Oleh: hurahura | 6 Desember 2012

Penelitian Pembangunan Infrastruktur dan Sistem Jaringan Transportasi Kereta Api pada Abad ke-19 di Wilayah Kabupaten Semarang dan Sekitarnya, Provinsi Jawa Tengah

100_0746Stasiun Semarang Gudang selalu tergenang rob

Nilai penting pembangunan sistem transportasi kawasan pantura Jawa sesungguhnya bukanlah hal baru. Ini karena jauh sebelumnya sudah dirintis, sebagaimana terekam dalam sumber sejarah dan bukti arkeologi. Pada awal abad ke-15 kawasan Semarang sudah masuk dalam jaringan perdagangan jarak jauh. Penjelajah Portugis, Tome Pires, pada 1513-1514 sudah menyebut sejumlah pelabuhan di sepanjang pantura antara lain Camaram atau Semarang. Sebagai sebuah kota di pesisir Jawa, Semarang mendapat perhatian khusus pada masa pemerintahan kolonial Belanda pada permulaan abad ke-19.

Pada pertengahan abad ke-19, Semarang telah digambarkan sebagai sebuah kota yang dilengkapi dengan fasilitas militer dan sipil. Perannya sebagai pusat perlintasan juga ditandai oleh posisinya dalam jaringan darat Anyer-Panarukan yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1808-1810. Jaringan ini berfungsi untuk mendukung pertumbuhan kepentingan pelabuhan laut di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa.

Ketika itu berbagai ekspor telah dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Hasil bumi seperti kayu, karet, kopi, dan gula banyak disukai di berbagai negara. Hasil bumi dan hasil perkebunan dibawa melalui jalan darat dengan pedati yang ditarik oleh hewan. Pemerintah Belanda bahkan pernah mengimpor unta dari Afrika dan mendorong peternakan kerbau. Ini dilakukan karena izin untuk membangun armada kereta api sangat sulit.

Akhirnya pemerintah menunjuk sebuah perusahaan swasta untuk membangun jaringan kereta api. Dengan adanya jaringan itu kondisi perekonomian pemerintah kolonial di Jawa berubah drastis. Pencangkulan tanah untuk stasiun kereta api pertama di Semarang dilakukan oleh Gubernur Jenderal Mr. L. A. J. W. Baron Sloet van Beele pada 17 Juni, 1864. Jalur kereta api ini milik Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), dengan trayek pertama Semarang – Tanggung, dibuka pada 10 Agustus 1867. Perusahaan ini pula yang membangun kantornya yang kini dikenal dengan Lawang Sewu (1904-1907). Pembangunan perkeretaapian ini tercatat dalam sejarah awal perkeretaapian dunia yang juga dibuat Eropa di Brasil dan Chili (1852), Argentina (1857), India (1853), dan Australia (1854).


Stasiun Pertama

Masih menjadi tanda tanya di manakah stasiun pertama itu sekarang? Ada yang berpendapat stasiun Tambaksari. Lokasi stasiun ini terletak di kelurahan Kemijen, sekitar satu kilometer dari Kota Lama dan tidak jauh dari pelabuhan. Keadaan stasiun saat ini sungguh menyedihkan karena selalu dikepung oleh rob (air laut pasang) sehingga stasiun tersebut tidak difungsikan lagi.

Sumber lain menyebutkan stasiun pertama di Semarang bernama Kemijen. Puing-puing bangunannya ditemukan dekat stasiun Tawang. Bentuknya sudah tidak mirip bangunan layaknya stasiun, karena tempat itu sudah menjadi tambak. Oleh karena dulunya stasiun ini berada satu meter di atas permukan air laut, maka sering terjadi banjir rob.

Pendapat lain menyatakan stasiun tertua di Semarang bernama Samarang NIS. Sayang saat ini sisa-sisanya sulit dilacak. Kendati demikian, jejak bangunan tersebut masih terekam di peta Semarang tahun 1866. Nama stasiun pertama di Semarang, memang masih simpang siur. Yang disebut stasiun Tambaksari, stasiun Kemijen, dan stasiun Samarang NIS terletak di wilayah yang dulunya disebut Tambaksari, sekarang kelurahan Kemijen.

Penelitian tim arkeologi di bawah koordinasi Pusat Arkeologi Nasional, diawali dengan menyusuri gang sempit di RT 2 RW 3 kelurahan Kemijen. Perumahan di sini sangat kumuh karena berukuran kecil. Rata-rata rumah telah amblas sedalam kira-kira tiga meter. Begitu pula bangunan kuno yang ada di sana.

Stasiun ini terletak di kelurahan Kemijen, kecamatan Semarang Timur. Kini telah mengalami banyak perubahan berupa penghilangan dan penambahan material baru. Sisa bangunan yang tersisa berupa dinding bangunan sepanjang 90,50 m yang mengarah ke 330˚ (BL-TG) dengan lebar 8,60 m. Pada dinding bangunan terdapat pintu dengan lebar 1,45 m dan tinggi 60 cm. Pintu ini sudah amblas lebih dari 1 m. Di atasnya terdapat ventilasi berbentuk bundar dengan diameter 74 cm (luar) dan 52 cm (dalam), jumlahnya empat buah.

Koordinat dinding selatan dari bangunan stasiun Samarang NIS adalah S06.57.23,1 dan E110.25.53,0. Pada dinding luar sisi utara terdapat sekitar 17 tiang besi berbentuk bulat yang berderet memanjang mengikuti arah bangunan. Pada tiang besi tersebut menempel konsol baja sebanyak empat buah, bentuknya melengkung mengarah kedua sisi (luar dan dalam) dengan lebar 4 cm dan tebal 1 cm. Ketinggian dari lantai sekitar 2,30 m.

Dari hasil pengamatan dan dibandingkan dengan foto-foto lama koleksi Koninklijk Instituut voor Taal- Land- en Volkenkunde (KITLV), terdapat ciri yang cukup unik terdapat pada bangunan yang diduga bekas stasiun. Yang sangat membantu adalah koleksi foto JA Meesen. Dia antara lain menyebut, “…het eerste station van de Nederlandsch Indische Spoorwegmaatschappij, gebouwd 1867”. Ornamen-ornamen tersebut berupa tiang penyangga, besi lengkung, ventilasi berbentuk lingkaran, dan pintu yang melengkung di bagian atasnya. Dari sini disimpulkan bahwa stasiun Samarang NIS merupakan stasiun tertua sekaligus pertama di Indonesia. Menurut peta-peta lama yang ditumpangkan pada foto satelit Google Earth hasilnya menunjukkan bahwa stasiun ini terletak di ujung jalan Ronggowarsito (Spoorlaan).

Menurut Ramelan (85), pensiunan pegawai PJKA (nama PT KAI dulu) yang tinggal di situ sejak zaman penjajahan Jepang, bangunan bekas stasiun Samarang NIS sudah ditinggali warga ketika masa pendudukan Jepang di Indonesia. Karena itu kawasan RW 3 Kelurahan Kemijen ini juga dinamakan kampung Sporland, salah kaprah dari Spoorlaan (jalan kereta api).

Penelitian juga dilakukan dilakukan terhadap stasiun-stasiun lain, yakni Tawang, Poncol, Alastua, Brumbung, Ambarawa, Jambu, Tuntang, Tanggung, dan Kedungjati. Ternyata banyak jalur sudah tidak difungsikan lagi. Kalaupun ada yang berfungsi, sekadar untuk persilangan kereta api. Padahal kereta api merupakan transportasi masal yang murah meriah. Keuntungan jalur ini dibandingkan jalur darat lain adalah tidak mengenal kemacetan karena fungsinya sudah dilindungi undang-undang.

Pada zaman kolonial, jaringan kereta api sudah benar-benar diperhatikan secara detail. Jalur rel terus ditambah, baik oleh perusahaan swasta maupun oleh perusahaan negara. Infrastrukturnya seperti jembatan dan terowongan, merupakan kemajuan tersendiri bagi perkembangan teknologi.

Sangat disayangkan, semakin tahun fungsi kereta api semakin menurun. Beberapa jalur dihentikan operasinya, karena dianggap tidak menguntungkan secara ekonomis. Baru tahun-tahun ini fungsi kereta api akan ditingkatkan dengan pembuatan rel ganda (double track). Mudah-mudahan penelitian yang dilakukan oleh Pusat Arkeologi Nasional didukung Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, Jurusan Arkeologi UGM, Jurusan Sejarah Undip, Jurusan Arsitektur Unika Soegijapranata, Balai Arkeologi Yogyakarta, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, dan Indonesia Railway Preservation Society ini akan bermanfaat untuk masyarakat. Penelitian arkeologi ini berlangsung tanggal 20 November 2012 hingga 4 Desember 2012.


Galeri Foto:

BangunanStasiun Kedungjati

GerigiRel bergerigi, termasuk rel paling langka di dunia

Rel-kuno-1903Rel kuno yang masih tersisa

100_0963Diskusi hasil penelitian

100_0988Para peserta diskusi hasil penelitian
di Gereja Blenduk Semarang, 5 Desember 2012

100_0991Para pemakalah dalam diskusi hasil penelitian

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: