Oleh: hurahura | 26 Juli 2010

Museum Mpu Purwa

Balai Penyelamat Benda Purbakala Mpu Purwa Malang merawat prasasti era Mpu Sindok dari 944 Masehi. Prasasti ini menceritakan keberadaan masyarakat Tengger.

Prasasti batu berbentuk segilima ini memiliki panjang 102 sentimeter (cm), lebar 22 cm, dan tinggi 142,5 cm. Prasasti ini ditemukan Dukuh Blandit, Desa Wonorejo, Singosari, Kabupaten Malang.

Isi prasasti ini menyebutkan penetapan sebidang tanah di selatan pasar Desa Muncang sebagai tanah perdikan. Hasil bumi tanah perdikan ini digunakan untuk membangun Prasada Kabhaktyan Siddhayoga. Ini adalah bangunan suci untuk peribadatan harian bagi Bhathara Sang Hyang Swayambhwa yang bersemayam di Walandit.

Walandit sekarang dikenal dengan Dukuh Blandit. Posisinya di lereng barat Gunung Bromo. “Prasasti ini pernah dibaca dan dikaji orang-orang luar menggunakan kertas khusus. Kami masih membaca prasasti ini menggunakan bantuan tepung,” ujar anggota staf Museum Mpu Purwa, Fitria Noverita, Kamis (22/7) di Malang.

Dwi Cahyono, arkeolog asal Universitas Negeri Malang, menyatakan bahwa kisah masyarakat Tengger tidak bisa langsung ditemukan dalam Prasasti Muncang tanpa bantuan beberapa prasasti lain.

Beberapa prasasti yang mendukung Prasasti Muncang antara lain Prasasti Lingga Sutan. Isi prasasti tahun 929 Masehi ini menetapkan Desa Lingga Sutan sebagai wilayah Rakriyan Hujung dan hasil pertanian di sana dipersembahkan kepada Bhathara I-Walandit. Pemujaannya dilakukan setahun sekali.

Dari dua prasasti ini terlihat mulai ada kesamaan, yaitu mengenai daerah Walandit atau I-Walandit. Walandit kini menjadi Dukuh Blandit. Informasi mengenai Tengger semakin jelas pada Prasasti Pananjakan yang ditemukan pada 1880 di daerah Penanjakan, Kabupaten Pasuruan. Prasasti berangka tahun 1405 itu menyebutkan larangan untuk menarik pajak pada bulan titi loman atau akhir bulan Asada.

Dari lokasi penemuan prasasti ini, Dwi yakin cerita dan asal masyarakat Tengger-Bromo justru lahir dari lereng barat-selatan Gunung Bromo sekarang, yaitu wilayah Kabupaten Malang. (DIA)

(Kompas Jawa Timur, Jumat, 23 Juli 2010)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: