Oleh: hurahura | 13 November 2012

Bangunan Bersejarah Itu Dijadikan Gudang

Kenapa bisa dibongkar, itu bangunan sejarah, tidak masuk akal.

Sinar Harapan, Selasa, 6 November 2012 – “Jas Merah”, jangan lupakan sejarah. Adagium itu menyemangati anak bangsa agar tidak lupa dengan sejarah atau latar belakangnya. Presiden RI pertama Soekarno, saat itu begitu menggebu-gebu ketika melemparkan bait itu. Namun, menilik ke masa ini, sejarah hanya menjadi kenangan, terlupakan, dan diabaikan.

Begitu banyak bangunan sejarah di DKI Jakarta yang tidak terawat dan dibongkar atau malah dijadikan lahan proyek bagi pemerintah. Seperti yang terjadi di Museum Fatahillah, Jakarta Barat. Tepat di areal belakang pelataran museum itu, sebuah istal (kandang kuda) yang diduga dari abad ke-19, dibongkar dan dijadikan gudang koleksi museum.

Ahli sejarah Batavia Adolf J Heuken SJ, saat ditemui SH di kediamannya, Senin (5/11) mengatakan, itu adalah perbuatan bodoh yang dilakukan pemerintah. Menurutnya, pembongkaran tersebut 100 persen murni proyek yang dilakukan Pemerintah DKI. Dia menilai masih banyak ruang kosong di kawasan itu yang bisa dijadikan gudang.

“Bukan untuk kebaikan koleksi, ini untuk cari duit saja, ini hanya bikin habis anggaran. Kenapa bangunan sejarah dibongkar, terlebih di dalam museum itu pasti bangunan sejarah. Bangsa ini lupa akan sejarahnya,” katanya sambil menggebrak meja. Heuken pun kesal bukan kepalang, lantaran diduga pembongkaran itu tidak melalui pengkajian dan penelitian mengenai sejarah bangunan itu.

Menurutnya, ini murni kebodohan dari pejabat Pemprov DKI. Sesuai undang-undang bangunan itu mempunyai tipe A bangunan sejarah, yakni tidak boleh dibongkar baik luar maupun dalam.

“Kenapa bisa dibongkar, itu bangunan sejarah, tidak masuk akal. Kenapa uangnya tidak dipergunakan untuk memperbaiki keadaan museum yang sudah hancur atau memperkaya benda sejarah,” katanya.

Mengenai sejarah bangunan itu, Heuken menjelaskan, pada abad 16, tepatnya 1618 penjara bawah tanah yang ada di Museum Fatahillah, pada waktu itu tidak lagi bisa menampung tahanan yang berjumlah 400 orang.

Maka dibuat penjara tambahan di belakang. Dia menduga memasuki abad 19, penjara itu dialihfungsikan menjadi istal, pada akhir abad 19, karena kendaraan sudah masuk Jakarta, gedung itu berubah fungsi jadi kantor museum.

“Gedung itu dibuat zaman Belanda, itu bisa dilihat dari batu batanya yang besar-besar. Saya menduga umur bangunan itu sekitar 150 tahun. Ini gila kenapa bisa dibongkar,” tuturnya. Untuk itu, Heuken meminta agar Gubernur baru DKI Jakarta Joko Widodo, menghentikan pembongkaran bangunan bersejarah. Dia meminta sebelum membongkar bangunan, agar melibatkan ahli sejarah yang ada di Jakarta.

“Ambil keputusan berdasarkan pengetahuan, sudah banyak bangunan bersejarah dibongkar. Seperti gedung di Jalan Cilacap, Menteng, Jakarta Pusat, gedung bekas Kementerian Luar Negeri Pertama mau dibongkar. Lalu, Kampung Pecah Kulit yang berubah menjadi ruko. Setop pemerintah melakukan ini,” ucapnya.

Kepala UPT Museum Sejarah Jakarta, Enny Prihantini membenarkan, bangunan tersebut zaman dulunya istal. Namun, perbaikan sudah dilakukan berkali-kali, sehingga pemerintah memutuskan untuk membangun gudang di tempat tersebut. “Dana pembangunan itu mencapai Rp 9,4 miliar, diambil dari APBD. Kami membongkar mendapat persetujuan dari Tim Sidang Pemugaran (TSP) Pemprov DKI,” ucapnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Pemprov DKI Jakarta Arie Budiman, saat dihubungi SH mengatakan, pembongkaran tersebut merupakan bagian dari konservasi Museum Sejarah Jakarta (MSJ), yang penelitian dan kajian konservasinya disusun oleh tim dari Pusat Dokumentasi Arsitektur dan Tim Asistensi dari pemerintah Belanda.

Disebutkan, dalam prosesnya pihaknya melaksanakan mekanisme penelitian dan kajian dari Tim Sidang Pemugaran (TSP) dan telah mendapat persetujuan pembongkaran bangunan tersebut. Bangunan yang dibongkar tersebut merupakan bangunan baru buatan tahun 1985.

“Bangunan itu tidak termasuk bangunan cagar budaya. Adanya tiang-tiang istal di sana, sesuai dengan kajian Tim Sidang Pemugaran (TSP), tetap akan direkonstruksi dan tentu sesuai dengan perkembangan sekarang, tidak relevan dan tidak akan difungsikan kembali sebagai fungsi istal,” katanya.

Prinsip konservasi tentu tidak berarti melarang pembongkaran, apalagi pada “bangunan pendukung”. Menurutnya, rencana peruntukan bangunan baru adalah untuk gudang koleksi museum yang memang secara fungsional sangat diperlukan sebagai kelengkapan museum modern, yang tentu tidak terdapat pada bangunan lama.

Ketua Tim Sidang Pemugaran Eryudawan mengatakan, pihaknya hanya merekomendasikan pembongkaran tersebut, setelah mendapat persetujuan dari Dinas Pariwisata dan Budaya. Menurutnya, bangunan itu adalah sisa bangunan tua yang sudah mengalami beberapa renovasi di tahun 1970-1980.

“Proyeknya sudah resmi. Memang bekas bangunan tua, tapi tidak masuk cagar budaya. Museum juga tidak punya gudang sejak 40 tahun belakangan, jadi dibuat gudang saja,” ucapnya.

Anggota Jakarta Heritage Trust Ella Ubaidi mengatakan, sejak kawasan ini ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya melalui SK Gubernur No 11 Tahun 1972, tujuannya adalah melindungi bangunan bersejarah dan objek wisata sejarah, namun sampai kini tidak ada kemajuan maupun penyederhanaan birokrasi.

”Pemilik bangunan sudah puluhan tahun tak dapat memanfaatkan hak kepemilikan bangunannya. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) setiap tahun naik. Untuk mengecat bangunan saja birokrasinya panjang, akibatnya bangunan telantar, tetapi bangunan tua di Museum Fatahillah bisa dibongkar dengan mudah, ini ada apa,” tuturnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori