Oleh: hurahura | 11 September 2011

Melihat Batavia dari Lukisan

Benteng Batavia karya Johannes Rach (pnri.go.id)

Warta Kota, Sabtu, 10 September 2011 – Sejarah Jakarta pada zaman VOC banyak tergambar dari lukisan. Ada berbagai macam lukisan yang menggambarkan kehidupan di Batavia pada abad ke-17 dan ke-18. Ada lukisan cat minyak, misalnya Kastil Batavia karya Andries Beeckman buatan tahun 1656. Kebanyakan lukisan Batavia dari zaman itu berupa etsa, yaitu seni cetak paling tua Eropa yang polanya dilukis dengan tangan, kemudian dicetak pada selembar kertas. Etsa yang dihasilkan bisa berwarna, bisa pula hitam putih.

Sejauh ini ada dua pelukis etsa yang diketahui melukis Batavia pada abad ke-18. Mereka adalah Johannes Rach (1720-1783) dan Jan Brandes (1743-1808). Keduanya pernah tinggal di Batavia, pada akhir 1770-an. Selain pemandangan pesisir, etsa-etsa karya Rach dan Brandes menggambarkan kehidupan sehari-hari di Batavia. Hal ini terlihat misalnya dari etsa Rach yang menggambarkan dua pria membawa seekor ayam jago aduan dan para budak yang tengah membasuh kuda. Pada etsa lain, seseorang yang seperti ulama Arab tengah berjalan-jalan. Di dekatnya terlihat seorang pria memanggul bambu besar dan pelaut mabuk yang tengah muntah-muntah.

Rincian etsa itu bisa dibaca pada sebuah buku berjudul Indonesië op Vrijdagmiddag atau Indonesia pada Jumat Sore tulisan Max de Bruijn (2009). Bruijn adalah seorang sejarawan pada Rijksmuseum Amsterdam. Ia pernah tinggal di Jakarta untuk menekuni etsa-etsa yang sudah berusia ratusan tahun tadi. Bahkan ia sampai dua kali menetap di Jakarta, pada zaman orde baru dan pada zaman reformasi. Lukisan-lukisan yang diteliti de Bruijn merupakan koleksi Perpustakaan Nasional di Jakarta. Sebelum itu kondisi lukisan rapuh, kotor, dan tidak terawat. Menurut Bruijn, lukisan Rach menggambarkan kehidupan biasa. Jadi ada bangunan, ada jalan, ada kusir, ada penjual, ada pasar, pokoknya semua mirip Jakarta sekarang.

Begitu juga dalam lukisan Kastil Batavia oleh Beeckman. Lukisan ini menjadi koleksi Rijksmuseum, Amsterdam. Pada lukisan ini terlihat orang Jawa, orang luar Jawa, orang Tionghoa, orang Arab, bahkan ada bule. Apabila kita berkunjung ke pasar, suasana demikian sekarang masih terlihat, kecuali orang Belanda atau bule. Hampir tidak ada, sedikit saja. Uniknya, di Afrika Selatan yang juga merupakan koloni Belanda, orang bule masih banyak bersliweran di pasar. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori