Oleh: hurahura | 29 Juli 2011

Pulau Edam (2)

Warta Kota, Kamis, 28 Juli 2011 – Karena kesibukan di pulau Edam semakin meningkat, maka VOC melarang para nelayan untuk mencari ikan di sekitar perairan pulau Edam. Mereka yang melanggar akan ditembak. Peraturan ini dikeluarkan tahun 1708. Pada 1709 seluruh pulau Edam dikembalikan oleh Camphuijs kepada pemerintah Hindia Belanda.

Pada 1715 di pulau Edam terjadi huru-hara. Sekitar 30 orang budak dari Bali mengamuk dan melarikan diri. Peristiwa serupa terjadi lagi pada 1728. Pemerintah Hindia Belanda segera mengirim serdadu untuk menumpas huru-hara tersebut. Maka untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai, pada 1729 dikeluarkan peraturan, setiap tenaga kerja di pulau Edam diberikan buku gaji. Namun pemberontakan masih terjadi sehingga pada 1731 pemerintah Hindia Belanda mengirim 50-an tentara.

Pada 1743 didirikan rumah sakit. Setelah itu pabrik tali-temali diperluas, bahkan orang-orang hukuman diwajibkan kerja paksa di pabrik tersebut. Selanjutnya pada masa Gubernur Jenderal Baron von Imhoff (1743-1750) pulau Edam dijadikan tempat tahanan politik. Di sini terdapat makam Ratu Fatimah, permaisuri Sultan Zainal Arifin dari Banten.

Pada 1720 Fatimah menjadi isteri pangeran mahkota Banten yang selanjutnya menjadi sultan (1733). Karena intrik Fatimah maka Sultan Zainal Arifin mengangkat Pangeran Syarif Abdullah yang menikah dengan keponakan Ratu Fatimah sebagai pangeran mahkota (1747). Sultan bahkan membuang keluarganya sendiri ke Ceylon. Karena sultan menderita gangguan jiwa, maka Ratu Fatimah menjadi wali-sultan (1748). Wanita ini bertindak sewenang-wenang sehingga menimbulkan kemarahan rakyat (1750). Akibatnya timbul pemberontakan besar. Fatimah segera diasingkan ke pulau Edam dan meninggal di sana pada 1751.

Untuk menanggulangi masalah pangan di pulau Edam, para tawanan wajib bekerja di sawah. Sebagian hasilnya dipakai sendiri dan sisanya dijual di Batavia dengan harga tiap 200 ikat 25 rijksdaalders. Pada 1769 dikeluarkan keputusan untuk memperbaiki dermaga, tungku, dan semua bangunan di pulau Edam. Pada 1772 terjadi lagi huru-hara. Demikian pula pada 1776. Penyebabnya adalah jumlah tawanan terlalu banyak, sementara tempat terlalu kecil. Menjelang berakhirnya kekuasaan VOC, sejumlah tahanan dipindahkan ke pulau Onrust. Pada 1795 seluruh kegiatan di pulau Edam dihentikan. Para penduduk yang berada di sana dipindahkan ke Batavia. Akhirnya pada 1800 penduduk dipaksa keluar. Sejak itu sampai 1942 kegiatan di pulau Edam tidak terdengar lagi. Hanya pada 1879-1881 semasa pemerintahan Raja Willem III didirikan menara mercu suar.

Baru pada zaman Jepang pulau Edam difungsikan kembali. Pulau ini dijadikan tempat tahanan bagi musuh yang akan menyerang Jakarta dari lautan. Untuk menghindari serangan dari udara, Jepang juga mendirikan gua-gua bawah tanah. Setelah kemerdekaan 1945, pulau Edam dipergunakan sebagai penampungan anak yatim piatu dan anak gelandangan oleh Departemen Sosial (1950-1954). Pada 1957-1958 digunakan untuk tempat panti jompo. Setelah itu diserahkan kepada TNI AL untuk gudang senjata. Pada 1970-an PN Angkasa Pura mendirikan bangunan dan pemancar untuk memandu kapal terbang yang akan mendarat di Kemayoran. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori