Oleh: hurahura | 14 Mei 2011

Sumarjo, Manusia Cecak dari Prambanan

Oleh: Djulianto Susantio

Sumarjo, Manusia Cecak dari Prambanan, sedang menaiki kawat penangkal petir menuju bagian atas candi (Foto: Djulianto Susantio)

Tabloid Mutiara, 1989 – Gerakannya begitu cepat. Sebentar saja dia sudah sampai di puncak candi. Bila dilihat sepintas, memang gayanya bagaikan pemanjat tebing. Namun kalau diamati benar-benar, meskipun berhubungan dengan panjat-memanjat, dia bukanlah rock climber. Bahkan sedikit pun dia tidak mempunyai pengalaman mendaki gunung.

Sumarjo, nama pemanjat tersebut, sering dijuluki “Manusia Cecak dari Prambanan”. Dia pegawai Kantor Suaka Sejarah dan Purbakala Yogyakarta. Instansi itu menangani berbagai kepurbakalaan di Yogyakarta, termasuk di antaranya candi Prambanan. Sumarjo sendiri ditempatkan di Seksi Pemeliharaan, bertugas membersihkan lumut, rerumputan, dan kotoran yang melekat pada candi tersebut. Karena tugasnya itulah Sumarjo tidak segan-segan menaiki candi hingga ke bagian tertinggi sekalipun.

Kalau candi Borobudur setiap tingkatnya dapat didaki, tidaklah demikian dengan candi Prambanan. Tidak mengherankan bila pembersihannya mengundang masalah tersendiri. Apalagi candi Prambanan mempunyai ketinggian yang lumayan: 40-an meter.

Peralatan modern berupa tangga yang dapat naik turun memang sudah ada. Tetapi harganya tidak terjangkau instansi purbakala yang lagi kering itu. Lalu timbul gagasan, bagaimana kalau memanfaatkan tenaga juru pelihara yang ada? Gagasan itu memperoleh sambutan baik. Pimpinan pun bertanya kepada juru pelihara candi Prambanan, ”Berani memanjat tidak?”

Sumarjo menjawab singkat tapi pasti, ”Bisa”. Sejak itulah, yang menurut Sumarjo kalau tidak salah tahun 1981, dia mulai merayapi dinding-dinding candi Prambanan.

”Saya naik melalui kawat penangkal petir yang dipasang di keempat sisi. Lalu dari setiap bagian yang dibersihkan, saya berjalan perlahan-lahan. Tangan yang satu berpegangan batu candi, tangan lainnya menyikat kotoran sambil sesekali menyiramkan air melalui selang yang diikatkan ke badan saya. Pembersihan dilakukan terlebih dulu terhadap bagian-bagian yang mudah dijangkau,” cerita Sumarjo yang sudah bekerja di candi Prambanan sejak tahun 1979. Menurutnya, pekerjaan tersebut memang mengundang risiko. Tetapi untungnya selama dia bertugas, tidak pernah terjadi sesuatu yang membahayakan dirinya. Biasanya pemanjatan dinding candi Prambanan berlangsung tiga kali setahun, yaitu pada bulan April, Agustus, dan Desember.

Sumarjo mengatakan untuk memanjat dinding candi si petugas harus tahu waktu. Berdasarkan pengalaman, pemanjatan dilakukan pagi hari sebelum pukul 11.00. Sebab lewat dari waktu itu, angin bertiup agak kencang sehingga bisa mengundang bahaya.

Menurut dia, pada umumnya pemanjatan berjalan lancar. Hanya pada waktu beralih dari tubuh candi ke atap candi, Sumarjo merasakan sedikit kesulitan. Soalnya, kata Sumarjo, batas kedua bagian itu agak mencolok ke luar, tidak rata sebagaimana bagian-bagian lainnya.

Pada bagian atap, pekerjaan pembersihan juga termasuk sukar. Selain tiupan angin kencang sekali, peralatan pun kurang.


Tanpa alat pengamanan

Pekerjaan yang dilakukan Sumarjo tanpa alat pengaman. Sebenarnya, menurut Kepala Seksi Pemeliharaan Candi Prambanan, Djoko Pitoyo, pihaknya sudah menyediakan tali pengaman. Tetapi para juru pelihara itu tidak mau menggunakannya. ”Alat pengaman memang ada. Kalau saya memakainya, saya merasa repot. Susah dicantelkan di dinding candi,” ujar Sumarjo memberi alasan. Kecuali candi Prambanan, kata Djoko, candi-candi lain yang menggunakan jasa Sumarjo dan kawan-kawan adalah candi Kalasan dan candi Sari. Keduanya terletak beberapa ratus meter dari candi Prambanan.

Menurut Djoko, bila cuaca mendung, maka pemanjatan akan ditunda hingga hari benar-benar cerah. Sebab, katanya, pernah terjadi seorang juru pelihara ketika sedang asyik-asyiknya membersihkan bagian puncak, tiba-tiba petir menggelegar. Si petugas bukan main terkejutnya terkena getaran. Saat itu jarak dia berdiri dengan kawat penangkal petir hanya sekitar setengah meter.

Ketika ditanya, Sumarjo tidak merasa takut naik ke puncak candi. ”Habis sudah profesi dan kewajiban,” katanya serius. Sumarjo pun tidak merasa takut kalau harus melihat ke bawah. ”Justru kalau tidak melihat ke bawah saya takut. Dengan melihat ke bawah, maka saya bisa melihat tempat pijakan kaki,” jelasnya.

Dalam melaksanakan tugas pemanjatan Sumarjo dibantu oleh beberapa rekannya yang lebih muda. ”Ketika akan bertugas saya tidak menunjuk si anu harus memanjat, melainkan menawarkan kepada beberapa rekan siapa yang mau memanjat,” tandas Sumarjo, koordinator para pemanjat itu.

Hal itu dianggapnya lebih manusiawi daripada memaksa mereka. Sebab, katanya, dulu pernah terjadi seorang petugas tidak bisa turun dari puncak candi karena ketakutan. Terpaksa Sumarjo turun tangan, menggendong si petugas tersebut.

Dari siapa Sumarjo belajar memanjat? ”Saya belajar sendiri dari pengalaman. Sebelumnya saya pernah bekerja di bidang bangunan,” tutur lulusan SPG itu.

Sayang, hingga saat ini, meskipun pekerjaan Sumarjo dan rekan-rekan penuh risiko, namun pihak purbakala belum mengasuransikan mereka. ”Satu-satunya jaminan hanyalah asuransi kesehatan pegawai negeri,” demikian Djoko Pitoyo.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: