Oleh: hurahura | 6 Desember 2010

Kontradiktif Arkeologi

Oleh: Djulianto Susantio

Banyak orang berpandangan bahwa arkeologi adalah ilmu yang kering, tidak seperti ekonomi atau kedokteran, misalnya. Arkeologi dianggap kering karena sering diidentikkan dengan penanganan benda-benda budaya masa lampau dari dalam tanah saja. Padahal sesungguhnya kering atau tidak kering, tergantung dari mana kita memandangnya.

Arkeologi telah berjalan dari waktu yang amat panjang, sejak munculnya manusia pertama di bumi. Namun sebagai ilmu, arkeologi baru berkembang pada abad XIX setelah sebelumnya hanya berupa “kegemaran mengumpulkan benda-benda antik belaka”. Karena rentang waktu yang amat panjang itulah, arkeologi bisa dikatakan tidak kering. Apalagi banyak tinggalan masa lampau masih terpendam di dalam tanah, sehingga perlu waktu untuk menemukannya.

Negara kita yang sangat luas dengan masa lampau yang cemerlang, menjadikan ladang penelitian begitu banyak dan beragam. Banyak kerajaan kuno pernah muncul di negara kita. Hal itu pula yang menyebabkan arkeologi sebenarnya tidak kering. Yang kering justru anggaran yang diterima dari pemerintah, artinya tidak sebanding dengan penanganan yang mesti dilakukan. Bukan hanya untuk ekskavasi dari dalam tanah, tetapi juga untuk pemugaran, perawatan koleksi, pengadaan peralatan penelitian, pendidikan tenaga, publikasi laporan, dan masih banyak lagi.

Di lain pihak, kita menghadapi berbagai kendala, yakni minimnya apresiasi masyarakat terhadap warisan-warisan masa lampau. Banyaknya pencurian arca kuno, penggalian liar, penyelundupan, vandalisme, dan grafitisme menunjukkan bahwa “sebagai ilmu” arkeologi belum populer. Justru arkeologi lebih dipuja-puja “karena barang antiknya” yang bernilai komersial tinggi.


Kurang tenaga

Banyak orang berpendapat bahwa banyaknya pelecehan terhadap warisan-warisan arkeologi disebabkan tenaga arkeolog yang ada masih sangat terbatas. Bayangkan, kita memiliki 32 propinsi. Sudah barang tentu tenaga-tenaga arkeolog yang dibutuhkan, disesuaikan dengan propinsi-propinsi itu.

Kendalanya adalah tenaga penghasil arkeolog cuma ada empat, yakni UI, UGM, UNUD, dan UNHAS. Itu pun ditambah beberapa perguruan tinggi yang menjadikan arkeologi sebagai pilihan utama.

Kemungkinan besar, masalah penghasilan menyebabkan banyak arkeolog enggan berkiprah di bidangnya. Situasi masa kini—tentu saja karena kurang tanggapnya pemerintah—tidak dimungkiri menjadikan arkeologi semakin merana, bagaikan tikus mati di lumbung padi.

Dulu, bila orang memasuki dunia pendidikan arkeologi, memang benar-benar karena keinginan dan cita-citanya. Apalagi dulu belum terlalu banyak peminat sehingga tidak ada seleksi masuk perguruan tinggi. Lain halnya pada masa sekarang. Seseorang memasuki dunia arkeologi karena adanya program pilihan, misalnya pilihan pertama, pilihan kedua, atau pilihan ketiga. Kalau arkeologi menempati pilihan pertama, mungkin tidak menjadi soal. Tetapi kalau menempati pilihan kedua atau ketiga, jelas menunjukkan belajar arkeologi adalah “daripada tidak kuliah saja”.

Selain itu masalah ekonomi juga berpengaruh besar. Dulu mahasiswa arkeologi yang telah lulus, berharap bisa bekerja di bidang arkeologi. Karena masih jarangnya tenaga arkeologi, maka kesempatan masih luas. Namun sekarang setelah lulus belum tentu bekerja di bidang arkeologi karena kesempatan kerja di bidang arkeologi memang tidak banyak. Lowongan kerja untuk arkeologi tidak dibuka setiap tahun. Penyebabnya, ya anggaran yang minim tadi, mengingat seluruh instansi arkeologi adalah instansi pemerintah (pusat dan daerah). Di pihak lain, swasta tidak terlalu membutuhkan tenaga arkeologi, kecuali untuk bidang-bidang tertentu seperti jurnalistik atau penyuntingan.


Kontradiktif

Begitulah, kontradiktif dalam arkeologi. Sejak lama banyak sekali pencemaran atau pelecehan terhadap warisan-warisan arkeologi karena kurangnya tenaga pengawas, penyuluh, penjaga, pelestari, dsb.

Persoalannya sekarang adalah bagaimana agar kita bisa memberdayakan masyarakat. Mengingat kekurangan tenaga arkeologi, tentulah hal demikian perlu diperhatikan sungguh-sungguh.

Di banyak tempat terlihat sekali pola pikir masyarakat sudah berubah, umumnya menjadi konsumtif dan ekonomis. Karena pola pikir inilah ketidakpedulian sering terjadi. Meskipun di suatu tempat ada situs, misalnya. bila mereka ingin menanam, ya mereka akan tetap menanam. Kasus seperti ini selalu berulang di perkebunan kentang yang terdapat di situs percandian Dieng.

Masyarakat di sekitar Trowulan umumnya tahu bahwa bata-bata merah yang tersisa adalah peninggalan kerajaan Majapahit. Namun mengapa mereka tetap menggerusinya untuk dijadikan bahan baku pembuatan semen merah, ya karena masalah ekonomi dan kebutuhan perut: konsumtif dan ekonomis.

Bukan hanya rakyat kecil, pengusaha kakap pun sama saja. Situs Rancamaya di daerah Bogor, sudah banyak disorot di media cetak sebagai peninggalan Kerajaan Pajajaran. Apa yang terjadi kemudian? Di areal situs tetap berdiri berbagai perumahan mewah sehingga menenggelamkan upaya pemahaman akan masa lampau masyarakat Sunda. Padahal, banyak intelektual terdapat di jajaran perusahaan real estate itu. Mereka seolah-olah tidak tahu, tidak mau tahu, pura-pura tidak tahu, atau tidak mau peduli, entahlah.

Memberdayakan masyarakat tentu bukanlah hal yang mudah. Padahal, kalau masyarakat sadar betul bahwa di daerahnya terdapat situs, yang untung adalah masyarakat sekitar juga. Artinya begini, bila situsnya terpelihara, maka bisa mendatangkan wisatawan sehingga desa tersebut menjadi terkenal. Banyak wisatawan berarti banyak lapangan pekerjaan.

Berbicara arkeologi tentulah tidak bisa dipisahkan dari kepariwisataan. Memberdayakan masyarakat juga tidak ubahnya meningkatkan taraf hidup mereka. Ini yang perlu dilakukan sehingga warisan arkeologi terjaga dan kegiatan pariwisata meningkat.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: