Oleh: hurahura | 1 Januari 2011

Patirthan di Pawitra: Jalatunda dan Belahan

Agus Aris Munandar
Departemen Arkeologi FIB UI

I

Dalam kebudayaan Jawa Kuno yang berkembang antara abad ke-8—15 M, dijumpai banyak bangunan suci, antara lain yang berbentuk candi, goa pertapaan, punden berundak, dan petirthaan (patirthān). Apabila telaah tentang candi telah banyak dilakukan oleh para ahli arkeologi, lain halnya dengan petirthaan yang berupa kolam suci masih belum banyak kajian terhadapnya. Masyarakat Jawa Kuno tentunya membuat sejumlah banyak petirthaan, karena tempat itu penting untuk keperluan sehari-hari dan juga untuk keperluan keagamaan.

Petirthaan yang berasal dari kata patirthan (pa + tirtha + an) mempunyai kata dasar tirtha yang artinya air, dalam hal keagamaan air yang dimaksudkan adalah air suci yang dapat membuat suci seseorang. Air suci demikian layak disebut dengan tirtha nirmala atau tirtha amerta yang dipercaya mempunyai khasiat banyak selain membersihkan dosa-dosa, menyembuhkan berbagai penyakit, juga dipandang sebagai air keabadian. Dewa-dewa dipercaya telah meminum air amerta, oleh karena itu mereka bersifat abadi tidak mengenal kematian.

Dapat ditafsirkan bahwa dalam masyarakat Jawa Kuno dikenal adanya dua macam patirthan, yaitu (a) yang digunakan untuk keperluan sehari-hari, untuk mandi, memasak, sumber air minum, mencuci dan sebagainya, dan (b) patirthān yang bersifat sakral untuk keperluan upacara keagamaan, dan juga kerapkali airnya  digunakan untuk keperluan praktis sehari-hari. Dalam penelitian arkeologi Hindu-Buddha Indonesia, untuk membedakan antara petirthaan biasa dan petirthaan suci memang agak sukar, mungkin untuk keperluan sehari-hari masyarakat menggunakan air sungai, atau kolam yang lebar, akan tetapi jika ada mata air yang terbit dengan sendirinya di lereng gunung tertentu, maka dapat dianggap sebagai mata air sakral yang airnya dapat digunakan untuk keperluan upacara agama. Hal yang kedua pembeda itu adalah, biasanya mata air yang dipandang sakral akan dilengkapi dengan struktur arsitektur, dilengkapi arca-arca, dindingnya dihias relief dan sebagainya. Struktur tambahan itu dapat dibuat dari susunan balok batu, atau juga dari susunan bata.

Petirthaan Candi Umbul, ditafsirkan berasal dari abad ke-9 M, bagian tepi kolam dilengkapi dengan balok-balok batu, pipi tangga dan relief ornamen.

Dalam perkembangannya, bentuk petirthaan dikenal menjadi 3 macam, yaitu:

1.Petirthaan alami, berupa badan air berupa mata air, kolam, danau, sungai yang dianggap keramat dan disucikan oleh masyarakat pendukungnya. Petirthaan alami ini tidak mendapat tambahan pengerjaan apapun, tetap seperti apa adanya. Contohnya Telaga Pengilon di Dieng, kolam Kasurangganan di Malang utara, dan Sungai Berantas dalam masa Jawa Kuno.

2.Sumber air alami yang mendapat tambahan dan pengerjaan lebih lanjut secara artifisial. Misalnya membuatkan pancuran (jaladwara) sebagai jalan keluarnya air, memperkeras tepian kolam dengan balok-balok batu, menambahkan arca-arca dewata dan lainnya lagi. Misalnya Petirthaan Bhima Lukar di Dieng, Candi Umbul di Magelang, Jalatunda dan Belahan di Gunung Penanggungan, dan petirthan Watu Gede di Malang.

3.Petirthaan yang merupakan bangunan buatan sepenuhnya, artinya di tempat tersebut tidak ada sumber air atau badan air apapun, namun kemudian dirancang suatu bentuk bangunan baru yang difungsikan sebagai tempat untuk mengambil air suci (Munandar 2003: 15). Air dapat dialirkan ke bangunan petirthaan seperti halnya Candi Tikus di Trowulan dan Petirthaan Simbatan Wetan atau bahkan diambil secara langsung dengan menggunakan wadah untuk keperluan upacara. Contohnya kepurbakalaan XVIIc (Candi Gentong) di Penanggungan yang menyimpan airnya pada sebuah gentong batu besar yang ditanam dalam tanah.

II

Gunung Penanggungan atau nama Jawa Kunonya Pawitra terletak di selatan Mojokerto, Jawa Timur, merupakan gunung yang mempunyai keistimewaan dalam wujudnya. Gunung tersebut tidak terlalu tinggi (1659 m), namun memiliki keunikan tersendiri. Gunung Penanggungan dikelilingi oleh 4 bukit di sekitarnya (Bukit Bekel, Gajah Mungkur, Jambe, dan Kemuncup), di keempat arah mata angin, dengan demikian jika dipandang dari arah manapun akan terlihat adanya satu puncak tertinggi (puncak Pawitra) dan 2 puncak bukit lain di sisi kanan-kirinya.

Keadaan geografi seperti itu tentu sudah dikenal oleh masyarakat Jawa Kuno dalam masa Hindu-Buddha. Oleh karena itu gunung tersebut lalu dipandang sebagai gunung keramat, suci, dan merupakan jelmaan Mahāmeru. Sebagaimana diajarkan dalam kitab Brahmana dan juga dikenal dalam Buddhisme bahwa alam semesta ini berbentuk seperti piringan pipih melingkar, titik pusatnya adalah Gunung Mahāmeru. Gunung Mahāmeru dikelilingi oleh puncak-puncak gunung lainnya di arah mata angin, baik mata angin primer ataupun sekunder.

Gunung Penanggungan (Pawitra) yang merupakan simbol Mahāmeru bagi Pulau Jawa

Dalam konsep Brahmana dinyatakan bahwa Mahameru berdiri pula di tengah benua besar Jambhudwipa, tempat tinggal manusia. Dalam pada itu di puncak Mahameru terdapat kota dewa-dewa yang dinamakan Sudarsana yang dipimpin oleh Indra. Di lerengnya terdapat hutan lebat, tempat bersemayam orang-orang suci yang telah meninggalkan nafsu duniawi, di kaki gunung serta di sekitarannya bermukimlah segala macam hewan dan manusia. Gunung Mahāmeru juga dipandang sebagai poros penghubung antara dunia manusia dan surga yang terdiri dari 7 lapis bertingkat di atas Mahāmeru. Gunung Mahāmeru dikelilingi oleh samudera berbentuk cincin 7 lapis, dan di antara samudera-samudera yang mengelilingi tersebut terdapat 7 lapis pegunungan yang mengelilingi Mahāmeru pula. Jadi gunung tersebut dikelilingi secara berselingan oleh lautan dan rangkaian pegunungan yang berbentuk lingkaran. Di bagian tepi alam semesta yang pipih terdapat rangkaian pegunungan melingkar sangat tinggi, sehingga sukar didaki manusia dinamakan dengan Cakrawala. Pegunungan tersebut menjaga agar tidak ada manusia yang jatuh ke bagian bawah alam semesta, sebab di bagian tersebut terdapat 7 lapisan dunia bawah serta para penghuninya yang bersifat jahat dan bermusuhan dengan manusia (Dumarcay 1986: 89—91).

Demikian gambaran Mahāmeru sebagai titik pusat kosmos dan axis mundi antara dunia manusia dan alam para dewa. Ternyata keadaan gunung yang dikelilingi oleh puncak gunung-gunung lain di sekitarnya terdapat juga di Jawa bagian timur, maka segeralah masyarakat Jawa Kuno yang telah memeluk agama Hindu-Buddha tersebut bersetuju bahwa gunung kecil namun unik itu adalah jelmaan Mahāmeru, nama gunung itu Pawitra dan dikenal sebagai salah satu karsyan penting sejak zaman sebelum Majapahit.

Kesakralan Pawitra kemudian dikokohkan lagi dalam uraian kitab Tantu Panggelaran yang digubah di awal abad ke-16, ketika pengaruh budaya Hindu-Buddha mulai surut dalam masyarakat Jawa. Dinyatakan dalam Tantu Panggelaran bahwa para dewa sepakat untuk menyetujui bahwa manusia dapat berkembang di Pulau Jawa, namun pulau itu selalu bergoncang-goncang karena diterpa ombak lautan, untuk mengajegkan Jawa para dewa lalu beramai-ramai memindahkan Gunung Mahāmeru dari Jambhudwipa ke Jawadwipa. Mereka mengangkat Mahāmeru dan membawanya terbang di udara. Dalam perjalanan melayang tersebut sebagian dari tubuh Mahāmeru ada yang rontok berjatuhan, maka menjelmalah menjadi gunung-gemunung di Pulau Jawa, sejak dari Jawa bagian barat, tengah dan timur. Tubuhnya yang berat dan besar dijatuhkan menjelma menjadi Gunung Semeru (Sumeru), sedangkan puncak Mahāmeru dihempaskan para dewa menjelma menjadi Pawitra, atau Gunung Penanggungan sekarang (Pigeaud 1924: 100). Oleh karena itulah Pawitra menjadi gunung yang sangat keramat dan angker dalam pemikiran masyarakat Jawa masa Hindu-Buddha, karena puncaknya Mahameru yang telah dipindah ke Jawa.

III

Di lereng barat Gunung Penanggungan, pada sekitar ketinggian 800 m dpl terdapat kepurbakalaan yang sekarang sebagian telah runtuh. Dalam peta penelitian V.R.van Romondt tentang situs Gunung Penanggungan, kepurbakalaan itu bernomor XXVII dan merupakan petirthaan (Van Romondt 1951: 59, Gambar A). Walaupun penduduk setempat menyebutnya dengan nama Candi Jalatunda, namun dalam kajian arkeologi Hindu-Buddha Indonesia kepurbakalaan tersebut termasuk petirthaan, bukan bangunan candi, oleh karena itu selayaknya disebut dengan Petirthaan Jalatunda.

Petirthaan tersebut sekarang telah mengalami pemugaran, walaupun demikian tidak dapat dikembalikan kepada keadaan sebenarnya ketika masih lengkap dahulu. Bagian-bagian yang telah rumpang dan batu-batunya tidak ada lagi, tidak dikembalikan seperti aslinya; kecuali bagian bangunan yang bersifat struktural, batu-batunya disusun dengan balok batu baru. Jalatunda aslinya merupakan petirthaan yang bertingkat 3, namun yang tersisa sekarang hanyalah kolam tingkat I saja yang berada di bagian paling atas lereng. Kolam tingkat kedua dan ketiga sekarang tidak ada lagi, telah diurug menjadi halaman yang bertingkat merendah ke arah barat menuju ke sungai kecil yang selalu berair deras.

Tingkat pertama yang teratas merupakan tempat mata air utama yang menggelontor ke luar dari lereng Gunung Penanggungan. Dahulu di lapik arca yang sekarang kosong, pernah bertahta arca sesuatu dewa yang sekarang telah hilang. Di belakang lapik tersebut masih terdapat sisa prabhamandala yang berbentuk lingkaran. Tahta tempat lapik arca tersebut berada di batur yang lebih tinggi dari permukaaan air kolam tingkat I, pada bagian puncak batur terdapat deretan panil relief seperti simbar besar melebar, di bagian tengahnya terdapat lubang untuk memancarkan air keluar. Di sudut-sudut batur terdapat jaladwara yang berbentuk mulut makara sebagai tempat memancurkan air pula.

Di sisi utara batur dan terdapat bilik dari susunan balok batu, mempunyai celah pintu di sisi barat, jika seseorang memasukinya maka ia memasuki kolam kecil yang ditutup tembok batu bilik itu. Sekarang bilik kolam itu tidak mempunyai atap lagi, namun diduga di masa lalu ketika masih berfungsi terdapat tiang-tiang penopang atap yang terbuat dari bahan yang cepat lapuk, oleh karena itu bagian atap bilik sudah tidak ada lagi sisanya. Di sisi timur di bagian atas bilik, tentunya di masa silam pernah bertahta arca Garuda yang juga berfungsi sebagai jaladwara, sangat mungkin air dahulu memancar keluar dari paruh Garuda tersebut. Arca Garuda sekarang telah tiada, namun masih ada yang tersisa, yaitu pahatan yang berbentuk sayap burungnya saja.

Begitupun yang terdapat di selatan batur terdapat kolam berbilik batu juga, keadaannya sama dengan yang berada di kolam utara, hanya saja yang membedakannya adalah arca yang terletak di bagian atas kolam. Dahulu yang bersemayam di kolam selatan adalah arca Naga, arca tersebut sekarang masih ada, digambarkan Naga yang sedang menegakkan kepalanya dan menghadap ke arah kolam. Dahulu dari mulut Naga tentunya memancar air ke arah kolam, jadi berfungsi juga sebagai jaladwara, hanya saja kepala Naga tersebut, bagian mulutnya telah rusak terpotong.

Sebelum pemugaran, di bagian tengah kolam terdapat deretan batu-batu alami yang diletakkan berjajar dari tepi kolam menuju batur utama, dan juga mengarah ke kolam Garuda dan Kolam Naga. Sangat mungkin batu-batu itu memang sengaja diatur sedemikian rupa untuk keperluan para peziarah manakala hendak melakukan ritual dengan air yang memancar dari jaladwara-jaladwara. Dengan adanya deretan batu-batu di kolam tersebut, para penziarah tidak perlu berjalan dalam kolam, melainkan dapat dengan mudah mencapai batur utama dan bilik Garuda atau Naga dengan melangkah pada deretan batu yang telah tersedia.

Dahulu di bagian puncak batur utama terdapat deretan panil relief yang juga berfungsi sebagai jaladwara sebagaimana yang telah dikemukakan terdahulu. Sekarang panil-panil relief tersebut sudah tidak lengkap lagi, hanya sebagian kecil saja yang berada di posisi aslinya di Jalatunda, sebagian lagi disimpan di Museum Nasional Jakarta, dan sebagian lagi telah hilang. Cerita yang dipahatkan berupa sinopsis dari adegan-adegan dalam kisah Mahabharata, ada yang menggambarkan Bhima sedang mengamuk mungkin dalam kaitan kisah Sayembara Dewi Drupadi, ada pula adegan yang menggambarkan kisah Dewi Mrgayawati dengan Raja Udayana dan penggambaran Garuda dalam rangkaian kisah Kathasaritsagara.

Berdasarkan sudut pandang gaya pemahatan relief dapat diketahui bahwa penggambaran relief sinopsis di Jalatunda tersebut sebenarnya menyimpan gaya relief candi-candi di Jawa Tengah dan juga sudah mengandung ciri relief candi-candi zaman Majapahit. Jadi acapkali gaya relief sinopsis yang dipahatkan di petirthaan Jalatunda dinamakan dengan gaya peralihan. Ciri relief candi Jawa Tengah yang dijumpai pada relief Jalatunda antara lain adalah (a) penggambaran relief masih mengacu bentuk naturalis dan (b) relief dipahatkan secara dalam sehingga menghasilkan relief tinggi (haut relief). Adapun ciri gaya relief Majapahit terlihat pada (a) tidak adanya bidang kosong yang tersisa, seluruh panil diisi penuh dengan berbagai hiasan, (b) figur-figur orang sudah agak distilasi, dengan menarik dan memperpanjang bahu, sehingga mengarah ke bentuk wayang kulit.

Patirthān Jalatunda dipandang dari lereng atas ke arah kolam penampungan air (kolam utama)

Terdapat hal yang cukup istimewa pada petirthaan Jalatunda yang tidak dimiliki oleh kepurbakalaan lain. Pada dinding belakang petirthaan yang menempel di kemiringan lereng terdapat tembok balok batu yang agaknya sengaja dibuat untuk menahan lereng agar tidak longsor ke dalam kolam. Kira-kira di bagian tengah dinding berdirilah batur tempat tahta dan padmasana kosong sebagaimana yang telah diuraikan di bagian terdahulu. Di bagian utara padmasana pada dinding dipahatkan aksara Jawa kuno dengan gaya huruf “kwadrat” yang bentuknya persegi, bunyi inskripsi tersebut adalah “gempeng”. Adapun di bagian selatan batur padmasana terdapat juga inskripsi yang menyatakan angka tahun 899 Śaka (977 M).

Kedua inskripsi tersebut senantiasa mengundang perhatian dari para ahli untuk memperbincangkannya, namun pendapat terbaru menyatakan bahwa kata Jawa Kuno gempeng yang artinya “hancur”, “luluh lantak”, atau “remuk” tersebut tidak perlu ditafsirkan secara jauh, melainkan tempatnya dipahatkannya kata itu sendiri telah menunjukkan makna sebenarnya. Dengan demikian kata gempeng atau hancur itu bermaksud menyatakan adanya penghancuran bukit batu untuk dibuatnya petirthaan Jalatunda. Tahun 899 Śaka yang juga dipahatkan di dinding yang sama sejatinya menyampaikan berita bahwa penghancuran bukit batu tersebut terjadi dalam tahun 899 Śaka atau 977 M (Munandar 1998—99: 18).

Apabila diacukan kepada masa pemerintahan raja-raja Jawa Kuno, maka tahun 977 M berada dalam kisaran masa raja pengganti Sindok yang turun tahta 947 M, dan sebelum pemerintahan Raja Dharmmawangsa Tguh (berkuasa antara tahun 991–1016 M). Di antara tahun 947—991 tersebut terdapat dua orang penguasa, yaitu Śrî Iśanatunggawijayā, putri Pu Sindok, yang bersuami Lokapala dan raja Makutawangsawardhana, dialah anak Śrî Iśanatunggawijayā. Dalam Prasasti Pucangan yang dikeluarkan oleh Airlangga disebutkan bahwa Makutawangsawardhana dilahirkan untuk menjadi permata dunia, dan karena jiwanya selalu tertuju kepada kesejahteraan semua makhluk, maka ia telah menjadikan dunia ini aman dan makmur, dan bagaikan Wisnu yang berkilauan tiada taranya dan ia menghancurkan gajah-gajah musuhnya. Ia beranak perempuan yang amat cantik yang merupakan kebahagiaan Pulau Jawa bernama Gunapriyadharmmapatni yang berjuluk Mahendradatta yang kawin dengan Raja Bali Udayana (Sumadio 1984: 170). Atas berita prasasti Pucangan yang menyatakan bahwa Makutawangsawardhana disetarakan dengan Wisnu, dan juga didasarkan kepada data arkeologi di Jalatunda yang masih menyisakan arca pancuran Garuda dan Naga, serta kisah Mrgayawati yang menunjukkan peran Garuda, dapat ditafsirkan sementara bahwa Jalatunda sangat mungkin berhubungan dengan raja Makutawangsawardhana. Tahun pembuatan Jalatunda 977 M berada dalam era pemerintahan Makutawangsawarddhana.

Di arah yang berlawanan dengan keletakkan Jalatunda, jadi artinya di lereng timur Gunung Penanggungan terdapat juga petirthaan lainnya, penduduk menyebutnya dengan petirthaan Belahan (Bernet Kempers 1959: Plate 200). Masih terdapat ketidakpastian tentang masa pembangunan petirthaan tersebut, hal yang jelas bahwa Petirthaan Belahan menggunakan dua bahan, yaitu batu andesit dan bata. Jadi dalam hal bahan berbeda dengan Jalatunda yang dibangun dengan menggunakan balok-balok batu andesit.

Petirthaan Belahan dahulu terdiri dari gugusan bangunan, namun yang tersisa sekarang hanyalah kolam petirthaannya dan dua arca dewi Sri dan Laksmi yang juga berfungsi sebagai arca pancuran. Kekunoan lain yang masih tersisa hingga sekarang hanyalah pintu gerbang yang beratap prasadha (di Bali dinamakan Gapura Kurung), sisa-sisa struktur pondasi bangunan, dan kolam. Bagian tepi kolam petirthaan diperkeras dengan susunan bata, begitupun dinding belakang kolam (barat) yang menyandar di kemiringan lereng diperkuat dengan susunan bata.

Salah satu arca Pancuran di Petirthaan Belahan

Pada dinding belakang di sisi barat tersebut semula terdapat 3 arca, hanya saja arca yang di tengah telah hilang, hanya menyisakan relung dangkal pada dinding bata. Dua arca dewi lainnya masih ada di tempatnya semula, walaupun kondisinya sudah aus dan pahatan rincinya tidak jelas lagi. Walaupun demikian pancaran keindahan masih terlihat dari kedua arca dewi itu, menunjukkan bahwa pemahatnya dahulu sangat pandai menguasai teknik ukir batu dan juga mengenal ikonografi dewa-dewi Hindu secara baik.

Berbeda halnya dengan petirthaan Jalatunda yang mempunyai inskripsi singkat angka tahun 899 Saka (977 M), Belahan tidak mempunyai inskripsi apapun. Oleh karena itu terdapat perbedaan pendapat mengenai masa pembuatan petirthaan tersebut. Pendapat yang masih banyak dianut hingga sekarang dikemukakan oleh N.J.Krom (1923) yang menyatakan bahwa Belahan berasal dari masa Airlangga (1019—1042), bahkan petirthaan tersebut dianggap sebagai bangunan peringatan yang diabdikan bagi Airlangga setelah raja itu wafat. Arca Wisnu yang digambarkan duduk di punggung Garuda –sekarang disimpan di Pusat Informasi Majapahit, Trowulan–dianggap oleh Krom sebagai arca perwujudan Airlangga.

Pendapat yang dikemukakan oleh Th.A.Resink (1968), justru meragukan kesimpulan Krom, berdasarkan dukungan isi Prasasti Cunggrang tahun 851 Saka/929 M dan juga kajian peninggalan arkeologis yang masih tersisa menyimpulkan bahwa Belahan bukan dari zaman Airlangga. Petirthaan tersebut sangat mungkin berasal dari masa Raja Sindok (929—947 M) (Resink 1968: 6). Dalam prasasti Cunggrang bangunan petirthaan Belahan disebut dharmmapatapan i pawitra dan sangat mungkin didedikasikan bagi raja sebelum Sindok, yaitu Wawa atau Rakryan Bawang (Wawa) ayahanda dari Sri Parameswari Dyah Kebi istri Pu Sindok. Selanjutnya Resink menyatakan bahwa Belahan sangat mungkin berasal dari zaman Raja Wawa atau dari masa pemerintahan Sindok sendiri (Resink 1968: 32). Kesimpulan Resink tersebut mendapat dukungan dari Boechari, ia menyatakan bahwa jika arca Wisnu duduk di punggung Garuda itu berasal dari Belahan sesuai pendapat Krom, maka arca itu harus sesuai jika ditempatkan pada relung dangkal di tengah dinding belakang yang kosong. Akan tetapi ukuran arca itu terlalu besar untuk relung dinding belakang belakang yang lebih sempit. Artinya arca Wisnu tersebut harus berasal dari tempat lain.

Apabila diperhatikan dari sudut seni arca, maka kedua arca dewi yang masih ada di Belahan sejatinya bukan memperlihatkan arca-arca dari abad ke-10 atau 11, arca-arca tersebut justru menyimpan ciri gaya seni arca yang lebih muda. Arca-arca tersebut memperlihatkan adanya:

1.Garis-garis yang digambarkan pada bagian sirascakranya, mengesankan garis sinar yang keluar dari kepala arca.

2.Pada bagian belakang kepala arca juga digambarkan terdapat “pita-pita” yang berkibaran secara simetris di kanan-kiri kepala

3.Arca-arca tersebut walaupun sebagai arca pancuran memperlihatkan sikap statis kaku seperti halnya arca-arca perwujudan yang menggambarkan tokoh yang telah meninggal.

Ciri-ciri arca sebagaimana yang dimiliki oleh 2 arca dewi di Belahan adalah hal yang lazim dijumpai pada arca-arca zaman Majapahit (abad ke-14 M). Lagi pula ukuran tinggi arca-arca dewi di Belahan kurang lebih sama dengan arca Parwati dari Candi Ngrimbi dan juga arca Hari-Hara dari Simping, yaitu sekitar 2 m. Garis-garis yang keluar dari kepala arca juga dijumpai pada arca Hari-Hara, Parwati, dan arca-arca perwujudan zaman Majapahit lainnya bahkan yang berasal dari abad ke-15 M, Garis-garis itu hendak menyatakan kesucian tokoh arca yang disebut dengan “Sinar Majapahit”. Pada arca-arca zaman-zaman sebelumnya tidak pernah dijumpai adanya garis-garis sinar seperti itu.

Pita-pita yang berkibaran di kanan-kiri kepala juga dijumpai pada arca Hari-Hara dan Parwati yang keduanya menggambarkan tokoh Raden Wijaya dan Tribhuwanottunggadewi. Pita-pita tersebut terus digambarkan pada arca-arca perwujudan zaman Majapahit lainnya. Arca perwujudan adalah khas Majapahit, arca digambarkan dengan kedua tangan terjulur di samping tubuh, beranjalimudra, atau berdyanamudra di depan dada. Dalam hal dua arca dewi di Belahan keduanya, memiliki tangan kanan dan kiri dengan sikap simetris, tidak berbeda antara sikap tangan kanan dan kirinya. Salah satu arca kedua tangannya memegang payudaranya yang dari dalamnya memancar air ke luar, kedua tangan tersebut digambarkan simetris. Sementara itu kedua tangan lainnya digambarkan terbuka menjulur ke bawah tubuh secara simetris pula, jadi arca-arca dewi itu mempunyai 4 tangan. Hal yang harus diperhatikan sungguh-sungguh adalah bahwa kedua arca tersebut sejatinya menggambarkan arca Dewi Parwati, sakti Siwa Mahadewa, bukan Sri dan bukan pula Laksmi. Dalam Ikonografi Hindu, dewi yang digambarkan bertangan 4 hanyalah Dewi Parwati sebagai dewi tertinggi, bukan dewi-dewi lainnya.

Menilik gaya seni arca yang sepenuhnya bergaya Majapahit, maka dapat disimpulkan bahwa mungkin Belahan dibangun dalam era Majapahit. Jika memperhatikan ukuran arcanya yang sama dengan arca-arca dari Candi Ngrimbi dan Simping, maka Belahan ditafsirkan dibuat di awal abad ke-14 M. Belahan adalah petirthan Majapahit dengan konstruksi bata dan arca batu sebagaimana yang terdapat pada kepurbakalaan Majapahit lainnya yang juga menggunakan kedua bahan tersebut seperti Candi Jawi, Jago, Panataran, petirthaan Watu Gede, dan lainnya lagi.

IV

Petirthaan Jalatunda dan Belahan sengaja didirikan oleh para pembangunnya dahulu di lereng Gunung Pawitra yang merupakan puncak Mahameru yang dipindahkan ke Tanah Jawa. Jalatunda berlokasi di lereng barat dan Belahan di lereng timur Penanggungan. Keduanya sebenarnya hendak menyatakan bahwa air yang memancar dari kedua petirthaan tersebut sebenarnya adalah amerta yang seakan-akan keluar dari tubuh Mahameru. Air amerta merupakan air yang diperlukan dalam kehidupan manusia dan juga para dewa, air itu dapat digunakan untuk berbagai kebaikan manusia.

Petirthan Jalatunda adalah tempat air amerta yang diupayakan oleh dinasti Isana, anak keturunan Mpu Sindok dan dibangun mendahului Belahan. Adanya prasasti Cunggrang yang berasal dari era Raja Sindok dan ditemukan di lereng bawah sebelah timur Pawitra tidak berarti harus dihubungkan dengan petirthaan Belahan, biasa juga dengan bangunan suci lainnya di Pawitra, tidak harus petirthaan.

Akan halnya petirthaan Belahan yang banyak menyita perhatian para sarjana mengenai kronologi pembangunannya, disebabkan tidak ada inskripsi angka tahun yang dapat dihubungkan dengannya. Maka kajian ini pun mengemukakan interpretasi tersendiri, bahwa berdasarkan kepada bahan pembuatan petirthaan, gaya seni arca, ukuran tinggi arca, dan penggambaran arca yang statis-kaku, disimpulkan bahwa Belahan berasal dari era Majapahit, sangat mungkin dari masa awal Majapahit menuju kemegahannya di paruh pertama abad ke-14 M, sangat mungkin dalam era pemerintahan Ratu Tribhuwanottunggadewi (1328—1351 M) yang juga digambarkan sebagai arca Dewi Parwati di Candi Ngrimbi.

Agaknya jika keluarga Isana mempunyai petirthaan untuk wangsanya, yaitu Jalatunda, maka keluarga raja Majapahit juga mempunyai petirthaan khusus untuk Rajasawangsa, yaitu Belahan. Wangsa Isana akhirnya dapat dikalahkan oleh wangsa baru yang dikembangkan oleh Ken Angrok (Rajasawangsa), setelah dikalahkannya Krtajaya raja Kadiri terakhir oleh Ken Angrok dalam pertempuran di Desa Ganter tahun 1222. Anak keturunan Ken Angrok yang memerintah di zaman Singhasari-Majapahit, tentunya akan membuat petirthaan tandingan di lereng Pawitra yang keramat tersebut. Jika Jalatunda milik Isanawangsa, maka Belahan milik Rajasawangsa. Lokasi Belahan di lereng timur Pawitra, menandakan arah terbaik, sebab di arah timur tempat bersemayamnya Indra, dewa yang menjadi rajanya para dewa. Indra adalah simbol penguasa.


PUSTAKA ACUAN

Bernet Kempers, A.J., 1959. Ancient Indonesian Art. Amsterdam: C.P.J.van Der Peet.

Dumarcay, Jacues, 1986. The Temples of Java. Singapore: Oxford University Press.

Munandar, Agus Aris, 1998—99. “Hubungan Bali dan Jawa Timur: Kajian Terhadap Arsitektur Keagamaan dalam Abad Ke-10—11”, dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi VII, Cipanas, 12—16 Maret 1996. Jilid 5. Jakarta: Proyek Penelitian Arkeologi. Halaman 9—21.

————-, 2003. “Karya Arsitektur dalam Kajian Arkeologi”, dalam Cakrawala Arkeologi: Persembahan untuk Prof.Dr.Mundardjito. Penyunting R.Cecep Eka Permana, Wanny Rahardjo W. dan Chaksana A.H.Said. Depok: Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Halaman 1—21.

Pigeaud, Th.G.Th., 1924. De Tantu Panggelaran: Een Oud-Javaansch Prozageschrift Uitgegeven, Vertald en Toegelicht. Disertasi, Rijksuniversiteit te Leiden. ‘s-Gravenhage: Nederlandsche Boeken Steendrukerij vh.H.L.Smits.

Resink, Th.A.,1968. ”Belahan or Myth Dispelled”, Indonesia. Ithaca, New York: Modern Indonesia Project, Cornell University. No.6 (Oktober): 2—37.

Sumadio, Bambang (penyunting jilid), 1984. Sejarah Nasional Indonesia II: Jaman Kuna. Jakarta: Balai Pustaka.

Van Romondt, V.R. 1951. Peninggalan-Peninggalan Purbakala di Gunung Penanggungan. Hasil penjelidikan di Gunung Penanggungan selama tahun 1936, 1937, dan 1940 dan Beberapa peninggalan purbakala di Gunung Ardjuno dikundjungi dalam tahun 1939. Djakarta: Dinas Purbakala Republik Indonesia.

Iklan

Responses

  1. saya mencoba mencintai warisan para leluhur. Trimakasih untuk tulisan yang informatif dan inspiratif ini. Seminggu lalu (12-14) saya mengunjungi Jalatunda; setelah mendaki Puncak Penanggungan dari Tamiajeng kami turun lewat jalur Jalatunda. Bertemu dengan candi2 menjadi hiburan dan kesegaran tersendiri.

    • Mencintai warisan leluhur harus dilakukan oleh siapa saja, jadi tidak hanya oleh kalangan arkeolog…lestarikan warisan2 kita itu agar bisa dinikmati oleh generasi mendatang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: