Oleh: hurahura | 23 November 2016

Berpijak Pada Artefak: Mengenal Kembali Kesejatian Diri sebagai Orang Jawa

jingga-01Panil ke-4 relief Sri Tanjung dan penggunaan kĕmbĕn di masa kini 

Masa lalu dengan segala kekurangan dan kelebihannya tetap akan menjadi edukator terbaik untuk manusia masa kini. Modernisasi zaman tidak lantas menghapus semua jejak arsitektural keagungan tinggalan nenek moyang yang sengaja Tuhan berikan sebagai sebuah amanat. Jika saja manusia masa kini paham bagaimana susahnya membangun peradaban, maka tidak mungkin mereka tega dengan sengaja menghancurkan tinggalan pendahulunya.

Apabila membicarakan kasus-kasus yang berkaitan dengan Sumberdaya Arkeologi memang tidak ada habisnya. Sebab, bagi kebanyakan orang dunia arkeologi baru menarik kalau ada kasus. Puluhan wartawan akan berbondong-bondong mewartakan hal itu. Namun, sebaliknya apabila tidak ada kasus yang pantas naik cetak maka Arkeologi akan kembali sunyi.

Sudah bukan isapan jempol lagi, ketika seorang oknum wartawan menulis warta tentang Arkeologi ada kemungkinan akan dipelintir, dan salah satunya terjadi di Banyuwangi. Setelah insiden pemberitaan tentang gedung kolonial eks pengadilan negeri dipelintir, rupanya selang beberapa bulan kemudian terulang kembali. Kali ini soal penemuan manik-manik di Kecamatan Glenmore. Di pemberitaan tersebut dikatakan bahwa manik-manik itu sudah dikenal sejak Nabi Adam. Pernyataan itu ditulis berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu anggota TACB yang katanya seorang Arkeolog.

Setelah saya membaca secara cermat isi berita tersebut, memang benar dia adalah anggota TACB Kabupaten Banyuwangi namun bukan seorang Arkeolog. Sebab, orang tersebut seorang Sarjana Hukum. Di Banyuwangi memang ada dua orang Arkeolog –saya dan Titin Fatimah– namun kami tidak pernah mengeluarkan pendapat yang serampangan semacam itu. Kami sering terdiam dan tercengang setelah melihat, membaca, dan mendengar tingkah polah mereka. Ya, diam adalah emas!


Jaring Laba-laba

Sejak awal Arkeologi diciptakan bukan untuk berdiri sendiri dalam menggali peradaban masa lalu. Namun keberadaannya perlu ditopang oleh ilmu-ilmu lain, sebab lahan kajian yang harus digarap oleh ilmu yang satu ini sangatlah luas. Jika diibaratkan, Arkeologi dengan ilmu bantunya seperti jaring laba-laba yang saling berkesinambungan satu dengan lainnya. Meskipun ditopang oleh ilmu lain, namun Arkeologi tidak lupa dengan pijakannya yaitu bukti artefaktual.

Secara ringkas artefak adalah benda hasil karya manusia yang dibuat dengan mengadakan modifikasi, baik sebagian maupun seluruhnya. Terwujudnya sebuah artefak melalui sebuah proses tingkah laku yang dilakukan oleh manusia, yaitu tahap buat, tahap pakai, dan akhirnya terjadi deposisi. Selanjutnya terjadi proses transformasi atau proses yang sanggup mengubah data arkeologi sejak terjadinya deposisi sampai ditemukan oleh Arkeolog, baik oleh manusia atau pun alam. Cukup rumit memang namun itulah sisi keunikan dari Arkeologi.

Dalam bekerja Arkeologi membutuhkan sejumlah ilmu bantu, seperti Sejarah, Filologi, dan Antropologi. Dilihat dari sisi sumber datanya antara Arkeologi dengan Sejarah sebenarnya saling bertolak belakang, karena sumber data utama Sejarah adalah dokumen tertulis dan dapat ditunjang dengan data informasi lisan dari pelaku sejarah. Sedangkan, sumber data utama Arkeologi adalah tinggalan kebendaan dari masa lalu. Bahkan tidak jarang antara Arkeolog dan Sejarawan terjadi friksi yang lumayan sengit.

Contohnya, ketika membaca laporan penelitian Situs Macan Putih, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi tahun 2012 lalu. Dalam laporan tersebut saya menemukan sebuah angka tahun 1691 M, meskipun penelitian itu melibatkan beberapa Arkeolog untuk melakukan ekskavasi, namun mereka tidak mengadakan proses carbon dating sama sekali. Lantas dari manakah angka itu diperoleh hingga ditulis ke dalam sebuah laporan ilmiah? Untuk mengobati rasa penasaran, saya sampai bertanya kepada ketua tim langsung yang dikenal sebagai seorang Sejarawan. Sayangnya, pertanyaan saya bertepuk sebelah tangan.

Akhirnya belakangan jawaban itu saya peroleh ketika membaca Babad Blambangan. Ya benar, angka itu diadopsi dari babad yang selalu diandalkan oleh peneliti maupun masyarakat ketika membahas tentang Kerajaan Blambangan dan Macan Putih. Polemik pun tidak berhenti di situ, sebulan lalu (Oktober 2016) ketika  membaca surat balasan dari TACB Provinsi Jawa Timur, saya kembali mengernyitkan dahi. Sebab, mereka menuliskan bahwa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi dapat memberikan usulan kepada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk membuat desain gapura beratap Kala yang menjadi ciri khas bangunan tinggalan Macan Putih menjadi ciri khas gapura Banyuwangi.

Saya sempat ditanya oleh atasan soal peluang perekontruksian ini, dan saya jawab tidak bisa karena data Arkeologi yang ada di lapangan sudah tidak ada lagi. Ya, jika seseorang ingin menggunakan data Sejarah sebagai bahan penelitian seharusnya dicari pula data pembandingnya yang kemungkinan masih tersisa di lapangan. Meski sering terjadi friksi, tetapi kenyataan penelitian menunjukkan Arkeologi dan Sejarah saling melengkapi, dan sering juga saling menjelaskan.


Aji Saka hingga Sang Hyang Siksakanda

Sejauh ini di Banyuwangi belum pernah ditemukan data Arkeologi berupa prasasti, sehingga hal ini terkadang menyulitkan peneliti dalam menelusuri kesejarahan Kerajaan Blambangan. Memang benar bahwa toponimi Blambangan pernah disebut dalam Kakawin Nāgaraktāgama dengan rajanya bernama Bhre Wirabhūmi, namun data ini belumlah cukup menjawab kesejarahan Blambangan. Contohnya, sejak kapan Bhre Wirabhūmi memerintah di kerajaan tersebut?

Sementara itu, apabila mencermati beberapa mitologi dan naskah kuna yang dimiliki oleh orang Jawa sebenarnya mereka sudah mengenal tulisan sejak  tahun Adam. Pulau Jawa kala itu digambarkan sebagai wilayah yang panjang punjung pasir wukir gĕmah ripah loh jinawi kĕrta tur raharja sebagaimana yang sering didengungkan oleh para dalang tatkala jĕjĕran dalam pementasan wayang kulit. Sebuah kiasan yang menggambarkan tentang kesuburan, ketenteraman, kemakmuran, dan kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan. Namun demikian jauh sebelum masa sejarah, Pulau Jawa juga seperti pulau-pulau yang lain yang belum mengalami perkembangan yang begitu pesat dalam bidang kebudayaan.

Sebagaimana dikatakan di dalam mitologi Aji Saka, Jawa dikatakan masih kosong sebelum kedatangan Aji Saka atau yang juga dikenal sebagai Ĕmpu Sĕngkala. Ki Ranggawarsita dalam Sĕrat Paramayoga menuliskan bahwa Aji Saka adalah seorang raja dari negeri Surati di Hindustan pada masa Pancamakala, tahun Adam 768, tahun Surya 8154 atau tahun Candra 5306. Pada waktu itu beliau diserang musuh sehingga menderita kekalahan. Kemudian atas petunjuk dewa ia berangkat bertapa ke sebuah pulau yang disebut Jawa Dwipa. Setibanya di sana sang raja madĕg pandhita menjadi Ĕmpu Sĕngkala.

Secara Arkeologis, cerita tentang Aji Saka tersebut memang diragukan karena cerita itu hanyalah dongeng dan Aji Saka sendiri tidak tercatat dalam silsilah raja-raja Jawa. Namun di sisi lain, cerita Aji Saka ini sedikit memberikan referensi tentang masuknya budaya India ke tanah Jawa. Kata saka pada Aji Saka berasal dari kata Sanskerta yang artinya bangsa Scyth. Di tanah Jawa dikenal sebagai syakakala yang berarti tahun Saka, kemudian menjadi sĕngkala dan candra sĕngkala (perlambang kata yang menunjukkan tahun Śaka dalam kesusastraan Jawa).

Lebih jauh, sesugguhnya ada makna tersirat dalam cerita Aji Saka terkait asal mula kebudayaan Jawa. Kekosongan Pulau Jawa sebelum kedatangan Aji Saka dalam cerita tersebut bukan berarti tidak ada kehidupan, melainkan kosong dalam artian peradabannya. Oleh karenanya pada masa itu dilukiskan dengan raja raksasa yang kejam dan suka makan manusia. Kemudian raja itu dapat dkalahkan oleh Aji Saka dengan bantuan dĕstar atau ikat kepalanya. Ini juga simbolisasi musnahnya kebodohan dan majunya pola pikir atau berkembangnya peradaban di Jawa.

Ya, dengan masuknya pengaruh Hindu-Buddha dari India, maka berakhirlah zaman prasejarah di Indonesia. Masyarakat mulai mengenal tulisan dan untuk mempelajari tentang hal itu serta perilaku manusianya Arkeologi membutuhkan Filologi sebagai ilmu bantu. Secara sederhana Filologi adalah ilmu yang mempelajari masa lalu melalui naskah. Kemudian konsep ini dipertajam lagi dalam Arkeologi melalui Epigrafi yang mengkhususkan mempelajari tulisan-tulisan kuna yang digoreskan di prasasti.

Melalui prasasti, seorang Arkeolog dapat memperoleh berbagai macam informasi masa lalu, seperti nama raja, tahun memerintah, keputusan yang dibuat, dan sebagainya. Tidak heran prasasti menduduki data utama dalam penelitian Arkeologi. J.G. de Casparis menyebutkan bahwa sejarah tumbuhnya aksara Jawa dibagi menjadi lima babak utama yaitu Aksara Pallawa (4 M-8 M), Aksara Kawi Mula (8 M-10 M), Aksara Kawi Akhir (10 M-13 M), Aksara Kawi Majapahit (13 M-15 M), dan Aksara Kawi pasca Majapahit (15 M).

Budaya Jawa merupakan salah satu budaya di Indonesia yang kaya akan warisan budaya, baik tangible maupun intangible. Kekayaan ini juga diakui oleh orang Sunda sebagaimana termaktub di dalam Sang Hyang Siksakanda ng Karsian yang menekankan betapa perlunya belajar bahasa Jawa: Demikian umpamanya kita pergi ke Jawa, tidak mengikuti bahasa adatnya, termangu-mangu perasaan kita. Setelah kita kembali ke Sunda, tidak dapat berbicara bahasa Jawa, seperti yang bukan pulang dari rantau. Percuma jerih payahnya sebab tidak bisa bicara bahasanya.

Pada era modern seperti sekarang ini, kekaguman orang Sunda terhadap budaya Jawa masih berlanjut. Hal ini terlihat dalam postingan status Dedi Mulyadi (Bupati Purwakarta) pada 18 November 2016 berikut: Aku cukup kagum pada dialek Jawa Pak Ganjar, serta perwakilan remaja Pemalang yang meminta berdialog dengan Gubernurnya menggunakan bahasa Jawa. Kita harus belajar kepada orang Jawa yang begitu mencintai bahasanya.


Sebuah Persembahan

Saya sempat menganggap budaya Jawa sudah termarginalkan oleh budaya post modern. Hal ini terlihat (salah satunya) dari diharuskannya seorang penari Gandrung Banyuwangi memakai kebaya untuk menutupi sebagian tubuhnya yang terbuka. Prototipe busana Gandrung sebenarnya berasal dari budaya Jawa yaitu kĕmbĕn yang secara otomatis memperlihatkan pundak dan lengan sang penari. Namun setelah melihat status dari kawan-kawan di media sosial, rupanya optimisme dan kebanggaan sebagai orang Jawa tetap terpelihara dengan baik. Salah satu optimisme itu ditunjukkan oleh Intan Winda Kurnia Wardani ketika menulis caption di akun Instagramnya. Gadis berparas ayu itu mengatakan, “Karena aku ditakdirkan menjadi seorang wanita Jawa”.

Meskipun Arkeologi basis datanya berupa artefak namun sesungguhnya selalu berorientasi kepada manusia. Sebab, salah satu tujuan dari Arkeologi adalah merekonstruksi cara-cara hidup manusia masa lalu. Sejatinya yang digali oleh seorang Arkeolog bukan semata-mata benda yang ditinggalkan, melainkan sisi kemanusiaan manusia masa lalu maupun masa kini. Sama halnya dengan Antropologi (ilmu yang mempelajari manusia baik dari segi budaya, perilaku, dan sebagainya) yang menekankan pada sisi kemanusiaan. Kedua ilmu ini dapat berhubungan secara erat melalui perantara sebuah analogi. Ketika seorang Arkeolog mengalami kesulitan dalam mengintepretasi sebuah temuan, mereka dapat melihat kebiasaan orang masa kini yang kemungkinan masih memanfaatkan artefak tersebut (atau gambaran perilaku yang ada di dalam relief masih dilakukan oleh masyarakat masa kini).

Contohnya, sampai sekarang perempuan Jawa masih menggunakan kĕmbĕn dalam kesehariannya (seperti abdi dalĕm Kraton Yogyakarta) maupun secara insidental (seperti seorang penari Gambyong). Kebiasan-kebiasaan ini sudah tergambar jelas di dalam relief, salah satunya adalah Candi Panataran. Pada pandapa teras kedua terdapat sembilan panil relief Sri Tanjung, tepatnya di relief keempat digambarkan dua orang perempuan. Perempuan pertama berdiri dan kedua tangannya dikatupkan seperti sedang menyembah. Rambutnya digelung ke belakang. Ia memakai kain panjang dari dada hingga mata kaki yang kemudian ujung dari kain itu disampirkan ke punggungnya seperti memakai selendang. Sedangkan, perempuan kedua berdiri dengan kepala menoleh ke belakang. Rambutnya terurai dan mengenakan kalung di leher serta gelang pada kedua pergelangan tangan.

Fungsi Arkeologi bersama dengan ilmu bantunya (seperti Sejarah, Filologi, dan Antropologi) di masa kini tidak sekadar menggali masa lalu, akan tetapi juga sebagai media pembelajaran untuk mengenal kembali kesejatian diri sebagai orang Jawa. Prinsip ini sangatlah mendasar, dan seharusnya menjadi misi besar kaum muda untuk menciptakan negara dan bangsa yang kuat, yang berlandaskan karakter kenusantaraan. Di sinilah pentingnya pembangunan dan penguatan kepribadian manusia di masa kini agar tidak mudah terlindas arus modernisasi. Saya percaya bahwa generasi muda negara ini sangatlah cerdik dalam menyaring dan mengolah modernisasi untuk kemajuan budaya bangsa tanpa kehilangan kejawaannya.

Dewasa ini ketika kebanyakan orang diajak bicara soal Arkeologi lebih suka ngomong maksudnya apa ketimbang menjawab iya! Memang di sela-sela keduanya pasti ada perasaan yang lumayan lelah. Namun, komitmen kami tetaplah sama bahwa Arkeologi sampai mati. Kami yang sekarang telah menjadi seorang Arkeolog tidak pernah bercanda dalam menjaga warisan budaya bangsa. Meski di saat yang sama, kami harus berhadapan dengan orang tuli dan bebal.

Optimisme ini pula yang coba Intan Winda Kurnia Wardani gelorakan ketika menari, karena ia pernah berkata, aku akan menari di hadapanmu, tidak peduli kau suka atau tidak. Aku akan tetap menari di hadapanmu tidak peduli kau tutup mata dan telinga. Sebab, aku hanya ingin menyampaikan bahwa sejatinya kesetiaanku ada di hidupmu pula yang berwujud gerak dan perasaan. Menari baginya adalah sebuah bentuk persembahan manusia kepada Sang Pencipta. Ketika menari batin mereka dalam kondisi sumarah dan manĕmbah kepada-Nya yang membuat terlena. Karena bagi mereka –sang penari–, yang terpenting adalah pengalaman dan kemauan berbagi romantisme hidup di tengah kesederhanaan kepada sesama.

Sama halnya dengan sebuah tari, keberadaan tinggalan Arkeologi juga merupakan sebuah persembahan nenek moyang kepada Sang Biyung dan para leluhur. Tinggalan itu coba kita pelajari menggunakan seperangkat ilmu yang nantinya dapat mengungkap keagungannya dan perempuan yang menari sejatinya adalah cerminan dari peradaban di jagat pramudita.***

Penulis: Jingga Kelana

 

 

 

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori