Oleh: hurahura | 11 November 2012

Naskah Kuno Gulungan Terpanjang Ditemukan

* Dakwah Damai dan Toleran Berkembang sejak Dahulu

KOMPAS, Rabu, 7 November 2012 – Naskah kuno berbentuk gulungan yang memiliki panjang 5,75 meter dan lebar 21,5 sentimeter ditemukan di Surau Mato Aie, Nagari Pakandangan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Naskah tersebut diperkirakan peninggalan abad ke-19.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Padang, Pramono, Selasa (6/11), di Kota Padang, mengatakan, naskah itu secara umum berisi nasihat untuk berbuat baik, pujian kepada Nabi, makna Idul Adha dan Idul Fitri, serta polemik tentang pengetahuan agama.

”Polemik disampaikan secara tertulis sehingga ilmu pengetahuan berkembang,” kata Pramono.

Naskah itu diperkirakan berasal dari abad ke-19. ”Syech Mato Aie hidup pada abad ke-19 dan kertas yang digunakan kemungkinan dari abad ke-18 atau awal abad ke-19,” ujar Pramono.

Pada naskah itu juga terdapat iluminasi atau hiasan di pinggiran naskah bermotif tumbuhan. Adapun tulisan dan bahasa yang digunakan ialah bahasa Arab yang ditulis menggunakan tinta berwarna hitam dan merah. ”Naskah dengan tinta hitam mengenai khotbah Idul Fitri, sedangkan yang ditulis tinta merah mengenai makna Idul Adha,” ucap Pramono.

Ia menambahkan, naskah kuno itu ditemukan dalam program inventarisasi, katalogisasi, dan digitalisasi naskah Minangkabau yang dilakukan Kelompok Kajian Poeitika Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas.

”Kemungkinan ini naskah terpanjang yang ditemukan di Nusantara,” kata Muhammad Yusuf, dosen FIB Universitas Andalas.

Selama ini rekor naskah gulungan terpanjang tercatat naskah Indropuro dengan panjang 5,45 meter dan lebar 71 sentimeter. Naskah yang berisi silsilah Kesultanan Indropuro di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, itu diperkirakan dari masa yang sama dengan naskah kuno Surau Mato Aie.

Pramono menambahkan, naskah kuno itu memiliki nilai penting karena selama ini relatif tidak ada yang menggunakan sumber primer sejenis untuk melakukan studi aspek sejarah Islam lokal.

Naskah kuno itu diketahui berasal dari tarekat Syattariyah. Tarekat ini diperkenalkan Syekh Burhanuddin Ulakan yang dikenal luas karena pendekatan dakwah yang damai dan toleran.

Undri, peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang yang berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengatakan, temuan naskah kuno ini menjadi prioritas untuk dilestarikan. (INK)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori