Oleh: hurahura | 18 Desember 2012

Arkeologi: Rama Galau dan Curhat di Twitter

Arcafest Kompas/Indira Permanasari (INE)KOMPAS, Jumat, 14 Desember 2012 – Ketika mengetahui kekasihnya, Shinta, direbut Rahwana, Rama langsung menyusun strategi untuk merebutnya kembali. Kalau kisah itu terjadi sekarang dan kamu alami sendiri, kira-kira apa yang akan kamu lakukan?

Kisah Rama dan Shinta serta pertanyaan menantang itu ditampilkan di ruang pamer Archaeological Culture and Art Festival yang digelar Keluarga Mahasiswa Arkeologi Universitas Indonesia pada 28-30 November 2012.

Pada perhelatan ini ada foto besar relief adegan Shinta yang diculik. Relief itu berasal dari abad ke-9 di Candi Prambanan, Jawa Tengah.

Pengunjung yang kebanyakan MuDAers itu boleh memberi komentar atas peristiwa perebutan kekasih tersebut. Ehm, ternyata seru dan keren juga lho reaksi pengunjung. Komentar seru itu disampaikan lewat kertas tempel berbentuk hati berwarna-warni.

Ada yang berkomentar singkat, ”Galau”. Ada juga MuDAers yang kayaknya bijak, kata dia, ”Rahwana harus tegar menjalani hidup ini, karena ini ujian Allah”.

Atau jawaban MuDAers yang agak emosional, katanya, ”Labrak!” Ada lagi yang bilang, ”Kalo dulu perang, skrg labrak.”

Teman yang lain berbeda lagi komentarnya, ”Ya sebelum mikirin strategi labrak-melabrak. Pasti curhat dulu di Twitter”.


Mengenal arkeologi

Kisah Rama dan Shinta itu menjadi bagian dari pameran arkeologi yang mengusung tema ”Peran Perempuan Kerajaan pada Masa Klasik”. Foto beragam relief kehidupan perempuan pada masa tersebut tertata pada panel-panel kayu dengan taburan kelopak mawar merah di bawahnya. Beberapa replika perhiasan ikut dipajang.

Pojok interaktif kisah Rama dan Shinta yang ramai dikunjungi orang itu merupakan salah satu jurus Panitia Archaeological Culture and Art Festival (ARCA Fest) untuk membawa arkeologi ke alam pikir masa kini. Jurus ini berhasil mengundang ketertarikan pelajar SMP dan SMA terhadap arkeologi.

”Arkeologi menyelidiki masa lalu lewat benda tinggalannya. Namun, sebetulnya kisah yang menyertai benda-benda itu tetap relevan dengan masa kini. Justru dari masa lalu kita bisa belajar membangun masa kini dan mendatang,” ujar salah satu panitia ARCA Fest, Dewi Sinta Aisyah D.

Salah satu tujuan digelarnya ARCA Fest adalah memperkenalkan arkeologi kepada calon mahasiswa. Untuk itu, Dewi dan rekan-rekan juga mengadakan berbagai lomba yang populer di sekolah-sekolah, seperti cerdas cermat, tari, majalah dinding, dan musik.

Harapannya, murid-murid sekolah peserta lomba yang datang berkesempatan mendengarkan talkshow dan melihat pameran ARCA Fest. Di sini mereka bisa mendapatkan informasi tentang arkeologi.


Kayak detektif

Jurus pemikat lain muncul dari anggota Keluarga Mahasiswa Arkeologi (KAMA) yang merancang dan memfasilitasi acara jalan-jalan, yang belakangan sedang jadi tren. Jalan-jalan ala KAMA Tour itu disertai kunjungan ke obyek-obyek bersejarah, diskusi, dan sesi foto. Mahasiswa jurusan Arkeologi siap menjadi pemandu dan menceritakan kisah di balik obyek-obyek tersebut.

Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia (UI) Jefri mengatakan, tidak gampang menarik minat murid-murid sekolah terhadap arkeologi.

”Ini ilmu yang selalu dikaitkan dengan masa lalu. Kerjanya pun seakan identik dengan gali-menggali. Padahal, kami bukan tukang gali sumur lho, he-he-he. Penggalian arkeologi atau ekskavasi itu ada teknik dan metodenya,” kata Jefri.

Mahasiswa yang telah menekuni arkeologi, seperti Dewi, Jefri, dan Dicky Caesario, justru mendapati belajar arkeologi itu adalah proses menjadi ilmuwan yang menyenangkan. Mereka merasa seperti detektif yang tengah memecahkan misteri. Apalagi jika mereka berhasil menemukan sesuatu saat penggalian di lapangan.

”Selama belajar arkeologi, saya tidak pernah bosan karena selalu mendapatkan sesuatu yang baru,” ujar Dicky.

Dosen sekaligus Sekretaris Program Studi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya UI Ali Akbar menyatakan, arkeologi mencari dan merekonstruksi kebudayaan masyarakat masa lalu. Pada masa lalu terdapat nilai-nilai luhur yang sekarang memudar, seperti gotong royong, keramahan, kesopanan, dan musyawarah.

Belakangan ini mulai muncul komik, animasi, dan game yang terinspirasi tinggalan budaya dan tokoh sejarah, tetapi dengan tampilan yang modern. Ali pernah dimintai saran oleh pembuat game yang ingin menggunakan latar Kerajaan Kediri, Singosari, dan Majapahit dalam karya mereka.

Ada pula yang datang kepada Ali dan meminta sarannya untuk pembuatan komik tentang Gunung Padang. (INDIRA PERMANASARI)

Arcafest Kompas/Indira Permanasari (INE)

Arcafest Kompas/Indira Permanasari (INE)

FOTO-FOTO: KOMPAS/INDIRA PERMANASARI
Berbagai kegiatan dan pameran digelar untuk menarik minat anak muda pada arkeologi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: