Oleh: hurahura | 21 April 2011

Pengelolaan Kawasan Heritage Kota Tua Jakarta

Oleh: Dr. Arie Budhiman
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta


Pendahuluan

Kepedulian Pemerintah Provinsi DKI Jakata terhadap pelestarian kawasan heritage dimulai sejak tahun 1968, dimana Gubernur Ali Sadikin meminta para sejarahwan dan arkeolog untuk membantu membangun kota tanpa meninggalkan sejarah. Abdurachman Surjomihardjo dan Uka Tjandrasasmita adalah dua tokoh yang sangat dikenal Ali Sadikin, diminta untuk memberi sumbangsih ilmunya untuk pembangunan kota Jakarta.

Abdurachman Surjomihardjo sebagai sejarahwan mempersembahkan hasil penelitiannya tentang peta-peta lama yang sangat berguna untuk pembagian wilayah administrasi. Sedangkan Uka Tjandrasasmita sebagai arkeolog mengusulkan kepada Ali Sadikin agar DKI Jakarta memiliki daftar bangunan dan lingkungan bersejarah. Usulan Uka langsung ditanggapi oleh gubernur dengan membentuk tim survei yang berkerja hampir dua tahun hingga terbitnya Surat Keputusan (SK) Gubernur tahun 1970 yang menyatakan Taman Fatahillah (kotatua) dan Kampung Tugu dinyatakan sebagai Lingkungan Bersejarah yang dilindungi oleh. Disusul dengan terbitnya SK tentang daftar 400 bangunan bersejarah di DKI Jakarta yang harus dilindungi keberadaannya.

Surat Keputusan yang berkaitan dangan bangunan dan lingkungan cagar budaya di DKI Jakarta yang terbit sejak tahun 1970 hingga 1975 dijadikan dasar untuk pemberian Ijin Membangun Bangunan (IMB) dan juga dijadikan sebagai alat pengendali pembangunan agar tetap memperhatikan kepentingan pelestarian.

Senang sekali hari ini, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional menyelenggarakan diskusi tentang Kotatua Jakarta, karena saya berharap adanya sumbangsih disiplin arkologi yang kongkrit dalam penataan dan pengembangan kawasan heritage kotatua Jakarta, bukan sekadar membahas aspek persoalan diluar disiplin arkeologi.


Kawasan Perencanaan

Kawasan perencanaan Kotatua Jakarta kurang lebih 846 hektar yang terbentang dari selatan pada titik yang ditandai Bangunan Arsip Nasional, hingga utara yang ditandai dengan alur pelabuhan kapal Phinisi. Sedangkan bentangan dari barat ke timur ditandai dengan Mesjid tua Bandengan dan deretan gudang dibelakang Bangunan BNI 1946.

Dasar penentuan kawasan perencanaan ini bukan didasarkan pada batas kota Batavia yang pernah dikelilingi pagar tembok, tetapi lebih didasarkan pada perkembangan kota hingga pertengahan abad 20, yang berkembang hingga Luar Batang, Pakojan, Glodok dan Pinangsia. Gradasi populasi bangunan cagar budaya, mulai dari tingkat paling padat hingga paling jarang menentukan batas terjauh kawasan perencanaan.

Atas dasar luas perencanaan yang melebihi kota inti Batavia dan perkembangan kota hingga pertengahan abad 20, maka Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut kawasan tersebut sebagai Kawasan Kotatua Jakarta, bukan Kotatua Batavia.

Ketetapan luas kawasan perencanaan tertuang dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta nomor 34 tahun 2006 Tentang Penguasaan Perencanaan Dalam Rangka Penataan Kawasan Kotatua seluas 846 hektar Yang Terletak di Kotamadya Jakarta Utara dan Kotamadya Jakarta Barat. Wilayah Jakarta Utara yang menjadi bagian kawasan perencanaan adalah 26,24 % dari luas wilayah Kelurahan Penjaringan dan 20,73 % dari wilayah Kelurahan Ancol. Sedangkan wilayah Jakarta Barat yang masuk dalam kawasan perencanaan adalah 100 %. Kelurahan Roa Malaka, Tambora dan Glodok, 86, 3 % wilayah Kelurahan Pakojan, 76,44 % Kelurahan Jembatan Lima, 71,70% kelurahan Pinangsia, dan 61, 21 % Kelurahan Keagungan.

Luasnya kawasan perencanaan Kotatua Jakarta ini, dimaksudkan juga untuk menciptakan wilayah penyangga agar dapat mengendalikan kawasan inti, sehingga kawasan inti terhindar dari pembangunan bangunan tinggi. Wilayah penyangga tersebut diperuntukkan juga untuk menampung Transfer development Right (TDR) sehingga memungkinkan di wilayah penyangga bisa dibangun bangunan tinggi. TDR adalah salah satu wacana yang diusulkan dalam Masterplan sebagai upaya pemberian insentif oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.


Rencana Ke depan

Kawasan perencanaan Kotatua jakarta dibagi dalam 5 zonasi sesuai dengan karakteristik dan morfologinya. Zonasi yang memiliki karakteristik kuat dan tingkat tinggi kepadatan bangunan cagar budaya diberlakukan cukup ketat. Zonasi tersebut adalah zonasi 2 yang merupakan pusat kotatua abad 18 yang meliputi Taman Fatahillah, Taman Beos, Kalibesar, Roa malaka, Pintu Kecil dan daerah sekitarnya. Tata Ruang pada zonasi ini tetap dipertahan eksistingnya karena ciri kuat sejarahnya adalah GSB nol. Bayangkan jika Garis Sepadan Jalan diperlebar maka seluruh facade bangunan cagar budaya akan hilang.

Pengembangan 5 Zonasi ini diselaraskan dengan visi revitalisasi Kotatua yaitu Terciptanya kawasan bersejarah Kotatua Jakarta sebagai daerah tujuan wisata yang mengangkat nilai pelestarian dan memiliki manfaat ekonomi yang tinggi. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berusaha keras bagaimana mempertemukan kepentingan pelestarian dan kepentingan bisnis dalam pengembangan kotatua. Berharap dalam diskusi ini, para arkeolog atau yang peduli terhadap pelestarian dapat memberi sumbangsih kompromi yang ditawarkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Masterplan (MP) Kotatua sudah jadi, tinggal menunggu pengesahan. Proses pembuatan MP memang cukup lama sejak tahun 2005, karena dibuat dengan melibatkan para stakeholder bahkan telah dilakukan disiminasi agar masyarakat mengetahuinya. Barangkali yang belum terlibat banyak adalah para arkeolog.

Komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap heritage tetap konsisten hingga 20 tahun kedepan. Dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Provinsi DKI Jakarta tahun 2010-2030 yang sedang mendekati finalisasi, terlihat jelas upaya pelestarian yang hendak dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yakni dalam visi dan misi pembangunan dicantumkan 10 butir misi, salah satu misi tersebut adalah Mempertahankan Unsur-unsur Kota dan Lingkungan Bersejarah. Misi tersebut akan dikembangkan dengan stretegi penataan ruang yakni dengan strategi mengembangkan peremajaan kota di kawasan strategis berpotensi tinggi melalui revitalisasi, redevelopment dan pembaruan. Berdasarkan RTRW ini, Kotatua Jakarta menjadi kawasan strategis dalam pengembangan 20 tahun mendatang.

RTRW 2010-2030 baru disahkan tahun 2010 oleh Legislatif karena nantinya RTRW ini merupakan produk hukum Peraturan Daerah (PERDA). RTRW ini hanya memuat masalah-masalah ketataruangan yang pokok saja, sedangkan penjabarannya akan diatur kemudian dalam bentuk UDGL dan Zoning Regulation. Dengan demikian kita masih mempunyai kesempatan untuk memberi masukan pandangan arkeologis pada penjabaran aturan tersebut. Demikian pula dengan Masterplan Kotatua jakarta yang belum ditandatangani gubernur diupayakan menjadi produk hukum pada tahun 2010.

Mungkin kekurangan kami dalam merencanakan pengembangan adalah belum dimaksukan kepentingan yang bersifat arkelogis. Salah satu contohnya adalah adanya rencana pembuatan MRT yang melintas pada bawah tanah di kawasan kotatua yang tentunya akan mengganggu situs bawah tanah, nampaknya kami belum bisa mengantisipasinya secara konsepsional.

Di kawasan Kotatua banyak lahan kosong akibat bangunan rubuh dan sudah ditemukan kosong saat perencanaan dibuat. Perencanaan pengembangan diatas lahan kosong ini perlu diatur dalam pelaksanaannya, yakni para pengembang diwajibkan membiayai ekskavasi arkeologi diatas tanah kosong tersebut sebagai bagian daripada rekomendasi dikeluarkannya IMB.


Upaya Revitalisasi

Revitalisasi kotatua Jakarta sesungguhnya sudah dimulai sejak tahun 1970 sebagai tindak lanjut diterbitkannya SK Gubernur Cd.3/1/ 1970 Tentang Pernyataan Daerah Taman Fatahillah Sebagai Daerah Dibawah Pemugaran. Pelaksanaan fisik revitalisasinya baru bisa dikerjakan pada tahun 1973 karena membutuhkan pengkajian dan sosialisasi.

Pekerjaan fisik dalam revitalisasi tahun 1973 yang cukup signifikan adalah mengubah Terminal Bus menjadi Taman Fatahillah, mengubah Markas KODIM menjadi sebuah Meseum besar, normalisasi sungai Kalibesar, dan peningkatan sarana dan prasarana. Yang cukup menarik adalah diselenggarakannnya ekskavasi arkeologi untuk meneliti keberadaan air mancur sebelum dibuat replikanya. Sayang pada saat itu tidak dilakukan penelitian arkeologi secara menyeluruh pada areal Taman Fatahillah.

Hasil revitalisasi tahun 1973 hanya bisa dinikmati oleh publik pada sepuluh tahun pertama. Waktu selebihnya terjadi penurunan kualitas lingkungan akibat banyaknya volume kendaraan yang lewat,yang bukan menuju kotatua. Minat orang ke kotatua tidak sebanyak sebelumnya terbukti dari kurangnya pengunjung museum yang ada disitu.

Kondisi lingkungan kotatua menurun semakin berlarut. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak tinggal diam. Segera melakukan revitalisasi jilid kedua yang dicanangkan pada akhir tahun 2005. Sedangkan pelaksaan revitalisasi fisiknya baru kerjakan pada tahun 2006. Lingkup pekerjaan hampir sama dengan revitalisasi tahun 1973. Fungsi Taman Fatahillah diubah menjadi semacam Plaza dengan menghilangkan batas-batas jalan mobil. Jalan Mobil diubah menjadi pedestrian dengan mengganti permukaan aspalnya dengan batu andesit. Tujuannya adalah menciptakan kenyamanan para pengunjung. Hasilnya cukup mencengangkan. Plaza ini banyak dikunjungi, setiap harinya hampir 1500-2000 pengunjung hingga malam.

Hingga kini pekerjaan fisik masih berlangsung, tertutama penataaan Jalan Kalibesar Timur dan Barat. Tahun depan tidak ada alokasi anggaran yang bersifat fisik. Anggaran yang tersedia lebih diarahkan bagaimana menghidupkan kotatua dengan penyenggaraan kegiatan event untuk menciptakan keramaian publik yang permanen. Diharapkan, dengan adanya keramaian publik bisa memancing kepercayaan investor untuk menginvenstasi revitalisasi bangunan-bangunan kosong yangada disekitar Taman fatahillah dan Kalibesar.


Permasalahan yang ada

Pekerjaan penataan fisik kotatua Jakarta yang sudah dikerjakan selama 3 tahun lebih tetap membutuhkan masukan-masukan guna penyempurnaan pengembangan. Persoalannya adalah belum ditemukannya pemecahan yang tepat dalam menangani kemacetan. Bagi Saya masalah macet ini tidak perlu dibahas terlalu detail dalam kesempatan ini karena membutuhkan sessi para pakar dibidang traffic management. Yang perlu dibahas dalam kesempatan ini adalah bagaimana sikap arkeologi dengan adanya beban berat lalaulintas terhadap keberadaan deretan bangunan cagar budaya. Perlukah pada ruas-ruas jalan tertentu ditutup. Sikap arkeologi tersebut akan kami bahas di tingkat dinas terkait untuk mengatur perubahan traffic.

Persoalan berikutnya adalah belum terbitnya peraturan yang mengatur pembangunan utilitas bawah tanah, sehingga setiap pekerjaan yang membongkar bagian dalam tanah yang kebetulan merusak artefak tidak bisa dihentikan. Contohnya adalah ketika pembuatan Terowongan Penyeberangan Orang (TPO) Kota untuk kepentingan halte busway, ditemukan struktur bangunan di bawah tanah. Dalam pelaksanaan pembangunan TPO tersebut terpaksa harus mengorbankan struktur lama tersebut. Kami hanya bisa melakukan pendokumentasian. Seandainya sudah ada peraturan pembengunan utilitas bawah tanah tentunya hal tersebut tidak terjadi. Contoh lain adalah rencana pembangunan MRT yang akan melintas di kolong tanah kawasan kotatua, kami sudah berusaha melalui Tim Sidang Pemugaran (TSP) untuk mengalihkan jalur MRT. Terus terang upaya ini masih besifat moral. Tidak ada referensi peraturan daerah.

Ada sekitar 53 bangunan cagar budaya milik BUMN dan masyarakat yang rawan roboh di sekitar Taman Fatahillah, Kalibesar dan Roa Malaka. Kami hanya bisa mengingat para pemiliknya untuk menjaga dan merawat, Pemrintah Provinsi DKI Jakarta belum mengatur mekanisne bantuan anggaran APBD untuk pemugaran bukan asetnya. Inipun menjadi permasalahan.


Penutup

Saya memerlukan masukan untuk menyempurnakan perencanan penataan dan pengembangan Kotatua Jakarta terutama masalah yang terkait langsung dengan pelestarian. Mudah-mudahan diskusi yang diselenggarakanoleh Pusat Penelitian Arkeologi ini dapat memberi sumbangsih disiplin arkeologinya untuk kepentingan pembangunan.

Jakarta, 1 November 2009
DR Arie Budhiman

Paper dalam Diskusi Kota Tua Batavia
Yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Jakarta, 9-10 November 2009

Iklan

Responses

  1. Do you have a spam issue on this blog; I also am a blogger, and I was curious about
    your situation; we have developed some nice procedures and we are looking to
    exchange techniques with others, please shoot me an email if interested.

  2. Hi to every single one, it’s in fact a fastidious for me to visit this web site, it consists of priceless Information.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: