Oleh: hurahura | 5 Agustus 2010

Batu Cetakan dari Kapal Karam

TEMPO Interaktif, Kamis, 28 Juni 2007: – Dari perairan yang dingin dan asin di Cirebon, artefak-artefak arkeologis itu kini menempati ruang pameran di Gedung Arca Museum Nasional, di Jakarta. Di sebuah etalase kaca, belasan artefak batu, emas, perunggu, dan keramik, dipertontonkan sejak 20 Juni yang lalu.

Tapi bagi Bambang Budi Utomo, sebuah batu persegi seukuran kotak korek api, lebih menarik perhatian. Batu itu berwarna kehijauan. “Ini bukti tertua tentang keberadaan agama Islam di nusantara,” kata arkeolog dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional itu, kepada Tempo pada senin lalu.

Sebelumnya, bukti tertua keberadaan agama Islam di nusantara terekam pada nisan seseorang yang bernama Tuhar Amisuri di Barus, Sumatera. Nisan ini berangka tahun 1000-an Masehi. Dari masa yang hampir sama juga ditemukan nisan di Leran, Gresik.

Tapi batu kehijauan itu berasal dari masa yang lebih tua, karena ditemukan dari sebuah kapal dagang yang karam di perairan Cirebon pada abad ke-10 masehi. Awalnya Tomi-demikian Bambang akrab dipanggil-menduga benda itu adalah sebuah stempel mengingat ada ukiran berupa tulisan Arab di salah satu sisinya.

Belakangan Tomi menyadari bahwa itu adalah sebuah cetakan (mould). Cetakan itu terbuat dari batusabun (soapstone) kehijauan. Bentuknya persegi panjang dengan ukuran panjang 9 sentimeter dan lebar 4 sentimeter serta tebalnya sekitar 1 sentimeter.

Pada salah satu sisinya terdapat aksara Arab bergaya kufik diukir pada dua bidang empat persegi. Tomi mengatakan, gaya tulisan kufik berasal dari abad ke-9 dan 10 Masehi. Gaya ini dikembangkan di daerah Kufah pada masa pemerintahan Kekhalifahan Bani Abassiyah (750-870 Masehi). Kufah kini adalah kota Basra di wilayah Irak.

Gaya tulisan kufik juga ditemukan pada batu nisan seseorang bernama Malik as-Saleh di Samudra Pasai (Aceh). Lelaki ini wafat pada 1297. Namun Gaya tulisan pada cetakan itu lebih kaku dibandingkan nisan.

Aksara di batu cetakan itu bertuliskan: “al-mlk lillah; al-wahid; al-qahhar”, yang berarti “Semua kekuasaan itu milik Allah yang Maha Esa dan Maha Perkasa.”

Kalau diterjemahkan secara harfiah, maka kalimat itu mengandung asma’ul husna, yakni sifat yang dimiliki mausuf (Allah) yang memiliki kekuasan.

Bidang persegi empat yang membingkai aksara itu dibentuk dengan cara dikorek sedalam setengah milimeter. Di bagian atas tiap-tiap bingkai, ada semacam saluran yang kian melebar mulai dari 1 milimeter sampai 3 milimeter. Di sisi-sisi saluran, ada tonjolan setengah bulat bergaris tengah 5 milimeter dan tingginya 3 milimeter.

Tomi menduga, cetakan untuk logam mulia seperti emas atau perak itu mestinya ada sepasang. “Dan saling menangkup,” ucapnya. Tapi bagian yang lain tak ditemukan.

Bagian tonjolan membulat adalah semacam pasak pengunci. Adapun saluran yang membesar di ujungnya itu adalah saluran pengisi cairan logam. Setelah kering dan keping cetakan dibuka, maka akan tercetak sekeping logam tipis empat persegi yang bertuliskan kalimat timbul: asma’ul husna.

Hasil cetakan itu bukanlah mata uang, sebab tak ada penanda nilai ataupun lukisan penguasa yang mengeluarkannya. “Bisa jadi seperti semacam jimat,” ujar Tomi.

Tomi menduga kapal yang karam itu berasal dari wilayah dan masa yang sama dengan asal cetakan. “Jadi bukan kapal dagang Cina seperti yang disebut orang sebelumnya,” kata dia.

Melihat posisinya di dasar laut, dimana bagian haluan mengarah ke timur, kapal itu diduga sedang berlayar ke timur. “Mungkin ke Kambangputih, Tuban,” kata Tomi. Kambangputih putih terbilang sebagai pelabuhan antarbangsa yang terkenal sekitar abad ke-10 masehi.

Namun penyebab karamnya kapal tersebut belum bisa dipastikan. Setelah karam, kapal itu ditemukan pertama kali oleh nelayan Cirebon pada Februari 2003 saat menjaring ikan 70 kilometer di lepas pantai Cirebon.

Pada Mei 2005 isi kapal berhasil diangkat ke permukaan. Pengangkatan “harta karun” dilakukan oleh PT Paradigma Putra Sejahtera, bersama penyelam dari Prancis dan Jerman. Pengangkatan ini sempat menjadi persoalan lantaran izinnya dipertanyakan polisi.

Namun terlepas dari persoalan tersebut, kapal itu memang berisi “harta” yang melimpah nan menggiurkan. Ada sekitar 400 ribuan keping barang yang diangkat dari kapal. Sekitar 75 persen adalah keramik dari Cina. Sisanya artefak batu, emas, besi, dan perunggu.

Tomi mengatakan, mencermati muatannya, tak pelak lagi kapal yang karam itu adalah sebuah kapal dagang pada masanya. Oleh sebab itu, keberadaan cetakan itu juga memperkuat teori bahwa agama Islam masuk ke nusantara melalui perantaraan pedagang. “Karena ditemukan dalam konteks kapal dagang,” katanya.

Masalahnya, cetakan dan “harta-harta karun” lain yang ditemukan di kapal itu akan segera dilelang oleh perusahaan yang mengangkatnya dari dasar laut. Nilainya diperkirakan mencapai Rp 400 miliar.

Menurut Tomi, mestinya sebagai data sejarah penting dan satu-satunya, pemerintah harus mempertahankan agar cetakan tersebut tak ikut dilelang. “Tapi perusahaan itu tetap ingin mempertahankan, kalau tidak nilai lelangnya bisa turun,” katanya.

Surya Helmi, Direktur Peninggalan Bawah Air Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, mengatakan alasan itu hanya akal-akalan pengusaha. Oleh sebab itu, mereka pun akan berusaha mempertahankan beberapa artefak yang penting dan belum ada duanya di Indonesia (masterpiece). “Kami sedang perjuangkan supaya tetap tinggal di Indonesia,” katanya kepada Tempo selasa lalu.

Menurut Surya, selain cetakan, ada sejumlah barang perunggu, emas, dan sampel keramik yang harus dipertahankan agar bisa diteliti lebih lanjut secara arkeologis. Artefak-artefak penting itulah yang kini sengaja dipamerkan di Museum Nasional untuk menarik perhatian masyarakat dan pemerintah.

Di sisi lain, pihak Departemen Kebudayaan dan Pariwisata juga sedang menulis sebuah buku mengenai “harta karun” dari Cirebon itu. Buku itu ditulis bersama peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional dan praktisi arkeologi, dan arkeolog dari kalangan akademisi. Dia berharap buku itu juga ikut membuka mata betapa pentingnya artefak-artefak yang siap dilelang itu.DEDDY SINAGA


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori