Oleh: hurahura | 1 Mei 2017

Wayang dan Faktor yang Mempengaruhi Perkembangannya

Wayang-01Wayang umpet koleksi Museum Nasional (Sumber: Katalog Pameran Wayang Merentang Zaman)

Sebelum berbicara mengenai persebaran wayang di Indonesia, kiranya perlu diselidiki terlebih dahulu mengenai asal-usul pertunjukan wayang. Menurut James R. Brandon, wayang timbul akibat tradisi pemujaan kuno yang dimiliki oleh masyarakat Jawa. Menurutnya, pada manusia lama di Jawa (Pra Islam) yang belum diketahui secara pasti waktu munculnya, sudah terdapat tanda-tanda adanya pertunjukan dengan bayang-bayang selayaknya wayang sekarang. Diungkapkaan juga oleh Brandon, bahwasanya kesenian ini mulanya berasal dari dataran Asia Tengah lalu menyebar ke India, Tiongkok, dan Asia Tenggara (Marsono, 1991, hal. 3).

Wayang merupakan salah satu tradisi klasik yang telah berkembang sejak lama di Nusantara, bahkan hingga dataran Asia. Menurut salah satu ahli di bidang kebudayaan Jawa, Benedict R.O.G. Anderson, wayang kulit merupakan salah satu bagian dari kisah mitologi religius yang secara universal diterima oleh masyarakat Jawa. Wayang dianggap mampu menentramkan jiwa dan dianggap sebagai salah satu kesenian “halus” yang dimiliki oleh “Kaum Priyayi”. Seperti kita ketahui, mereka yang dianggap sebagai “Priyayi” merupakan manusia yang berkedudukan tinggi dan biasanya memiliki level keilmuan, baik pengetahuan alam maupun religius cukup tinggi. Pada masyarakat Jawa secara khusus, wayang melalui tokoh-tokoh di dalamnya dianggap sebagai salah satu leluhur yang menggambarkan atau menghubungkan kondisi masyarakat Jawa pada tatanan alam nyata dan batin (Marsono, 1991, hal. 1).


Milik Bangsa Indonesia

Wayang sendiri berdasarkan Sarasehan Pekan Wayang Indonesia II pada 26-28 Maret 1974 di Taman Ismail Marzuki Jakarta telah diakui sebagai milik Bangsa Indonesia, bukan hanya bagi orang Jawa saja. Wayang melalui berbagai jalan ceritanya dianggap menggambarkan manusia secara universal dan diharapkan mampu untuk membentuk pola berpikir bangsa Indonesia. Melalui wayang diharapkan Indonesia memiliki suatu kemajuan dalam berbagai aspek (Maharsi, 1999, hal. 2).

Secara tidak langsung, wayang dianggap sebagai sebagai simbol yang menerangkan eksistensi manusia guna mengetahui posisinya dalam dunia ini. Wayang dapat menggambarkan hubungan antarmanusia maupun hubungan antara manusia dengan penciptanya. Wayang juga dapat menggambarkan prinsip moral mengenai sifat toleran yang saling menghormati, memelihara, dan memberi kepada sesama. Hal ini dibuktikan dengan kisah penghidupan kembali Kurawa dalam cerita Korawasrama (Mulyono, 1982, hal. 12; Marsono, 1991, hal. 2).

Melanjutkan pandangan di atas, menurut (Maharsi, 1999, hal. 1) masyarakat yang mengerti dan mencintai wayang, sebenarnya melihat pertunjukan tersebut bukan hanya sebagai pelepas penat saja melainkan sebagai suatu cara untuk memenuhi kebutuhan batinnya yang bersifat religius-simbolis. Wayang dianggap sebagai manifestasi dari pengetahuan dan gagasan yang dimiliki oleh pelaku pertunjukannya dan bahkan para penikmatnya. Oleh karena itu wayang dianggap sebagai seni halus yang bernilai tinggi.


Media Pendidikan

Wayang sendiri juga dapat dianggap sebagai media pendidikan yang bersifat filosofis atau mendasar. Hal ini dikarenakan dalam suatu cerita atau pementasan wayang selalu menggambarkan kondisi manusia khususnya masyarakat yang menikmatinya. Kondisi tersebut digambarkan melalui watak tokoh yang ditampilkan oleh si dalang. Oleh karena itu muncul suatu stigma bahwa untuk melihat falsafah hidup suatu masyarakat, khsusnya Jawa, maka pagelaran wayang merupakan salah satu solusinya (Maharsi, 1999, hal. 3).

Sementara itu, menurut para ahli wayang, ketika masa Islam, tepatnya ketika Kerajaan Demak berkuasa di tanah Jawa, wayang merupakan salah satu media yang digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam berdakwah. Cerita wayang yang dipergunakan sebagai media dakwah dan mendidik umat banyak bersumber dari babad yang ada. Cerita dalam babad tersebut menunjukkan adanya penggabungan tokoh dalam epos Mahabharata dan Ramayana yang digabungkan dengan unsur lokal dan perpaduan Hindu-Islam (Prakoso, 2012, hal. 40 – 41).

Berangkat dari hal tersebut, tidaklah salah jika wayang dianggap sebagai salah satu pencapaian tertinggi dalam dunia kebudayaan Indonesia. Efek dari hal tersebut adalah tersebarnya wayang sebagai simbolisasi kebudayaan tingkat tinggi yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia. Seperti diketahui, menurut Koentjaraningrat kebudayaan memiliki tujuh unsur universal, yakni bahasa, religi, sistem pengetahuan, sistem mata pencarian, organisasi sosial, sistem teknologi, dan kesenian. Dengan memandang kesenian sebagai unsur dalam kebudayaan, maka fungsi kesenian dalam kehidupan manusia yaitu sebagai pedoman hidup bagi masyarakat pendukungnya dalam melaksanakan kegiatan, khususnya yang bertalian dengan keindahan. Berlandaskan hal itu maka tidaklah mengherankan bahwa dewasa ini banyak sekali daerah-daerah yang secara mengejutkan dapat menghasilkan wayang dengan label kedaerahannya masing-masing, misalnya wayang Jawa, wayang Bali, dan wayang Sasak.


Perkembangan Wayang

Wayang memang telah tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat Jawa, yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Nusantara. Persebaran wayang ini tidak terlepas dari berbagai faktor. Menurut Prof. Soetanto dalam bukunya, terdapat lima faktor yang berpengaruh dalam perkembangan wayang, yakni kraton, lembaga pendidikan formal pedalangan, kebijakan para dalang, popularitas dalang, dan orde yang berkuasa (Prakoso, 2012, hal. 43). Jika dikaitkan dengan persebaran wayang dan penggunaannya dalam keagamaan, maka faktor yang relevan adalah kraton sebagai pembuat pakem dan orde yang berkuasa.

Kraton sebagai pusat kebudayaan Jawa memanglah sudah sejak masa lampau menjadi “penguasa” yang berhak memberikan batas-batas dalam kesenian tradisional Jawa seperti wayang dan/atau batik. Kraton menerapkan kebijakan tersebut guna melestarikan harta kebudayaan bagi generasi penerus. Selain itu kesenian seperti wayang yang memiliki cerita-cerita penuh makna simbolis merupakan salah satu media penting dalam hal legitimasi kekuasaan bagi penguasa lokal.

Hal itu dapat kita lihat di cerita-cerita babad. Sudah disebutkan sebelumnya bahwa dalam babad terdapat kisah yang berisi genealogi atau silsilah Raja Jawa (masa  ini Kasultanan Jogja dan Kasunanan Surakarta) yang merupakan Nabi Adam, lalu berlanjut hingga menjadi keturunan Parikesit dan kemudian keturunan raja-raja terdahulu (dalam hal ini Majapahit-Demak-Sultan Agung). Parikesit sendiri merupakan tokoh wayang yang memiliki kecakapan sebagai seorang pemimpin. Penyusunan silsilah semacam itu dimungkinkan sebagai bentuk legitimasi yang menunjukkan bahwa Raja Jawa merupakan manusia pilihan.

Faktor berikutnya adalah orde yang sedang berkuasa, dalam hal ini adalah pemerintah di luar kraton. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan atau digaungkan pemerintah kepada masyarakat menjadi landasan penting dalam melihat perkembangan wayang. Pengakuan wayang sebagai Warisan Budaya Indonesia yang wajib dilestarikan membuat berbagai daerah secara spontan mendeklarasikan wayang miliknya. Fenomena semacam ini juga dapat kita temukan pada kesenian batik. Pengakuan batik sebagai Warisan Budaya Indonesia dan Warisan Dunia membuat Indonesia gencar mempromosikan kesenian tersebut yang secara berkelanjutan menimbulkan dampak munculnya pakaian yang dilabeli batik daerah.

Selain itu, faktor kesejarahan yang terkait dengan keagamaan juga mengandung unsur penting dalam menciptakan jenis-jenis wayang. Sudah disebutkan sebelumnya bahwa wayang sempat digunakan sebagai media dakwah pada masa Islam Kuno di Indonesia oleh Sunan Kalijaga. Melalui hal itu maka tidaklah mengherankan jikalau cara yang unik dan menarik tersebut menginspirasi para pendakwah dari berbagai kalangan untuk melakukan cara yang sama. Faktanya, pada saat ini sudah muncul wayang yang berkisah mengenai “Kehidupan Yesus”, sosok yang menjadi sentral dari kepercayaan Nasrani.

Poin penting dari faktor-faktor tersebut sebenarnya sangat bergantung pada kebijakan penguasa. Melalui pengakuan wayang sebagai Warisan Budaya Indonesia maka pihak Kraton akan berperan sebagai pengawas supaya kesenian tersebut, meskipun berkembang menjadi berbagai bentuk, namun pakem aslinya tetap dilestarikan dan menjadi landasan yang hakiki. Sedangkan kebijakan penguasa yang menggaungkan pelestarian budaya akan membuat masyarakat menciptakan suatu inovasi-inovasi baru, yang salah satunya muncul di kalangan kelompok umat beragama melalui penciptaan wayang religi.


Daftar Pustaka

Maharsi. (1999). Simbolisme dan Keselarasan Sosio-Budaya Jawa Dalam Lakon Wayang Babad Wanamarta. Yogyakarta: Tesis S2 Program Pasca Sarjana UGM.

Marsono. (1991). Wayang Purwa Pada Upacara Sadranan Di Lingkungan Masyarakat Jawa Tengah, Kontinuitas Dan Perubahannya. Yogyakarta: Tesis S2 Mahasiswa Pasca Sarjana UGM.

Mulyono, S. (1982). Wayang dan Filsafat. Jakarta: PT. Gunung Agung.

Prakoso, R. L. (2012). Cerita Ruwatan di Candi Sukuh dan Pewayangan Purwa (Kajian Perbandingan Struktur Cerita). Yogyakarta: Skripsi Sarjana Mahasiswa Arkeologi UGM.

**********

Penulis: Fajar Aji Jiwandono
Mahasiswa Jurusan Arkeologi UGM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: