maret 2016

Situs Palmyra Sulit Diperbaiki

Palmira-1AFP/OSEPH EID AND MAHER AL MOUNES

Arsip foto yang diambil pada 14 Maret 2016 memperlihatkan Kuil Bel di kota bersejarah Palmyra, Suriah, yang dihancurkan milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Kuil kuno tersebut dihancurkan pada September 2015 saat kaum jihadis itu mengusai Palmyra. Pasukan Suriah kembali merebut kota tersebut dengan dukungan militer Rusia baru-baru ini. Foto atas memperlihatkan Kuil Bel yang belum dihancurkan, sebelum September 2015.

Tim arkeologi Perserikatan Bangsa-Bangsa sangat meragukan situs purbakala Palmyra di Suriah dapat direkonstruksi. Situs bersejarah itu dihancurkan oleh kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) yang selama 10 bulan menduduki kota itu sebelum direbut kembali oleh pasukan Pemerintah Suriah, akhir pekan lalu.

“Semua orang sangat gembira karena Palmyra telah dibebaskan. Akan tetapi, kita tak boleh melupakan segala sesuatu yang telah dihancurkan,” kata Annie Sartre-Fauriat, anggota tim ahli purbakala Suriah. Tim itu dibentuk Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) pada 2013.

“Saya sangat meragukan kapasitas membangun kembali situs Palmyra meski dengan bantuan internasional. Kita tak bisa membangun kembali sesuatu yang telah menjadi abu,” ujar Sartre-Fauriat. “Mau membangun apa? Kuil baru? Masih banyak prioritas lain di Suriah selain membangun reruntuhan.”

Pasukan Suriah yang dibantu serangan udara Rusia berhasil mengusir pasukan NIIS dari Palmyra, Minggu, setelah pertempuran sengit selama tiga pekan.

NIIS menduduki Palmyra-situs warisan dunia UNESCO dan dikenal sebagai Mutiara Padang Pasir-pada Mei 2015. Kelompok teror itu lalu menggunakan teater kuno di kota itu sebagai panggung eksekusi publik yang penuh horor.

Selama pendudukan itu, NIIS menghancurkan Kuil Bel berusia 2.000 tahun. Mereka juga merusak Kuil Baal Shamin, puluhan makam bersejarah yang terawat baik, dan Monumen Kemenangan bertahun 200 Masehi.

Pesimisme Sartre-Fauriat bertolak belakang dengan pandangan optimistis Maamoun Abdulkarim, Kepala Badan Purbakala Suriah. Sebelumnya, Abdulkarim kepada kantor berita AFP mengatakan, 80 persen reruntuhan situs Palmyra dalam “kondisi baik” dan restorasi membutuhkan waktu lima tahun.

Sartre-Fauriat meragukan ada perbaikan selama kota itu diduduki militer. “Tak perlu membodohi diri, Palmyra sudah dikuasai berarti perang berakhir. Ini hanya untuk membangun publik opini pada rezim Presiden Bashar al-Assad,” ujarnya.

Sejarawan itu mengaku menerima foto dan video dari lokasi, termasuk tentang Museum Palmyra, yang kemudian digunakan NIIS sebagai pengadilan. “Museum itu dijarah habis-habisan. Badan purbakala hanya punya waktu 48 jam untuk mengevakuasi koleksi museum sebelum diduduki NIIS sehingga tak banyak yang bisa diselamatkan,” ujarnya

Sarkofagus kuno dihancurkan, patung-patung bertumbangan, patah atau hancur. “Plakat nisan makam, koleksi unik Palmyra, dilepas paksa dari dinding. Barangkali dijual oleh Daesh (NIIS),” ujar Sartre-Fauriat.

Namun, salah satu patung ikon Palmyra, yakni patung singa raksasa mencengkeram rusa, yang telah dijungkirbalikkan dan patah, masih bisa diperbaiki.


Mendesak maju

Pasukan Pemerintah Suriah memperkuat posisi mereka di Palmyra dan terus mendesak pasukan NIIS setelah merebut kembali kota itu. Militer Suriah mulai mendekati kota-kota lain di sekitar Palmyra yang dikuasai NIIS, seperti Al-Qaryatain, barat daya Palmyra, dan Sukhnah di arah timur laut.

“Pasukan kini berkonsentrasi di sekitar Al-Qaryatain dan hari (Senin) ini operasi militer di sana dimulai,” ujar sumber militer di Palmyra. “Ini tujuan berikut pasukan Suriah. Mereka juga mengincar kota Sukhnah.”

Kepala Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) Rami Abdel Rahman mengatakan, jika berhasil menguasai kembali Sukhnah, pasukan Suriah akan tiba di Provinsi Deir Ezzor, wilayah kaya minyak yang menjadi markas pasukan NIIS.

Pada Senin, pasukan khusus Suriah bekerja keras menjinakkan bom dan ranjau yang ditanam oleh NIIS saat mundur dari Palmyra. Seorang tentara mengatakan, lebih dari 50 bom dijinakkan, sedangkan unit khusus penjinak bom akan meledakkan secara terkontrol bom yang sulit ditangani.

Assad tak bisa menyembunyikan kebanggaannya dan menyebut keberhasilan merebut Palmyra sebagai “bukti nyata efisiensi pasukan Suriah dan sekutunya memerangi terorisme”.

Lembaga pemikir Soufan Group yang berbasis di Amerika Serikat mengatakan, kekalahan di Palmyra adalah kerugian besar bagi NIIS. “Saat kelompok itu berusaha merebut kota-kota kecil di Suriah dan Irak, mereka menghadapi kekalahan taktik,” demikian lembaga tersebut.

Presiden Rusia Vladimir Putin, sekutu terkuat Assad, memberi ucapan selamat kepada Damaskus atas keberhasilan itu. Iran, sekutu lain Suriah, juga memuji sukses itu dan berjanji mempertahankan dukungan finansial dan militer. (AP/AFP/REUTERS/WAS)

(Sumber: Kompas, Selasa, 29 Maret 2016)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: