Oleh: hurahura | 14 Desember 2010

Seminar Konservasi: Kajian Arkeologi*

oleh: Edi Sedyawati
(Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia)

Seminar ini bertema “Peran Konservasi bagi Penyelamatan Cagar Budaya”, maka karena itulah kiranya diperlukan suatu pembahasan tentang apa itu “cagar budaya” (yang tangible, dapat disentuh/dipegang), dan bagaimana ilmu Arkeologi, yang bertugas mempelajarinya, harus mengembangkan perhatiannya untuk senantiasa memperdalam pemahaman mengenai benda-benda tinggalan masa lalu itu. Adapun jenis-jenis peninggalan masa lalu yang dapat menjadi sasaran kajian Arkeologi dapat dipilah ke dalam: (a) artefak dalam arti luas, yaitu benda-benda hasil buatan tangan manusia; dan (b) tinggalan alami yang merupakan rekam jejak perbuatan manusia, maupun yang disebabkan oleh kejadian-kejadian alami seperti letusan gunung, garis pantai, dan lain-lain. Mengenai benda-benda hasil tangan manusia itu selanjutnya dapat dipilah antara yang relatif kecil dan dapat dipindah-pindahkan, dan yang relatif besar dan tak dapat dipindah-pindah dengan mudah, seperti misalnya berbagai jenis bangunan.

Berbagai tinggalan masa lalu yang merupakan obyek kajian Arkeologi itu pada tahap-tahap tertentu dalam pelestariannya memerlukan tindakan-tindakan konservasi, dan di mana perlu juga dapat dilakukan tindakan restorasi. Tindakan konservasi dapat dipilah atas dua tujuan, yaitu: (a) pertahanan kondisi, agar tidak menjadi rusak; dan (b) menambah kekuatan dengan menambahkan agen-agen penguat tertentu untuk mencegah kerusakan benda yang bersangkutan. Contoh yang pertama adalah dengan menambahkan lapisan pelindung pada suatu benda agar tahan dari perubahan yang merusak, sedangkan contoh yang kedua adalah misalnya penambahan unsur fondasi atau penambahan lapisan kedap air yang kesemuanya itu bertujuan memperkuat struktur.

Usaha yang pada umumnya lebih besar daripada konservasi adalah restorasi, yang intinya bertujuan pemulihan. Suatu benda atau bangunan yang sudah mengalami kerusakan dapat diupayakan restorasinya sehingga utuh kembali. Contohnya adalah restorasi Candi Prambanan dan Candi Borobudur yang cukup besar-besaran itu. Dalam rangka upaya restorasi itu di mana perlu juga dilakukan konservasi, sehingga dengan demikian upaya keseluruhannya berupa bukan hanya pemulihan, melainkan pemulihan dan penguatan atau peningkatan ketahanan. Upaya itu semua memerlukan sejumlah studi pendahuluan, atau “studi kelayakan”, yang antara lain dapat menyangkut upaya-upaya pengujian terhadap aplikasi bahan-bahan penguat/pelindung terhadap materi yang hendak dilindungi atau diperkuat itu. Pengujian itu amat diperlukan untuk mencegah efek samping atau efek yang belum diperhitungkan dari penggunaan bahan-bahan penguat / pelindung tertentu.

Kegiatan konservasi koleksi museum

Suatu aspek kajian Arkeologi yang senantiasa perlu diperhitungkan adalah bantuan dari disiplin(-disiplin) ilmu lain untuk menopang upaya pemahaman atau interpretasi terhadap tinggalan-tinggalan masa lalu. Disiplin ilmu yang paling banyak dibutuhkan untuk memahami data arkeologis adalah Ilmu Sejarah dengan pendalamannya dalam kajian kearsipan, dan Filologi dengan pendalamannya dalam kajian teks-teks yang lebih berkonteks budaya, misalnya yang berisi uraian-uraian tentang pengetahuan tertentu ataupun teks-teks sastra yang seringkali juga mendapat penafsiran dalam bentuk ungkapan-ungkapan artefaktual. Di samping itu, ilmu-ilmu Fisika dan Kimia juga diperlukan untuk memahami susunan-susunan zat-zat alamiah yang merupakan bagian dari benda-benda tinggalan masa lalu yang dikaji oleh para ahli Arkeologi. Dalam hal-hal lain diperlukan juga ilmu Geologi dan Geografi untuk memahami konteks kebumian dari temuan-temuan arkeologis. Daftar ke-lintas-disiplin-an dalam kajian dasar Arkeologi dapat diperluas dengan ilmu-ilmu lain sesuai dengan pokok permasalahan yang hendak ditampilkan.

Kegiatan konservasi koleksi museum

Adapun arah dan perolehan dari kajian-kajian Arkeologi dapat dikelompokkan atas beberapa hasil akhir yang dapat diperoleh, seperti berikut:

(1) tampilan data dari hasil ekskavasi;

(2) klasifikasi dan tipologi atas data artefaktual sejenis;

(3) interpretasi fungsi (antara lain dengan menggunakan analogi etnografik, atau menggunakan data tekstual sezaman);

(4) interpretasi mengenai perkembangan, beserta sebab dan arahnya.

Pada dasarnya masing-masing arah penelitian memerlukan pertanggung-jawaban tersendiri mengenai metode dan teknik penelitian yang digunakan. Metode dan teknik penelitian baru dapat ditemukan apabila ada ‘dorongan’ khusus dari permasalahan penelitian baru yang diajukan.

Ilmu Arkeologi, seperti juga disiplin-disiplin ilmu lain, berkembang secara akumulatif dengan menapaki eksplorasi-eksplorasi data baru maupun metode baru. Di antara temuan yang diperoleh sebagai hasil akumulasi ‘pengalaman’ penelitian itu adalah misalnya ‘temuan’ mengenai periodisasi atas zaman-zaman besar yang selanjutnya dapat dijadikan titik tolak untuk mengembangkan sejumlah spesialisasi. Untuk Arkeologi Indonesia, misalnya, telah diadakan penyusunan atas zaman-zaman berurut: Prasejarah, yang selanjutnya ditahapkan atas Palaeolithicum, Mesolothicum, Neolithicum, dan zaman Perunggu-Besi, lalu zaman Sejarah yang lebih jauh ditahapkan atas zaman-zaman Hindu-Buddha, Islam, Kolonial, dan Kemerdekaan. Untuk zaman-zaman Sejarah itu seorang peneliti diharapkan menguasai bahasa-bahasa yang banyak digunakan dalam dokumen-dokumen sezaman, seperti bahasa Sankerta dan bahasa Jawa Kuna untuk zaman Hindu-Buddha, bahasa Arab untuk zaman Islam, dan bahasa Belanda lama (dan sedikit-banyak bahasa Latin) untuk zaman Kolonial. Kesemuanya itu tentunya harus disertai kemahiran membaca berbagai sistem aksara yang sesuai untuk masing-masing zaman.

Selanjutnya pada tahap interpretasi, kajian Arkeologi dapat pula menggunakan teori-teori tertentu untuk memandu interpretasi. Kebanyakan teori yang pernah dipakai untuk mengarahkan interpretasi arkeologis (dan juga historis) adalah teori-teori yang telah dikembangkan dalam bidang Ilmu-ilmu Sosial, khususnya dari Sosiologi dan Antropologi. Adapun yang banyak dikembangkan di dalam Arkeologi sendiri adalah penciptaan model-model, baik untuk menafsirkan perilaku maupun untuk melihat ke-saling-terkait-an antara berbagai kebutuhan atau tujuan hidup, yang diharapkan dapat disimak dari tinggalan-tinggalan arkeologis yang ditemukan.

Suatu masalah pelik yang senantiasa memerlukan kejelian pengamatan, tetapi juga tergantung pada ketersediaan data, adalah hubungan-hubungan antar-budaya yang terjadi di masa-masa lalu. Semoga para penggiat ilmu Arkeologi tidak kekurangan nyali untuk senantiasa berusaha menembus batas-batas pengetahuan yang ada di hari ini!

*Makalah disampaikan pada Seminar Konservasi
Balai Konservasi, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, DKI-Jakarta
Jakarta, 9 Desember 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: