Oleh: hurahura | 19 Februari 2011

Delapan Wayang Kuno Radya Pustaka Dipastikan Palsu

mediaindonesia.com, Jumat, 18 Februari 2011 – Delapan wayang kuno yang di pajang Museum Radya Pustaka Solo, Jawa Tengah, dipastikan palsu. Wayang tersebut bukan peninggalan masa Pakoe Boewono X, melainkan produksi baru yang dibuat di era Pemerintahan Soeharto.

Pernyataan itu dikemukakan anggota Tim Peneliti Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat RT Sihanto Dipuro seusai melihat secara langsung koleksi wayang kulit purwo di ruang pajang museum tersebut bersama tim peneliti keraton yang diketuai KRMH Satryo Hadinagoro, Jumat (18/2).

“Wayang ini biasa disebut dengan wayang trans, kependekan dari transmigrasi. Karena diproduksi untuk diberikan kepada para transmigran pada masa Pak Harto. Bagaimana wayang ini bisa masuk museum dan tahun berapa, itu perlu diselidiki,” jelasnya.

Kedelapan wayang kuno palsu itu merupakan bagian dari koleksi wayang kulit purwo gaya Surakarta. Wayang yang mengangkat epos Mahabharata itu dipajang di lemari kaca yang terletak di sisi timur ruangan. Seluruhnya menggambarkan sosok perempuan, seperti Srikandi, Banowakti, Sembadra, Sinta, Kunti, dan Larasati.

Menurut Sihanto, tanda-tanda bahwa wayang tersebut produksi baru bisa dilihat dari warna gapit, bahan pewarna, serta jenis kulit yang digunakan. Wayang kuno, jelas Sihanto, memiliki gapit berwarna coklat kemerahan yang terbuat dari tempurung penyu atau tanduk kerbau, menggunakan prada emas dengan perekat ancur lempeng (air liur ikan), dan berbahan baku kulit kerbau.

Ciri-ciri tersebut tidak ditemukan pada delapan wayang perempuan itu. Meski sama-sama mengunakan kulit kerbau, tetapi lebih tipis. Bahan pewarna yang dipakai juga bukan prada emas, tetapi brom dengan perekat lem. Gapit yang digunakan juga tidak coklat tua, tetapi coklat muda atau putih kehijauan.(FR/OL-01)

Iklan

Responses

  1. Wah,….
    mendingan saya punya 1 set wayang baru gagrak jogya, dari Pak Suk Surya penatah yg mumpuni dari desa Gendeng, Kasihan, Bangun Jiwo Bantul Ngayogyakarta Hadiningrat, utk memilikinya, pokoke “entek omah, entek sawah,….” ra popo demi guri2 buoyo yg hebat ini….

  2. Patut diduga, kejadian seperti ini lebih karena “pertimbangan irasional” ketimbang pertimbangan bisnis. Saat ini sudah sangat banyak pengrajin wayang prodo yang bisa membuatnya dengan kwalitas yang jauh lebih sempurna, baik dari segi tatahan dan sunggingan (pengecatan/pulasan). Bahan-bahan yang diperlukan pun saat ini masih sangat melimpah.
    Mudah-mudahan kejadian ini tidak terulang kembali di masa yang akan datang. Peran komunitas wayang dalam menjaga benda-benda pusaka seperti ini sangat diharapkan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori