Oleh: hurahura | 11 Desember 2012

Rumah Tua di Tepi Telaga

Prof Edi SedyawatiBersama Adiknya, Sutji Astutiwati

KOMPAS, Minggu, 9 Desember 2012 – Bunga teratai merah dan putih mekar sempurna di kolam. Itulah pemandangan pertama ketika Edi Sedyawati (74) membuka lebar-lebar pintu rumahnya. Keindahan yang muncul dari lumpur.

Keindahan teratai itu selalu dihirup Edi di rumahnya di Menteng, Jakarta Pusat, yang persis berada di depan Situ Lembang. Setiap hari selama 15 menit, Bu Edi, begitu kami menyapa perempuan yang menggeluti arkeologi dan tari ini, terbiasa berjalan kaki mengelilingi situ di tengah gemuruh Jakarta. Ia menghirup kesejukan udara pagi sambil mendengar kicau burung.

”Suatu peruntungan bagi kami ketika memperoleh rumah ini,” ujar Edi yang mewarisi rumah bergaya kolonial Belanda ini dari almarhum ayahnya, Iman Soedjahri, salah seorang tokoh pergerakan nasional.

Ketika Edi keluar rumah dari pintu pagar kecil di samping depan rumahnya, seorang tukang parkir segera tersenyum dan menyapanya dengan sebutan profesor. Meskipun tinggal di kawasan perumahan elite, Edi sengaja menciptakan suasana kekeluargaan ala pedesaan di rumahnya.

Pos satpam di pojok rumah—yang dulu dibangun sebagai tempat penjagaan ketika ia masih menjabat sebagai dirjen kebudayaan—kini dibuka bagi umum. Pedagang asongan biasanya menitipkan dagangannya di pos satpam itu. Banyak orang memanfaatkan ruang kecil itu untuk shalat. Sebuah keran air kecil sengaja diletakkan di depan pos satpam untuk mengambil air wudu.

Perbincangan dengan Edi sesekali terhenti oleh deru helikopter yang berseliweran di atas rumah. Dari sejak zaman Orde Baru, Edi terbiasa dengan suara helikopter yang bertugas mengamankan para presiden, seperti Soeharto dan Megawati Soekarnoputri yang memang tinggal di kawasan Menteng.


Tapak sejarah

Di dinding teras rumah Edi terpampang papan penghargaan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 24 Desember 1993. Gubernur Jakarta Surjadi Soedirdja mengategorikan rumah Edi sebagai tapak sejarah perkembangan kota yang telah dipelihara dengan baik.

Bangunan rumah memang dipertahankan pada bentuk aslinya ketika dibangun di masa kolonial. Rumah Edi menjadi satu- satunya rumah di sekeliling Situ Lembang yang tetap mempertahankan bangunan aslinya. Lantai rumah, misalnya, masih tetap mempertahankan tegel yang tak mudah kotor.

Hanya sedikit perubahan pada rumah tersebut, yaitu pembongkaran dinding kamar tidur untuk memperlebar ruang tamu. Di ruang tamu itu, Edi menjamu tamu-tamunya dengan lukisan karya pelukis terkenal Tanah Air, seperti Widayat dan Nyoman Nuarta. Ada pula lukisan karya sastrawan NH Dini yang masih kerabat dekat Edi. Di sudut ruang tamu, Edi memajang sketsa wajah dirinya yang dibuat oleh antropolog Koentjaraningrat.

”Tidak satu pun dari lukisan itu yang saya beli. Saya pajang biar kelihatan beradab,” kata Edi sambil tertawa lebar.

Setelah melewati ruang makan dan teras belakang, Edi harus berjalan kaki menyusuri selasar yang diteduhi aneka tanaman rambat untuk menuju ruang kerjanya. ”Waktu saya menjadi dirjen kebudayaan, ada pengadaan rumah dinas. Saya diberi dana untuk memperbaiki rumah untuk menambah bagian belakang,” katanya.

Jika sedang mengerjakan tulisan yang menurutnya menyenangkan, Edi bisa betah berlama-lama di ruang kerjanya. Ia seperti tenggelam di antara tumpukan buku yang dibiarkan menggunung di meja. Ketika mulai merasa lelah, Edi akan menggelar karpet dan tetap membaca dengan ditopang tumpukan bantal empuk.

Ia lantas menunjukkan buku pameran seni rupa dari seluruh negara anggota nonblok yang dirintisnya pada tahun 1995. Pameran digelar di Galeri Nasional ketika Indonesia menjadi ketua gerakan negara nonblok. Oleh kiprah Edi pula, Galeri Nasional diciptakan dari sebelumnya hanya difungsikan sebagai ruang pamer.

”Kekurangan kita sekarang ini ada di kritik seni yang kurang berkembang. Dari kritik seni, khalayak bisa menilai suatu karya. Sekarang terlalu menekankan pada yang laku,” kata Edi yang pernah mendapat penghargaan Bintang Chevalier des Arts et Letters dari Perancis (1997) ini


Kala perang

Keluarga Edi mulai menetap di rumah itu tahun 1961 setelah ayahnya pensiun dari jabatan sebagai sekretaris jenderal di kementerian sosial. Sebelumnya, mereka sempat mendiami rumah dinas di Jalan Jawa yang sekarang menjadi Jalan Cokroaminoto.

Sebelum menetap di ibu kota negara, Edi berpindah-pindah rumah mengikuti ayahnya. Ia lahir di Malang, Jawa Timur, lalu pindah ke Kediri dilanjutkan ke Semarang, Jawa Tengah. Edi lalu menunjukkan foto sang ayah ketika menjadi Ketua Perhimpunan Pemuda-pemuda Indonesia yang turut menghadirkan Sumpah Pemuda. Di foto itu, Iman Soedjahri duduk di samping Bung Karno dan tokoh gerakan pemuda lainnya.

Ketika ada serangan udara dari sekutu pada masa pendudukan Jepang, Edi dan keluarganya lari ke lubang perlindungan yang dibangun di rumah mereka di Semarang. Ketika Jepang kalah perang, Edi kecil sudah turut mengungsi dengan berjalan kaki dari Semarang ke arah Kendal. Mereka lantas melanjutkan mengungsi ke Ponorogo. Ketika ayahnya ditugasi menjabat Wakil Gubernur Jawa Tengah, Edi pindah lagi ke Magelang.

Pada saat ibu kota Republik Indonesia dipindah ke Yogyakarta, Edi turut pindah ke Yogyakarta sebelum kemudian pindah ke Jakarta. ”Dari percakapan bapak dan ibu di rumah, saya menyerap nasionalisme. Bahwa kemerdekaan itu harus diusahakan,” ujarnya.

Terus-terusan berpindah rumah, Edi sampai pada kesimpulan bahwa rumah tidak melulu harus berwujud bangunan. ”Tidak semua orang beruntung punya rumah tetap. Rumah tetap saya ada di dunia akademik. Ngajar dan mengembangkan ilmu. Jika tidak punya rumah kayak gitu, akan mengembara ke mana-mana. Betapa gelisahnya,” kata Edi.


Gelar pria berbusana terbaik

Selalu ada kejutan dalam hidup Edi Sedyawati (74). Suatu hari, ia mendapat sebuah undangan untuk menghadiri malam penganugerahan. Lucunya, Edi mendapat penghargaan kategori pria berbusana terbaik. Rupanya pengundang mengira Edi adalah seorang pria. ”Saya meminta asisten saya yang pria menghadiri acara itu. Kasihan kalau mereka malu,” kata Edi tertawa.

Meski telah lama pensiun, Edi bersyukur masih bisa terus aktif mengajar dan menjadi pembicara di bidang seni dan budaya di beragam seminar hingga hari ini. Ia masih menjalani tugas mengajar, seperti di Universitas Indonesia, Universitas Paramadina, dan Universitas Hindu Indonesia.

Dulu, Edi masih bisa menyetir sendiri ke tempat kerja. Ia memiliki sebuah mobil Fiat produksi tahun 1959 yang dibelinya pada tahun 1982. Sayangnya, beberapa bulan terakhir, mobil kesayangannya itu mogok dan belum ada montir yang datang untuk memperbaiki.

Dengan hati-hati, Edi memutar kunci, lalu membuka mobil yang pintunya masih terbuka ke arah belakang ini. Beberapa kali Edi mencoba menyalakan mesin, tetapi tak berhasil. ”Surat izin mengemudi saya juga tidak bisa diperpanjang karena usia sudah lebih dari 70 tahun,” tambahnya.

Jikalau mesin mobil itu masih menyala dengan benar, Edi sebenarnya masih ingin membawanya berputar-putar keliling telaga di muka rumahnya. ”Saya mensyukuri masih diundang ke sana-kemari. Kalau enggak, ya bosan,” kata nenek lima cucu ini.

Galeri Foto:
Meniti Taman SitulembangMeniti Taman Situ Lembang

Mobil KesayanganMobil Kesayangan

Ruang KerjaRuang Kerja

(FOTO-FOTO: KOMPAS/WAWAN H PRABOWO)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: