Oleh: hurahura | 18 November 2017

Di Candi Gumpung Pernah Ditemukan Arca Prajnaparamita

Gumpungku-1Candi Gumpung (Foto: Djulianto Susantio)

Dari kejauhan candi itu terlihat anggun. Warnanya merah, menandakan berbahan bata. Rupanya candi itu sudah dipugar karena bentuknya sudah tidak berantakan lagi.

Ukuran candi lumayan besar, yakni 17,90 meter x 17,90 meter. Tinggi candi sekitar tiga meter. Candi itu tidak memiliki ruang. Arah hadap candi ke timur, mungkin disesuaikan dengan matahari terbit. Itulah yang di mata masyarakat dikenal sebagai Candi Gumpung. Lokasinya di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Muarosebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.


Pipi tangga dan makara

Menurut Bambang Budi Utomo dalam buku Candi  Indonesia Seri Sumatera, Kalimantan, Bali, Sumbawa (Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, 2014),  pada candi terdapat satu tangga atau semacam “antarala” untuk menuju gerbang kecil di dinding timur candi. Pada bagian timur itu ada satu pipi tangga dan satu makara.

Kemungkinan candi itu pernah mengalami dua atau tiga kali tahap pembangunan. Hariani Santiko, misalnya, mengatakan bahwa Candi Gumpung dibangun dua kali.

Struktur pertama Candi Gumpung berbentuk lapik besar, pejal, dengan pintu tanpa tangga di sebelah timur. Di atas lapik besar tersebut tertata lima stupika (stupa kecil) dalam bentuk mandala vajradhatu. Kelima stupa tersebut adalah lambang dari Vairocana (tengah), Amodhhasiddha (utara), Aksobhya (timur), Ratnasambhāwa (selatan), dan Amitabha (barat).

Mandala Vajradhatu menandakan candi itu dari agama Buddha Vajrayana. Pendapat tentang latar belakang keagamaan candi tersebut dikemukakan oleh Boechari pada 1985. Dasarnya pembacaan peripih Candi Gumpung, berupa tulisan-tulisan di atas lempengan emas yang dipendam di dasar candi. Struktur semacam itu mirip dengan struktur Lama Stupa di Cina.

Berdasarkan bentuk huruf yang dijumpai pada lempengan emas peripih tersebut, ditafsirkan pembangunan candi kali pertama dilakukan pada abad ke-9–10 Masehi.

Ada kemungkinan bagian atas struktur kedua Candi Gumpung diberi tambahan teras. Penambahan itu membentuk ruang yang difungsikan untuk menempatkan arca Prajnaparamita yang memiliki ciri berasal dari abad ke-13.

Candi Gumpung mempunyai pagar keliling berukuran 150 meter x 155 meter. Gerbangnya berada di sebelah timur. Di bagian dalam terdapat pagar kedua yang bentuknya unik karena ujung pagar tersebut bersatu dengan pagar pertama di sebelah utara. Susunan bata pagar yang membujur utara-selatan dan melintang timur-barat berada di kuadran barat daya. Ada dua gerbang, yaitu di pagar timur dan barat. Gerbang sebelah timur lebih besar dan diperkirakan sebagai gerbang utama.


Festival Europalia

Di areal Candi Gumpung pernah ditemukan arca Prajnaparamita. Temuan lain berupa tempat kedudukan berupa bunga padma (padmasana) dari bata. Kedua artefak itu ditemukan pada saat dilakukan pemugaran bangunan induk.

Arca Prajnaparamita dari Candi Gumpung mirip arca Prajnaparamita dari kompleks Singasari, yang kini disimpan di Museum Nasional. Hanya koleksi dari Candi Gumpung itu tidak memiliki sandaran. Meskipun bagian kepala hilang dan bagian lengan terpotong, sisa-sisa gaya seni yang tinggi masih terlihat jelas dari setiap detail pahatan. Sejak Oktober 2017 lalu, arca Prajnaparamita itu dibawa ke Eropa untuk mengikuti Festival Europalia. Direncanakan akhir Januari 2018 akan kembali ke tanah asalnya.

Gumpungku-2

Arca Prajnaparamita, meskipun kepala hilang dan lengannya terpotong, tetap memancarkan keindahan (Foto: Bujang, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi)

Selanjutnya ditemukan peripih dengan enam lubang berbentuk bujur sangkar pada dasar bangunan induk. Di sekitar peripih terdapat berbagai macam benda ritual upacara, antara lain lempengan emas, cepuk emas, perunggu, dan batu permata.

Gumpung-01

Lempengan emas (Foto: Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi)

Salah satu lempengan itu berbentuk persegi panjang 3,2 cm, lebar 1 cm, dan berat 0,94 gram. Permukaan lempeng polos, artinya tidak terdapat tulisan ataupun ragam hias.

Gumpung-02

Cepuk emas (Foto: Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi)

Temuan lain cepuk atau wadah yang terbuat dari emas. Cepuk ini masih terlihat utuh, namun terdapat pecahan di bagian bawah. Ukuran cepuk diameter 6,3 cm dan tinggi 3,2 cm dengan berat 37,67 gram.***

Penulis: Djulianto Susantio

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: