Oleh: hurahura | 25 Agustus 2013

SITUS BERSEJARAH: Singasari, Puncak Kejayaan Seni

KOMPAS, SABTU, 24 AGUSTUS 2013 – Arca besar Ganesha yang berada di Desa Karangkates, Kecamatan Sumber Pucung, Kabupaten Malang, terbilang langka. Jika biasanya arca Ganesha dalam posisi duduk, arca di desa itu dalam posisi berdiri.

Ini adalah arca Ganesha aliran Tantrayana. Arca ini merupakan simbol perlindungan sekaligus ilmu pengetahuan,” kata Surjadi (53), Koordinator Wilayah Percandian di Malang, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur.

Tinggi arca besar itu hampir 3 meter. Postur tubuhnya lebih tambun dari arca Ganesha pada umumnya. Ia berdiri menginjak tengkorak, sedangkan kedua tangannya memegang mangkuk dan kapak. Ujung belalainya masuk ke dalam mangkuk tersebut. Hiasan kepala, motif kain yang dikenakan, dan perhiasan tubuhnya penuh dengan tengkorak manusia.

Menurut Surjadi, Ganesha berdiri itu ditemukan ketika Bendungan Karangkates dibangun. Arca itu kemudian dipindahkan ke bukit kecil, tidak jauh dari permukiman penduduk.

Kata Surjadi, hanya ada dua arca Ganesha berdiri yang pernah ditemukan di Indonesia. Selain di Karangkates, satu arca pernah ditemukan Belanda di Gunung Semeru yang kini dibawa ke Leiden, Belanda.

Dalam buku Worshiping Siva and Buddha, The Temple Art of East Java, Ann R Kinney sang penulis memuat gambar arca Ganesha berdiri yang ada di Leiden. Kondisinya lebih utuh dibandingkan dengan Ganesha Karangkates. Adapun arca di Karangkates sudah rusak di beberapa bagian, seperti mata kiri yang tidak utuh dan gading yang putus.

Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia Edi Sedyawati mengatakan, arca Ganesha pada formasi percandian Siwa selalu berada di belakang arca Siwa. Ganesha ini menghadap ke arah yang berlawanan dari Siwa.

Dalam kitab Smaradhahana, kata Edi, Ganesha merupakan makhluk yang menjaga kahyangan dari serangan raksasa. Oleh karena itu, ia disimbolkan selalu dekat dengan Dewa Siwa. Edi pernah menulis disertasi tentang arca-arca Ganesha masa Kerajaan Kediri dan Singasari.

Arca Ganesha yang berdiri sendiri di luar panteon Siwa merupakan simbol perlindungan terhadap kawasan tersebut. ”Ganesha adalah dewa penjaga ketenteraman sehingga penguasa Singasari meletakkan arca itu di daerah-daerah yang dikuasainya,” ujar Edi.


Pertumpahan darah

Singasari adalah kerajaan yang didirikan Ken Arok, mantan perampok yang bertobat kemudian menjadi akuwu (kepala desa) di Tumapel, daerah di bawah kekuasaan Kerajaan Kediri. Setelah mengalahkan Kertajaya, raja Kediri yang berkuasa (1191-1222), Ken Arok yang telah memperistri Ken Dedes lalu mendirikan Kerajaan Singasari.

Kekuasaan Singasari hanya bertahan 70 tahun, yaitu 1222-1292. Selama lima tahun pada awal pendiriannya, di Singasari telah terjadi empat kali alih kekuasaan dari Ken Arok, Anusapati, Tohjaya, kemudian Ranggawuni yang diwarnai pertumpahan darah.

Baru setelah Ranggawuni yang bergelar Jayawisnuwardhana ini berkuasa, Singasari tidak lagi bergejolak. Ia berkuasa selama 41 tahun(1227-1268) dan kemudian digantikan anaknya, Kertanegara, yang berkuasa 24 tahun (1268-1292) sebelum dijatuhkan Jayakatwang dari Kediri. Jayakatwang dibunuh Raden Wijaya, masih keturunan Ken Arok, yang kemudian memindahkan pusat kerajaan ke Tarik, Trowulan, dan mendirikan Majapahit.

Semasa Kertanegara, Singasari mengalami puncak kejayaan. Raja ini melakukan ekspedisi ke kerajaan Melayu di Dharmasraya, sekarang di Provinsi Sumatera Selatan, untuk menggempur pasukan dari Mongolia.

”Saat ekspedisi itu, Singasari membawa arca Amoghapasa,” kata Bambang Budi Utomo, arkeolog masa klasik Hindu-Buddha dari Pusat Arkeologi Nasional. Arca Amoghapasa berbentuk dewa bertangan delapan ini juga bisa ditemukan di Candi Jajaghu atau Candi Jago di Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, sekitar 30 menit perjalanan dari kota Malang.


Puncak kejayaan seni

Jejak Kerajaan Singasari memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan lain di Pulau Jawa. Periode Singasari ditandai dengan arca-arca berukuran sangat besar.

Sekitar 300 meter dari Candi Singasari, di Desa Candirenggo, Kecamatan Singasari, Malang, ditemukan dua arca Dwarapala atau raksasa penjaga gerbang. Tinggi satu arca 3,7 meter dengan berat 40 ton. Lingkar tubuh raksasa gendut itu mencapai 3,8 meter. Salah satu arca Dwarapala ini digambarkan tersenyum sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf ”V”.

Ganesha-01Selain arca berukuran besar, pahatan karya seni masa Singasari lebih halus. Ornamen arca biasanya banyak, tetapi mendekati kenyataan atau natural. Anatomi tubuh arca juga lebih proporsional dibandingkan dengan arca masa kerajaan lain.

Dari gaya seni arcanya, para ahli arkeologi menyimpulkan bahwa pada masa Singasari terjadi puncak kejayaan seni Indonesia kuno. ”Belum ada temuan arca yang dibuat lebih bagus dari Singasari,” kata Bambang. Sayang, tidak banyak peninggalan Singasari yang bisa ditemukan saat ini.

Lokasi Kerajaan Singasari pernah diteliti menggunakan citra Landsad-7 ETM oleh arkeolog Blasius Suprapto dan Sonny Wedhanto. Mereka menyimpulkan, pusat Kerajaan Singasari berada di kaki Gunung Arjuna, tepatnya di Desa Candirenggo dan Pagentan sekarang.

Daerah yang punya keterkaitan sejarah dengan Singasari ini kini telah berubah menjadi kawasan padat permukiman dan bisnis, seperti toko, kios, warung, dan rumah toko.

Amelia Tri Wantoro, peneliti Singasari dari Pusat Arkeologi Nasional, mengatakan, saat ini penelitian tentang Singasari masih difokuskan mencari sisa permukiman kuno. Namun, laju pembangunan yang mengimpit kawasan Singasari membuat para ahli kesulitan menguak misteri kerajaan Ken Arok ini. Arca-arca tunggal seperti Ganesha Karangkates yang bisa menjadi saksi Singasari pun terancam rusak karena tidak ada pengamanan yang ketat.

Oleh: Lusiana Indriasari

Iklan

Responses

  1. […] tempatnya yang sangat mirip dengan arca Ganapati Karangkates. Dalam buku Worshiping Siva and Buddha, The Temple Art of East Java halaman 38, Ann R Kinney sang penulis memuat gambar arca GANAPATI […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori