Oleh: hurahura | 20 Juli 2016

Jejak Sejarah di Desa Poh Sarang

Prasastipohsarang-1Prasasti Lucem atau Prasasti Poh Sarang

Prasasti Lucem atau warga sekitar menyebutnya watu tulis Poh Sarang terletak di Desa Poh Sarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Artefak ini cukup sulit dijangkau karena berada di lereng sebelah timur Gunung Wilis dan pada salah satu sisi Sungai Kedak.

Kata Poh Sarang berasal dari toponimi kata “kepuh” (nama pohon yang tinggi) dan “ngarang” (berubah menjadi “sarang”, yang dimaksud sebagai “pasaran”, yakni suatu bentuk mainan anak-anak perempuan di desa. Maka Poh Sarang memiliki arti pohon kepuh yang di bawahnya dibuat mainan anak-anak.

Prasasti Lucem tertulis dalam aksara Kadiri Kuadrat, terpahat pada batu alam utuh dengan bahasa Jawa Kuna. Sampai saat ini kondisi aksara tetap terjaga. Aksara Kadiri Kuadrat merupakan aksara spesifik yang hanya berasal dari masa Kadiri.

Prasastipohsarang-2Alih aksara Prasasti Lucem

Prasasti tersebut terdiri atas empat baris. Pernah dialihaksarakan dan dialihbahasakan oleh M.M Sukarto Karto Atmojo seperti berikut:

1. ‘ 9341 têwêk niṅ hnu binênêrakên da
2. mêl samgat lusêm pu ghêk
3. saṅ-apañji têpêt-i pananêm
4. boddhi wariṅin ‘

Berarti:

Tahun 934 Saka batas patok jalan di
luruskan oleh samgat lusêm pu ghêk
saṅ apañji têpêt dengan penanaman
pohon beringin.

H.Kern dan L.Ch. Damais (EEI, IV, hal 234) membaca 924. Tetapi mengingat kemungkinan asal huruf kuadrat dari Bali, angka seperti itu menunjukkan 3 sebagaimana pembacaan N.J. Krom (TBG, LIII 1911, hal 248).


Terancam Penggalian Pasir

Belum diketahui pada masa raja siapakah prasasti tersebut ditulis. Hal ini karena ada masa gelap selama 70 tahun setelah masa pemerintahan Pu Sindok sampai masa Dharmmawangsa Airlangga. Dalam selang masa tersebut tercatat ada tiga prasasti, salah satunya Prasasti Lucem itu.

Adanya penyebutan peristiwa perbaikan jalan oleh Samgat Lucem dan penanaman pohon beringin oleh Sang Apanji Tepet, menunjukkan penguasa masa lampau mempedulikan kesejahteraan rakyatnya. Bahkan Kitab Calon Arang menyebutkan penanaman pohon di sepanjang jalan.

Bisa diambil kesimpulan sementara fungsi pohon beringin sebagai tempat berteduh para pengguna jalan. Saat ini kondisi prasasti terancam penggalian pasir dan batu di sekitarnya. Karena prasasti tersebut rawan roboh, perlu ada antisipasi dari pihak berwenang.


Gereja Santa Maria

Prasastipohsarang-3Bangunan asli gereja

Tidak jauh dari Prasasti Lucem, kurang lebih dua kilometer ke arah timur, terdapat gereja kuno. Gereja Santa Maria Poh Sarang direncanakan oleh Ir. Henricus Maclaine Pont dan dibangun atas prakarsa Pastor H. Wolters CM. Peletakan batu pertama pembangunan pada 11 Juni 1936 oleh Mgr. Theophile de Backere CM.

Bangunan gereja memiliki gaya arsitektur eklektisise (campuran) antara arsitektur Hindia-Belanda dengan gaya yang sedang berkembang pada masa itu. Hal tersebut dapat dilihat dari bentuk gapura, pendapa, dan bentuk atap yang menyerupai bangunan suku Karo pada atap puncak bangunan utama dan bangunan atap suku Minangkabau pada pendapa.

Prasastipohsarang-4Gereja Santa Maria setelah renovasi

Pembangunan gereja dikerjakan oleh masyarakat sekitar dan menggunakan bahan-bahan lokal. Bahkan disesuaikan dengan lingkungan sekitar. Para tukang yang ditugasi Pont sudah berpengalaman membangun museum di Trowulan. Mereka adalah ahli bangunan, ahli pahat, dan ahli ukiran yang kemudian mendidik dan melibatkan penduduk setempat untuk menjadi pemahat patung.

Hingga saat ini Gereja Santa Maria Poh Sarang masih digunakan sebagai objek wisata religi. Tidak tertutup kemungkinan berkembang lebih luas karena Gereja Poh Sarang merupakan bangunan Indis yang bisa menjadi salah satu jati diri kota Kediri. Dengan demikian bisa dimanfaatkan untuk bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan, khususnya bidang arsitektur bangunan.


Daftar Pustaka

Chawari, Muhamad. 2010. ”Berbagai Bentuk Pemanfaatan Bangunan Indis di Kota Malang: Sebuah Pemikiran Awal Tentang Pengelolaan BCB,”Berkala Arkeologi tahun XXX Edisi no.1/Mei.Yogyakarta: Balai Arkeologi.

Handinoto. 1996. Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya 1870 – 1940.Yogyakarta: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Kristen PETRA Surabaya dan ANDI Yogyakarta.

Hartanti, Grace. 2011. Penerapan Material Bahan Bangunan dan Konsep Pemaknaan pada Gereja Puh Sarang sebagai Warisan Budaya Indonesia. Jakarta: Humaniora.

Poesponegaro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1984. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 2. Jakarta: Balai Pustaka.


Sumber internet

http://m.merdIka.com/berita-trending
http://phrikediriraya.com/page/show/177/prasasti-pohsarang
http://tikusprasasti.blogspot.co.id/…/aksara-kediri-kediri-…

Laporan: Soleh Hoetama

Foto-foto: Internet


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: