Oleh: hurahura | 1 Mei 2017

Mengungkap Penyebab Langkanya Jumlah Bangunan Candi di Jawa Barat dan Banten

Batujaya-01Candi Segaran I (Candi Jiwa) setelah dipugar, kondisi 2003 (Foto: Hasan Djafar)

Candi adalah hasil budaya berupa bangunan yang berkembang di Indonesia pada masa klasik (Hindu-Buddha). Pengaruh budaya India yang membawa agama Hindu dan Buddha masuk ke Indonesia abad ke-5 dengan ditemukannya Prasasti Yupa dari Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Berdasarkan paleografi (huruf dan bahasa) para ahli arkeologi yang mendalami epigrafi berpendapat bahwa prasasti tersebut berasal dari abad ke-5 Masehi. Menurut Poerbatjaraka (1952), Prasasti Yupa merupakan sumber tertua mengenai kerajaan bercorak Hindu dan Buddha di Indonesia. Menurut Endang Sri Hardiati dalam Renville Siagian (2001: 1), perkembangan budaya India di Indonesia mulai pada abad ke-5 Masehi dengan ditemukannya prasasti berhuruf Pallawa dan Bahasa Sanskerta di Muarakaman, Kalimantan Timur dan Bogor, Jawa Barat. Tetapi bangunan peninggalan arsitektural yang berupa bangunan monumental baru mulai abad ke-8 Masehi.

Budaya India dan agama Hindu-Buddha masuk dan berkembang di Pulau Jawa. Kerajaan bercorak Hindu tertua di Pulau Jawa adalah Kerajaan Tarumanagara. Bukti yang menyebutkan bahwa Tarumanagara merupakan kerajaan tertua di Pulau Jawa  diketahui berdasarkan prasasti dan berita asing. Menurut Marwati Djoened Poesponegoro (1990: 44) berita Tiongkok yang berasal dari dinasti Sui mengatakan pada 528-535, datang utusan dari To-lo-mo yang terletak di sebelah selatan. Demikian pula halnya yang terjadi pada 666 dan 669, berita dinasti T’ang Muda mengatakan datangnya utusan dari negara yang sama. Tetapi menurut berita itu, To-lo-mo terletak di sebelah tenggara. To-lo-mo merupakan sebuah daerah di Jawa Barat. Di Jawa Barat pada masa klasik terdapat Kerajaan Tarumanagara. Jadi secara fonetik To-lo-mo disamakan dengan Tarumanagara dapat dipertanggungjawabkan.

Di Jawa Barat dan Banten ditemukan prasasti dan sedikit candi dari masa Hindu-Buddha. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa bangunan candi di Jawa Barat dan Banten lebih sedikit daripada di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur.


Kehidupan Politik di Jawa Barat dan Banten pada Masa Klasik

Pada masa klasik kehidupan politik di Jawa Barat (Tarumanagara), tidak seperti di Jawa Tengah dan Yogyakarta (Mataram Kuno). Di Tarumanagara hanya dapat diidentifikasi satu raja yang berkuasa Raja Purnawarman. Berbeda dengan di Mataram Kuno yang teridentifikasi lebih dari satu raja. Daftar raja-raja yang pernah memerintah Mataram Kuno dapat dilihat dalam Prasasti Mantyasih yang ditemukan di Kota Magelang dan Prasasti Wanua Tengah III yang ditemukan di Kabupaten Temanggung. Banyaknya raja yang teridentifikasi, membuktikan bahwa kerajaan tersebut berdiri cukup lama dan berjaya.

Kejayaan suatu kerajaan dapat dilihat dari jumlah bangunan suci yang didirikan oleh raja. Di Jawa Tengah dan Yogyakarta banyak didirikan bangunan monumental seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Sewu. Candi Prambanan merupakan puncak dari berkembangnya budaya Hindu yang datang dari India. Berbeda dengan di Jawa Barat dan Banten (Kerajaan Tarumanagara), mungkin tidak mengalami masa kejayaan yang panjang seperti di Mataram Kuno. Hal tersebut berdampak pada jumlah bangunan keagamaan (candi) yang dibangun sedikit. Faktanya di Jawa Barat dan Banten tidak dijumpai bangunan monumental seperti Borobudur dan Prambanan.

Hipotesis lain adalah bahwa pengaruh Kerjaan Tarumanagara meluas ke Jawa Tengah, kemudian peradaban masa klasik berpindah ke Jawa Tengah. Temuan Prasasti Tuk Mas di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menguatkan perluasan pengaruh Kerajaan Tarumanagara. Prasasti Tuk Mas berasal dari abad ke-6 Masehi, ditulis dengan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta. Menurut Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah (2016: 1), aksara yang digunakan dalam prasasti Tuk Mas semasa dengan aksara yang digunakan pada prasasti masa Purnawarman (Jawa Barat).

Perpindahan pengaruh Hindu-Buddha dari Jawa Barat dan Banten ke Jawa Tengah dapat dilihat dari temuan Prasasti Sojomerto dan Prasasti Canggal. Prasasti Sojomerto berasal dari abad ke-7 Masehi, yang di dalamnya berisi tentang Dapunta Selendra. Dapunta Selendra sendiri oleh para ahli didentifikasi sebagai Dinasti Syailendra. Prasasti Canggal berangka tahun 732 Masehi berisi tentang pendirian lingga oleh Sanjaya. Pada abad ke-8 dan ke-9 Jawa Tengah mencapai puncak kejayaan dan perkembangan agama Hindu dan Buddha. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya temuan candi dan prasasti yang berasal dari abad ke-8 dan ke-9. Setelah itu perkembangan politik dan agama Hindu-Buddha berpindah ke Jawa Timur.

Di Jawa Barat dan Banten kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha selain Tarumanagara adalah Kerajaan Pajajaran. Kerajaan Pajajaran lebih muda dari Kerajaan Tarumanagara. Sumber sejarah Kerajaan Pajajaran adalah Prasasti Citasih (1030), Prasasti Astanagede, Kidung Sundayana, dan Kitab Carita Parahiyangan. Sama seperti Kerajaan Tarumanagara, Kerajaaan Pajajaran tidak membangun bangunan monumental. Di Astana Gede Kawali ditemukan prasasti dari masa Kerajaan Pajajaran dan semacam altar pemujaan. Bukan bangunan candi atau bangunan monumental.


Jenis Bangunan Keagamaan yang Didirikan Berdasarkan Prasasti

Bangunan bersifat keagamaan yang dibangun oleh masyarakat pendukung peradaban pada masa klasik tidak hanya candi. Banyak bangunan bersifat keagamaan yang dibangun selain candi. Bangunan-bangunan tersebut dapat diketahui dari prasasti yang ditemukan. Menurut Riboet Darmosoetopo (2003: 12) jenis bangunan keagamaan yang didirikan berdasarkan temuan 112 prasasti dari tahun 750-859 Saka, teridentifikasi delapan bangunan. Bangunan keagamaan tersebut adalah prasada, dharma, kabikuan, bihara, pathyangan, caitya, patapan, dan cala.

Berdasarkan data prasasti dari tahun 750-859 bangunan keagamaan terdiri atas berbagai jenis. Masyarakat pendukung peradaban masa klasik di Jawa Barat dan Banten pada waktu itu, tidak membangun bangunan monumental seperti di Jawa Tengah. Masyarakat dalam ritual keagamaan membuat altar untuk tempat beribadah kepada Tuhan. Temuan lingga dan yoni di beberapa tempat di Jawa Barat dan Banten, membuktikan bahwa lingga dan yoni tidak selalu berada di garbha grha candi. Temuan lingga dan yoni tidak diikuti dengan temuan struktur candi. Dimungkinkan bahwa masyarakat pada waktu itu hanya menggunakan altar yang terdapat lingga, yoni, atau arca dewa. Konsep altar yang ada di Indonesia merupakan pengaruh dari budaya India yaitu vedi altar. Masyarakat India menggunakan vedi altar untuk tempat beribadah.

Jawa Barat dan Banten pada masa klasik mendapatkan pengaruh India paling awal dibanding daerah Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Dengan demikian  akulturasi budaya sudah ada tetapi belum berkembang dengan pesat. Pada awal kedatangan pengaruh Hindu dan Buddha masyakarat masih cenderung meniru budaya asli dari India. Hal tersebut berbeda dengan daerah di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, bahwa bangunan candi dan pengaruh budaya India sudah berakulturasi dan beradaptasi dengan budaya asli masyarakat pendukung peradaban. Contohnya di Jawa Tengah, candi dibuat berbeda dengan di India.

Di India dan konsep pembangunan kuil sebagai tempat ibadah terdapat dalam kitab Vastusastra, yang terdiri atas Manasara Silpasastra, Asata Kosala-Kosali, dan Kutaramanawa. Dalam kitab pedoman pembuatan kuil, bangunan kuil harus dekat dengan sumber air. Di Indonesia khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta menggunakan kitab pedoman dalam membangun candi yaitu Vastusastra. Tetapi, dalam praktik di lapangan beradapatasi dengan lingkungan. Contohnya Kompleks Situs Ratu Boko dibangun di tanah gersang dan sulit air. Masyarakat yang membangun situs tersebut, membuat kolam untuk menampung air hujan. Kolam dibuat dengan cara melubangi batu tuff yang ada di sekitar situs.

Di Jawa Barat dan Banten bangunan keagamaan yang berupa candi, baik yang masih utuh maupun yang berupa reruntuhan adalah Candi Cangkuang di Kabupaten Garut, Kompleks Situs Batujaya di Kabupaten Karawang, Kompleks Situs Cibuaya di Kabupaten Karawang, Situs Batu Kalde di Kabupaten Ciamis, Candi Ronggeng di Kabupaten Ciamis, dan Candi Bojongmenje di Kabupaten Bandung. Terbatasnya jumlah candi yang ditemukan bukan berarti bahwa masyarakat pada waktu itu tidak maju dalam bidang teknologi. Akan tetapi, masyarakat pada waktu itu dalam hal pemujaan tidak membutuhkan bangunan yang sangat monumental dan besar seperti bangunan candi. Mereka cukup membuat altar sebagai tempat pemujaan kepada Tuhan.

Peninggalan masa Kerajaan Pajajaran di Astana Gede Kawali, Kabupaten Ciamis, hanya berupa altar dan prasasti. Hal tersebut menunjukkan pada masa Kerajaan Pajajaran, tempat ibadah tidak dibangun secara monumental, tetapi lebih sederhana. Konsep pendirian bangunan keagamaan oleh masyarakat pendukung peradaban tersebut, lebih diutamakan untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Jadi, bangunan keagamaan tidak perlu dibangun secara megah dan monumental.


Kesimpulan

Sedikitnya jumlah bangunan candi yang ditemukan di Jawa Barat dan Banten disebabkan oleh kehidupan politik dan jenis bangunan suci yang didirikan. Pada masa klasik di Jawa Barat dan Banten terdapat dua kerajaan yaitu, Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan Pajajaran. Perkembangan politik di kedua kerajaan tersebut berbeda dengan Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di Mataram Kuno kehidupan politik menguat sehingga banyak dibangun candi-candi kerajaan. Candi-candi kerajaan tersebut dibangun dengan megah dan monumental. Kemegahan tersebut menunjukkan bahwa raja yang berkuasa mencapai puncak kejayaan. Di Kerajaan Tarumanagara raja yang teridentifikasi hanya satu nama yaitu, Raja Purnawarman.

Jenis bangunan suci yang didirikan pada masa klasik bukan hanya bangunan megah seperti candi, namun terdapat beberapa bangunan bersifat keagamaan. Di Jawa Barat dan Banten masyarakat dan pihak kerajaan era itu hanya membangun sedikit candi. Sedikitnya jumlah candi tersebut karena masyarakat menggunakan altar pemujaan sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Temuan lepas berupa lingga, yoni, dan arca, menunjukkan bahwa altar peribadatan di atasnya terdapat lingga, yoni, atau arca. Masyakarat pendukung peradaban klasik di Jawa Barat dan Banten pada waktu itu, tidak membangun bangunan peribadatan monumental seperti di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Masyarakat pada waktu itu beranggapan bahwa sarana peribadatan, yang penting dapat menghubungkan manusia dengan Tuhan.


Daftar Pustaka

BPCB Jawa Tengah. 2016. Prasasti Masa Klasik di Jawa Tengah. Klaten: BPCB Jawa Tengah.

Darmosoetopo, Riboet. 2003. Sima dan Bangunan Keagamaan di Jawa Abad ke IX-X TU. Yogyakarta: Prana Pena.

Poerbatjaraka, R.M.Ng. 1952. Riwayat Indonesia I. Jakarta: Pembangunan.

Poesponegoro, Marwati Djoened, dkk. 1990. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

Siagian, Renville. 2001. Candi sebagai Warisan Seni dan Budaya Indonesia. Yogyakarta: UGM Press.

**********

Penulis: Naufal Raffi Arrazaq
Mahasiswa Arkeologi, UGM

Iklan

Responses

  1. Reblogged this on Dunia Jingga.

  2. Info nya bagus, boleh tidak saya jadikan referensi untuk skripsi saya ?
    Terima Kasih

    • Silakan mas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: