Oleh: hurahura | 26 Maret 2017

Wayang: Bukti Persebaran Budaya Tanpa Batas

Pameran-01Pengunjung menikmati pameran wayang di Museum Nasional (Foto-foto: Djulianto Susantio)

Wayang adalah salah seni pertunjukan yang sudah mengalami perjalanan sejarah cukup panjang. Wayang diciptakan sesuai dengan konsep-konsep seni tinggi yang dimiliki para empu dan pujangga wayang sejak beberapa abad yang lalu, atau paling tidak sejak zaman Airlangga (Zoetmoelder, 1981: 21). Wayang sebagai warisan seni budaya dunia yang sudah diakui oleh UNESCO memiliki nilai-nilai budaya secara fisik maupun nonfisik. Sebagaimana yang dituliskan oleh Kasidi Hadiprayitno, Wayang sebagai a Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity: Sebuah Museum Hidup Dalam Budaya Indonesia, wujud fisik wayang itu diikuti oleh sejumlah nilai spiritualitas yang tinggi yang berguna bagi kehidupan dan pembangunan karakter manusia secara universal. Dibalik bentuk fisik wayang, dapat ditemukan kandungan atau isi-isi kisah wayang yang di dalamnya terdapat keterkaitan, antara tokoh wayang dengan karakter yang membentuknya, antara wayang dengan sistem pranata sosial, nilai moralitas, keluhuran budi pekerti, nilai religiusitas atau spiritualitas, dan lain sebagainya.

Pertunjukan wayang dikategorikan sebagai kebudayaan asli milik Bangsa Indonesia oleh Dr. Brandes. Sementara menurut G. Coedes, kepercayaan animisme, dinamisme, dan pemujaan terhadap roh leluhur telah menjadi unsur-unsur peradaban masyarakat Indonesia sejak sebelum mengenal tulisan. Dari pendapat kedua ahli ini, jika kemudian dihubungkan dengan pendapat Sri Mulyono yang mengatakan bahwa wayang sesungguhnya adalah manifestasi dari arwah/roh leluhur, maka wayang bisa saja dianggap sebagai salah satu media yang digunakan masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu guna melakukan pemujaan terhadap roh leluhur atau yang dalam prasasti Kuti (840 M) disebut mawayang buatt Hyang. Pertunjukan wayang dianggap sebagai sebuah jalan agar para leluhur bisa hadir dan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat. Pandangan ini didasarkan pada kepercayaan-kepercayaan kuna tentang arwah leluhur yang akan senantiasa melindungi dari marabahaya dan memberikan kesejahteraan hidup bagi anak cucunya sebagai generasi penerusnya. Kehadiran para leluhur ini menyebabkan munculnya sebuah pantangan dalam pertunjukan wayang, yaitu pantangan untuk menghentikan pertunjukan di tengah jalan sekalipun seluruh penonton sudah membubarkan diri.  Dalang percaya bahwa tidak adanya penonton bukan berarti tidak ada yang menonton. Mereka percaya jika para leluhur turun dan melihat pertunjukannya hingga akhir. Bagi seorang dalang, menggelar tontonan wayang bukan hanya dilihat dan nikmati oleh khalayak umum, tetapi juga oleh para leluhur.


Jenis-Jenis Wayang

Berbicara tentang wayang, tidak bisa terlepas dari jenis-jenis wayang ada dalam perkembangannya selama ini. Dalam dunia wayang dikenal adanya wayang purwa, wayang madya, wayang gedhog, wayang menak, wayang babad, wayang modern, dan wayang topeng (Suyami, 2006). Wayang purwa adalah pertunjukan wayang yang pakem ceritanya bersumber pada kitab Mahabarata atau Ramayana. Wayang ini dapat berupa wayang kulit, wayang golek, maupun wayang orang. Ada pula yang mengartikan wayang purwa sebagai pertunjukan wayang yang menyajikan cerita-cerita pada zaman dahulu. Wayang madya adalah kombinasi pertunjukan wayang purwa dan wayang gedhog. Ceritanya menyambungikan dua zaman, yaitu zaman purwa (Ramayana dan Mahabarata) dengan zaman Jenggala yang menceritakan cerita-cerita Panji. Menurut KGPAA Mangkunegara IV, wayang madya umumnya bersumber pada Serat Anglingdharma. Wayang gedhog adalah pertunjukan wayang yang pakem ceritanya bersumber dari cerita Panji, maupun kisah kepahlawanan pada masa kerajaan Kediri, Singhasari, dan Majapahit. Karena itulah Wayang gedhog sering juga disebut Wayang Panji. Wayang menak adalah pertunjukan yang ceritanya bersumber pada cerita menak. Wayang babad adalah pertunjukan wayang yang ceritanya bersumber pada cerita-cerita babad (sejarah) setelah masuknya agama Islam di Indonesia. Kisah yang biasa diangkat biasanya kisah kepahlawanan kerajaan Demak dan kerajaan Pajang. Wayang modern adalah pertunjukan wayang yang dimaksudkan dengan tujuan-tujuan tertentu. Jenis wayang yang termasuk ke dalam wayang modern di antaranya wayang wahana, yaitu wayang yang mengambil cerita bersumber dari cerita-cerita pada zaman sekarang, wayang suluh, wayang kancil, wayang wahyu yaitu wayang yang ceritanya bersumber dari kitab injil, wayang dobel yaitu wayang yang sumber ceritanya berasal dari Al-Quran, wayang Pancasila yang isi ceritanya menerangkan mengenai falsafah Pancasila, UUD 1945, dan GBHN.

Pameran-02

Wayang dalam pameran

Wayang adalah sebuah produk budaya. Wayang berkembang pesat utamanya di daerah Jawa dan Bali. Agaknya hal ini disebabkan pengaruh kebudayaan Hindu berkembang dengan kuat di kedua daerah ini. Wayang pada awal mulanya dikenal menggunakan pakem cerita Mahabarata dan Ramayana yang kemudian berkembang sesuai dengan zamannya. Ketika memasuki zaman Islam, ceritanya berubah dan menyesuaikan kepentingan syi’ar agama Islam. Demikian juga ketika agama Kristen dan Katolik masuk ke Pulau Jawa, berkembanglah wayang wahyu yang isinya menyesuaikan dengan kitab Injil. Ini sudah menunjukkan jika dalam tempat yang sama, karena perubahan lingkungannya, sebuah kebudayaan bisa mengalami perubahan.

Wayang juga berkembang di beberapa daerah di Indonesia. Ada Wayang Bali, Wayang Sasak (NTB), Wayang Kulit Banjar (Kalimantan), Wayang Palembang (Sumatera Selatan), Wayang Madura (sekarang sudah punah), bahkan di daerah Kelantan, Malaysia juga dikenal pertunjukan wayang dengan sebutan Wayang Siam. Berkembangnya wayang di beberapa daerah di Indonesia diyakini sebagai sebuah bukti penyebaran pengaruh budaya dari Jawa. Wayang diyakini berasal dari Jawa meskipun budaya permainan boneka juga ada di berbagai peradaban di berbagai belahan dunia. Hal ini dikarenakan bukti tertulis tertua yang menyebutkan wayang ditemukan di Jawa, yaitu sebuah prasasti yang bernama Prasasti Balitung (907 M), yang berbunyi si Galigi mawayang….


Teori Persebaran Budaya

Budaya berkembang ke luar daerah asal dan kemudian beradaptasi dengan lingkungan barunya. F. Greebner (1877-1934) membuat sebuah konsep mengenai klasifikasi unsur-unsur kebudayaan berdasarkan persamaan-persamaannya yang dinamakan dengan konsep kulturkreise. Konsep ini kemudian dikembangkan lagi oleh Wilhem Schmidt (1868-1954) untuk melihat sejarah persebaran dan perkembangan kebudayaan. Koentjaraningrat menjelaskan tentang teori-teori difusi (persebaran) kebudayaan guna meneliti unsur-unsur kebudayaan di daerah Melanesia. Pendapatnya adalah kebudayaan manusia berasal dari suatu tempat tertentu yang kemudian menjadi kebudayaan induk. Kebudayaan induk ini berkembang, menyebar dan pecah ke dalam banyak kebudayaan baru karena keadaan lingkungan dan waktu.

Sebuah pertanyaan tentulah muncul, mengapa wayang dari Jawa bisa berpengaruh ke luar Jawa, seperti Sumatera, Kalimantan, NTB, dan Bali? Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menjawab pertanyaan di atas. Pertama, kedudukan dan pengaruh kerajaan-kerajaan di Jawa pada masa klasik Hindu-Buddha hingga Islam terhadap kerajaan-kerajaan di luar Jawa. Kedua, kedudukan Pulau Jawa dalam jalur lalu lintas perdagangan dan pelayaran mancanegara. Ketiga, karakteristik penduduk Pulau Jawa ketika meninggalkan kampung halaman, yaitu selalu membawa serta identitas budayanya, sehingga kemungkinan persebaran wayang hingga ke luar pulau menjadi lebih besar.

Kedudukan dan pengaruh kerajaan-kerajaan besar di Jawa sejak abad ke-8 M tidak bisa dipisahkan dengan kedudukan Jawa sebagai pelabuhan internasional yang bukan hanya tempat persinggahan jalur pelayaran, akan tetapi juga dalam jalur perdagangan. Nama Jawa disebut pertama kali paling tidak sejak abad ke-5 M. Dalam L’Historie des Han disebutkan sebuah negeri bernama Ye-tiao yang sering dianggap sama dengan Jawa pada tahun 132 atau setara dengan abad ke-5 Masehi. Jawa dan Sumatera terlibat dalam suatu persaingan dagang dan hubungan kekerabatan antara dua dinasti. Diberitakan pada sekitar tahun 860, penguasa Suvarnadwipa, bernama Balaputra, cucu seorang Raja Sailendra dari Yawabhumi (Jawa), mendirikan bangunan di dalam biara Buddhis besar di Nalanda, Bengali. Pendapat ini, meskipun masih dipertentangkan oleh banyak ahli, patut untuk ditelisik secara mendalam. Secara tidak langsung, hal ini menjadi salah satu indikator bahwa Jawa merupakan kebudayaan induk bagi beberapa kebudayaan berikutnya pada abad ke-8 Masehi.

Kepergian Balaputeradewa ke tanah Sumatera selepas kekalahannya dalam berperang memperebutkan takhta Kerajaan Medang Kuno. Mengingat pertunjukan wayang sudah dikenal paling tidak sejak abad ke-8 M, bukan tidak mungkin jika kepergian Balaputeradewa ke tanah Svarnadwipa turut serta membawa budaya pertunjukan wayang dari Pulau Jawa. Pada masa Islam berkembang di Nusantara, utamanya di Pulau Jawa, Sunan Kalijaga, yaitu salah satu dari Wali Songo yang berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, juga menggunakan wayang sebagai media dakwah. Persebaran Islam yang meluas ke beberapa wilayah di Nusantara setelah Islam berkembang di Pulau Jawa, juga tidak menutup kemungkinan membawa serta media wayang sebagai media penyebaran agama Islam.

Kedatangan orang-orang dari luar Pulau Jawa yang kemudian berinteraksi dengan penduduk Pulau Jawa, bisa memunculkan kemungkinan bahwa para pendatang itu—apapun  maksud kunjungannya ke Pulau Jawa—membawa serta budaya-budaya orang Jawa yang mereka temui ke tempat asal mereka. Kemungkinan lainnya adalah orang-orang yang berasal dari Pulau Jawa, ketika mereka berkunjung ke luar Pulau Jawa atau bahkan menetap di sana, membawa serta budaya-budaya yang berasal dari Jawa, yang bisa saja salah satunya adalah wayang yang berasal dari Jawa. Pertunjukan wayang yang digelar di luar Pulau Jawa itu, kemudian menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat di sana yang tentu saja berbeda dengan kondisi masyarakat di luar Pulau Jawa.  Hal ini sesuai dengan yang dengan yang disampaikan oleh Arsyad Indradi dalam artikelnya, ia menyebutkan jika wayang masuk ke Pulau Kalimantan, erat kaitannya dengan Kerajaan Banjar dan Kerajaan Demak. Akibat dari hubungan dua kerajaan besar ini, kemudian di Tanah Banjar mulai berkembang Wayang Gung yang menurut Arsyad merupakan adaptasi dari Wayang Wong di Pulau Jawa. Sedangkan bukti pengaruh interaksi orang Jawa dengan orang yang berasal dari luar pulau lainnya, misalnya dengan orang Bali, yaitu munculnya wayang Gambuh. Pengaruhnya dilihat dari lakon cerita wayang gambuh yang hanya khusus melakonkan cerita Panji, layaknya di Jawa. Pengaruh wayang Jawa terhadap Wayang Gambuh ini agaknya erat kaitannya dengan pernikahan putra dan putri bangsawan Jawa dengan putra-putri bangsawan Bali dan penaklukan kerajaan Bali terhadap Jawa ataupun sebaliknya. Sebagaimana yang disebutkan oleh I Ketut Rinda bahwa setelah penaklukan Raja Mengwi dari Bali terhadap Mas Sepuh dari Blambangan, pada tahun 1634, wayang beserta dalangnya dibawa ke Bali.

Penulis: Wulan Agustri Ayu
Mahasiswa S-1 Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: