Oleh: hurahura | 28 November 2010

Cagar Budaya Sangiran: Antara Fosil dan Kesejahteraan

KOMPAS Jawa Tengah – Kamis, 25 Nov 2010 – Wilayah Sangiran berada di antara Gunung Merapi Purba dan Gunung Lawu Purba. Sangiran yang jutaan tahun lalu masih berupa lembah cekungan yang disebut depresi Solo, lantas tertimpa material vulkanik letusan kedua gunung itu sehingga lama-kelamaan laut dalam yang ada berubah menjadi laut dangkal, rawa, lalu daratan.

Proses ini terjadi selama dua juta tahun. Dengan dorongan gerakan eksogen dan endogen 100.000 tahun yang lalu, Sangiran yang berbentuk kubah lantas terkepras dan tersingkaplah temuan jejak makhluk hidup, flora, fauna, bahkan manusia pertama.

Begitulah kisah hebat sejarah Sangiran yang sejak tahun 1996 ditetapkan UNESCO sebagai situs warisan dunia sebagaimana dituturkan Kepala Balai Pelestari Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS), Harry Widianto, dalam Sosialisasi dan Penyebaran Informasi Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran yang digelar di pendopo penginapan Gardu Pandang Sangiran, Selasa (23/11).

Acara yang juga menghadirkan dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Daud Aris Tanudirjo, ini dihadiri perajin suvenir dan perangkat desa, seperti kepala desa, ketua badan perwakilan desa, dan Lembaga Pemberdayaan Pembangunan Masyarakat Desa (LP2MD).

Di luar cerita dahsyat tentang Sangiran, tersimpan realita yang menyimpan benih konflik kepentingan. Situs Sangiran seluas 56 km persegi yang kini menjadi wilayah tandus dihuni 205.000 jiwa yang tersebar di 22 desa dan 4 kecamatan di dua kabupaten, Sragen dan Karanganyar.

Tanahnya tidak dapat diandalkan untuk bidang pertanian dan kondisi infrastrukturnya terbatas sehingga sulit mendukung sektor pariwisata yang sebenarnya sangat potensial.

“Kondisi jalan, jembatan, dan drainase sangat rendah. Warga kami 80 persen merantau untuk meningkatkan ekonominya, sisanya membuat kerajinan bambu dan mebel. Namun masih sangat sederhana,” kata Triyanto, Kepala Desa Ngebung di Kecamatan Kalijambe, Sragen.

Sementara, warga di sekitar lokasi Museum Sangiran mengandalkan kerajinan pembuatan suvenir yang berbahan baku serpihan fosil. Mereka berargumen, serpihan kecil fosil biasanya tidak diterima Museum Sangiran.

“Kami ingin seperti warga Prambanan yang bisa hidup dari membuat suvenir arca. Di Sangiran, suvenir yang diminati tentu saja yang ada kaitannya dengan fosil. Sosialisasi seperti ini terus untuk apa, hanya buang uang,” kata Abdul Kholif, warga Pablengan, Krikilan, Kalijambe.

Mereka menilai keberadaan Undang-Undang No 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya tidak memberi manfaat ekonomis bagi warga, justru membatasi kehidupan ekonomi warga. Tidak heran, pencurian fosil menjadi hal yang sulit dicegah. Kebutuhan perut dan godaan materi setiap saat mengintai warga pemilik tanah Sangiran yang di lahannya bisa sewaktu-waktu ditemukan fosil, terutama saat musim hujan.

Harry Widianto mengakui, kondisi Situs Sangiran sangat kompleks karena menjadi satu-satunya situs purba di duniayang dihuni penduduk. Situs purba di negara lain bebas dari penduduk. Untuk menekan pencurian fosil, pihaknya mempercepat imbal jasa bagi warga yang menyerahkan temuan fosil kepada museum. Kebijakan ini, diakui Triyanto, cukup berdampak pada warga. Agaknya, masih harus terus diformulasikan model pengelolaan bersama yang ideal bagi kedua pihak agar kepentingan kedua pihak terakomodasi. (Sri Rejeki)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: