Oleh: hurahura | 7 September 2010

Arkeologi Publik : Re-Introduksi

Oleh: Chaksana A.H. Said
Pengajar Luar Biasa Departemen Arkeologi
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia


PENDAHULUAN: Kerangka Dasar

Apakah definisi Arkeologi Publik? Banyak karya tulis ilmiah maupun buku referensi yang memberikan beragan definisi tentang Arkeologi Publik. Salah satu intinya adalah bahwa:

“… pada dasarnya arkeologi mengungkapkan masyarakat masa lalu melalui benda budaya (material culture). Benda Budaya adalah warisan budaya untuk semua orang. Karenanya semua orang harus bisa memiliki akses dan mendapatkan informasi arkeologi. Jadi semua orang memiliki hak dan juga kewajiban kolektif terhadap arkeologi…” (Mc Gimsey III & Davis, 1977)

Mayoritas negara di dunia menganggap sumberdaya budaya adalah milik negara. Oleh karena negara adalah milik masyarakat, maka masyarakat adalah stake holder utama sumberdaya. Jadi, masyarakat, bukan hanya negara dan institusinya (misalnya Puslitbangarkenas), memiliki, berkepentingan dan bertanggungjawab terhadap sumberdaya arkeologi (McGimsey III, 1972; Cleere, 1984).

Definisi di atas memberikan dasar yang jelas mengenai peran arkeologi di dalam masyarakat, dan sebaliknya, peran masyarakat di dalam (pengembangan) arkeologi. Arkeologi bukan hak dan kewajiban pemerintah semata. Pemerintah mewadahi, melindungi dan mengelolanya untuk kepentingan masyarakat dan negara berdasarkan peraturan dan perundangan yang berlaku.

Penelitian arkeologi dapat memberikan informasi yang penting untuk masyarakat. Informasi penting tadi bukan hanya berkenaan dengan ilmu pengetahuan saja, namun bisa juga berkaitan dengan masalah-masalah yang lebih fundamental. Di Indonesia, peran arkeologi penting karena memberi informasi (melalui kesimpulan hasil penelitiannya) tentang jatidiri dan keluhuran (wisdom) budaya nenek moyang bangsa Indonesia.

Bukan itu saja, arkeologi sebenarnya juga mampu menunjukkan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan pendahulu bangsa agar tidak terulang di masa sekarang maupun mendatang. Masalah jatidiri merupakan masalah fundamental untuk bangsa dan negara Indonesia, karena dalam U.U.D. 1945 jatidiri mempersatukan puak-puak (suku) dan mewujudkan kesatuan bangsa dan warga negara NKRI.

Masyarakat, karena menyadari pentingnya peran arkeologi, juga memberikan upaya dalam beragam bentuk untuk membantu mengembangkan ilmu arkeologi. Ada yang mendirikan yayasan dan menjadi kelompok pendukung atau peminat (interest groups) yang mengusahakan pendanaan. Namun ada pula yang mempersembahkan karyanya untuk meningkatkan kemampuan arkeologi. Contohnya Willard F. Libby. Pakar ilmu Fisika Tekhnik ini dikenal sebagai orang yang peduli dengan kebudayaan dan pegetahuan sejarah manusia (David Hurst Thomas, 1989). Tugas utama di laboratoriumnya adalah untuk menyempurnakan teknik dan peralatan untuk mengurai zat-zat yang membentuk beraneka ragam benda dan persenyawaan. Namun dengan kesadarannya sendiri Libby membaktikan diri kepada penelitian untuk menghitung pengendapan susutan ion karbon C-14 khususnya dari benda-benda organik yang sudah tidak bermetabolisma. Dengan demikian Libby memberi para arkeolog cara untuk menghitung usia benda.


KONSEP-KONSEP DASAR

A. Benda Budaya Sebagai Sumberdaya Budaya
Bagaimana arkeologi bisa melibatkan masyarakat, dan masyarakat menjadikan arkeologi sebagai bagian hidup sehari-hari? Hal ini merupakan masalah sentral dalam arkeologi publik. Agar dasar hukumnya jelas, benda-benda budaya harus dilihat sebagai sumberdaya budaya (culture resource atau heritage) (King, Hickman & Berg, 1977).

Tentunya ada persyaratannya: benda budaya seperti apa yang bisa dikategorikan sebagai sumberdaya budaya?. Di negara kita hal ini sudah diatur dalam UU Cagar Budaya No 5 tahun 1992. Apa saja persyaratan dan kriteria yang dimaksud dapat dipelajari dalam UU tersebut. Terlalu panjang utk dibahas di sini.

B. Win-Win Solution
Kerangka berfikir tentang bagaimana sumberdaya bermanfaat untuk semua pihak dapat kita acu kepada konsep culture resource management (CRM). Kenyataan di masa lalu memperlihatkan bahwa arkeologi dan sumberdaya budaya sering hanya mewakili kepentingan pemerintah dan dunia ilmiah saja. Contoh: bila di suatu desa ditemukan situs, maka penduduk desa akan dipindah dengan ganti rugi yang sering ala kadarnya saja. Hal ini merugikan masyarakat yang terkait karena langsung menyentuh perikehidupan mereka. Jadi, harusnya bagaimana? Apakah situs itu dibiarkan saja?, atau masyarakatnya yang dibiarkan?

Salah satu teori CRM mengatakan bahwa solusi yang ditawarkan idealnya bermanfaat bagi semua pihak terkait. Memang tidak dapat dihindari bahwa kondisi win-win yang diharapkan tidak selalu sama-setara untuk semua pihak, tapi yang penting semua diuntungkan. Untuk mancapai kondisi itu diperlukan kompromi. Kompromi yang didasarkan atas kaidah penelitian dan pelestarian arkeologis. Caranya adalah untuk selalu menerapkan penelitian dan rencana kerja yang berwawasan problem oriented. Artinya, pemikiran tentang potensi pengembangan sumber daya untuk pihak-pihak non arkeologis sudah harus dipertimbangkan. Wakil-wakil masyarakat juga harus diajak bicara untuk merumuwskan hal tersebut.

Contoh: ketika situs tadi diketahui merupakan situs candi dan bisa direkonstruksi, maka dalam rancangan selanjutnya, harus ada arkeolog yang memahami azas manfaat dan mampu memikirkan dan merencanakan bagaimana masyarakat setempat bisa dilibatkan tanpa harus mengkompromikan keberadaan candi tersebut. Solusinya bisa rumit dan luas seperti di Borobudur, tapi bisa sesederhana loket penjualan karcis dan warung teh botol saja.

C. Azas Manfaat Untuk Arkeolog
Sebagai sumberdaya, benda budaya harus bisa memberi manfaat bagi semua pihak. Pihak yang dimaksud di sini mencakup pemerintah, dunia ilmu dan masyarakat secara umum. Prinsip dari azas manfaat di sini adalah bahwa benda budaya sebagai suatu sumberdaya tidak boleh “hidup dalam tabung hampa udara” (vacuum). Dia tidak boleh hanya dilestarikan, diawetkan kemudian disimpan dalam lemari lab untuk diteliti segelintir orang tanpa ada laporan atau publikasi yang meluas. Sebagai sumberdaya dia harus bisa “menghidupi”.

Arkeolog harus bisa mengidentufikasi potensi-potensi sumberdaya budaya. Apa saja potensi sumberdaya? harus dilihat dari berbagai macam sudut pandang. Dari kacamata arkeologi jelas: untuk penelitian [academic research (disingkat a.r.)] dan pelestarian [conservational research (disingkat c.r.)]. Kedua wawasan ini selalu berjalan beriringan (Mundardjito, 1995). Penelitian a.r. untuk mengungkapkan sisi ilmiahnya, penelitian c.r. untuk menjamin bahwa sumberdaya tersebut bisa dimanfaatkan lebih jauh untuk penelitian.

Arkeologi publik menambah satu dimensi lagi: potensi untuk pihak lain. Penelitian a.r. diharapkan memiliki wawasan arkeologi publik, artinya selain penelitian ilmiah murni, hendaknya diungkapkan pula potensi-potensi lain seperti ke-pariwisata-an, per-museum-an, informatika, dan sebagainya. Dari sisi pelestarian, baik penelitian c.r. maupun upaya preservasi dan konservasinya juga mempertimbangkan kepentingan manfaat masyarakat umum.

D. Azas Manfaat Untuk Masyarakat
Masyarakat yang dimaksud di sini adalah institusi arkeologi di luar pemerintahan. Jadi termasuk di dalamnya: lembaga non-arkeologi, para ilmuwan, para pelajar dan mahasiswa, interest groups dan lembaga swadaya masyarakat, dunia usaha, media massa, dan sebagainya.

Namun fokus terpenting untuk saat ini adalah menjangkau masyarakat umum (general public). Mayoritas negara di dunia menganggap sumberdaya budaya adalah milik negara. Oleh karena negara adalah milik masyarakat, maka masyarakat adalah stake holder utama sumberdaya. Jadi, masyarakat berkepentingan dan bertanggungjawab terhadap sumberdaya arkeologi (McGimsey, 1972).

Apakah arkeologi dan sumberdaya budaya bermanfaat untuk masyarakat? Bagaimana membuatnya bermanfaat? Kunci dari pertanyaan di atas adalah:

1). Membuat masyarakat membutuhkan arkeologi
2). Melibatkan masyarakat sebagai mitra

Di mancanegara kemitraan dengan masyarakat telah berjalan seiring sejalan sejak pertengahan tahun 1970-an. Hal ini membuat awareness dan apresiasi masyarakat terhadap kepentingan arkeologi sangat tinggi (Cleere, 1984).

Di Indonesia, bagaimana rasa butuh masyarakat akan muncul jika mereka:

1). Tidak tahu dan tidak punya informasi tentang arkeologi dan
sumberdaya budaya
2). Tidak merasa mendapatkan manfaat dari perhatiannya
kepada dunia arkeologi.

Institusi arkeologi Indonesia (termasuk UI) harus mampu menyiapkan sumberdaya dan informasi (misalnya hasil penelitian) untuk dapat dengan mudah disimak dan dinikmati oleh masyarakat dalam batas-batas yang tidak melanggar undang-undang dan peraturan yang berlaku.

Ada kelompok masyarakat yang karena berkepentingan, akan mendekati institusi untuk memenuhi kebutuhannya tentang arkeologi. Namun ada pula masyarakat umum, mungkin individu-individu yang belum memiliki awareness dan concern terhadap arkeologi. Masyarakat seperti ini cukup dominan di Indonesia. Arkeolog dan institusi arkeologi di Indonesia justru harus bisa mendekati mereka dan menumbuhkan kepedulian mereka terhadap sumberdaya budaya dan dunia arkeologi Indonesia.

Bagaimana konsep-konsep tadi dijalankan di Indonesia?. Salah satu institusi arkeologi penting di Indonesia yaitu Puslitbangarkenas (Pusat penelitian dan pengembangan arkeologi nasional, Dept. Budaya & Pariwisata) telah memiliki rencana pengembangan untguk memasyarakatkan arkeologi. Di dalam rencana induk penelitian arkeologi nasional mereka (Ripan) disebutkan bahwa pusat penelitian arkeologi: “…harus (pula) menjadi agen pencerdasan bangsa dan pengembangan budaya nasional..” (Asdep, 2004: 1). Suatu visi yang ambisius jika masyarakat umum tidak dilibatkan secara langsung.

Indonesia belum menerapkan Arkeologi Publik secara terencana. Hal ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi komunitas arkeologi secara umu dan luas. Termasuk mahasiswa arkeologi di manapun.


BEBERAPA PEMIKIRAN UNTUK STRATEGI

Arkeologi Sebagai Kebutuhan Masyarakat
Melihat betapa tinggi apresiasi masyarakat mancanegara terhadap arkeologi negaranya, kita tidak perlu pesimis terhadap kemampuan kita sendiri. Dunia arkeologi Indonesia bisa membuat masyarakatnya membutuhkan. Mesir, Turki dan “tetangga” kita Thailand mengandalkan wisata sejarah dan arkeologinya sebagai pendapatan negara. Maka dengan sendirinya masyarakatnya memanfaatkan kenyataan itu dan menyebabkan animo masyarakat terhadap arkeologi cukup tinggi. Kita harus berikhtiar untuk bisa mencapai tahap seperti itu. Dalam hal ini peranan mahasiswa arkeologi sangat penting dan strategis.

Beberapa konsep berikut ini dapat dikembangkan untuk mencoba mengajak masyarakat “membutuhkan” arkeologi.

1. Diseminasi Informasi. Di kalangan ilmiah penerbitan arkeologi masih kurang. Dari yang masih kurang inipun yang bisa disampaikan ke masyarakat masih sangat sedikit sekali. Praktis baru media masa cetak dan elektronik yang memuat beberapa hasil penelitian yang unggulan. Harus ada pengembangan kreatif dalam masalah ini. Sudah waktunya informasi arkeologi yang cenderung “kering” dikemas dalam bentuk yang lebih menarik dan dapat dicerna oleh masyarakat. Akhir-akhir ini pameran-pameran sudah digelar di museum-museum di pusat dan daerah. Ini perkembangan yang harus disambut baik. Mungkin perlu dipertimbangkan konsep “jemput bola”, dimana informasi arkeologi mendatangi kelompok-kelompok masyarakat.

2. Kemitraan. Partnership antara kalangan arkeologi dengan kelompok masyarakat akan meningkatkan daya “siar” dan jangkauan informasi arkeologi tersebut. Sudah beberapakali ada contoh kerjasama yang baik, misalnya antara Direktorad Budaya & Pariwisata dengan masyarakat keramik, atau antar museum tekstil denhan kelompok pencinta batik, dan sebagainya. Program-program seperti ini harus direncanakan matang dan baik. Terbukti, interest group seperti ini ternyata bisa menguatkan kemampuan perolehan dana untuk modal pameran dan penelitian.

3. Agensi. Dalam hal ini yang dimaksud adalah diperlukannya kesadaran pada setiap arkeolog atau calon arkeolog untuk menghayati pentingnya memasyarakatkan arkeologi dan membuat masyarakat membutuhkan arkeologi. Jadi dalam setiap kesempatan yang bersangkutan perlu mempertimbangkan kemungkinan memanfaatkan potensi arkeologis/sumberdaya budaya, atau mengangkat informasi arkeologi ke masyarakat awam.


PENUTUP

Sudah waktunya wawasan Arkeologi Publik dikembangkan menjadi wacana yang memasyarakat dan tidak berhenti di ruang-ruang kelas dan ruang-ruang rapat institusi arkeologi.

Arkeologi harus dibutuhkan masyarakat. Selama ini kalangan arkeologi seolah berjuang sendirian melawan arus pembangunan yang kadangkala membabi buta memusnahkan sumberdaya budaya demi pengembangan sektor-sektor komersil. Jika masyarakat membutuhkan maka perjuangan arkeologi akan lebih ringan karena punya dukungan dari stake holder terbesar, yaitu: masyarakat.

Tidak semua lulusan arkeologi harus menjadi arkeolog peneliti, pendidik, pelestari, dan sebagainya. Kita memerlukan arkeolog di bidang hukum dan peradilan, di media massa, di perbankan, di periklanan, di legislatif (politik), pariwisata, wiraswata, sektor pengembangan (real estate development), dan sebagainya.

Arkeologi yang memasyarakat harus ada di dalam masyarakat itu sendiri, karena pola pengembangan yang efektif adalah yang mulai dari bawah (bottom-up), dan berakar di masyarakat (community based).

Dimana peran mahasiswa dalam hal ini. Jawabnya di semua lini. Mahasiswa adalah salah satu agen yang paling efektif untuk memasyarakatkan arkeologi.

Tantangan telah digulirkan, bagaimana KAMA menanggapi tantangan itu, dan bagaimana cara menanggapinya? Mudah-mudahan KAMA akan proaktif memulai pembahasan untuk merealisasikan wawasan arkeologi publik di Indonesia.

Bahan Ceramah dan Diskusi Keluarga Mahasiswa Arkeologi FIB-UI (KAMA-UI). Diselenggarakan di Kampusi FIB-UI Depok, Jawa Barat, 4 Oktober 2006


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: