Oleh: hurahura | 28 Maret 2012

Kompleks Percandian Cibuaya yang Terbengkalai

HER SUGANDA
Lemah Duwur Lanang

KOMPAS, Kamis, 22 Maret 2012 – Selama tiga dasawarsa sejak Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (kini Puslit Arkenas) melakukan penelitian pada tahun 1957, masyarakat Cibuaya tak henti-hentinya mempertanyakan bagaimanakah nasib situs percandian di daerahnya.

Apakah bisa sama nasibnya dengan situs percandian Batujaya atau akan dibiarkan terbengkalai tertimbun tanah sampai akhirnya hancur tak berbekas lagi.

Kedua situs itu terletak di daerah pantai utara Karawang. Situs Batujaya merupakan kompleks percandian batu bata di Kecamatan Batujaya dan Kecamatan Pakisjaya. Meliputi areal seluas 5 kilometer persegi, di tempat ini terdapat sekitar 25 candi. Akan halnya kompleks percandian Cibuaya terletak di Kecamatan Pedes. Ketiga kecamatan di pantai utara Kabupaten Karawang itu letaknya bertetangga. Bahkan jika ditarik garis lurus, kedua kompleks percandian tersebut hanya terentang jarak sekitar 15 kilometer.

Walaupun jaraknya berdekatan, nasib kedua kompleks percandian itu sangat berbeda. Penelitian dan ekskavasi kompleks percandian Batujaya dilakukan lebih intensif. Bahkan dua candi di antaranya, Candi Jiwa dan Candi Blandongan, sudah mengalami pemugaran. Sebaliknya dengan kompleks percandian Cibuaya. ”Keadaannya masih tetap seperti pertama kali ditemukan,” kata Dahlan, penduduk setempat.

Gundukan tanah yang menimbuni reruntuhan batu bata di tempat itu menyerupai bukit kecil yang berada di tengah hamparan sawah. Tidak ada papan petunjuk atau peringatan yang menandakan bahwa tempat itu merupakan situs sehingga, sebagai benda cagar budaya, perlu dilindungi dari tangan-tangan jahil. ”Dulu, lingga di atas bukit itu ditutupi kain putih,” kata penduduk lain. Namun, sekarang kain putihnya sudah dilucuti.

Di salah satu sisinya yang terletak di bagian selatan terdapat beberapa makam yang ditandai dengan batu nisan. Melihat arahnya yang menghadap utara-selatan, makam-makam itu jelas merupakan makam manusia masa kini yang berasal dari penduduk setempat. Mungkin dan sangat boleh jadi karena situs tersebut dianggap terabaikan keberadaannya. Keadaannya berbeda dengan semangat yang terdapat pada sejumlah billboard bertulisan ”Karawang for Heritage” yang berhiaskan gambar Gubernur Ahmad Heryawan. Billboard itu secara mencolok dipasang di berbagai tempat strategis di Karawang.


”Lemah duwur”

Dalam istilah masyarakat setempat, situs Cibuaya dinamakan lemah duwur karena bentuknya yang menyerupai bukit kecil setinggi lebih kurang 3 meter dari permukaan tanah setempat. Istilah ini digunakan karena sebagian masyarakat Cibuaya sebelumnya menggunakan pengantar bahasa Jawa dialek Banten.

Di wilayah ini terdapat enam lemah duwur yang tersebar di areal seluas lebih kurang 3 kilometer persegi, tetapi yang selama ini mendapat perhatian hanya dua lemah duwur. Kedua lemah duwur itu dibedakan berdasarkan ciri fisiknya. Salah satu di antaranya dijuluki Lemah Duwur Lanang karena di bagian puncaknya terdapat lingga setinggi 90 sentimeter (cm) berdiameter 20 cm. Bentuknya sangat sederhana. Dr Tony Djubiantono (2000) menggambarkan, bagian atas (rudrabhaga) lingga tersebut berbentuk silinder dengan ujung agak membulat. Sementara bagian bawah (visnubhaga) berbentuk segiempat.

Timbunan tanah lain yang menutupi reruntuhan batu bata dinamakan Lemah Duwur Wadon karena yang terakhir ini tidak memiliki lingga. Namun, sebegitu jauh belum ditemukan adanya yoni.

Lanang dan wadon merupakan istilah untuk membedakan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Kedua istilah itu masih tetap digunakan walaupun kini peran bahasa Sunda dalam keseharian lebih mendominasi penduduknya.

Lemah Duwur Lanang dan Lemah Duwur Wadon berjarak sekitar 600 meter. Penelitian awal situs ini pernah dilakukan oleh Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (kini Puslit Arkenas) yang dipimpin Basoeki pada tahun 1957. Setelah lama terhenti, 20 tahun kemudian penelitian berikutnya dilakukan lembaga yang sama, dipimpin Drs Hasan Muarif Ambary, pada tahun 1977.

Hasil dua penelitian tersebut menunjukkan, Lemah Duwur Lanang dan Lemah Duwur Wadon merupakan bangunan runtuhan candi batu bata.

Jika dihubungkan dengan hasil ekskavasi dan penelitian di kompleks percandian Batujaya selama ini, keberadaan kompleks percandian Cibuaya akan menambah kekayaan arkeologi di pantai utara Jawa Barat. Kedua kompleks percandian itu menunjukkan budaya yang berbeda, tetapi berkesinambungan. Kompleks percandian Batujaya menunjukkan adanya pengaruh kebudhaan. Sebaliknya kompleks percandian Cibuaya menunjukkan adanya pengaruh kehinduan. Yang menarik, keduanya berada dalam rentang masa Tarumanagara berkuasa.


Kolam

Lemah duwur situs Cibuaya merupakan timbunan tanah yang menyembunyikan singkapan candi batu bata. Peneliti Dr Tony Djubiantono (2000) mengungkapkan, hasil penelitian Puslit Arkenas, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, dan Balai Arkeologi (Balar) Bandung sejak 1975 hingga 1995 menunjukkan adanya sisa bangunan batu bata. Pada Lemah Duwur Lanang, bentuk bangunannya berupa susunan batu bata berukuran 9 meter x 9,6 meter yang berorientasi barat laut-tenggara. Di sebelah barat terdapat kolam berukuran 10 meter x 10 meter dengan kedalaman sekitar 3 meter. Namun, kolam tersebut kini tertimbun tanah sehingga keberadaannya tidak jelas.

Singkapan bangunan batu bata serupa terdapat pula di bawah timbunan tanah Lemah Duwur Wadon. Fondasi bangunannya berupa susunan batu bata berbentuk bujur sangkar berukuran 3,5 meter x 3,5 meter. Tidak jauh dari situs ini terdapat cekungan. Penduduk setempat menamakannya Kobak Banteng dan Kobak Ceper. Dalam dialek setempat, kobak berarti kolam tempat penampungan air.

Peneliti Anwar Falah (1996) menambahkan, dari beberapa ekskavasi yang dilakukan, telah ditemukan bata berbentuk mirip segitiga dengan salah satu sisinya (sisi terpendek) berbentuk membulat. Secara keseluruhan, batu bata tersebut mirip sepotong kue berbentuk lingkaran yang kedua sisinya dipotong ke arah pusat. Temuan ini memberikan petunjuk bahwa batu bata tersebut merupakan bagian dari sebuah bangunan yang berdenah melingkar. Namun, ia belum bisa memastikan apakah bentuk tersebut merupakan bentuk dari sebuah stupa atau hanya merupakan hiasan bangunan lain yang bentuk sisinya memang melingkar.

Mengingat berbagai temuan arkeologisnya selama itu, keberadaan situs Cibuaya sebenarnya tak kalah menarik. Jika kita meluangkan waktu mengunjungi Museum Pusat di Jakarta, di antara koleksinya terdapat arca Wisnu I, Wisnu II, dan fragmen arca Wisnu III yang berasal dari Cibuaya. Arca Wisnu I dan Wisnu II merupakan temuan awal situs ini. Arca tersebut terbuat dari batu hitam yang oleh beberapa ahli ikonografi berlanggam seni arca pada abad VII-VIII Masehi.

Temuan lainnya sebagian besar berserakan di tangan penduduk setempat tanpa diketahui lagi keberadaannya. Pada tahun 1977, sebagian temuan yang berada di masyarakat tersebut berusaha dikumpulkan kembali. Salah satunya adalah batu lingga yang berada di puncak Lemah Duwur Lanang, yang sudah tidak lagi berada di tempat semula akibat penggalian liar. Selain itu, sembilan batu pipisan (batu giling), dua batu alu (batu penggiling), satu batu dakon, dan fragmen arca dari batu hitam.

Temuan lain berupa batu meja dan di sampingnya terletak batu sima kedua. Sebelumnya, batu sima pertama ditemukan sekitar 200 meter sebelah tenggara dari batu sima kedua. Batu sima merupakan batas daerah bebas pajak kerajaan. Sebuah pertanyaan menarik yang belum terjawab, apakah batu sima tersebut merupakan batas Kerajaan Tarumanaga.

Oleh HER SUGANDA Wartawan, Tinggal di Bandung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: