Oleh: hurahura | 8 Maret 2012

Wow! Situs Gunung Padang Berusia 109 Abad SM

news.detik.com, Senin, 05/03/2012 – Jakarta Tim Bencana Katastropik Purba yang dibentuk Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, akhirnya melakukan pengeboran situs megalitikum Gunung Padang yang terletak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Hasilnya, usia situs Gunung Padang itu sekitar 109 abad alias 10.900 tahun Sebelum Masehi (SM). Wow!

Hasil itu ditemukan setelah Tim Katastropik Purba melakukan pengeboran di sekitar situs. Rencana pengeboran tersebut sebelumnya dipaparkan di depan ratusan pecinta kepurbakalaan di Jakarta, 7 Februari 2012 lalu di depan ilmuwan dari 5 benua serta puluhan anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), demikian disampaikan Tim Katastropik Purba dari Stafsus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana dalam rilisnya.

Ada 2 titik pengeboran dalam situs itu. Bor 1 terletak di ujung selatan Teras 2, bor 2 di samping selatan Teras 5 (lihat gambar, red).

Hasilnya, pada lubang bor 1, dari permukaan sampai kedalaman kira-kira 3 meter terdapat perlapisan susunan kolom andesit 10-40 cm (yang dibaringkan) diselingi lapisan tanah. Sewaktu menembus 3 m Tim Katastropik Purba mendapat surprise karena tiba-tiba drilling loss circulation dan bor terjepit.

Yang dijumpai adalah lapisan pasir-kerakal Sungai (epiklastik) yang berbutir very well rounded setebal sekitar 1 meter. Rupanya bidang tegas yang terlihat pada Ground Penetrating Radar (GPR) itu di kedalaman 3-5 meter di semua Teras adalah batas dengan permukaan hamparan pasir ini. Menurut salah satu anggota Tim Katastropik Purba, Dr Pon Purajatnika yang ahli arsitek, boleh jadi hamparan pasir ini dimaksudkan sebagai peredam guncangan gempa.

Bagian di bawah kedalaman 4 meter yang ditembus bor ditemukan berupa selang seling antara lapisan kolom andesit yang ditata dan lapisan tanah-lanau. Lapisan kolom andesit yang ditata itu sebagian ditata horizontal dan sebagian lagi miring. Hal tersebut sesuai dengan survei GPR yang memperlihatkan bahwa perlapisan ada yang horizontal dan ada yang miring.

Baru pada kedalaman sekitar 19 meter bor menembus tubuh andesit yang kelihatannya massif tapi penuh dengan fractures sampai kedalaman sekitar 25 meter, sesuai dengan penampang geolistrik bahwa kelihatannya bor sudah menembus lapisan merah yang terpancung itu.

“Banyak ditemukan serpihan karbon, di antaranya ditemukan di kedalaman sekitar 18 meter yang lebih menguatkan bahwa lapisan batuan dan tanah yang ditembus bukan endapan gunung api alamiah tapi struktur bangunan,” ujar anggota Tim Katastropik Purba Dr Boediarto Ontowirjo yang juga periset di Badan Penelitian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini.

Hasil bor 2, yang dilakukan persis di sebelah selatan Teras 5 menembus tanah, yang seperti tanah urukan sampai kedalaman sekitar 7 meter. Kemudian ketemu batuan andesit keras. Di kedalaman 8 meter terjadi hal mengejutkan.

Total loss, 40% air di drum langsung tersedot habis. Hal ini berlangsung sampai kedalaman 10 meter. Kelihatannya bor menembus rongga yang diisi pasir (kering) yang luarbiasa keseragamannya seperti hasil ayakan manusia.

Di bawahnya ketemu lagi dua rongga yang juga terisi pasir ‘ayakan’ itu diselingi oleh ‘tembok’ andesit yang sepertinya lapuk. Pemboran berhenti di kedalaman 15 meter.

Kemudian Tim Katastropik Purba mengambil sampel tanah dari 2 titik pengeboran, masing-masing titik diambil 16 sampel. Sampel ini kemudian diuji menggunakan radioisotop carbon C14 untuk mengetahui usianya (carbon dating).

Tim Katastropik untuk menguji umur sisa arang,tumbuhan organik paleosoil dengan carbon dating dengan alat Liquid Scintillation Counting (LSC).

Hasilnya sebagai berikut:
1. Sampel pertama diambil dari Teras 2 (titik bor 1) dengan kedalaman -3.5 meter dari permukaan tanah, hasilnya: 5.500 tahun plus minus 130 Before Present (Sebelum Masehi/SM, red) (pMC= 51,40 +/-0,54)

2. Adapun HASIL TERBARU sampel kedua diambil dari Teras 5 (titik bor 2) dengan kedalaman -8,1 meter sampai -10,1 meter dari permukaan tanah, hasilnya: 11.060 tahun plus minus 140 tahun Before Present (Sebelum Masehi/SM, red) (pMC= 26,24 +/- 0,40)

“Kalau dikonversikan ke umur kalender setara dengan 10 ribu SM,” tutur Boediarto.


Catatan:

pMC = percentage Measured Carbon
Persentasi unsur carbon C yang tersisa dari proses peluruhan tanah purba paleo soil. Unsur carbon akan mulai meluruh begitu tumbuhan, hewan mati tertimbun tanah/batu.
Untuk meluruh setengahnya, pMC = 50% diperlukan waktu 5.730 tahun. (nwk/nrl)


Komentar di situs jejaring sosial

Slamat dehhh…hahaha, atas hasil penelitian Tim Katastropik Purba, dg dating 5.500 tahun SM dan 10.000 tahun SM…kalah tua tuhh…piramid2 di Mesir dan situs Machu Picchu di Peru…wuelehhh…! Smoga dehhh…bakal ngocok anggaran negara dan Kantor Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana…tak perlu lagi ngurus bencana…dg bantuan Mr. Hilman…bikin saja festival tua-tuaan situs antar RT/RW se dunia…bila perlu…hahaha…!

Lapisan tanah sih boleh berusia tua.., tapi bangunan (monumen) yang berdiri di atasnya belum tentu ikutan tua. Kalau Tim Katastropik Purba mengebor lebih dalam lagi tentu akan menemukan lapisan yang lebih tua lagi, bisa saja endapan batubara (fosil tumbuhan) yang berusia jutaan tahun. Kalau melakukan ‘dating’ sebuah monumen bukan dilakukan secara vertikal (mengebor tanah) melainkan secara horisontal, yaitu permukaan tanah yang menjadi pijakan bangunan itu diuji dengan carbondating jika ada sampelnya…

Harusnya bunyinya: Tanah di Situs Gunung Padang lebih tua….dst..dst….bukan Situsnya….wong yang diC-14 in tanahnya Njih….bosen nanggapin yang begituan euy…

Ya harusnya gitu tanah atau pasir lebih tua daripada artefak…kayak sekarang aja, tanah di bawah rumah pasti lebih tua dari rumah

huahahaha…mungkin proyek bencana sepi…mau berdoa dapet bencana takut kena mereka…yahhh jadinya “mengada-ada” gichuuuu….wkwkwk…!

Ketebalan lapisan tanah ‘kan bervariasi, bisa 20 cm, 1 meter, 1,5 meter dsb. Kita tidak bisa membayangkan lapisan tanah seperti kue lapis legit yang ketebalannya sama dan tetap konstan dalam perjalanan waktu. Dapat saja sebagian area situs …

sakit……

Jadi pingin nulis ttg ‘Sensasi Piramida Bodong’ nih…

Piramid Bodong dan konsep pemujaan dewa matahari dept. store…dalam persaingan pasar dan mencari laba dari klem asuransi kebakaran…huahaha…!

hehehehehehe bahasa nya rekan2 wartawan yg pro-status quo kayaknya bisa menyelenehkan kondisi riil-nya…interpretasi lapisan tanah kok disetarakan lapisan budaya…hadeuh…lieur aing mah!!!! harusnya disebutkan apa yg di carbondating….dasrun wartawan pro status quo ….

apa ada wartawan yang pro-status quo? bagaimana wartawan yang nggak pro-status quo. Baru kali dengar istilahnya pak. Tolong jelaskan…

ini hanya istilah saja bagi oknum2 yg “mungkin” telah “dikendalikan” oleh pihak tertentu, dalam hal ini si empunya pekerjaan (pemerintah), kesan dari informasi yg disampaikan seolah2 membenarkan/pro pada pihak kapital (dlm hal ini pemerintah) begitu pak maksud istilah nya… 😀

Bumi Alloh selalu berimbang…bila ada yg pro..pasti ada juga yg tdk….

Wartawan itu pewarta (media/corong) bukan sumber informasi. Wartawan yang baik hanya diukur cara kerjanya; disiplin verifikasi. Jadi tidak ada wartawan pro dan tidak pro. Tidak tepat menilai wartawan dari sudut pandang politik atau kekuasaan.

Itulah kelemahan wartawan yang gak ngerti arkeologi, mereka cuma ‘memindahkan mulut orang’. Bahkan sering terjadi wartawan salah kutip atau salah menafsirkan omongan orang

Kayak zamannya Harmoko aja, wartawan jadi “corong pemerintah”. Saya kira mungkin aja kalau pers secara tidak sadar dijadikan “proyek pencitraan” SBY (pemerintahan) utk mengalihkan perhatian masyarakat yg rindu akan kebesaran masa lampau. Dengan keadaan yang karut marut di negeri ini maka dicarilah image bahwa Indonesia masih punya “kelebihan” dibandingkan negara-negara lain dengan menciptakan “festival tua-tuaan” (siapa yg paling tua di bumi ini dilihat dr peninggalannya). Cara mengatasi persoalan di negeri ini yang salah kaprah…

Iklan

Responses

  1. Yang menulis tanggapan di atas pasti cuma sok ngerti geologi dan politik. Tapi paling tidak anda ngerti bahwa “paleosoil”lah yang paling layak di dating. Teliti dulu permasalahan-nya sebelum asal berkoar Bung. Kalau tidak anda hanya menyebar fitnah sia-sia saja.

    Piss…

    Tim KP

    • Mudah-mudahan ada penelitian lanjutan. Tapi tentu saja segala bentuk penelitian memerlukan dana. Ini yang biasanya kendala di negeri kita.

    • orang tidak bangga terhadap ilmu pengetahuan, tapi kalau kalah dengan bangsa lain. Broak-braok koyo kewan arep disembelih. Uang trilyunan daripada di korupsi, mending kan buat penelitian seperti ini………..jadi kita pun tahu, ada apa di gunung padang cianjur itu, kalau nggak setuju, ya pindahkan saja di gunung padang cilacap, aku yajin penduduk daerah cilacap akan mendukung 100 %.

    • bvetul, pokok anjing menggongong kafilah teteap bongkar gunung padang

    • Pak Dany Hilman, kapan dilanjutkan bongkar secara besar-besaran gunung padang………….kalau bisa secepatnya, keburu aku mati nanti.

  2. Mau nanya biar tau dong, kenapa engga langsung di bor aja ya ? menurut yang saya baca katanya gunung padang berbentuk pyramid. apa benar dibawah batu2 tersebut terdapat pyramid. respon yaa 🙂 ingin menambah pengetahuan :))

    • Dalam Rembuk Nasional Situs Gunung Padang 29 Maret 2012 dikatakan tidak ada peradaban piramida di Indonesia. Penelitian geologi dan arkeologi tidak menemukan data dan fakta itu.

  3. Sayang banget blog yang seharusnya bagus namun akhirnya seperti tidak berkelas karena gaya bahasanya terlalu udik..
    Jujur ane bukan orang berpendidikan,ane cuma anak kampung lulusan SMP yg senang dgn sejarah bangsa ini..
    Tulisan anda menggambarkan sifat anda yg PONGAH..

    • Blog ini tadinya berisi tulisan ane pribadi yang dimuat di koran2 Jakarta. Karena tempatnya masih banyak, maka ane muat juga info2 dari berbagai media cetak yang berhubungan dengan arkeologi. Tulisan di atas ini, ane yakin tulisan wartawan yang kurang mengerti arkeologi, jadi hanya mengutip dari narasumber yang bukan arkeologi, yakni Tim Katastropik Purba.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori