Oleh: hurahura | 15 Juni 2016

Kepurbakalaan di Sekitar Sidoarjo, Jawa Timur

Kojakun-01Petilasan Watu Tulis

Sejarah merupakan kisah–kisah masa lalu yang bersinar kebenarannya. Kisah yang bisa diambil intisarinya dan pesan–pesan yang tersurat maupun tersirat di dalamnya. Setiap daerah pastilah mempunyai sejarah yang berbeda-beda. Demikian pula dengan Sidoarjo di Jawa Timur.

Dari sejarah kita dapat mengetahui peninggalan-peninggalan pada masa itu. Entah berupa candi maupun prasasti yang dapat menjelaskan sejarah secara jelas. Tempat-tempat peninggalan sejarah yang tersebar di Sidoarjo umumnya terletak di sekitar rumah penduduk. Banyak peninggalan sejarah tersebut rusak dimakan usia. Tapi untungnya masih ada juru pelihara yang mau merawat dan menjaga cagar budaya itu.

Candi-candi di Sidoarjo didominasi oleh peninggalan dari kerajaan Jenggala dan Majapahit. Banyak candi menggunakan susunan batu merah besar. Menurut salah seorang narasumber, batu merah besar merupakan ciri khas Majapahit.


Petilasan Watu Tulis

Peninggalan ini terdapat di Desa Watu Tulis, Kecamatan Prambon, berasal dari Kerajaan Kahuripan. Bentuknya berupa dua makam yang di sampingnya terdapat tumbukan yang dulunya sebuah candi. Motif relief yang terlihat beraneka ragam, di antaranya relief wanita, relief kala (Buto), relief dua orang, dan ukiran-ukiran.

Di area petilasan juga terdapat bahan dan alat–alat untuk melakukan ritual, antara lain tempat bunga, tempat dupa, payung tinggi berwarna kuning. Kebanyakan ritual dilakukan untuk mendapatkan rezeki, mencari wangsit, dan meminta pertolongan kepada Tuhan. Di samping petilasan terdapat dua kolam air berbentuk persegi yang dipercaya sebagian warga dapat digunakan sebagai obat berbagai macam penyakit.

Catatan Penyunting: Menurut sebuah sumber, Petilasan Watu Tulis merupakan reruntuhan sebuah candi dan memiliki angka tahun. Candi itu dibongkar era kerusuhan Mei 1998 dengan alasan mencari emas. Makam di situ dinyatakan palsu. Dulu banyak yang berziarah. Tetapi sekarang sepi karena sang juru pelihara sudah menjelaskan sejarahnya.

Petilasan tersebut terletak di area persawahan warga. Dua pohon besar mengitari petilasan itu. Menurut Pak Buadi beberapa batu petilasan pernah diambil untuk menyumbat semburan lumpur di Porong.


Candi Darmo

Candi ini terletak di Desa Candi Negoro, Kec. Wonoayu, Kab. Sidoarjo. Bahan candi adalah batu merah, sementara ukuran candi, panjang 10,84 meter, lebar 10,77 meter, dan tinggi 13,50 meter.

Kojakun-02Candi Darmo

Catatan pertama mengenai Candi Darmo dilaporkan oleh Belanda pada 1905-1913 dan 1914-1915. Secara keseluruhan Candi Darmo merupakan gapura yang berbentuk paduraksa, yakni gapura yang bagian atasnya (atap) menjadi satu. Soalnya ada gapura lain yang bentuk atasnya terpisah, seolah-olah ditarik ke kanan ke kiri. Bentuk gapura demikian disebut candi bentar atau gapura bela.

Gapura atau Candi Darmo ini dapat dibandingkan dengan gapura Bajang Ratu, peninggalan Majapahit yang ada di Trowulan. Pintu masuk Candi Darmo mengarah pada poros barat-timur. Dari bagian-bagian yang tersisa, diketahui dulunya gapura ini mempunyai pagar tembok atau sayap.

Kapan dan oleh siapa candi ini dibangun, belum dapat dipastikan. Sejauh ini belum ada sumber tertulis atau angka tahun yang menyebutkannya. Hanya dari segi bangunannya para ahli menduga Candi Darmo berasal dari abad ke 14. Demikian menurut narasumber sekaligus juru pelihara candi, Hadi Ismawanto.


Candi Tawangalun

Candi Sumur Windu atau lebih dikenal sebagai Candi Tawangalun. Candi ini berada di Desa Buncitan, Sedati, Sidoarjo. Tampaknya merupakan peninggalan yang paling dianaktirikan oleh pemerintah. “Lihat saja papan nama, papan peringatan, dan pagar tidak ada sama sekali,” ujar Pak Saiful yang sudah sepuluh tahun menjadi juru pelihara candi.

Kojakun-03Candi Tawangalun

Candi Tawangalun sangat berbeda dengan candi-candi di Sidoarjo pada umumnya. Candi Tawangalun berada di perbukitan, sementara candi lainnya berada di area pemukiman warga.

Sampai saat ini Candi Tawangalun masih difungsikan oleh warga sekitar untuk ritual pengantin. “Pada hari-hari besar dan di setiap malam bulan purnama, banyak seniman datang ke sekitar candi untuk menenangkan diri dan mencari inspirasi,” demikian Pak Saiful, yang juga seorang seniman.

Banyak kejadian aneh di candi ini, di antaranya ada warga sekitar yang mengambil beberapa batu besar candi untuk dijadikan rumah, beberapa malam kemudian orang tersebut bermimpi dipukuli orang. Keesokan harinya orang tersebut merasa badannya sakit-sakit semua. Tak lama kemudian orang tersebut mengembalikan batu besar yang diambilnya ke tempat semula. Selang beberapa hari kemudian orang tersebut meninggal dunia.

Ada pula cerita dari Pak Saiful yang pernah dihampiri seorang putri yang memakai baju hijau. Pakaian ini khas baju kerajaan pada zaman dulu. “Masih banyak hal aneh terjadi di sini,” kata Pak Saiful.


Sejarah Singkat

Pada masa Kerajaan Majapahit ada seorang penguasa, Resi Tawangalun. Namun Raja Majapahit tidak suka dengan daerah yang dikuasai Resi Tawangalun, karena orang-orang di daerah tersebut terkenal kasar dan mempunyai kebiasaan memakan daging mentah.

Resi Tawangalun mempunyai putri bernama Putri Alun. Suatu ketika Putri Alun menyukai Raja Brawijaya, yaitu Raja Majapahit di masa itu. Putri Alun meminta kepada ayahnya, Resi Tawangalun, untuk mengubah dirinya menjadi cantik agar Brawijaya tertarik pada dirinya.

Suatu ketika karena keegoisan sang Raja Brawijaya, beliau mempersunting Putri Alun untuk menjadi selirnya. Lama-kelamaan sifat asli Putri Alun muncul dan terlihat oleh orang istana. Ketika Putri Alun melihat daging yang berada di depannya, dia memakan mentah-mentah daging tersebut. Kabar tersebut sampai di telinga Sang Raja. Raja Brawijaya pun marah dan kesal saat mendengar kabar tersebut. Tanpa pikir lagi, sang raja mengusir Putri Alun dari istana dalam keadaan hamil.

Putri Alun pun kembali ke ayahnya dan melahirkan anak yang diberi nama Aryo Damar. Waktu terus berjalan dan Aryo Damar sudah besar. Awalnya Aryo Damar mengira kalau Resi Tawangalun adalah ayahnya. Tetapi ada keraguan karena ibunya memanggil Resi Tawangalun dengan sebutan ayah. Ario Damar penasaran dan dia menanyakan kepada ibunya siapa sebenarnya ayah kandungnya. Putri Alun pun menjawab bahwa Raja Brawijaya adalah ayah kandungnya. Ario Damar mendapatkan restu dari ibu dan kakeknya untuk mencari ayah kandungnya.

Ketika Ario Damar sampai di Majapahit dan bisa menghadap ke Raja Brawijaya, Ario Damar mengaku bahwa dia adalah anak Raja Brawijaya dari selir Putri Alun. Raja Brawijaya tidak mau mengakui dia sebagai anaknya karena masih dendam telah ditipu. Raja pun memberi syarat yang mustahil untuk dipenuhi oleh Ario Damar. Jika dia bisa memenuhi syarat tersebut Raja Brawijaya mau mengakui Ario Damar sebagai anaknya.

Syarat pertama adalah membuat damar (lampu) yang tidak ada gantunganya. Karena Ario Damar keturunan orang-orang sakti, dia bisa membuat damar dari besi yang tidak ada gantungannya. Sang Raja belum bisa menerimanya dan memberi syarat kedua. Ario Damar disuruh mencari dan membawa tanah dari tempat asalnya (tanah yang tandus, Sedati) yang harus sama dengan tanah yang berada di kerajaan (tanah yang subur, Trowulan). Ario Damar berhasil melaksanakan tugas tersebut dengan meminta bantuan kakeknya.

Raja Brawijaya makin kesal dengan Resi Tawangalun karena dia membantu cucunya. Raja Brawijaya yang sudah terlanjur kesal dengan Resi Tawangalun, memberikan syarat terakhir, yaitu jika dia bisa membunuh Resi Tawangalun, maka Ario Damar akan diakui menjadi anaknya. Sebenarnya Ario Damar bisa melaksanakan tugas tersebut akan tetapi dia bingung harus bagaimana.

Putri Alun prihatin terhadap anaknya dan mendirikan sebuah candi sebagai wujud rasa kasihnya terhadap Ario Damar. Ario Damar masuk ke dalam candi yang khusus memang dibuat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Ario Damar bersemedi dan berfikir tentang makna-makna kehidupan dan juga pilihan-pilihan hidup. Saking lamanya berada di dalam candi, keberadaannya tidak diketahui lagi.


Candi Medalem

Candi Medalem ditemukan oleh Pak Tamaji atau Pak Glendang, yang sekaligus menjadi juru pelihara mulai 1991 akhir. Sebelum candi ini ditemukan, tempat ini merupakan kebun atau pohon asem yang sangat besar. Saat Pak Glendang sedang bersih-bersih kebun, beliau mendapat bisikan. Menurut bisikan, pohon asem itu harus ditebang karena nanti akan ditemukan benda sejarah peninggalan nenek moyang.

Kojakun-04Candi Medalem

Setelah mendengar bisikan seperti itu, Pak Glendang lalu menggali tanah. Selanjutnya pohon asem itu ditebang. Tidak lama kemudian terlihat sebuah tumpukan batu bata merah besar.

Melihat benda seperti itu, Pak Glendang memanggil warga sekitar. Warga berpendapat bahwa benda itu adalah candi. Pak Glendang meneruskan penggalian itu dibantu warga dalam jangka waktu tiga hari.

Penamaan Candi Medalem berdasarkan tempat atau asal candi itu di temukan, yaitu di Desa Medalem, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo. Bentuk Candi Medalem menyerupai “Pondasi Pendopo“, yaitu tepat berkumpulnya orang-orang terdahulu untuk membicarakan suatu hal.

Candi Medalem merupakan peninggalan dari Kerajaan Majapahit. Bukti dan fakta dapat dilihat dari batu candinya, yaitu batu merah besar yang merupakan ciri khas dari Kerajaan Majapahit.


Gaib

Uniknya, Pak Glendang pernah mendapati hal-hal gaib tentang Candi Medalem. Saat ia menebang pohon asem untuk penggalian candi, pohon itu tidak bisa diangkat oleh sepuluh orang. Setelah menyuruh orang-orang itu untuk shalat maghrib terlebih dulu, baru pohon itu bisa diangkat. Anehnya pohon itu dapat diangkat hanya oleh Pak Glendang seorang diri.

Kejadian lain, saat Pak Glendang bersih-bersih di sekitar candi, ia didatangi seorang perempuan bernama Ratu Ayu Pandan Sari. Ratu berpesan kepada sang juru pelihara agar candi itu dijaga dan dirawat. Menurut Pak Glendang, Ratu Ayu Pandan Sari adalah orang yang membabat Desa Medalem.

Candi Medalem baru dipugar satu kali. Sang juru pelihara meminta kepada pemerintah agar di sekeliling candi dipasang pagar melingkar (pagar pelindung), karena sampai saat ini belum ada pagar di sekeliling candi. Ditakutkan nanti ada orang-orang tak bertanggung jawab yang akan merusak cagar budaya ini.

Laporan dan foto: Deving Eka Misbakhul Fanani/Komunitas Jawa Kuno Sutasoma-Museum Majapahit


Responses

  1. Semoga,semakin lama ,semakin banyak rahasia alam yg terkuak..dg ditemukan nya lebih banyak lg bukti2 berupa Candi2…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: