Oleh: hurahura | 24 Agustus 2014

Humor pada Relief Candi

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (1985), humor adalah sesuatu yang menggelikan hati. Dari sudut pandang ilmu psikologi, tawa adalah salah satu cara manusia berkomunikasi. Humor dan tawa jelas berhubungan erat.

Dalam masyarakat, humor mempunyai makna sosial. Ada tawa sinis atau mengejek, sehingga orang yang menjadi bahan tertawaan akan tersisih dari kelompoknya. Bila orang yang tidak saling kenal tertawa, maka muncul rasa kebersamaan. Bila sudah saling kenal lalu tertawa bersama-sama, maka keakraban semakin tercipta.

Penelitian ilmiah menunjukkan, tawa atau humor menentukan kedudukan seseorang. Pelontar joke-joke segar biasanya adalah para pemimpin, pejabat, atau kaum intelektual. Ingat Gus Dur, ‘kan? Meskipun beliau cuma bilang, “Gitu aja kok repot”, banyak orang sudah ngakak atau ngikik. Padahal, ucapannya tersebut bernada serius. Bahkan, kata-kata “fenomenalnya” itu kini sering dipelesetkan banyak pihak.

Dari segi penelitian medis, humor mempunyai manfaat besar, yakni untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap rasa sakit. Menurut Radio Suara Jerman Deutsche Welle, Psikolog Universitas Zurich, Willibold Ruch pernah melakukan percobaan terhadap sejumlah sukarelawan. Dia mengajak beberapa pasiennya menonton film komedi. Ternyata mereka lebih dapat menahan rasa sakit daripada pasien yang tidak menonton film komedi.

Masih penasaran, Ruch mencoba usaha lain, yakni memasukkan tangan pasien ke dalam es. Mereka yang tertawa terbukti dapat lebih tahan lama terhadap dingin daripada mereka yang tidak tertawa. Bisa jadi menurut telaah ilmu fisika, tertawa menyebabkan energi panas mengalir pada tubuh kita.


Sejarah Humor

Humor mungkin sudah ada sejak manusia mengenal bahasa, atau bahkan lebih tua. Jika dilacak asal usulnya, humor berasal dari kata Latin umor yang berarti cairan. Sejak 400 SM, orang Yunani kuno beranggapan bahwa suasana hati manusia ditentukan oleh empat macam cairan di dalam tubuh, yaitu darah, lendir, empedu kuning, dan empedu hitam. Perimbangan jumlah cairan tersebut menentukan suasana hati.

Humor atau komedi sering kali dipandang mempunyai tujuan utama untuk menghibur. Filsuf Yunani Aristoteles (384-322 SM) sebaliknya beranggapan bahwa tujuan komedi adalah sebagai cermin bagi masyarakat dengan harapan berbagai perbuatan tercela atau buruk yang ditampilkannya akan dikoreksi.

Satu abad kemudian, penulis sandiwara lucu Yunani Aristophanes menyelenggarakan sekitar lima puluh pementasan. Isinya tentang satire dan parodi. Para akademisi Barat pernah menyatakan bahwa humor sesekali digunakan oleh para penceramah yang menggunakan kitab Perjanjian Lama (Homer, 2010).

Humor berkembang di Inggris pada abad ke-16. Pada masa tersebut terdapat penulis dan pemain teater humor yang sering disebut pemain komedi. Dua bentuk humor yang dikenal adalah humor dalam kata-kata dan humor dalam tingkah laku. Abad ke-17 merupakan zaman yang sangat pesat bagi perkembangan humor di Inggris, terutama dalam hal teater komedi dan naskah humor. Teater komedi akhirnya menjadi tradisi masa selanjutnya.

Pertengahan abad ke-18, teater humor bermetamorfosis menjadi satire. Sampai akhir abad ke-18, bentuk teater ini menjadi mode di seluruh daratan Eropa. Abad ke-19, humor di Eropa menentukan bentuk baru dalam wujud komik. Abad itu ditandai dengan munculnya berbagai macam komik humor dari Jeman, yang kemudian menjadi kegemaran seluruh daratan Eropa, bahkan sampai ke daratan Amerika dan Asia. Di daratan Eropa dan sebagian Amerika, humor sudah dianggap menjadi bagian dari kehidupan. Juga sebagai suatu seni yang setara dengan seni lainnya. Komedi dan satire tetap bertahan di kalangan tertentu. Charlie Chaplin (lahir 1889) adalah seorang komedian terkenal di dunia humor modern. Film yang dibintanginya memberi inspirasi besar sekali dalam perkembangan humor pada umumnya. Begitu juga Mickey Mouse, tokoh kartun ciptaan Walt Disney.

Di Indonesia secara informal, humor sudah menjadi bagian dari kesenian rakyat, seperti ludruk, ketoprak, lenong, wayang kulit, dan wayang golek. Unsur humor di dalam kelompok kesenian menjadi unsur penunjang, malahan menjadi unsur penentu daya tarik. Humor dalam istilah lainnya sering disebut lawak, banyolan, dagelan, dan sebagainya. Sejak 1960-an terbentuk berbagai grup lawak Atmonadi dkk, Kwartet Jaya, Srimulat, dan Surya Grup. Mereka sering mengisi acara televisi. Begitu pula di tahun 2010 ketika Opera van Java menjadi tontonan favorit di sebuah stasiun televisi swasta. Perkembangan lain terjadi pada media cetak. Tahun 1960-an terbit beberapa majalah humor, namun tidak bertahan lama. Biarpun begitu cerita-cerita lucu, anekdot, karikatur, dan kartun sering dijumpai pada media cetak hingga sekarang.


Fungsi Humor

Menurut Sujoko (1982) humor memiliki beberapa fungsi, yakni (1) untuk melaksanakan segala keinginan dan segala tujuan gagasan atau pesan; (2) untuk menyadarkan orang bahwa dirinya tidak selalu benar; (3) untuk mengajar orang melihat persoalan dari berbagai sudut; (4) untuk menghibur; (5) untuk melancarkan pikiran; (6) untuk membuat orang mentolerir sesuatu; dan (7) untuk membuat orang memahami soal pelik.

Antropolog James Danandjaya mengatakan bahwa fungsi humor yang paling menonjol adalah sebagai sarana penyalur perasaan yang menekan diri seseorang. Perasaan itu bisa disebabkan oleh macam-macam hal, seperti ketidakadilan sosial, persaingan politik, ekonomi, suku bangsa atau golongan, dan kekangan dalam kebebasan gerak, seks, atau mengeluarkan pendapat.

Menurut Arwah Setiawan (1988) humor dapat dibedakan berdasarkan bentuk ekspresi. Sebagai bentuk ekspresi dalam kehidupan kita, humor dibagi menjadi tiga jenis, yaitu (1) humor personal, yaitu kecenderungan tertawa pada diri kita, misalnya bila kita melihat sebatang pohon yang bentuknya mirip orang sedang buang air besar; (2) humor dalam pergaulan, misalnya senda gurau di antara teman, kelucuan yang diselipkan dalam pidato atau ceramah di muka umum; dan (3) humor dalam kesenian atau seni humor.


Relief Candi

Entah sejak kapan humor dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Sulit menemukan bukti tertulis yang menguraikan hal tersebut. Namun selera humor sudah dimiliki masyarakat Indonesia sejak abad ke-9, sebagaimana terpampang pada relief-relief candi.

Pada candi Borobudur, misalnya, terdapat sebuah relief yang menggambarkan sebuah perahu bercadik sedang terombang-ambing. Ketika sejumlah ABK sibuk pontang-panting membenahi layar, seorang ABK justru enak-enak saja nongkrong “membuang hajat” di atas perahu itu. Buat yang belum mengerti tentu tidak peduli dengan gambar itu.

Lain lagi pada relief candi Prambanan. Seekor kera sedang bersorak kegirangan melihat ekor temannya tersulut api. Ada pula seekor kera iseng yang tangannya berusaha merogoh-rogoh “sesuatu” di dalam kain yang dikenakan seorang wanita. Pada relief lain, seorang panakawan sambil mengendap-endap berusaha mengintip sepasang manusia yang tengah memadu kasih.

Sebenarnya kisah pada relief candi diambil dari berbagai kitab yang disakralkan. Tapi dasar seniman Indonesia jadul yang berselera humor, maka adegan-adegan konyol sering menjadi bumbu tambahan. Padahal di negara asalnya, India, penggambaran relief benar-benar mengikuti kaidah keagamaan.

Pada relief candi, termasuk naskah-naskah kuno, juga muncul para pengiring yang sekarang disebut panakawan (punakawan). Salah satu relief itu tergambar pada candi Prambanan. Para pengiring tampak berpenampilan tampan dan cantik. Bentuk tubuh mereka normal seperti tokoh utama. Kala itu istilah panakawan belum dikenal.

Panakawan berasal dari kata, pana (mumpuni) dan kawan (seseorang yang cukup dikenal). Istilah panakawan baru muncul pada masa Yasadipura, abad ke-18 di Surakarta. Istilah sejenis panakawan dijumpai dalam kakawin Gathotkacasraya yang ditulis pada masa Raja Warsajaya dari Kadiri (1104-1135). Kakawin tersebut memuat istilah Jurudyah Punta Prasanta untuk menerangkan pengiring sang tokoh utama, Abhimanyu.

Pada masa setelahnya, yakni kerajaan Majapahit, candi-candi dari masa itu, seperti Tegawangi, Kedaton, dan Surawarna, menampilkan relief adegan pengiring berbadan gemuk. Pengiring tersebut merupakan bagian dari cerita Sudamala. Digambarkan mereka sedang dimabuk asmara dalam posisi menggelikan.

Semar yang berbadan serba bulat, berbibir maju, dan bermata besar, muncul kemudian, antara lain pada candi Sukuh. Semar tak melulu memberikan nasihat, melainkan juga humor untuk tuannya. Pada masa itu muncul pula nama-nama pengiring lain, seperti Petruk, Gareng, dan Bagong. Mereka tidak hanya sekadar penasihat tokoh-tokoh utama, tapi juga berlakon sebagai pelawak dan kritikus. Memasuki abad ke-20, panakawan populer dalam pertunjukan wayang, ketoprak, dan seni pertunjukan lainnya.


Humor Politik

Humor banyak kategorinya. Yang dikenal luas adalah humor politik. Humor politik umumnya berkenaan dengan penguasa atau pejabat. Di negara liberal, humor politik merupakan alat ampuh untuk menyindir pihak penguasa. Misalnya tentang Wakil Presiden AS Dick Cheney yang beberapa waktu lalu secara tidak sengaja menembak seorang rekannya ketika tengah berburu. Di negara bebas dan terbuka, olok-olok terhadap pejabat negara bukan merupakan “kejahatan serius”. Tak urung, pelawak-pelawak AS sering menirukan ulah Cheney itu.

Sebaliknya di negara tertutup, pernah ada semacam ketakutan bila humor-humor politik diceritakan saat seorang pejabat masih berkuasa. Ketika rezim Uni Soviet runtuh, humor-humor politik begitu banyak keluar. Kalau semula hanya diceritakan secara sembunyi-sembunyi, maka begitu terjadi glasnost (keterbukaan), humor politik beredar ke mana-mana. Bahkan sempat dibukukan dalam berbagai bahasa, termasuk Mati Ketawa Cara Rusia. Di Indonesia humor politik banyak muncul sejak lengser-nya Presiden Suharto.

Humor politik di Indonesia umumnya tercipta di kalangan kampus atau akademisi pada acara-acara santai macam orientasi studi, api unggun, dan perkemahan, bahkan pada acara-acara ilmiah seperti seminar, diskusi panel, dan lokakarya. Setelah itu tersebar dari mulut ke mulut. Dulu, humor politik masih dianggap sesuatu yang tabu dan sensitif. Siapa yang ketangkap intelijen, bisa-bisa berurusan dengan laksus atau kopkamtib.

Humor politik pada zaman Orba umumnya berkenaan dengan Presiden Suharto dan keluarganya. Simak saja singkatan-singkatan berikut: RCTI = Ratu Cendana Turunan Iblis, TPI = Tutut Penguasa Indonesia, Tutut = Tanpa Usaha Tapi Untung Terus, Bimantara = Bapak Ibu Mantu Anak Tamak dan Rakus atau Bambang Ingin Menguasai Nusantara, dan Timor = Tommy Ingin Menguasai Order. Dan masih banyak lagi, tentunya.

Saking kreatifnya bangsa Indonesia, uang kertas pun bisa dijadikan bahan ledekan. Coba perhatikan uang kertas Rp 500 dan Rp 50.000 yang sekarang sudah ditarik dari peredaran. Yang satu bergambar orang utan. Satunya lagi dikatakan gambar “bapaknya orang utan”. Begitulah rupanya cara orang merefleksikan ketidaksenangan, kritikan, atau kebencian terhadap penguasa atau mantan penguasa.


Pejabat

Pada zaman Orba, PDI dipelesetkan dari Partai Demokrasi Indonesia menjadi Presiden Dan Isteri, sementara PPP dari Partai Persatuan Pembangunan menjadi Putra Putri Presiden. Malah nama seorang menteri, Harmoko, “dipermak” menjadi Hari-hari Omong Kosong dan Habibie menjadi Hari-hari Bikin Bingung.

Selain itu ada tebakan begini, “Dulu Menteri Penerangan Harmoko memiliki rambut belah di tengah, namun sekarang berubah menjadi belah pinggir. Apa sebabnya?” Ini karena, “Atas petunjuk Bapak Presiden”. Kalimat “religius” yang sering kali diucapkan Harmoko ketika memberikan keterangan pers.

Simak pula joke yang pernah dilontarkan Gus Dur dalam sebuah acara di televisi swasta. Alkisah suatu ketika Presiden Suharto sedang menunggang kuda. Tiba-tiba beliau terjatuh dari kuda, lalu terbawa arus sungai sampai beberapa kilometer. Beruntung, beliau hanya pingsan dan berhasil diselamatkan seorang pengail. Sambil mengeringkan pakaian Suharto, orang desa itu bergumam, “Moga-moga yang saya tolong itu adalah orang besar”.

Suharto yang baru siuman segera menyahut, “Benar Bapak, saya adalah orang besar. Saya Suharto, pemimpin Bapak. Karena Bapak telah menolong saya, maka Bapak boleh mengajukan satu permintaan kepada saya,” kata Suharto.

“Kalau begitu mohon Bapak jangan bilang kepada siapa-siapa bahwa saya telah menolong Bapak,” kata si orang desa itu.

Makna humor akan terasa, bila masyarakat banyak mendengar berita politik. Bila masih awam, tentu susah menjabarkan isi humor Gus Dur itu.

Sebenarnya banyak humor politik menyangkut keluarga Cendana beredar dalam bentuk stensilan, fotokopian, atau ketikan biasa. Ini terjadi setelah Suharto tidak berkuasa lagi. Kumpulan humor seperti itu sempat dibukukan dan dijual secara asongan di perempatan jalan dan kampus-kampus.

Ada juga humor tentang mantan-mantan Presiden RI: Soekarno dikatakan negarawan, Suharto hartawan, B.J. Habibie ilmuwan, Abdurachman Wahid wisatawan, dan Megawati rupawan. Hanya tentang SBY belum terdengar jelas.

Tetapi konon beberapa murid SD yang belajarnya gratisan berkat kompensasi dana BBM sedang bermain “kabinet-kabinetan”. Badu yang terkenal nakal dan bodoh diusulkan menjadi “Menteri Keuangan”. Namun banyak “anggota DPR” tidak setuju karena “nilai matematika Badu amat jelek”.

Kalau begitu kita jadikan dia “Menteri Pertahanan”. Ini pun menuai protes karena “badan Badu terlalu kerempeng”.

Oh, mungkin pantasnya dia “Menteri Komunikasi dan Informatika”. Juga tidak disetujui karena “cara berbicara Badu masih tergagap-gagap”.

Baiklah, supaya Badu tidak kecewa, bagaimana kalau kita angkat dia menjadi “Presiden”. Setuju?

Setujuuuuuuuu! Yang penting kita juga SBY-JK, Susah Bensin Ya Jalan Kaki.

Kata orang bijak, humor adalah obat stres atau obat awet muda. Dalam ilmu antropologi, humor dipandang sebagai folklore (cerita rakyat) sehingga bisa dikaji secara ilmiah. Kata iklan di televisi yang pernah populer, orang utan saja punya selera humor. Kata orang bijak lainnya, manusia juga punya selera humor.

Jika kita pernah belajar matematika, maka ada dua pernyataan. Pertama, orang utan punya selera humor. Kedua, manusia punya selera humor. Jadi kesimpulannya, kita sama dengan orang utan, ha…ha…ha… Ya, humor bukan hanya ha…ha…ha…tapi juga mengandung sindiran.


Humor Arkeologi

Di dunia arkeologi humor berbau politik juga sering terdengar. Tidak jelas siapa yang pertama kali melontarkan joke-joke segar seperti itu.

Ini salah satunya: alkisah para Egyptolog (ahli tentang Mesir) sedang berkumpul meneliti penemuan arkeologi terbaru, yaitu sebuah mumi. Para pakar itu berdatangan dari seantero dunia. Sudah berhari-hari mereka berdiskusi dan membuka lembaran buku serta catatan. Sayangnya mereka belum mampu juga menguak jati diri mumi itu.

Tiba-tiba nyeletuk Egyptolog dari AS, “Saya pernah baca bahwa untuk hal-hal yang muskil, kita bisa menanyakan hal itu kepada orang Indonesia.”

Mereka pun lalu sepakat untuk menghubungi kantor perwakilan Indonesia di Mesir dan terjadilah dialog. “Kirimkan saja muminya ke kantor. Mudah-mudahan dalam waktu singkat, kami bisa mengungkapnya,” kata Duta Besar Indonesia.

Padahal, kepalanya cukup pusing ketika menyadari bahwa dirinya asal jawab saja. Tetapi dia cepat mendapat akal dan segera memutar telepon Kapolda Antah Berantah dan menjelaskan permasalahannya. “Kirim saja ke kami, Pak. Dijamin beres deh,” jawab sang Kapolda dengan lantang.

Benar saja, seminggu kemudian, mumi itu telah kembali ke kantor perwakilan Indonesia di Mesir dengan jati diri yang jelas dan lengkap. Mumi pun segera dikirim kembali kepada para profesor arkeologi yang sedang meneliti. Rasa penasaran bapak duta besar begitu mengganggu dan dia segera menghubungi bapak kapolda.

“Bagaimana ceritanya bisa terungkap?” tanyanya. Bapak Kapolda menjawab dengan tawa ringan, “Terus terang, saya tidak tahu. Waktu itu saya kirim ke Kapolsek Abrakadabra. Ini nomor teleponnya,” jelas sang Kapolda.

Ketika telepon Kapolsek Abrakadabra berdering, terjadilah dialog. “Tapi, Bapak jangan cerita sama siapa-siapa ya,” kata Bapak Kapolsek ketika ingin memberi tahu caranya mendapatkan data dari mumi itu.

“Ya, saya berjanji…”

“Begini Pak, Si mumi itu saya gebukin biar cepat ngaku. Soal lain itu sih urusan belakangan,” jelas Bapak Kapolsek singkat (ketawa-ketiwi.com).

Joke yang lain begini: Tim arkeologi dari Amerika, Inggris, dan Indonesia tersesat di lorong di bawah sebuah piramida kuno di Mesir. Tiba-tiba sebuah mumi berusia ribuan tahun bangkit dan mendekati ketiga arkeolog yang kontan jadi pucat pasi itu.

“Hai, manusia. Siapa kalian dan dari mana asalmu?” tanya mumi dengan suara menggelegar.

“Nama saya Michael, Tuan Mumi. Saya dari Amerika sebuah negara adidaya,” ujar sang arkeolog dengan membusungkan dadanya.

“Hah… Amerika. Aku tak kenal negerimu. Kalau kamu dari mana?” tanya mumi kepada arkeolog berkulit putih satunya.

“Saya dari Inggris, Tuan Mumi. Nama saya Charles,” jawab arkeolog asal Inggris itu.

“Inggris? Di mana negeri itu?” tanya mumi.

“Inggris adalah sebuah negeri yang memiliki jajahan paling banyak di dunia,” ujar si Inggris menyombongkan diri.

“Maaf, aku tak kenal bangsamu! Hei, kamu orang pendek dan berkulit sawo matang! Dari mana asalmu?” tanya mumi.

“Tuan Mumi, nama saya Sugeng asal Indonesia,” jawab sang arkeolog Indonesia.

“Haaa…?! Kamu dari Indonesia?” tanya mumi sambil berbisik, “Omong-omong Soeharto masih jadi Raja Jawa ya?!” (geocities.com).

Ha…ha…ha…he…he…he…hi…hi…hi…ho…ho…ho…hu…hu…hu…mungkin hanya orang Indonesia yang memiliki ketawa lima jenis ini. (Djulianto Susantio)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: