Oleh: hurahura | 7 Desember 2017

Cagar Budaya dan Pariwisata Budaya

MelukatKegiatan Melukat pada Situs Tirta Empul (Foto: Jofel E Malonda)

Perkembangan Iptek, komunikasi, dan transportasi menjadi penyebab tingginya interaksi sosial yang berdampak pada kemudahan dalam pertukaran kebudayaan. Bali memiliki keistimewaan yaitu kebudayaannya masih kental menjadi daya tarik wisata untuk berinteraksi secara langsung dengan kebudayaan tersebut. Perbedaan dan otentisitas kebudayaan menjadi target dalam pariwisata budaya.

Berdasarkan pada Perda Provinsi Bali No. 2 Tahun 2012 Tentang Kepariwisataan Budaya Bali disebutkan bahwa Kepariwisataan Budaya Bali adalah kepariwisataan Bali yang berlandaskan kepada Kebudayaan Bali yang dijiwai oleh ajaran Agama Hindu dan falsafah Tri Hita Karana sebagai potensi utama dengan menggunakan kepariwisataan sebagai wahana aktualisasinya, sehingga terwujud hubungan timbal-balik yang dinamis antara kepariwisataan dan kebudayaan yang membuat keduanya berkembang secara sinergis, harmonis, dan berkelanjutan untuk dapat memberikan kesejahteraan kepada masyarakat, kelestarian budaya, dan lingkungan.

Cagar budaya menjadi bagian dari pariwisata budaya di Bali karena sebagian besar cagar budaya di Bali bersifat living monument sehingga cagar budaya masih menjadi bagian yang hidup dalam aktivitas masyarakat Bali. Cagar budaya merupakan warisan budaya yang memiliki nilai-nilai simbolis (identitas), estetika, ekonomi, dan informasi pengetahuan sehingga memiliki daya tarik wisata. Cagar budaya dapat dimanfaatkan dalam bidang pariwisata karena dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini sesuai dengan UU No 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya pada Pasal 1 ayat 33 tentang pemanfaatan.


Pariwisata Budaya di Bali

Krama Desa adalah masyarakat desa adat yang merupakan subjek utama dalam pemanfaatan dan pengelolaan cagar budaya di Bali, karena cagar budaya adalah sarana dalam menjalankan adat dan tradisi yang sekaligus menjadi simbol kedekatan hubungan antara leluhur dengan masyarakat saat ini. Cagar budaya sebagai media masyarakat dalam menjalani kehidupan adat memiliki nilai keunikan di mata wisatawan yang sangat berpotensi untuk peningkatan pariwisata budaya di Bali. Kesempatan ini tentu dimanfaatkan oleh krama desa untuk mengenalkan budaya kepada masyarakat umum serta sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

Tirta Empul adalah salah satu destinasi wisata yang sudah terkenal di Bali karena keindahan arsitektur dan alamnya. Selain dari itu tempat ini memiliki daya tarik lain yaitu sebagai tempat petirtaan untuk melakukan tradisi melukat (salah satu upaya untuk menyucikan dan membersihkan diri menggunakan sarana air). Wisatawan tidak hanya melihat aktivitas tersebut melainkan dapat ikut dalam melakukan kegiatan melukat. Tidak hanya pada situs Tirta Empul, tetapi pada banyak situs lain seperti Goa Gajah dan Komplek Candi Tebing Gunung Kawi menjadi salah satu destinasi wisata.

Keindahan dan keunikan arsitektur yang dipahatkan pada dinding-dinding tebing padas menjadi icon peradaban Bali Kuno yang masih dapat dilihat kemegahannya. Keindahan ini semakin bertambah dengan melihat aktivitas masyarakat adat Bali yang masih menggunakan situs ini sebagai tempat persembahyangan. Penerapan konsep Tri Hita Karana dalam pola kehidupan masyarakat adat Bali menjadi salah satu keunggulan dalam menarik minat wisatawan. Pura-pura di Bali pun dapat menjadi sarana wisata seperti yang terjadi di Pura Penataran Sasih, Pura Samuan Tiga, Pura Puncak Penulisan, dan pura lainnya. Para wisatawan dapat melihat beragam artefak berupa arca-arca indah yang dibalut dengan kain-kain sebagai wujud penyakralan benda tersebut serta ingin melihat aktivitas keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat Bali, terkhusus pada hari-hari tertentu seperti Hari Raya Galungan, Kuningan, dan Saraswati.

Cagar budaya di Bali sangat berpotensi dikembangkan dalam bidang pariwisata yang dikombinasikan dengan kehidupan adat masyarakat Bali yang memang terjadi secara alamiah berasaskan falsafah Tri Hita Karana. Keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama dalam pengembangan pariwisata budaya berbasis cagar budaya. Keterbukaan masyarakat Bali pada dunia menjadi adat Bali semakin dikenal dan dihargai oleh dunia internasional. Namun perlu diingat kembali bahwa pariwisata budaya sangat beresiko terhadap degradasi budaya  dan perusakan cagar budaya bila kegiatan tersebut hanya berorientasikan pada keuntungan ekonomi semata. Budaya memiliki nilai-nilai penting yang tidak ternilai, tidak dapat diimbangi dengan nilai-nilai ataupun keuntungan ekonomi sehingga perlu kebijaksanaan dalam menjadikan aset budaya sebagai sarana pariwisata. Masyarakat desa adat Bali memiliki peran sangat penting dalam menjaga adat dan melestarikan aset budaya sehingga warisan budaya tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.


Daftar Pustaka

Anonim 2010, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.

Anonim 2012, Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Kepariwisataan Budaya Bali.

Ardika, I Wayan 2008,  ‘Pariwisata dan Komodifikasi Kebudayaan Bali’, Pusaka Budaya dan Nilai-Nilai Religiusitas, Seri Penerbitan Ilmiah Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar.

Ramadhani, Sekar Rizqy Amallia, I Kadek Sudana Wira Darma, Jofel Eliezer Malonda 2017, Krama Desa: Menaruh Asa pada Cagar Budaya, Karya Tulis Ilmiah.

************

Penulis: Jofel E Malonda
Mahasiswa Arkeologi Universitas Udayana
jofeleliezermalonda@gmail.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: