Oleh: hurahura | 30 Juni 2010

Mencari Eksistensi di Candi Gedongsongo

Panorama yang terlihat dari Candi Gedongsongo MI/Akhmad S

RANGKAIAN petualangan wisata di Ambarawa belum berakhir. Setelah semalaman melepas kepenatan bersama kenangan indah perjalanan, masih ada satu tujuan kunjungan wisata yaitu Candi Gedongsongo.

Candi Gedongsongo terletak di lereng gunung Ungaran dengan ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, tepatnya di Desa Candi, Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang. Dari kota Ambarawa hanya berjarak 15 kilometer ke arah utara atau delapan kilometer dari Bandungan di bagian utara.

Udara nan sejuk bahkan cenderung dingin dengan suhu berkisar 19 – 27 derajat Celcius apalagi pada musim hujan seperti saat ini mudah dijumpai kabut tebal menutup areal pegunungan dan bangunan candi. Jalan menanjak 60 derajat dan berliku beraspal mulus cukup membuat sulit pengendara.

Bagi kendaraan besar seperti bus, terpaksa parkir di bawah sekitar 1 kilometer dari pelataran parkir di pintu gerbang. Ke pintu candi bisa ditempuh dengan jalan kaki, naik ojek atau kendaraan kecil karena tanjakan yang cukup tinggi.

Memasuki area candi, pintu gerbang bermaterial batu alam warna hitam sudah terlihat menjulang dari jarak 500 meter. Setelah membayar tiket masuk Rp6.000 untuk orang dewasa dan Rp3.000 (anak-anak) atau Rp7.000 (orang asing), perjalanan panjang siap menanti.

Desis angin dan gesekan pohon di hutan cemara menambah kesahduan saat menapaki jalan berbatu menuju candi pertama berjarak satu kilometer dari pintu gerbang.

Sebuah candi peninggalan budaya Hindu pada jaman Wangsa Syailindra (Abad IX) atau tahun 927 Masehi terlihat megah berdiri di atas gundukan bukit. Bangunan candi itu sempat runtuh dan tertimbun tanah material gunung Ungaran dan ditemukan lagi oleh Raffles pada 1804.

Udara yang dingin tak sanggup menahan keringat berkucuran setelah menapaki jalan bebatuan menanjak. Namun bagi orang tua atau anak-anak jangan khawatir, karena puluhan kuda siap membawa dengan ongkos Rp52.000 (wisatawan lokal) dan Rp70.000 (wisatawan asing) untuk satu paket perjalanan, mulai candipertama hingga 9 yang jaraknya mencapai empat kilometer.

Berada di lokasi bangunan candi ke sembilan yang terlihat anggun di atas puncak bukit bagaikan melambangkan perjalanan akhir manusia mencapai kesempurnaan. “Kita merasakan betapa kecil dan tidak berartinya manusia di hadapan Tuhan pencipta alam semesta,” ujar seorang wisatawan.

Alam semesta sangat indah, dari candi yang bercirikan bangunan dari kerajaan Hindu Nusantara yaitu bangunan pemujaan, seakan membawa kita berada di angkasa dengan pemaandangan ke bawah terlihat seperti gunung, danau, perkampungan, perkebunan, hutan dan seisi alam lainnya.

Setelah kekaguman dan keindahan yang sulit di dapat di lokasi wisata lainnya, maka pengunjung bisa turun lewat jalur alternatif.

Nah, di tengah perjalanan atau sekitar dua kilometer ke bawah kita dapat menikmati pemandian air panas alam. Mandi di air panas alam ini, selain menjadikan kesegaran badan konon juga dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit, karena mengandung belerang. Bagi yang malu berada di kolam umum dapat mandi di ruangan khusus yang telah disediakan.

Bagi Anda yang tidak membawa bekal makanan, di sana banyak penjual makanan yang tersaji hangat. Kebugaran rohani dan ragawi sepertinya lengkap sudah. Sebuah pengalaman yang sulit diperoleh di lokasi wisata lainnya.(AS/M-1)

(media-indonesia.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori