Oleh: hurahura | 9 Maret 2014

Situs Megalitik Gunung Padang

baranews.co, Minggu, 2 Maret 2014 – Sampai kini Situs Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur (Jawa Barat) dipandang merupakan peninggalan megalitik terbesar di Asia Tenggara. Luas bangunannya sekitar 900 meter persegi dengan areal situs mencapai tiga hektar. Bangunan di situs itu berbentuk punden berundak, berbahan bebatuan vulkanik alami dengan ukuran berbeda-beda.

Di bagian puncak berserakan bebatuan dengan denah mengerucut dalam lima teras. Diperkirakan batunya berusia 9000-4000 SM (Sebelum Masehi), sementara situsnya berasal dari periode 2500-400 SM.

Sebuah pendapat mengatakan Situs Gunung Padang dibangun pada masa Prabu Siliwangi dari Kerajaan Sunda sekitar abad ke-15 M. Konon di situs itu pernah ditemukan guratan senjata kujang dan ukiran tapak harimau pada dua bilah batu.

Bujangga Manik, seorang bangsawan dari Kerajaan Sunda yang hidup pada masa abad ke-16, pernah menyebutkan suatu tempat yang bernama Kabuyutan. Tempat leluhur orang Sunda itu berada di hulu Sungai Cisokan di sekitar Gunung Padang. Bujangga Manik juga menulis bahwa situs itu sudah ada sebelum Kerajaan Sunda. Maka Kabuyutan sering diidentikkan dengan Situs Gunung Padang.


Prasejarah

Situs Gunung Padang merupakan situs prasejarah terbesar di Indonesia, muncul ke pentas ilmu pengetahuan pada 1979. Ketika itu beberapa penduduk dikejutkan oleh adanya dinding tinggi dan susunan batu berbentuk balok. Penemuan tersebut segera dilaporkan ke Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka dan Kepala Seksi Kebudayaan Kabupaten Cianjur.

Situs tersebut pernah diteliti oleh tim Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala (DP3SP) dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puspan). Menurut laporan arkeolog Haris Sukendar (1985), bangunan berundak Gunung Padang merupakan temuan yang cukup penting karena dapat dipergunakan sebagai bahan studi bandingan dalam penelitian bangunan berundak di Indonesia.

Pada 1982 Haris bersama R.P. Soejono dan D.D. Bintarti dari Puspan melakukan ekskavasi di sini. Dalam laporan tersebut dikatakan tidak ada tanda-tanda penguburan. Ini berarti tidak sesuai dengan pendapat N.J. Krom, sebagaimana termuat dalam Rapporten Oudheidkundige Dienst (Laporan Dinas Purbakala) pada 1914. Di situ Krom menyebutkan bahwa di puncak gunung, dekat Gunung Melati ada empat teras yang disusun dari batu kasar, berlantai kasar, dan dihiasi dengan batu-batu andesit berbentuk tiang yang berdiri tegak. Pada setiap teras terdapat satu bukit kecil (kuburan), dikelilingi dan ditimbuni batu, juga ditandai dua batu yang lancip. Lama setelah tulisan Krom, situs itu kurang terurus sehingga tertutup oleh hutan dan semak belukar.

Di luar arkeolog, cuma para peziarah atau pencari berkah yang mengenal situs tersebut. Pada malam-malam tertentu, Gunung Padang sering didatangi oleh rombongan seniman seperti pesinden, penari jaipong, dalang, dan penabuh gamelan, bahkan penyanyi pop.

Pedagang yang ingin cepat maju dan orang yang ingin punya jodoh pun sering datang ke sini. Mereka dibawa oleh juru pelihara (kuncen) situs menuju teras-teras tertentu sesuai maksud dan tujuan.

Tahun 1990-an penelitian lanjutan dilakukan oleh arkeolog Lutfi Yondri dan geolog Tony Djubiantono dari Balai Arkeologi Bandung. Beberapa peneliti prasejarah Indonesia menganggap peninggalan tradisi megalitik Gunung Padang merupakan data yang sangat berharga karena masih lengkap. Sampai sekarang memang belum ada gambaran secara luas tentang bangunan berundak itu, terutama menyangkut fungsi dan latar belakangnya. Sebagian besar berpendapat bahwa Gunung Padang merupakan tempat pemujaan. Fungsi tersebut ternyata terus berlanjut hingga zaman modern ini, apalagi tersedianya sumur yang dianggap mengandung air suci dekat tangga batu.

Dibandingkan bangunan-bangunan serupa di tempat lain, Situs Gunung Padang termasuk besar. Teras pertama memiliki ukuran 28 meter hingga 40 meter. Teras-teras selanjutnya: teras kedua, teras ketiga, teras keempat, dan teras kelima, makin ke atas makin kecil. Diduga teras kelima yang terletak paling tinggi merupakan teras paling suci, tempat berlangsungnya upacara-upacara sakral.


Mitos

Sampai sekarang sejumlah mitos masih mewarnai situs ini. Jadinya legenda rakyat dan peristiwa sesungguhnya sulit dihubungkan. Cerita tentang Prabu Siliwangi paling banyak diyakini masyarakat sekitar.

Menurut cerita rakyat yang sudah turun-temurun, bangunan berundak di Gunung Padang didirikan oleh Prabu Siliwangi. Alkisah pada suatu hari. Prabu Siliwangi mendapat titah untuk membangun istana batu dalam waktu semalam. Sang tokoh pun segera memotong batu-batu besar mengikuti bentuk balok, bongkahan, dan serpihan. Berkat kesaktiannya, batu-batu tersebut disusun dan ditata menjadi lantai, anak tangga, gerbang, tembok keliling, dan dinding.

Namun segera pagi menjelang dan embun mulai menetes. Sang surya bangkit dari ufuk timur, berarti hari semakin terang. Betapa kecewanya hati Sang Prabu. Tak kuasa menahan amarah, ditendangnya bangunan yang hampir rampung itu. Kemudian ditinggalkannya serakan dan tumpukan batu di atas bukit. Bukit itulah yang disebut Gunung Padang. Dalam bahasa Sunda padang berarti siang atau terang. Pendapat lain, Padang berasal dari kata Pa (tempat), Da (agung), dan Hyang (leluhur), jadi bermakna ‘tempat bagi leluhur yang agung’. Boleh jadi, legenda ini diadaptasi dari Bandung Bondowoso, cerita tentang pendirian Candi Prambanan (Loro Jonggrang) yang telah ada terlebih dulu.

Entah sejak kapan, kini penduduk setempat menjuluki beberapa batu yang terletak di teras-teras itu dengan nama-nama bersifat Islami. Misalnya ada yang disebut meja Kiai Giling Pangancingan, Kursi Eyang Bonang, Jojodog (tempat duduk) Eyang Swasana, sandaran batu Syekh Suhaedin alias Syekh Abdul Rusman, tangga Eyang Syekh Marzuki, dan batu Syekh Abdul Fukor.

Fenomena Gunung Padang jelas menarik. Masih langkanya sumber-sumber tertulis membuat penelitian harus dilakukan secara interdisipliner. Meskipun dipenuhi mitos-mitos setempat, ternyata dari segi kepariwisataan Situs Gunung Padang sangat menjanjikan. Pemerintah daerah berhasil membuat wisata ziarah berkembang dengan pesat. Biasanya wisata jenis ini dilakukan pada bulan Maulud dan malam Jumat Kliwon.

Wisata alam dan wisata budaya juga berkembang di sini. Frekuensi terbanyak dilakukan pada hari Sabtu, Minggu, libur sekolah, atau libur nasional. Sejak beberapa tahun lalu fasilitas kepariwisataan dibangun di sana, termasuk pembenahan stasiun kereta api peninggalan Belanda dan terowongan Lampegan. Stasiun itu berada di antara Sukabumi dengan Cianjur, merupakan lokasi terdekat untuk mencapai Gunung Padang.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori