Oleh: hurahura | 16 Januari 2013

Arsip: Lalu Kini, Lalu Nanti

Mapping HistoryKOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Naskah asli dari Batak ditampilkan dalam pameran foto dan benda sejarah koleksi KITLV bertajuk ” Mapping History ” di Erasmus Huis, Jakarta, Rabu (9/1).

KOMPAS, Minggu, 13 Jan 2013 – KITLV menghadirkan ”Mapping The History”, sebagian kecil dari lebih dari sejuta koleksi berbagai arsip tentang Indonesia. Yang tua memesona, tetapi yang lebih bermakna adalah suguhan KITLV tentang kekinian Indonesia.

”Dari bayi saya di sini, lahir di sini. Ibu saya asli orang sini, jadi saya tidak pernah ke mana-mana. Di sini enak, saya tidak mau lagi pindah ke mana-mana, maunya di sini saja,” tutur seorang ibu sambil menimang anaknya.

Sementara si ibu bercerita tentang nyamannya tinggal permukiman padat penduduk di Kampung Melayu, Jakarta Timur, video dokumenter itu menayangkan gambar seorang perempuan lain mencuci.

Meski tubuhnya terbungkuk-bungkuk karena harus mencuci di kolong rumah beton, senyum perempuan itu menegaskan omongan si ibu penimang bayi. Permukiman padat yang terekam kusut, penuh manusia, dan aneka barang menyesaki lorong sempit berliku itu adalah rumah yang nyaman bagi warganya.

Film dokumenter itu adalah bagian dari proyek ”Recording the Future” Institut Kerajaan Belanda untuk Kajian Asia Tenggara dan Karibia (KITLV). Proyek mengabadikan kehidupan sehari-hari orang Indonesia di delapan kota yang dimulai pada 2003.

Film dokumenter itu menjadi bagian dari pameran ”Mapping The History” yang digelar KITLV dan Erasmus Huis Jakarta mulai 8 Januari-15 Februari mendatang. Film dokumenter yang digarap Andre Triadiputra, Lexy Rambadeta, Ratih Prebatasari, bersama sejumlah staf KITLV itu juga menghadirkan wajah Indonesia lainnya.

Mulai dari kota besar, seperti Surabaya, Jawa Timur; kota kecil kaya beras Delanggu, Jawa Tengah; kota dagang mungil Payakumbuh, Sumatera Barat; Sintang, Kalimantan Barat; kota nelayan Kawal di Bintan; juga kota kecil Bittuang di Sulawesi Tengah, hingga Ternate yang menjadi saksi sejarah panjang kolonialisme Eropa di Indonesia.


Lalu yang asing

Wajah keseharian Indonesia hari ini begitu biasa, begitu dekat dengan keseharian kita sendiri. ”Kami akan merekam keseharian Indonesia selama seratus tahun, hingga 2103. Sesuatu yang begitu biasa hari ini sangat bernilai jika disaksikan 100 tahun lagi,” kata Direktur KITLV Jakarta Roger Tol.

Tol tidak hanya mengklaim ”berharga ketika 100 tahun lagi”. Film dokumenter separuh jalan itu dipamerkan bersama deretan foto karya GP Lewis (1875–1926) yang merekam suasana Hindia Belanda seabad silam. Foto-foto perusahaan Woodbury & Page juga mengabadikan asrinya Batavia pada masa peralihan abad ke-19 dan ke-20.

Foto-foto tua itu begitu asing, begitu tak kita kenali. Dua fotografer Indonesia, Tino Djumini dan Yoppy Pieter, menapak tilas lokasi-lokasi foto tua Batavia itu. Mereka, misalnya, sama-sama memotret ulang foto Balai Kota Batavia tahun 1880 yang lapang, yang kini menjadi museum sejarah yang padat pedagang kaki lima. Tino mengabadikan kekinian rumah tinggal pelukis Raden Saleh yang kini telah bersalin wajah menjadi Rumah Sakit Cikini.

Foto-foto Yoppy menghadirkan suasana Pasar Ikan hari ini, yang hadir begitu berbeda dari foto Pasar Ikan tahun 1870 yang diambil dari menara Syahbandar di Kota Tua Jakarta yang kini semakin miring itu. Jalan Pintu Besar Selatan yang tahun 1865 begitu lengang, hadir sebagai jalanan macet dalam foto Yoppy.

”Foto-foto tua yang kami pamerkan adalah bagian dari 200.000 foto koleksi KITLV. Foto-foto itu dikurasi berdasarkan tema ’air’, ’kerja’, dan ’Batavia/Jakarta’. Air karena Indonesia ataupun Belanda begitu bermasalah dengan banjir, kerja sebagai gambaran bagaimana industrialisasi memengaruhi kehidupan di Indonesia, dan Batavia/Jakarta yang dipilih karena pameran digelar di Jakarta,” kata Tol.

Pengunjung akan mengenali lokasi pemotretan sekaligus menyadari betapa berbedanya wajah kita dari masa lalu. Foto-foto tua itu juga menghadirkan betapa stagnannya kita mengatasi masalah menahun, seperti banjir, sanitasi, ataupun penyediaan air bersih.

Video ataupun foto-foto kekinian Indonesia menegaskan seluruh beda wajah dan sama nasib itu. Dengan berbagai kerumitan hidup yang sama sekali berbeda, dengan berbagai konteks dan varian persoalan hidup yang berbeda, pemenuhan hak dasar warga tak beranjak ke mana-mana.


Berbagi

KITLV juga memamerkan puluhan arsip tentang Indonesia yang menjadi bagian dari lebih satu juta koleksi KITLV yang terkait sejarah Indonesia. Termasuk arsip sebuah buku harian Bugis asal Sulawesi Selatan, naskah dalam daun lontar dari Bali, seperti ”Dampati Lalangon”, juga kulit kayu berisi tulisan keramat Batak.

”Mapping the History” juga menghadirkan sejumlah barang cetakan ”Indonesia modern”, seperti buku pertama sastrawan Pramoedya Ananta Toer berjudul Kranji dan Bekasi Djatoeh yang terbit 1947. Bungkus piringan hitam para artis Indonesia tempo 1970-an, seperti Koes Plus atau Pattie Sisters memberikan gambaran perkembangan teknologi dan seni cetak Indonesia pada masanya.

Tol menyebut ”Mapping The History” sebagai upaya membagikan apa yang dimiliki KITLV kepada publik di Indonesia. ”Bersama Universitas Leiden di Belanda, KITLV memiliki koleksi terbaik berbagai bentuk arsip soal Indonesia. Kami ingin publik umum lebih banyak menikmati hasil kerja KITLV itu,” kata Tol.

Kepala Bagian Pers dan Kebudayaan Erasmus Huis, Jakarta, Ton van Zeeland, mengibaratkan berbagai arsip KITLV sebagai alat meneropong masa depan. ”Koleksi KITLV membuat kita bisa belajar seperti apa masa lalu kita. Koran, televisi, bahkan iklan surat kabar merefleksikan situasi masyarakat pada sebuah masa. KITLV memiliki materi yang sangat baik untuk meraba dan merencanakan masa depan kita,” ujar van Zeeland.

Lebih dari sekadar menghadirkan koleksi ”pampasan perang”, ”Mapping The History” menghadirkan kepedulian KITLV mengarsipkan berbagai kekinian Indonesia lewat karya video dan fotografi yang mereka gagas. Sementara KITLV mengabadikan Indonesia, kita masih terlalu sibuk menghabiskan semua demi yang kini, ketimbang menyisihkan sesuatu demi yang nanti. (ARYO WISANGGENI)

Iklan

Responses

  1. Fatimah malik ar’asy….http://www.abdulmalikarasy.wordpress.com or http://www.facebook.com/fatimahciampeabogormalikarasy


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori