Oleh: hurahura | 14 Desember 2014

Jejak Portugis dan Italia di Indonesia

PortugisPengaruh Portugis Indonesia, Penerbit Sinar Harapan

Sejak zaman lampau, Nusantara merupakan wilayah yang kaya. Karena itu berbagai bangsa asing datang ke sini untuk jangka waktu lama. Menurut catatan sejarah, hubungan yang pertama kali dilakukan antarnegara adalah hubungan dagang. Namun lama-kelamaan hubungan itu berkembang menjadi hubungan sosial (misalnya perkawinan), hubungan politik (misalnya invasi atau penjajahan), dan sebagainya.

Negara kita banyak didatangi bangsa asing, terutama dari Eropa, karena rempah-rempah kita dinilai berkualitas tinggi. Karena rempah-rempah sangat dibutuhkan oleh negeri yang beriklim dingin, maka berbagai bangsa Eropa itu berupaya mencari sendiri ke sini.

Jejak-jejak mereka masih terlihat sampai kini. Selain Belanda, jejak Portugis pun banyak dijumpai dalam berbagai ujud. Bangsa Portugis memang dikenal sebagai bangsa pelayar dan petualang yang tangguh.

Masa ekspansi kolonial Portugis dimulai pada 1385 ketika John I mendirikan Dinasti Aviz. Pada abad XVI daerah jajahan Portugis meliputi Amerika Selatan, Afrika, Asia Selatan, dan Asia Tenggara.

Diperkirakan, timbulnya kolonialisme Portugis dimulai oleh “mimpi” seorang Pangeran bernama Dom Henrique, untuk mencari “dunia baru”. Dia meninggalkan istana dan mendirikan sekolah nautika di Portugis Selatan. Di sana dia mengundang para ahli geografi dan kartografi terbaik Eropa. Dengan uangnya sendiri lalu dia membentuk sebuah armada kapal yang pergi berlayar mencari “dunia baru” tadi.

Pada awalnya mereka berhasil melewati Tanjung Harapan di Afrika. Maka rute ke wilayah Timur pun terbuka dan dalam sekejap tujuan-tujuan komersial memperkuat jiwa petualangan bangsa Portugis itu. Ketika mereka tiba di Goa, India, mereka mulai menyadari betapa pentingnya perdagangan rempah-rempah. Setelah berhasil merebut Malaka di Malaysia pada 1511, maka Albuquerque mengirim sebuah ekspedisi untuk mencari Maluku. Dari sanalah Portugis mulai melakukan ekspansi ke seluruh wilayah Indonesia (Pengaruh Portugis di Indonesia, 2000). Dari rempah-rempah lalu berkembang menjadi hubungan militer, kebudayaan, etnis, komersial, dan agama.


Tome Pires

Masa kolonialisasi Portugis di Indonesia antara lain dapat ditelusuri lewat tulisan seorang pengelana bernama Tome Pires. Catatan Pires banyak dipakai untuk merekonstruksi sejarah Indonesia pada abad XV. Tulisannya, Suma Oriental (Perjalanan ke Timur), dibukukan di London pada 1944.

Catatan Pires yang dinilai penting antara lain tentang adanya Kerajaan Sunda di Jawa Barat (regno de cumda). Begitu pula tentang asal mula kota Jakarta, yang sampai kini masih menjadi polemik. Ketika itu, menurut Pires, pada 1522 di Sunda Kalapa, Portugis menandatangani perjanjian dengan pangeran setempat. Hasil kerja sama itu diujudkan dalam sebuah padrao. Padrao adalah sebuah tiang batu setinggi kira-kira dua meter, dengan suatu inskripsi yang menyatakan bahwa orang Portugis telah lewat di situ.

Yang paling nyata, jejak sejarah Portugis di Jakarta tampak dari Gereja Sion (Gereja Portugis) di Jakarta Kota dan Gereja Tugu di Jakarta Utara. Bahkan sampai kini Kampung Tugu menjadi tempat tinggal orang-orang keturunan Portugis. Mereka umumnya pandai memainkan musik keroncong.

Beberapa peninggalan Portugis yang ditemukan di Indonesia kini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Antara lain berupa lonceng Portugis yang dipersembahkan oleh Raja Muda India kepada Sultan Mataram (1633) serta botol dan piring porselen dengan emblem kerajaan Portugis.

Peninggalan Portugis yang cukup populer di Jakarta adalah Meriam Si Jagur, yang sekarang ditempatkan di halaman depan Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah). Konon meriam itu semula berada di Malaka, lalu dibawa ke Jakarta oleh tentara Belanda.

Meriam Si Jagur berukuran besar dan indah. Meriam itu dirancang khusus seperti kepalan tinju dengan jempol menyembul di antara telunjuk dan jari tengah. Di Indonesia posisi demikian melambangkan hubungan kelamin.

Karena unik dan dipenuhi mitos, maka bertahun-tahun lamanya para wanita yang belum memperoleh momongan datang membawa kembang kepada Si Jagur. Mereka berasal dari berbagai tempat di Jakarta dan luar kota.

Konon, kembang-kembang itu harus disajikan pada hari Kamis dan si wanita harus duduk di atas pucuk meriam itu. Dulu, untuk menghilangkan takhyul, meriam Si Jagur pernah disimpan di gudang Museum Nasional. Namun petugas museum hampir selalu kewalahan karena para wanita sering merengek-rengek agar diizinkan duduk di atas meriam itu.


Bahasa

Pengaruh Portugis dalam bidang nonfisik terlihat pada nama atau bahasa. Mungkin masyarakat Jakarta tidak asing dengan Jalan Roa Malaka di Jakarta Kota sekarang. Sesungguhnya, Roa berasal dari bahasa Portugis Rua, yang berarti jalan.

Dalam bidang kesenian, orang-orang Kampung Tugu mempunyai pengaruh kultural yang kuat di Jakarta. Musik keroncong diyakini merupakan warisan bangsa Portugis. Ingat lagu “Nina Bobo” yang sering dinyanyikan untuk menidurkan anak kecil? Ternyata, Nina berasal dari kata Portugis Menina (anak gadis kecil).

Di bidang geografi, dulu kita pernah familiar dengan kata Celebes, sebelum berganti nama menjadi Sulawesi. Dipercaya, Celebes berasal dari bahasa Portugis. Konon, kartografer Desliens dalam peta yang digambar pada 1541 memberi nama Ponta dos Celebres (Tanjung Orang-orang Termashur) pada bagian paling utara pulau itu. Namun karena salah kaprah, kemudian nama itu dipakai untuk menyebut keseluruhan pulau dengan memotong huruf r pada kata Celebres.

Bahasa Portugis juga dipakai untuk menyebut Pulau Flores dan Pulau Enggano. Pulau Flores dinamakan begitu karena para pelaut Portugis terkesan pemandangan indah di ujung timur pulau itu yang ditutupi oleh bunga flamboyan yang sedang mekar (flores = bunga-bunga). Sedangkan pemberian nama Enggano (konon yang benar Engano) karena kesalahan navigasi sebuah kapal Portugis sehingga keliru mendatangi pulau yang seharusnya dituju (engano = keliru).

Dalam bidang bahasa, banyak kata Portugis secara resmi diterima dalam bahasa Indonesia. Misalnya bendera (dari kata Portugis, bandeira), gereja (igreja), keju (queijo), palsu (falso), renda (renda), sepatu (sapato), dan terigu (trigo). Belum lagi nama-nama tempat, istilah, dsb di seluruh Nusantara.


Italia

Meskipun relatif sedikit, sumber Italia tetap mampu membuka cakrawala penulisan sejarah kuno Indonesia. Jejak Italia di Indonesia berawal pada abad XIII. Ketika itu banyak pelaut dan pedagang Italia singgah di Nusantara. Meskipun yang mereka beritakan umumnya tentang keadaan daerah pesisir, namun cukup memberi pemahaman untuk mengetahui keadaan sosial ekonomi masyarakat saat itu.

Salah seorang pengelana Italia yang sering disebut-sebut para peneliti sejarah adalah Marco Polo (1254-1324). Kisah perjalanannya yang dianggap menarik adalah tentang kunjungannya ke Pulau Sumatera pada 1292. Konon, dia sempat singgah di Kerajaan Dragoian (Indragiri), Ferlac (Perlak), dan Samara (Samudra?). Dia juga mencatat bahwa ada seorang raja yang baru saja memeluk agama Islam dan berjuang melawan suku biadab dari pedalaman. Mungkin yang dimaksud adalah Sultan Malik as Salih, raja pertama yang beragama Islam di Indonesia.

Berita lain yang agak panjang lebar kita peroleh dari Antonio Pigafetta, seorang pelaut yang pernah ikut bersama Magalhaes keliling dunia. Sumbangannya yang amat penting adalah tentang saat-saat terakhir Kerajaan Majapahit. Pigafetta menulis pengalamannya sewaktu singgah di pulau “Timur” pada 1522.

Dari berita itu diketahui bahwa pada 1522 Majapahit hanyalah sebuah kota. Disebutkan juga, Pati Unus pernah menjadi Raja Majapahit. Rupa-rupanya Kerajaan Majapahit yang pada 1518-1521 dipimpin oleh Pate Udara, telah ditaklukkan oleh Raja Demak Pati Unus (Buletin Romantika Arkeologia, Agt-Sep 1985, hal.6).

Berita Italia lainnya berasal dari Odorico da Pordenone (1265-1331). Sepulangnya dari Cina, dia singgah di Pulau Sumatera dan Jawa. Dia memuji-muji istana di Jawa karena menakjubkan. “Yang terkaya dan terindah dari segala yang ada di dunia ini,” katanya. Kemungkinan yang dimaksud adalah istana Raja Majapahit. Dia juga mencatat tentang peristiwa-peristiwa kekalahan orang Mongol oleh Raja Wijaya, yang terjadi beberapa tahun sebelum kedatangannya di sana.

Berita lain berasal dari Nicolo de Conti (1395-1469). Meskipun tidak selengkap Polo dan Pigafetta, namun berita tersebut cukup menarik karena menjadi bahan pelengkap atau perbandingan berita-berita sebelumnya. Nicolo antara lain menyebutkan sebuah bandar perdagangan di Tapobrana (Sumatera), yang dikelilinginya kira-kira 10 kilometer. Diduga bandar itu ada di Aceh.

Nicolo sempat menikmati buah yang ukurannya kira-kira sebesar kelapa dan di dalamnya ada lima belahan seperti jeruk. Mungkin yang dimaksud adalah durian. Dia tinggal selama sembilan bulan di “Jawa Kecil” (Jawa) dan “Jawa Besar” (Kalimantan). Di sana dia tertarik pada permainan menyabung ayam. Di “Jawa Kecil” dia sering mendengar adanya bunuh-bunuhan kejam di antara penduduk (amok). Bukan tidak mungkin ini merupakan carok di Madura.

Kita perlu sekali memelajari segala informasi langsung dari sumber Portugis dan Italia. Sekarang yang banyak digunakan adalah sumber sekunder. Dipastikan masih banyak lagi informasi akan terkuak apabila kita mengacu pada sumber primer. Mudah-mudahan banyak sarjana Indonesia tertarik kepada sumber Portugis dan Italia. Dengan demikian akan memerkaya khasanah penulisan sejarah Indonesia. (Djulianto Susantio)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: