Oleh: hurahura | 11 Desember 2012

Menggali Indonesia dari Tempat Sepi

R Cecep Eka PermanaKompas/Totok Wijayanto
Arkeolog UI, R. Cecep Eka Permana, Penanggung Jawab Ekskavasi Penelitian Gunung Panjang, di lokasi ekskavasi.

KOMPAS, Minggu, 9 Desember 2012 – Kearifan bangsa terkubur dalam artefak budaya dan manuskrip kuno. Arkeolog, filolog, dan sejarawan bekerja keras menggali dan membacanya. Semua ingin bangsa ini belajar dan menata kehidupan dengan lebih baik.

Tangga yang disusun dari batu itu menjulang tinggi, meliuk mengikuti kontur bukit, di Desa Kartamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur. Jumlahnya dari titik pintu masuk Situs Tradisi Megalitik Gunung Panjang, mencapai ratusan. Berbelok sedikit setelah mencapai anak tangga terakhir di puncak bukit, terhamparlah ”lapangan” luas yang dipenuhi ratusan batu besar berbentuk balok, ada yang dalam posisi tegak, ada juga yang bertumpuk dan tergeletak alami.

Sulit untuk tidak mengaitkan keajaiban alam ini dengan keinginan mereka-reka, seperti apa peradaban di masa lampau itu? Seperti apakah kondisi masyarakatnya? Tak jauh dari situ, di salah satu kotak galian, tangan Dr R Cecep Eka Permana, Penanggung Jawab Ekskavasi Penelitian Gunung Padang, mengungkit-ungkit lapisan tanah yang berada di zona ekskavasi dengan ”cetok”-nya (scrapper). Ini adalah hari kesepuluh ia berada di lokasi bersama timnya.

”Kami sedang melakukan zonasi, tujuannya untuk penetapan situs. Membuat kajian di mana batas-batasnya. Mana zona pelestarian, mana zona pengembangan, zona penduduk,” kata Cecep.

”Di dalam penelitian ini terdapat sejumlah kotak galian yang dipilih secara selektif untuk menentukan bagaimana batu-batu di susun di setiap teras. Sejauh ini yang bisa dikatakan adalah, situs ini merupakan bangunan berundak tradisi megalitik yang mengindikasikan sebagai tempat pemujaan animisme-dinamisme,” kata Cecep yang juga mengampu mata kuliah ekskavasi di Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia.

Kami kemudian berjalan menyusuri terasering yang menakjubkan. Area situs ini bak dikelilingi benteng yang kukuh. Batu-batu yang besar dan khas itu tersusun rapi menjadi semacam ”tembok pembatas”.

”Bayangkan, siapa yang bisa menyusun batu-batu seperti ini. Bagaimana teknologinya? Bagaimana mengorganisasi massa di masa lalu untuk membuat bangunan seperti ini? Bagaimana mereka membuat rancangan untuk bukit sebesar dan seluas ini?” lanjut Cecep.


Arkeologi, filologi, sejarah

Itulah inti ilmu arkeologi, berbicara tentang jati diri dan karakter bangsa. ”Kalau ditanya tentang jati diri Indonesia, pasti kita bicara tentang bahasa, budaya, ada yang terukur ada yang tak terukur. Kita bicara tentang kearifan nenek moyang di masa lampau. Seperti tempat pemujaan di sini, ini akan membawa kita pada konsep religi di masa lampau. Kita bisa belajar tentang kearifan mereka,” kata Cecep yang sudah menekuni bidang ini selama 30 tahun.

Sepi-3Grafik: Filolog? Wah Nggak Tahu?

Namun, dengan hanya melihat artefak, masa lampau itu masih kurang lengkap untuk digambarkan. Dibutuhkan ilmu filologi, yaitu ilmu yang memfokuskan pada pernaskahan, manuskrip, atau naskah yang ditulis tangan, untuk melengkapinya.

”Dengan mempelajari naskah kita akan mendapatkan jauh lebih banyak informasi, dibandingkan misalnya dengan hanya melihat Candi Borobudur yang dibuat pada abad ketujuh. Secara gambaran dan secara lebih lengkap, kita akan dibawa seolah mimpi kembali, atau melihat dunia lain yang pernah benar-benar ada, terjadi…,” kata Dr Supardjo, filolog dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Menurut Supardjo, banyak sekali yang bisa disumbangkan filologi pada disiplin ilmu lain, misalnya bidang farmasi dan kedokteran. ”Mbah-mbah kita dulu ternyata sudah ahli dalam bidang obat-obatan,” katanya. Ia memberi contoh bahwa naskah pada zaman Pakubuwono IV banyak menyebut tentang ramuan obat-obatan herbal (jamu). Naskah kuno juga banyak menyimpan informasi tentang arsitektur rumah-rumah Jawa.

Filolog itu seperti juru masak. Ada naskah, ada teks, dan ada transkripsi. Lalu siapa pembacanya? ”Ya para sejarawan yang mengonsumsinya untuk merekonstruksi sebuah konteks,” kata Oman Fathurahman, filolog dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, yang ketika Aceh dilanda tsunami besar ia berjibaku mengumpulkan kembali ribuan manuskrip yang masih bisa diselamatkan. Baginya, manuskrip dan dokumen adalah kekayaan intelektual bangsa yang harus diselamatkan.

”Manuskrip-manuskrip di Aceh sangat penting karena banyak yang menggambarkan sejarah peradaban Islam awal di Nusantara. Subyeknya pun sangat beragam, mulai dari bidang keilmuan yang menggambarkan tradisi intelektual Islam, hubungan Aceh dengan dunia Islam di wilayah lain, termasuk Timur Tengah, sampai gambaran kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti info gempa, gerhana matahari, obat-obatan, korespondensi ulama abad ke-17 dengan ulama di Madinah, dan lain-lain,” jelas Oman.

Pengembaraan Oman di rimba manuskrip itu mengungkap fakta penting tentang posisi kultural politik ulama Indonesia di kawasan yang sekarang bernama ASEAN. Artinya, sejak dulu wilayah yang kini bernama Indonesia itu telah menjadi rujukan pengetahuan regional. ”Ini bisa terlihat dari jaringan ulama di masa lalu,” kata Oman.


Membaca dan belajar

Dengan kata lain, berbagai bahan sejarah yang mengaitkan keberadaan ”Indonesia” di masa lalu dengan Indonesia masa kini, terserak bak harta karun. Persoalannya, apakah bangsa ini mau belajar?

”Kita kenal kata sejarah, mungkin juga membaca sejarah, namun tidak belajar sama sekali dari sejarah,” kata JJ Rizal, sejarawan sekaligus pendiri Komunitas Bambu. Ia menunjuk contoh penting tentang perluasan wilayah VOC hingga Karawang pada tahun 1677, yang menandai awal pembabatan hutan di tepian Sungai Ciliwung. Hutan dijadikan perkebunan tebu dan industri gula. Kemudian perkebunan gula ditinggalkan mengakibatkan pelumpuran Sungai Ciliwung. Itulah awal terjadinya krisis air bersih, pelumpuran, banjir, dan epidemi malaria.

SoepardjoKompas/Ferganata Indra Riatmoko
Soepardjo, filolog, Ketua Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret, yang juga menjabat sebagai Pembina Yayasan Sastra Lestari, di ruang kerjanya di UNS, Solo, Jawa Tengah

Bencana ekologis di Oud Batavia yang kemudian menjadi Jakarta itu nyatanya berlanjut sampai hari ini. Banjir selalu menjadi momok tahunan, juga krisis air bersih, demam berdarah hebat. ”Contoh lain yang paling nyata, korupsi membangkrutkan VOC dan hari ini kita tetap hidup dengan korupsi,” ujar Rizal.

Itu menunjukkan bahwa kita abai untuk mendapatkan inspirasi dari masa lalu untuk menjawab kegelisahan hari ini, dan memetakan masa depan. Pengabaian itu mencerminkan adanya keterputusan untuk mengenal jati diri negara ini.


Profesi sepi

Sosok-sosok seperti Cecep, Supardjo, Oman, dan Rizal adalah segelintir ilmuwan yang mengabdikan sebagian besar waktunya untuk pengembangan keilmuan. Mereka jauh dari hiruk-pikuk panggung popularitas ataupun finansial. Tak jarang mereka harus bekerja sendirian dalam sepi.

Supardjo menghela napas panjang ketika menyentuh persoalan ini. ”Budaya Jawa hanya digembar-gemborkan sebagai yang bernilai luhur dan harus dilestarikan. Akan tetapi, kalau secara materi tidak mendapatkan suatu peluang yang menjanjikan… Kami tidak menyalahkan siapa pun, tapi tolong beri ruang hidup bagi kebudayaan kita,” kata Supardjo.

Bagi Cecep, kepuasan bekerja itu tidak bisa digambarkan dengan nilai uang. ”Ketika cetok ini menyentuh tanah dan mengeluarkan bunyi sreeet, rasanya nikmat sekali. Tangan kita bisa merasakan perbedaan dari bunyi gesekan. Kepuasan itu tak bisa digambarkan,” katanya.

Jika diukur dari kepuasan finansial, Cecep mengaku dunia arkeologi kalah dibandingkan jurusan lainnya, seperti bisnis atau manajemen. ”Mungkin kita kalah, karena urusan ekskavasi itu tidak ada yang swasta. Semuanya kegiatan pemerintah. Jadi semuanya ya tarif pemerintah. Tapi tidak pernah ada dalam pikiran saya untuk dapat uang banyak. Dalam setiap ekskavasi yang saya pikirkan adalah bagaimana agar ilmu dan keterampilan yang saya miliki bisa saya terapkan di sini,” kata Cecep.

Mereka menggali kearifan bangsa yang terlupakan. Tapi jangan sampai mereka ikut dilupakan. (myr/xar/row/bsw)

Iklan

Responses

  1. Beliau beliau adalah orang orang hebat dan istimewa.
    pengali dan penjaga yg amanah,siapa bilang mereka tdk bergelimpangan harta,justru mrk lah sumber harta,bicara uang bagi mereka tinggal menbalik telapak tangan saja.
    dan saya percaya akan hal itu beliau-beliau bukan
    pemburu,tapi pencari,penggali,penjaga dan…
    …hehee
    salam sang 3P Harta Bangsa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: