Oleh: hurahura | 20 Oktober 2012

Diteliti, Peninggalan Majapahit di Terung

KOMPAS, Rabu, 17 Oktober 2012 – Petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya Mojokerto mulai meneliti situs yang diduga peninggalan Kerajaan Majapahit di Desa Terung Wetan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (15/10). Situs diduga berasal dari abad ke-14.

Peninggalan di Desa Terung Wetan ini berupa struktur batuan menyerupai altar berbentuk huruf J, artefak berupa potongan gerabah dan keramik, batu seperti pemberat kapal laut, serta tumpukan batu bata kuno menyerupai pagar benteng.

”Dari ukuran bata hampir sama dengan di Trowulan,” kata Ahmad Hariri, arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya Mojokerto, di lokasi situs, Senin (15/10). BPCB Mojokerto dulu bernama Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan.

Peninggalan paling mencolok pada situs itu adalah struktur batuan berbentuk huruf J berukuran 10,6 meter dan 5,9 meter untuk dua sisi terpanjang. Tingginya 0,85 sentimeter. Belum dapat dipastikan struktur itu dulu candi atau bangunan lain.

Jamiat Rukmono Adi, petugas Pengamanan dan Penyelamatan BPCB Mojokerto mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan polisi untuk pengamanan situs. Belum dapat dipastikan adanya ekskavasi lanjutan.

Temuan itu menindaklanjuti temuan seniman Jansen Jasien dan warga Terung, April lalu. Jansen meneliti jejak peninggalan Majapahit di Terung untuk penyelesaian karya seni tentang legenda Terung. Selama tiga bulan, Jansen dan warga menggali 2 meter sebelum menemukan struktur batuan berbentuk huruf J itu secara utuh.

Pasca-penemuan, warga dari desa lain kerap mengunjungi situs tersebut. (ILO)

Iklan

Responses

  1. Saat ini selaku Koordinator Tim Kecil Percepatan Pengembangan Geopark Lumpur Sidoarjo (Lusi), sedang menghimpun aspek Culture Diversity (keragaman budaya) di Wilayah Sidoarjo, mendukung aspek Keragaman geologi (Geodiversity) utama dari semburan Geyser Lusi, dan aspek Keragaman Hayati (biodiversity) dengan situs utama Pulau Lumpur-WanaMina.
    Sebagai Dokumen Utama yang memadukan Geodiversity dan Culture Diversity adalah Tulisan Awang Satyana (2006), yang intinya menampilkan Hipotesis bahwa Kemunduran Kerajaan Majapahit dan Jenggala salah satu factor juga terkena Bencana Semburan Lumpur yang dianalogikan dengan Semburan Lusi yang sekarang dengan pendekatan The Present is the key to the Past.
    Kami mengundang komunitas Majapahit dan Komunitas “Budaya” lainnya untuk mengikuti Forum Diskusi di Embrio Museum Geopark Lusi “Situs-Situs Budaya Majapahit di Sidorjo dan Kisah Timun Mas, sebagai kondisi actual terhadap Tesis Hubungan Majapahit den Kebencanaan Semburan Lumpur”.
    Hardiprasetyo
    hardiprasetyo9@gmail.com
    hardiprasetyolusi.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori