Oleh: hurahura | 6 November 2016

Perubahan Denah Bangunan Utama Candi Sewu

sewu-yogi-01Candi Sewu di keheningan malam


Pendahuluan

Candi Sewu merupakan kompleks candi Buddha terbesar. Tinggalan ini  pertama kali dipublikasikan oleh H.C. Cornelius melalui gambar denah sketsa yang ia buat pada 1807 (Dumarcay, 2007). Pada tahun-tahun selanjutnya, para ahli barat awal berangsur-angsur membuat publikasi maupun penelitian terhadap candi ini. Mereka antara lain Ijzerman, Raffles dengan History of Java nya, Van Erp, dan H. Maclaine Pont. Pada 1923 N. J. Krom berpendapat bahwa candi ini dibangun pada awal abad ke-9. Tak lama kemudian W.F. Stutterheim menafsirkan bahwa bangunan ini dibangun pada akhir abad ke-9.

Perdebatan mengenai misteri bangunan Candi Sewu sedikit mendapat titik cerah setelah ditemukannya prasasti bertarikh 714 Śaka/792 M di dekat salah satu perwara, yaitu perwara no. 202 (Dumarcay, 2007). Prasasti berbahasa Sansekerta dengan sedikit dialek Melayu kuno menurut Christie (1999) ini, yang sekarang dikenal dengan prasasti Mañjuṣṛīgrha, pertama kali diteliti oleh Damais dalam BEFEO, 51, 1963. Pada 1929 Candi Sewu diteliti oleh F.D.K Bosch yang membandingkannya dengan Vajradhãtu Mandala (Dumarcay, 2007).

Bosch menampilkan denah candi utama dengan menunjukkan penambahan-penambahan arsitektur dari bangunan candi, tetapi tambahan-tambahan tersebut diabaikannya. Jacques Dumarcay dalam karyanya,  Candi Sewu dan Arsitektur Bangunan Agama Buddha di Jawa Tengah-terjemahan (2007), menyadari bahwa ada sedikit keanehan pada denah bangunan candi utama Sewu. Berangkat dari keterangan prasasti Mañjuṣṛīgrha (792 M) yang menyebutkan tentang perubahan bentuk atau perombakan pada arsitektur candi (prasāda) ini (Christie, 1999; Dumarcay, 2007), Dumarcay menganggap bahwa telah terjadi perubahan bentuk yang merupakan usaha perombakan pada masa lalu yang merupakan fenomena arsitektur tersendiri pada masa Jawa kuno. Entah apakah yang terjadi adalah perubahan mandala dari mandala lama menjadi bentuk mandala baru (Vajradhatu Mandala menurut F. D. K. Bosch). Yang pasti jika dilihat dari konsep mandala pada agama Buddha, bentuk mandala tentunya berpengaruh pada bentuk bangunan. Terutama denah dari bangunan candi induk Sewu, yang merupakan representasi dari pusat Meru atau gunung suci yang dalam mandala menjadi titik sentral sebuah mandala yang menjadi bentuk pokok dalam denah candi.

Tulisan ini membahas tentang keterangan dari karya Dumarcay (2007) mengenai perubahan arsitektural dari denah bangunan utama Candi Sewu dengan tinjauan kritis tentang konsep mandala yang diyakini pada candi ini melalui pengamatan lapangan secara langsung dengan melihat bukti penambahan yang telah diungkapkan oleh Dumarcay dalam bukunya untuk mendukung pendapatnya.


Hubungan Antara Denah Candi Sewu, Vajradhatu Mandala,dan Latar Belakang Keagamaan

Telah disebutkan bahwa prasasti bertarikh 792 M menerangkan mengenai pekerjaan perubahan pada bentuk bangunan Candi Sewu ini. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan mandala. Sebagai konsep awal perlu diuraikan mengenai pengertian dari mandala. Mandala banyak dipahami sebagai diagram simbolis yang terdiri atas bentuk-bentuk persegi, segitiga, labirin, permata, atau suluran yang ada dalam suatu lingkaran (Walker, 1983 dalam Tanudirjo, 2012). Dalam konteks lain mandala diartikan sebagai suatu medan yang disucikan yang dipercaya ditempati oleh dewa tertentu atau sebagai tempat kedudukan para dewa (Tanudirjo, 2012). Hal ini sesuai dengan konsep, fungsi, dan pengertian dari candi sebagai rumah dewa yang direpresentasikan oleh arca perwujudan dewa pada Garbadhatu/bilik utama candi Hindu maupun Buddha.

Pandangan Bosch mengenai vajradhatu mandala, secara jelas terlihat dari denah utama bangunan Candi Sewu, yakni bentukan arsitektur denah candi dengan satu bilik utama dengan bilik tambahan pada keempat sisi mata angin (gambar 1).

sewu-yogi-02

(Gambar 1. Repro: Jacques Dumarcay, 2007)

Gambaran rekonstruksi menurut F.D.K Bosch memperlihatkan kesesuaian antar bentuk vajradhatu mandala terkait dengan prasasti Manjusrigrha (792 M) yang diyakini merupakan keterangan perluasan. Metode ikonografi yang dilakukan oleh Bosch memperlihatkan bahwa kesesuaian tata letak dari arca-arca yang coba direkonstruksi  menurut vajradhatu mandala memang sesuai.

Bangunan utama Candi Sewu pada gambaran vajradhatu mandala di atas terlihat dari representasi lingkaran tengah yang menunjukkan bilik utama candi. Sementara bagian denah pada empat sisi mata angin pada candi menggambarkan konstelasi bentuk pokok mandala ini dengan tatanan dewa-dewa yang terletak pada bilik-bilik candi. Mengenai makna/fungsi dan asosiasi dari bangunan utama yang menunjukkan vajradhatu mandala ini bisa diajukan sebuah pengertian dari mandala ini menurut Pott (1966). Vajradhatu berhubungan dengan tiga jina (budha) dengan konstelasi lima dhyani budha yang umum dalam Tatagatha (Pott, 1966: 111).

sewu-yogi-03(Gambar 2. Gambaran Vajradhatu Mandala (Jacques Dumarcay, 2007)

Begitu pula menurut Moens, Vajradhatu berhubungan dengan Samboghakaya (Pott, 1966) yang berhubungan dengan aliran Tantarayana dalam Buddha. Hal ini sangat berhubungan dengan latar belakang dewa yang dipuja pada Candi Sewu ini yaitu Manjusri, pemujaan kekuatan feminis (cakti). Pada konsep ajaran Hindu sering dihubungkan dengan praktek Tantrayana/juga Vajrayana dan Mantranaya. Hal ini seolah-olah jelas, bahwa latar belakang, fungsi dan makna dari denah arsitektur Candi Sewu ini sesuai dengan mandala yang semestinya menurut konsep atau latar belakang aliran dalam keyakinan agamanya.


Pengamatan Mengenai Perubahan Bentuk Denah Candi Sewu

Pada Candi Sewu, menurut Dumarcay, terdapat banyak perubahan yang dikelompokkan dalam empat tahap kerja besar, yaitu keadaan asli, perombakan seluruh candi, pengubahan tempat masuk, dan pengubahan tambahan yang bermacam-macam sifatnya (Dumarcay, 2007: 35). Pokok bahasan ini  hanya mengenai perombakan seluruh candi (tahap 2). Secara ringkas bisa dijelaskan melalui penelitian terhadap arsitektur candi induk saat dilakukan rekonstruksi. Terlihat bahwa bilik candi 1 mengalami perubahan besar, ketika arca pemujaannya diganti, di sebelah barat, tempat di kanan kiri lapik arca pada mulanya kosong dan orang dapat naik ke atas lapik lewat dua tangga kecil yang bersandar karena besarnya dinding barat.

Masih dalam tahap 2, ambang atas pintu utama diganti dan digeser ke depan, tetapi tetap pada ketinggian yang sama. Tempat masuk itu mengalami perubahan baru pada tahap ketiga. Pada tambahan tersebut dipasang sebuah bingkai pintu baru yang ditumpukkan pada undak kedua tempat masuk bilik candi. Pun demikian dengan penampilan bilik-balik baru yang sebelumnya tidak ada, yang terletak pada empat sisi mata angin pada bangunan candi induk (gambar 3).

seu-yogi-04

Gambar 3. Sambungan bilik tambahan yang menunjukkan penambahan bilik-bilik baru  pada sisi timur laut bangunan candi induk (dok. penulis)

Perkembangan arsitektur Candi Sewu dapat diringkas sebagai berikut: candi pada tahap asal terbuka sekali, tidak ada satu pintu pun kecuali pada bilik candi 1 (candi induk). Candi itu sudah berfungsi meskipun belum selesai seluruhnya ketika dilancarkan gelombang kerja baru yang meliputi penambahan tangga-tangga dan pintu pada candi-candi perwara dan perubahan-perubahan pada candi induk yang tidak semata-mata diadakan karena alasan teknis (Dumarcay, 2007: 35-39).

Kesesuaian antara keterangan penambahan,  menurut Dumarcay, ini terlihat melalui pengamatan langsung di lapangan. Hal ini didukung pula oleh bentuk penyambungan pada penambahan bilik yang menjorok kelihatan kurang halus yang menunjukkan bentuk seragam pada keseluruhan bentuk candi utuh. Kejanggalan lain adalah adanya relung kecil di antara penampil bilik tambahan yang kemungkinan memiliki hubungan dengan relung yang ada pada bilik tambahan yang nantinya dimanfaatkan sebagai relung untuk mengisi arca pada  bilik tambahan.

sewu-yogi-04

Gambar 4. Relung pada bilik tambahan sebelah barat, mungkin merupakan relung asli sebelum terjadi penambahan bilik/perubahan bentuk mandala dan denah.(dok. penulis)

sewu-yogi-05

Gambar 5. Lorong bagian bilik sebelah selatan


Kesimpulan

Keterangan mengenai prasasti yang ditemukan yang menunjukkan perubahan mandala pada Candi Sewu ini berhasil dibuktikan oleh penelitian Dumarcay (2007). Bahwa memang terjadi penambahan bilik candi induk Sewu yang disebabkan oleh perubahan mandala. Mungkin perubahan yang terjadi adalah dari Garbhadatu menjadi Vajradhatu Mandala?

Hal ini coba dibuktikan oleh pengamatan penulis berdasarkan bentuk sambungan dari tubuh utama dengan bilik yang diperkirakan merupakan tambahan dan menghasilkan hasil yang serupa dengan apa yang telah diungkapkan oleh Dumarcay. Sebagai penutup, fenomena arsitektur mengenai perubahan denah pada arsitektur bangunan candi merupakan hal yang menarik pada kajian arsitektur candi di Indonesia. Mengenai alasan perubahan sepertinya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai tinjauan prasasti dan konsep agama terkait.


Daftar Pustaka

Christie, Jan Wisseman. 1999. Register of The Inscriptions of Java. Working Draft.

Dumarcay, Jacques. 2007. Candi Sewu dan Arsitektur Bangunan Agama Buddha di Jawa Tengah-terjemahan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan Ecole Francaise d’Extreme-Orient.

Pott, Dr. P. H. 1966. Yoga and Yantra, Their Interrelation and Their Significance for Indian Archaeology. The Hague Martinus Nijhoff.

Tanudirjo, Daud Aris. 2012. Borobudur Sebagai Mandala: masalalu dan masakini. Magelang: Balai Konservasi Peninggalan Borobudur.

************

Penulis: Yogi Pradana


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: