Oleh: hurahura | 25 Februari 2012

Perjalanan ke Gunung Padang, Pesinden dan Presiden

Situs megalitik Gunung Padang, Cianjur (foto:SH/Tutut Herlina)

sinarharapan.co.id, 23.02.2012 – Malam telanjur larut ketika memasuki Kota Cianjur, Jumat, pekan lalu. Langit yang tanpa bulan bercahaya membuat penunjuk jalan menuju situs purbakala Gunung Padang susah ditemukan.

Padahal, kami ingin segera sampai ke tempat itu. Cerita tentang penemuan piramida oleh tim staf khusus presiden dan dunia gaib dengan pesindennya menjadi alasan untuk ke sana.

Seorang polisi berkata, perjalanan ke sana tidak bisa dilakukan malam itu. Hujan lebat yang sempat mengguyur kota itu membuat jalan sangat licin. Sebagian jalan ke sana memang terdiri dari batu dan tanah liat sehingga mobil akan mudah selip.

Keinginan untuk mengunjungi Gunung Padang baru bisa terwujud keesokan pagi. Jarak dari kota ke Gunung Padang sekitar 30 kilometer. Ternyata pemandangan menuju tempat itu sangat indah. Jalan satu-satunya ke tempat itu diapit bukit yang ditanami pohon teh sehingga tampak seperti karpet hijau yang digelar.

Suhu udara sekitar 19 derajat Celcius membuat suasana sangat sejuk. Rambu penunjuk jalan yang jelas membuat perjalanan untuk menuju ke Gunung Padang lebih mudah. Tidak perlu tanya sana-sini.

Sesampai di sana, kami sempat mengobrol dengan Syamsu, seorang pemilik warung yang berdiri di kaki bukit. Katanya, Gunung Padang dulunya sangat indah. Pohon-pohon hijau menjulang tinggi. Tetapi, sekarang Gunung Padang tampak gersang karena pohon-pohon telah ditebang.

Tempatnya yang sepi membuat Gunung Padang didatangi banyak orang dari berbagai penjuru. Bahkan, politikus juga banyak yang berduyun-duyun ke sana. Politikus terakhir yang mendatangi tempat itu berasal dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Sayang, ia lupa nama politikus itu. “Tapi dia seorang perempuan,” katanya.

Di sana pula, katanya, banyak sinden yang bersemedi dan berlatih bersuara. “Kalau sinden datang ke sana percaya suaranya akan menjadi lebih bagus, auranya memancar, dan laris,” katanya lagi. Untuk sebagian orang, Gunung Padang juga untuk bersemedi dan yoga karena dipercayai bisa memberikan energi spiritual.


Punden atau Piramida

Obrolan selesai. Perjalanan menunju puncak Gunung Padang harus dilakukan dengan berjalan kaki menaiki tangga. Bagi yang suka petualangan, perjalanan bisa dilakukan melalui tangga alami yang terjal.

Tapi bagi orang yang hanya rekreasi umumnya lebih memilih jalan melalui tangga buatan karena tidak terlalu terjal. Di dekat tangga itu, bercokol mata air yang dipercayai memberi kekuatan.

Di puncak Gunung Padang hamparan rumput hijau dan batu-batu berbentuk segilima banyak menyembul ke permukaan. Tinggi rata-rata batu itu sekitar 1 meter.

Di kaki gunung mengalir Sungai Cipanggulaan di sebelah barat, Sungai Cikuta di sebelah timur, dan Sungai Cimanggu di barat laut. Gunung Padang juga dikelilingi lima bukit, Gunung Kaharun, Gunung Emped, Gunung Malati Ciukir, Gunung Pasir Malang, dan Gunung Batu Pasir.

Orang menyebut tempat itu sebagai punden berundak, tempat nenek moyang memuja arwah. Namun, baru-baru ini, Tim Katastropik, Staf Khusus Presiden Bidang Bencana dan Bantuan Sosial mensinyalir bangunan tersebut piramida. Asumsi itu dilandasi hasil pengeboran yang dilakukan sedalam 26 meter di dua tempat di Gunung Padang.

Di sana, Petugas Juru Pelihara dari Balai Pelestarian Purbakala (BP3) Serang membantu menerangkan berbagai cerita. Nanang, salah seorang juru pelihara menjelaskan tentang lima teras di puncak yang menghadap Gunung Gede yang menjulang kebiruan dipeluk awan.

Ribuan batu andesit biroksin (batu besi) tersusun di setiap teras penuh makna. Di teras itu juga tumbuh pohon cempaka yang dipenuhi orang berziarah yang dipercaya sebagai tempat pertemuan para wali.

“Mahkota Dunia artinya kehormatan dunia, artinya peradaban umat manusia yang disebut Sunda. Sunda itu bukanlah suku atau wilayah. Gunung Padang adalah peradaban umat manusia. Makanya Kepulauan di Bali NTB dan disebut wilayah Sunda kecil, sedangkan Sunda besar terdiri dari Sumatera, Jawa, Kalimatan, dan Sulawesi,” kata Nanang.

Teras kedua adalah tempat bermusyawarah lengkap dengan meja dan kursi batunya. Teras ketiga adalah tempat pengujian dengan batu gendongnya. Teras keempat adalah tempat pertapaan dari batu, dan teras kelima dilengkapi singgasana batu.


Semak Belukar

Ia mengatakan, pada mulanya, situs tersebut tidak terlihat sama sekali. Di atas tanah Gunung Padang itu telah tumbuh semak belukar, rotan, aren, dan sebagian penduduk menanaminya dengan pohon singkong. Belakangan, Suma, seorang ketua RT menemukan kejanggalan.

“Setiap dicangkul ada batu dan batunya berdiri,” katanya. Ia kemudian melaporkan temuannya itu ke Kabupaten Serang pada 1979. Oleh kabupaten, temuan itu dilaporkan ke pemerintah pusat.

Barulah pada 1982–1983, tim dari Arkeologi Nasional (Arkenas) melakukan penggalian atau eskafasi. Dari berbagai literatur, tim tersebut diketuai Soejono. Sebelumnya, pada 1914, warga negara Belanda, NJ Krom juga melakukan penelitian.

“Setelah diteliti selama setahun mereka menyimpulkan bahwa bangunan ini punden berundak,” katanya. Menurut Yuda, seorang Juru Pelihara lainnya mengatakan, bangunan itu berusia 3000–3500 SM. Bangunan itu dibuat nenek moyang pada zaman Megalitikum. Pada 1987, situs prasejarah itu dikelola Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K).

Tak ketinggalan mereka juga menceritakan tentang usaha pengeboran yang dilakukan Tim Katastropik purba. “Mereka ngebor dalam waktu 10 hari,” katanya. Pengeboran dilakukan hingga kedalaman 26 meter.

Dari pengeboran itu ditemukan batu-batuan dan pasir. “Pasirnya seperti diayak,” ujarnya. Diketahui juga umur bebatuan yang paling dalam lebih tua dari yang terlihat di atas. “Ketika dibor menemukan batu di kedalaman 26 meter, umurnya 4700 SM,” katanya.

Ketika ditanya mengenai pandangan mereka terhadap situs itu, apakah piramida atau punden berundak, Yuda mengatakan, “Kalau bentuk piramida terlalu ramai.”

Menurutnya, hingga kini belum ada kesimpulan yang menyebut itu piramida. “Yang kami tahu untuk sementara ini adalah punden berundak, untuk semedi leluhur,” imbuhnya.

Sementara itu, Nanang juga mengatakan belum bisa mengakui ataupun tidak bangunan itu sebagai piramida. Ia mengungkapkannya dengan pepatah, “Panjang dipotong menjadi pendek, begitu juga jangan menambah yang pendek menjadi panjang.” (Bersambung/Web Warouw/Tutut Herlina)

Iklan

Responses

  1. GUNUNG PADANG, APAPUN PENDAPAT ORANG-ORANG PINTAR DAN AHLI, SEMOGA BISA BERMANFA’AT BAGI KHUSUSNYA RAKYAT JAWA BARAT, UMUMNYA BANGSA INDONESIA DAN PERADABAN DUNIA.
    MASIH BANYAK YANG BELUM TERGALI, KARENA RAKYATNYA TIDAK PERDULI .MUNGKIN HANYA BISA BERFIKIR, BAGAIMANA BISA SELAMAT DARI PENDERITAAN YANG MENDERA DIRI………, MASIH ADA SITUS PURBAKALA YANG ADA DIPERASDA PASUNDAN INI……., BILA SAMPAI SA’ATNYA PASTI AKAN TERBUKTI……….( MANA ARKEOLOG JAWA BARAT / UNPAD Dlsb, Belum bicara ?)..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori