Oleh: hurahura | 28 Oktober 2011

Goa Tengkorak Sengaja Dirusak

* Pertambangan Jadi Ancaman

KOMPAS, Selasa, 25 Oktober 2011 – Goa Tengkorak di Pegunungan Batu Buli, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, rusak oleh pertambangan batu putih yang dilakukan masyarakat. Padahal, di dalam goa itu terdapat tengkorak manusia homosapiens berumur ribuan tahun.

”Sekarang goanya hancur oleh pertambangan. Padahal, goa itu situs penting di Kalimantan Selatan,” kata Bambang Sakti Wiku Atmojo, Kepala Balai Arkeologi Banjarmasin, di sela Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi (EHPA) 2011 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin (24/10).

Kegiatan EHPA hingga 27 Oktober diikuti 115 peserta dari berbagai pemangku kepentingan, seperti Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslitbang Arkenas) beserta balai arkeologinya, akademisi, serta pengelola kebudayaan dan pariwisata daerah. Ada empat pokok bahasan pada pertemuan itu, yakni dari ranah akademis, ideologis, praktis, dan pemasyarakatan hasil penelitian.

Aktivitas pertambangan di Goa Tengkorak, kata Bambang, terjadi karena masyarakat tak paham bahwa di tempat itu tersimpan potensi arkeologi cukup besar. Penemuan tengkorak manusia purba terjadi tahun 1999 saat tim melakukan penelitian.

Truman Simanjuntak, arkeolog dari Puslitbang Arkenas, mengatakan, di goa itu ada banyak tengkorak dan tulang manusia. Namun, sebagian tergolong baru (recent), berumur 100-200 tahun. Tulang-belulang berserakan di permukaan. ”Di dalam mungkin banyak yang berumur ribuan tahun,” ucapnya.


Banyak yang rusak

Menurut Truman, banyak potensi arkeologi di Indonesia yang rusak karena ulah manusia, baik penambangan maupun perkebunan. Contohnya di Maros, Sulawesi Selatan, yang terancam pertambangan marmer dan semen; di Tulung Agung, Jatim, oleh pertambangan marmer; serta di Wonosari, DI Yogyakarta, juga terancam tambang marmer.

Semua itu, lanjut Truman, bisa terjadi karena alasan ekonomi. Selain itu, para penentu kebijakan tidak paham nilai arkeologi. Izin keluar tanpa memperhatikan pelestarian. ”Ada pula yang paham. Karena alasan uang, tetap saja diterjang untuk pertambangan,” katanya. (WER)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori